//
you're reading...
Catatan & Analisis, Uncategorized

MEMBONGKAR PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (4)

Gambar

Hizbut Tahrir Pecahan Dari Jama’ah Ikhwanul Muslimin ?
Hizbut Tahrir Mengkafirkan Seluruh Kaum Muslim ?

M Idrus Ramli dan orang-orang yang seideologi dengannya dalam berbagai tulisan dan forum mengatakan:

“Namun apabila kita melacak latar belakang Taqiyyuddin An-Nabhani sendiri dan ideologi yang diusungnya, agaknya kita akan segera menelan ludah yang teramat pahit penuh dengan kekecewaan. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari beberapa contoh berikut ini:

Pertama, latar belakang an-Nabhani sendiri yang diliputi dengan kabut hitam penuh misteri. Masa lalunya, ia termasuk pengikut aliran radikal Ikhwanul Muslimin Quthbizme didikan Sayid Quthub yang mengadopsi pandangan Khawarij dalam hal takfir [pengkafiran] terhadap seluruh kaum muslimin yang ada di muka bumi pada saat ini. An-Nabhani juga terlibat sebagai anggota partai sosialis kiri yang beraliran komunis Marxis. Akan tetapi karir politiknya yang tidak berhasil mengantarnya menuju puncak kesuksesan dalam partai komunis tersebut, mengantarnya pada inspirasi untuk mendirikan partai politik “Islam” Hizbut Tahrir [HT] yang mengusung wacana khilafah dengan dia sendiri sebagai pimpinannya”.
(Majalah Ijtihad, edisi 28 tahun XV, Rabiul Awal-Rajab 1429, hal.7)

MEMBONGKAR PAT :

Hizbut Tahrir Pecahan Dari Jama’ah Ikhwanul Muslimin ?

Terkait tuduhan bahwa Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani pernah menjadi pengikut Ikhwanul Muslimin, maka Muhammad Muhsin Radhi dalam tesisnya menuturkan:

“Sesunggunya peneliti yang amanah tidak akan bisa sepakat dengan perkataan yang bertujuan mendeskripsikan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani bahwa beliau adalah pecahan dari Jama’ah Ikhwanul Muslimin, dan beliau adalah seorang [anggota] dari mereka kemudian beliau meninggalkan mereka dan mendirikan Hizbut Tahrir! Tampaknya perkataan itu dibangun di atas penuturan doktor Musa al-Kailani dalam kitabnya al-Harakat al-Islamiyyah Fil Urdun ; bahwa Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani adalah salah seorang dari kelompok H Amin al-Husaini pemilik otoritas dalam penyebaran Jama’ah Ikhwanul Muslimin di sejumlah negeri Syam, dan bahwa beliau telah mendirikan gerakan pecahan dari Jama’ah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1952 M. Al-Kailani telah menyifati hubungan antara an-Nabhani dan al-Husaini sebagai hubungan akidah yang kokoh.
Yang benar adalah bahwa Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani itu bukan termasuk kelompok H Amin al-Husaini.

Seandainya Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani termasuk kelompoknya, atau telah terjalin hubungan akidah yang kokoh dengannya, maka tidak boleh bagi beliau terpecah dari jama’ah induk. Sedangkan H Amin al-Husaini adalah orang yang mencurahkan kekuatannya sepanjang hidupnya untuk menyatukan barisan, dan mempersatukan di antara kelompok dan organisasi-organisasi di Palestina yang saling berbeda kepentingannya dan sama tujuannya di bawah bendera Ikhwanul Muslimin, atau paling tidak ada sesuatu yang menunjukkan atas inkarnya H.Amin al-Husaini atas terpecahnya Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dari Jama’ah Ikhwanul Muslimin.

Lebih-lebih terkait dengan perkara yang telah kami kemukakan, Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani telah memulai beraktifitas membentuk Hizbut Tahrir pada tahun 1948 M. Dan termasuk perkara yang mengokohkan kebatilan klaim al-Kailani adalah dakwaannya bahwa al-Husaini adalah salah satu sumber keuangan Hizbut Tahrir. Di sini ada kontradiksi yang nyata, bagaimana mungkin al-Husaini mengatur keuangan an-Nabhani setelah beliau [an-Nabhani] terpecah darinya [al-Husaini] ?!

Adapun kenyataan adanya sejumlah kader Hizbut Tahrir pertama yang benar-benar telah meninggalkan Jama’ah Ikhwanul Muslimin dan bergabung dengan dakwahnya Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani yang baru, maka itu juga tidak berarti bahwa Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani pada suatu hari dari hari-harinya pernah menjadi anggota dalam Jama’ah Ikhwanul Muslimin, karena Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani adalah pribadi ilmu dan dakwah yang banyak melahirkan tulisan pada akhir tahun 40-an dari abad yang telah berlalu, dan beliau bekerja di sejumlah peradilan agama. Seandainya saja beliau pernah menjadi anggota dalam Ikhwanul Muslimin, niscaya kami menemukan di sejumlah surat kabar di sana dan surat kabar yang terus meliput aktifitas Jama’ah Ikhwanul Muslimin, pasti kami menemukan di dalamnya petunjuk baginya dari dekat maupun jauh, atau pasti kami menemukan di sejumlah sumber Ikhwanul Muslimin suatu petunjuk atas hal tersebut, tetapi kami tidak pernah menemukan pada pribadi-pribadi Ikhwanul Muslimin seorangpun yang mampu menetapkan hal itu.

Dan doktor Abdul ‘Aziz al-Khayyath –beliau adalah termasuk pembesar anggota Jama’ah Ikhwanul Muslimin sebelum beliau menjadi begian dari Hizbut Tahrir- beliau juga benar-benar telah menafikan dakwaan al-Kailani tersebut, beliau berkata; “Sesungguhnya Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani itu sama sekali bukan termasuk anggota Jama’ah Ikhwanul Muslimin”.
Kondisi di atas itu dilihat dari sisi sejarah, sedang dari sisi yang lain, sesungguhnya menyifati sebuah partai atau jama’ah apapun bahwa ia terpecah dari sebuah partai atau jama’ah tertentu, itu berarti bahwasannya telah ditemukan di antara keduanya jenis keserupaan meskipun dengan sedikit pertalian pada sebagian sudut pandang. Karena sesungguhnya meskipun Hizbut Tahrir dan Jama’ah Ikhwanul Muslimin, keduanya bertemu dari sisi bahwa setiap satu dari keduanya sama-sama menyeru kepada Islam, akan tetapi Hizbut Tahrir berbeda dari Jama’ah Ikhwanul Muslimin dari sisi tujuan [ghayah] dan metode [thariqah] mencapai tujuan serta merealisasikannya. Hizbut Tahrir telah menjadikan tujuannya menegakkan Daulah Khilafah yang akan merangkul semua kaum muslim di seluruh negeri-negeri Islam. Sebagaimana kami melihat bahwa fikrah khilafah menduduki posisi terdepan. Bahkan Hizbut Tahrir memandang berdirinya sejumlah Negara adalah haram, sampai meskipun Negara-negara itu menerapkan syara’. Maka wajib berada dalam satu Negara, yaitu Daulah Khilafah yang diperintah oleh seorang khalifah dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah saw. Meskipun kami melihat bahwa Ikhwanul Muslimin menyeru kepada Daulah Islamiyyah, dan pada kitab mu’tamar kelima terdapat beberapa baris catatan khilafah, tetapi kami tidak melihat bagian fikrah khilafah dalam dakwah Ikhwanul Muslimin, tidak dari sisi perhatian pemikiran, dan tidak pula dari sisi mengemban dakwahnya. Mereka hanya menyeru kepada berdirinya Daulah Islamiyyah, sampai meskipun di sana berdiri sejumlah Daulah Islamiyyah, maka tidak apa-apa di Mesir berdiri Daulah dan di Yordan berdiri Daulah……

Dan dari sisi metode merealisasikan tujuan, kami menemukan bahwa metode Ikhwanul Muslimin dalam perobahan adalah tadarruj [gradual, berangsur] dan perbaikan parsial, dan menjadikan rekonsiliasi dengan sejumlah pemerintahan yang berdiri di Dunia Islam dan berserikat dengannya dalam pemerintahan sebagai metode dan jalan untuk merealisasikan tujuan. Padahal kami melihat bahwa metode Hizbut Tahrir dalam perubahan adalah revolusi dan secara radikal. Dan Hizbut Tahrir memandang haramnya berserikat dalam pemerintahan yang menjalankan hukum kufur, bahkan Hizbut Tahrir memandang bahwa berserikat dalam hukum kufur adalah memanjangkan masa bagi system-sistem jahiliyyah dan bukan metode melenyapkannya. Bukan hanya itu, tetapi kami menemukan perbedaan sampai pada aspek peraturan organisasi di mana asas organisasi bagi Ikhwanul Muslimin adalah sistem kekeluargaan. Dan kami melihat bahwa asas organisasi bagi Hizbut Tahrir itu berdiri di atas sistem halaqah. Apalagi terkait sejumlah perbedaan teknis di mana tidak ada tempat untuk menuturkannya pada pembahasan ini…….

Dari semua penuturan tersebut, seorang peneliti mampu menyimpulkan bahwa dakwaan terpecahnya Hizbut Tahrir [atau Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani] dari Jama’ah Ikhwanul Muslimin adalah dakwaan yang telanjang dari kebenaran. Dakwaaan itu sama sekali tidak memiliki asas untuk bersandar, tidak dari sisi sejarah dan tidak pula dari sisi fikrah yang didakwahkan, tidak dari sisi metode sampai kepada tujuan dan tidak pula dari sisi peraturan organisasi…….”.
(Hizbut Tahrir Tsaqafatuhu Wa Manhajuhu Fi Iqamatid Daulatil Khilafatil Islamiyyah hal. 48-50)

Hizbut Tahrir Mengkafirkan Seluruh Kaum Muslim ?

Terkait hal takfir [pengkafiran] terhadap orang muslim, maka terbagi menjadi dua ; Secara umum [ta’mim] dan secara khusus [takhshish].

Takfir secara umum memang dibolehkan dan telah dilakukan oleh para ulama, baik ulama salaf, ulama khalaf, ulama mutaakhirin maupun ulama mu’ashirin. Sebagai contohnya ketika para ulama berbicara dalam bab riddah [murtad], maka di sana selalu dikatakan; “Barang siapa yang berkata begini, maka ia kafir. Barang siapa yang mengerjakan ini, maka ia kafir. Barang siapa yang menyakini ini, maka ia kafir………”. Bagi siapa saja yang telah membaca kitab-kitab fiqih terutama dalam bab riddah dan kitab-kitab tauhid [yang membahas ilmu kalam], maka ia pasti mengerti bahwa di sana terdapat ratusan takfir secara umum, bahkan ribuan yang telah dilakukan oleh para ulama. Di sini saya tidak akan mengutipnya, karena masalah ini terlalu mudah untuk diketahui dan dari kitab-kitab yang juga mudah didapat.

Demikian juga yang dilakukan oleh Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dan para syabab Hizbut Tahrir, yang dilakukan oleh mereka adalah takfir secara umum dengan mengikuti alur dalil-dalil yang juga berbicara masalah takfir, seperti takfir secara umum yang dilakukan oleh Al-Qur’an berikut;

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون.
“Dan barang siapa yang tidak memutuskan hukum sesuai yang telah diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir”. QS. Al-Maidah ayat 44. dan ayat-ayat yang lain. Juga takfir secara umum terdapat dalam banyak hadis di antaranya adalah hadis;

من أتى عرافا أو كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم. رواه أبو داود والترميذي وابن ماجه عن أبي هريرة.
“Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun lalu ia membenarkan dengan apa yang dikatakannya, maka ia benar-benar kafir terhadap sesuatu yang telah diturunkan kepada Muhammad saw.”. Juga shahabat Ali ra. berkata:

الكاهن ساحر والساحر كافر.
“Dukun itu tukang sihir, sedangkan tukang sihir itu kafir”.

Sedangkan takfir secara khusus [dengan menunjuk langsung batang hidung seorang muslim atau dengan menyebut namanya], maka saya tidak menemukan satu redaksipun pada semua kitab yang telah ditulis oleh Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dan yang telah ditabani oleh Hizbut Tahrir. Begitu pula saya tidak pernah membaca atau mendengar dari kitab-kitab dan perkataan-perkataan para syabab Hizbut Tahrir. Sedangkan yang saya baca dan yang saya dengar justru sebaliknya, Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dan para syabab sangat berhati-hati dalam hal takfir.

Dan untuk membuktikan kehati-hatian Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dalam hal takfir, maka dalam kitab as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani menegaskan;

“Hakikatnya, adanya sejumlah celah dalam perangai [tingkah laku] seorang muslim itu tidak dapat mengeluarkannya dari kepribadian Islam, karena terkadang manusia itu terlelap sejenak lalu ia lupa mengikat mafahimnya dengan akidahnya, atau terkadang dia tidak mengerti kekontradiksisan mafahim dengan akidahnya, atau terkadang setan itu menguasai hatinya lalu ia menyalahi akidahnya dalam satu aktifitas di antara sejumlah aktifitasnya, maka ia melaksanakan sejumlah aktifitas yang menyalahi akidahnya, atau yang kontradiksi dengan sifat-sifat seorang muslim yang berpegang teguh dengan agamanya, atau yang berlawanan dengan perintah dan larangan Allah. Ia melaksanakan semua itu atau sebagiannya pada saat di mana ia masih tetap memeluk akidah dan menjadikannya sebagai dasar bagi pemikiran dan kecenderungannya.

Oleh karena itu, tidak sah dikatakan bahwa dia dalam kondisi seperti itu telah keluar dari Islam atau telah menjadi pribadi yang tidak Islam, karena selagi ia tetap memeluk akidah Islam, maka ia adalah muslim meskipun ia maksiat dalam satu aktifitas di antara sejumlah aktifitasnya. Dan selama ia tetap menjadikan akidah Islam sebagai asas bagi pemikiran dan kecenderungannya, maka ia adalah pribadi Islam meskipun ia telah fasik dalam perangai tertentu di antara sekian perangainya, karena yang diperhitungkan adalah memeluk akidah Islam dan menjadikannya sebagai asas bagi pemikiran dan kecenderungan meskipun terdapat sejumlah celah [pelanggaran] dalam aktifitas dan perangainya. Dan seorang muslim tidak keluar dari Islam kecuali dengan meninggalkan memeluk akidah Islam, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan……………”.
(asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, juz 1, hal 24)

Dan Muhammad Muhsin Radhi dalam tesisnya menuturkan;

“Peneliti tidak menemukan dari kitab-kitab Hizbut Tahrir dan penerbitan-penerbitannya pembahasan tersendiri terkait topik Takfir, tetapi saya menemukan sejumlah nasyrah dan jawaban pertanyaan terkait perkara ini dengan bentuk umum dan tanpa membicarakan perincian-perinciannya. Hizbut Tahrir berpandangan bahwasannya tidak boleh mengkafirkan seseorang di antara kaum muslim selama ia bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah dengan hatinya yang penuh yakin, dan selama ia tidak mengingkari sesuatu dari perkara agama yang telah diketahui secara pasti, dan tidak mengingkari hukum yang telah tetap dengan dalil qath’iy. Untuk itu Hizbut Tahrir beristidlal dengan sabda Nabi saw.;

من مات وهو يعلم أنه لا إله إلا الله دخل الجنة. رواه مسلم.
“Barang siapa mati sedangkan ia meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, maka ia akan masuk surga”. Dan sabda Nabi saw.;

من لقيت يشهد أن لا إله إلا الله مستيقنا بها قلبه فبشره بالجنة. رواه مسلم.
“Siapa saja yang kamu jumpai sedang ia bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dengan penuh yakin hatinya dengannya, maka senangkanlah dia dengan surga”. Dan nas-nas yang lain.

Kemudian Hizbut Tahrir berkata; “Nas-nas itu menjelaskan bahwa siapa saja yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad Utusan Allah, dengan penuh yakin hatinya dengannya, maka ia termasuk ahli surga, dan tidak termasuk ahli neraka. Dan barang siapa termasuk ahli surga, maka ia tidak ada kecuali orang muslim, bukan orang kafir. Dan padanya ada petunjuk bahwa orang muslim itu tidak kafir sebab dosa yang dilakukannya selamna ia tidak mengingkari sesuatu dari perkara agama yang telah diketahui secara pasti, dan tidak pula mengingkari sesuatu yang telah tetap dengan dalil qath’iy”.

Dan Hizbut Tahrir telah mengutip nas perkataan Imam Nawawi rh.dalam Syarah Muslimnya;

“Ketahuilah bahwa madzhab ahlul haq, sesungguhnya seseorang dari ahlil qiblat tidak kafir sebab dosa, dan tidak kafir ahlul ahwa’ wal bida’, dan bahwa orang yang mengingkari perkara agama Islam yang telah diketahui secara pasti, maka ia dihukumi murtad dan kufur, kecuali ketika ia baru masuk Islam, atau ia tumbuh di hutan yang jauh, dan sesamanya, dari orang yang Islam masih samar atasnya, maka ia diberitahu tentang itu. Lalu ketika ia tetap pada pendiriannya, maka ia dihukumi kafir. Begitu pula hukumnya orang yang meghalalkan zina atau khamer atau membunuh atau sesamanya dari perkara-perkara yang diharamkan yang keharamannya diketahui secara pasti……”.
(Hizbut Tahrir Tsaqafatuhu Wa Manhajuhu Fi Iqamatid Daulatil Khilafatil Islamiyyah, hal 148-152)

Ditulis Oleh : Ustadz Abulwafa Romli

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: