//
you're reading...
Catatan & Analisis, Uncategorized

PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (6)

Gambar

Orang NU yang ikut Hizbut Tahrir itu kesasar?

Terkait perkataan KH Masduqi Mahfudz bahwa “Orang NU yang ikut Hizbut Tahrir itu namanya kesasar”.
(Majalah Ijtihad, PP Sidogiri Pasuruan Jatim, edisi 31, hal 17).

MEMBONGKAR PAT :
Perkataan ini bisa benar dan bisa salah tergantung NU-nya, karena NU itu banyak macamnya, berikut adalah perinciannya;

1-NU = Numpang Urip
2-NU = Nunggu Umur
3-NU = Nambah Utang
4-NU = Narik Uang
5-NU = Nammamul Umah [provokator]
6-NU = Nahdlatul Ulama [Kebangkitan Ulama]
7-NU = Nurut Umum

Untuk tipe orang NU ke 1, 2 dan 3, ikut Hizbut Tahrir itu tidak kesasar, karena Hizbut Tahrir tempatnya orang yang numpang urip, yakni ikut hidup untuk berdakwah; orang yang nunggu umur, yakni menghabiskan umur untuk berdakwah; dan orang yang nambah utang, yakni menambah hutang untuk berdakwah dan mencukupi kebutuhan keluarganya, karena Hizbut Tahrir tidak menggajih para syababnya, dan tidak menerima dana dari selain syababnya, apalagi dari lembaga donor Barat kafir yang memiliki sejumlah agenda dan kepentingan. Dan termasuk NU ke 3 adalah Negara Indonesia yang terus nambah hutang. Maka Indonesia adalah Negara NU. Pantas saja para ulama NU sepakat bahwa Indonesia adalah Negara Islam yang penguasanya [presiden dll-nya] wajib ditaati. Mungkin karena sama-sama NU-nya.

Untuk tipe orang NU ke 4 dan 5, ikut Hizbut Tahrir adalah kesasar dan salah sasaran, karena Hizbut Tahrir itu tidak bagih-bagih uang kecuali kepada sedikit syababnya yang tidak mampu, yang terkena musibah, seperti untuk beli obat atau bayar dokter. Dan dalam Hizbut Tahrir tidak ada tempat bagi provokator. Saya sendiri memiliki teman yang sangat panatik dan membela Hizbut Tahrir, ketika ada seseorang yang menyesatkan Hizbut Tahrir, ia langsung marah kepadanya. Akan tetapi karena ada syabab yang mencurigainya sebagai provokator, dan belum terbukti sebagai provokator, ia sudah tidak boleh dilibatkan kembali dalam dakwah. Ini membuktikan bahwa dalam Hizbut Tahrir tidak ada tempat bagi provokator. Dan Hizbut Tahrir sangat hati-hati terhadap kemungkinan masuknya provokator kedalam jama’ahnya.

Untuk tipe orang NU ke 6, berdakwah bersama Hizbut Tahrir untuk menegakkan khilafah yang akan menerapkan syariat Islam secara sempurna adalah wajib, dan menolak berdakwah bersamanya adalah haram. Sedangkan menggembosi dakwah Hizbut Tahrir adalah dosa besar. Karena para sahabat, para tabi’in, para tabi’it-tabi’in, para ulama Aswaja dan para ulama yang lain, kecuali sekte Najdah dari Khawarij dan al-Asham dari Muktazilah beserta pengikut keduanya, semuanya telah ijma’ bahwa menegakkan khilafah dan mengangkat seorang khalifah adalah fardhu, karena dengan khilafah dan khalifah syariat Islam bisa diterapkan secara sempurna. Dan dengan khilafah dan khalifah, umat Islam akan mencapai kebangkitan hakiki, tidak kebangkitan semu, dan para ulama adalah bagian dari umat Islam yang bangkit, dan ulama harus menjadi lokomotif bagi kebangkitan.

Term Nahdhatul Ulama ini terdiri dari dua kata yang telah menjadi susunan idhafah. Kata pertama menjadi Mudhaf [yang digabungkan] dan kata kedua menjadi Mudhaf Ilaihi [yang digabungi].

An-Nahdhah secara bahasa adalah bangkit dari suatu tempat [al-baroh minal maudhi’ walqiyam ‘anhu], (Al-Ustadz Hafidz Shaleh, an-Nahdhah, hal 7, Darun Nahdhah al-Islamiyyah).

Sedang secara ishthilah an-Nahdhah adalah perpindahan umat, bangsa, atau individu dari suatu kondisi ke kondisi yang lebih utama.(Ibid, hal 13). Dan kondisi yang lebih utama bagi kaum muslim adalah kondisi Islami, yaitu suatu kondisi yang terikat dengan syariat Islam, di mana syariat Islam dipraktekkan dalam kehidupan, bermasyarakat dan bernegara. Dengan demikian kondisi kehidupan kaum muslim menjadi penuh barokah, karena di sana ada kemakmuran, keamanan dan keadilan. Allah SWT berfirman;

ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكنْ كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون.
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. QS Al-A’rof [7]: 96.

Kebangkitan kaum muslim itu tidak sama dengan kebangkitan kaum kuffar atau kaum musyrik. Kaum kuffar [Yahudi dan Nasrani] dan kaum musyrik [hindu, buda dll] bisa bangkit ketika mereka mau meninggalkan agamanya dalam urusan kehidupan, bermasyarakat dan bernegara, karena agama mereka tidak sempurna, hanya sebatas mengatur urusan spiritual [ruhiyyah], tidak mengatur urusan ideologi. Oleh karena itu, dalam urusan ideologi, mereka harus meninggalkan agama dan berkompromi untuk membuat akidah yang dapat memancarkan sistem, yaitu akidah rasional yang kemudian menjadi ideologi. Kemudian mereka kaum kuffar sepakat membuat akidah sekularisme [pemisahan agama dari kehidupan] dan ideologi kapitalisme, yang kemudian memancarkan berbagai ide, pemikiran dan sistem, seperti demokrasi, HAM, pluralisme, singkretisme, dlsb.

Sedangkan kaum musyrik dalam kehidupan, bermasyarakat dan bernegara, mereka cenderung mengikuti ideologi yang ada dan dominan meskipun masih memakai symbol-simbol monarki.
Berbeda dengan kaum kuffar dan musyrik, kaum muslim itu tidak akan bisa mencapai kebangkitan hakiki kecuali dengan berpegang teguh dengan agamanya, dan tidak meninggalkannya walau satu ide atau konsep, walau satu hukum atau sistem, semuanya harus benar-benar Islami, tidak boleh tercemari oleh ide atau konsep, hukum atau sistem dari luar Islam, jadi fikroh dan thariqohnya atau syir’ah dan minhajnya semuanya harus Islami. Karena ketika kaum muslim mencampur-aduk antara yang Islami dengan yang tidak Islami, maka mereka tidak akan bisa meraih kebangkitan hakiki, sedang yang bisa mereka raih hanyalah kebangkitan semu dan palsu, yaitu kebangkitan nempel seperti prangko atau seperti pohon benalu, sedang yang bangkit adalah kaum non muslim.

Inilah pakta yang terjadi sekarang. Kaum muslim termasuk para ulama Aswajanya memiliki suatu tradisi yang memalukan, yaitu tradisi nempel-nempel kepada kaum kuffar dan musyrik untuk mempertahankan kehidupan serba cukup dan serba mewah. Otomatis, sampai kiamatpun mereka tidak akan pernah bisa bangkit secara hakiki.

Setelah kaum muslim berakidah atau beriman dan beramal shaleh [beribadah] secara mahdhah, maka untuk bisa bangkit hanya ada satu cara, yaitu berfikir ideologis islami dan menerapkannya dalam kehidupan, karena selagi pemikiran ideologis mereka lemah atau tercemar, maka sulit dibayangkan mereka bisa bangkit. Oleh karena itu, definisi kebangkitan yang konprehensif [jami’] dan akurat [mani’] adalah ar-Roqiy al-Fikriy atau irtifaul fikri [tingginya pemikiran], yaitu pemikiran yang menyeluruh dan dalam terkait alam semesta, kehidupan dan manusia, (Ibid, hal 173) yang bisa memancarkan sistem.

Sedangkan term al-‘Ulama, mereka adalah; Muhadditsun [pakar hadis] yang mengerti kondisi Rowi [perowi hadis] kuat atau lemahnya dan kondisi Marwi [hadis yang diriwayatkan] shahih atau sebaliknya; Mufassirun [pakar tafsir] yang mengerti makna setiap ayat dan tujuannya; Fuqaha [pakar fikih] yang mengerti hukum-hukum syara’, baik nash maupun istinbathnya. Dan tidak termasuk Ulama, adalah Nahwiyun [pakar nahwu], Sharofiyun [pakar sharof], Lughawiyun [pakar bahasa], dan Mutakallimun [pakar ilmu kalam] dll. (Sayyid Bakri, I’anatut Thalibin, juz III, hal 213-214, Thaha Putra Semarang), Karena hanya tiga disiplin ilmu [hadis, tafsir dan fikih] di atas yang dapat menimbulkan rasa takut kepada Allah SWT, karena Dia telah berfirman;

إنما يخشى اللهَ من عباده العلماء …
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”. QS al-Fathir [35]: 28.

Dari pemaparan di atas, wajib hukumnya bagi orang NU ke 6, yaitu Nahdlatul Ulama, mendukung dakwah Hizbut Tahrir untuk meraih kebangkitan hakiki, yaitu dengan menerapkan syariat Islam secara sempurna melalui penegakkan Daulah Khilafah Rosyidah. Karena tanpa adanya Daulah Khilafah Rosyidah mustahil Islam dapat diterapkan dengan sempurna. Sedangkan kaidah ushul fikih mengatakan; Ma la yatimu al-wajibu illa bihi fahuwa wajibun [Sesuatu yang perkara wajib tidak bisa sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu itu menjadi wajib]. Dan penerapan Islam secara sempurna adalah indikasi rasa takut kepada Allah sebagai indikasi keimanan yang benar, sesuai firman Allah SWT.;

ياأيها الذين آمنوا ادخلوا في السلم كافة ولا تتبعوا خطوات الشيطان، إنه لكم عدو مبين.
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. QS al-Baqaroh [2] : 208.

Dan terkait orang tipe NU ke tujuh, Nurut Umum [mengikuti umum], maka untuk masa sekarang sepertinya ia sulit untuk mendukung atau ikut Hizbut Tahrir, karena peradaban Barat masih menjadi opini umum dan bisa memberikan keuntungan pinansial. Orang bertipe NU ini juga biasa disebut bunglon, yaitu hewan yang bisa merubah warna kulitnya sesuai tempatnya, karena mempunyai dua kepentingan, yaitu menyelamatkan diri dari predator yang lebih kuat darinya dan menjebak mangsanya untuk dijadikan riziq yang mengenyangkan perutnya. Maka tidak heran, ketika sedang marak-maraknya goyang ngebor yang diperankan oleh Inul Daratista asal Pasuruan, ia juga mendukungnya. Ketika demokratisasi terus dilakukan oleh Barat, ia juga mendukungnya. Ketika sedang marak-maraknya penyebaran agama Ahmadiyah, ia juga melindungi Ahmadiyyah. Ketika penempelan term radikalisme dan pundamentalisme kepada kelompok muslim yang berpegang teguh terhadap agamanya terus menerus dipropagandakan oleh Barat dan kaum nasionalis, ia juga ikut mempropagandakannya. Ketika Barat dan kaki tangannya terus menerus merekayasa ustadz Abu Bakar Ba’asyir sebagai teroris, ia juga ikut-ikutan.

Ketika Barat dan gerombolan liberal membenci Habib Riziq dengan FPI-nya, ia juga ikut-ikutan. Ketika ada isu bahwa lokalisasi wanita tahan sodok (WTS) akan dibubarkan oleh FPI dll., ia juga menjadi penjaga tempat itu. Ketika umat kristiani khawatir ada pengrusakan terhadap tempat ibadahnya, ia juga menjadi satpam tempat itu. Ketika sedang gencar-gencarnya pemburuan terhadap para teroris oleh dansus 88, ia juga ikut mejadi dansus 88. Ketika [ra]Den [ajeng] Sus[i] yang dua buah dadanya montok (Den Sus 8-8) menjadi calon kepala daerah ia juga mendukungnya. Dan seterusnya. Jadi orang tipe NU ketujuh itu selalu ada di mana-mana, asalkan dua kepentingan bunglonnya dapat terwujud.

Ditulis Oleh : Ustadz Abulwafa Romli

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: