//
you're reading...
Catatan & Analisis, Uncategorized

PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (7)

Gambar

Hizbut Tahrir Muktazilah Edisi Revisi?

Abdurrohim Arief (kalau dilihat dari gaya bahasanya yang provokatif seperti tulisan sebelumnya, saya menduga penulis sebenarnya adalah M Idrus Ramli) dan orang-orang yang seideologi dengannya dalam Maqalnya yang bertajuk Muktazilah Edisi Revisi mengatakan ;

“Muncul Ahlussunnah Waljamaah yang menolak (pendapat-pendapat) Muktazilah. Mereka telah mengklaim telah menjawab (pernyataan-pernyataan) Muktazilah dan Jabariyah. Namun, kenyataannya pendapat mereka dan Jabariyah adalah sama. Mereka adalah kaum Jabariyun. Mereka telah gagal dalam masalah kasb”.
[Taqiyuddin an-Nabhani, asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, juz 1 hal 53/54]

Setelah mengutip potongan dari perkataan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani di atas Abdurrohim Arief mengatakan ;

“Anda boleh tidak percaya terhadap kutipan fitnah di atas. Tentu langkah terbaik adalah menengok sendiri pada kitab aslinya. Ke-jabariyah-an Ahlussunah lebih dipertegas lagi oleh Taqiyuddin an-Nabhani (selanjutnya dicukupkan dengan an-Nabhani) dengan menampilkan sebuah rumusan dari telaah sejarah yang ia peroleh: “Adapun Ahlussunah Waljamaah tetap sama dengan Jabariyah dan hanya berbeda dalam pengungkapan dan pengutaraannya”.
Apa gerangan yang melatarbelakangi lahirnya wacana provokatif an-Nabhani ini? Pendiri gerakan politik Islam Hizbut Tahrir tersebut dengan lantang memitnah Ahlussunah hingga ia sendiri terjerumus dalam penyimpangan akidah. Saya katakan ‘menyimpang’ karena tampak sekali perbedaan mainstream mereka dengan Ahlussunah Waljamaah. Di bawah ini adalah catatan kritis sekaligus menjadi bukti bahwa an-Nabhani dan Hizbut Tahrir merupakan penganut sekte Muktazilah, Qadariyah”.

Selanjutnya Abdurrahman Arif mencoba mengutarakan sejarah terkait masalah qadha dan qadar, terkait af’alul ikhtiyariyah dan idhtirariyah, dan terkait Muktazilah dan Qadariyah. Dan berulang-ulang menuduh Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani minim akan pengetahuan sejarah, dan menuduh beliau telah merevisi akidah Muktazilah dengan mendistorsi sejarah.
(Majalah Ijtihad, PP Sidogiri Pasuruan Jatim, edisi 31).

MEMBONGKAR PAT :

Sebagaimana biasanya M Idrus Ramli yang berevolusi menjadi Abdurrohim Arief hanya mengutip sebagian dari redaksi kitab as-Syakhshiyah al-Islamiyah karya Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani lalu kutipan tersebut berusaha dikompromikan (dicocok-cocokan) dengan pendapatnya sendiri yang juga merupakan kutipan-kutipan dari perkataan sejumlah ulama yang dipandang mendukung pendapatnya. Padahal bisa saja pakta dan substansi pembahasan yang sedang dihadapi oleh Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani berbeda dengan pakta dan substansi pembahasan yang dihadapi oleh sejumlah ulama tersebut. Begitu juga dengan keakuratan sumber sejarah, kedalaman ilmu dan kecerdasan logika yang dimiliki oleh mereka tentu berbeda. Kemudian sejumlah perbedaan tersebut direkayasa supaya terlihat menyatu untuk mendukung sebuah rekayasa berupa kutipan sebagian redaksi kitab as-Syakhshiyah al-Islamiyah karya Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani. Kemudian akumulasi rekayasa tersebut dijadikan hujah untuk menghantam Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dengan kitab as-Syakhshiyah al-Islamiyah-nya. Bentuk rekayasa seperti itu akan saya buktikan pada bantahan selanjutnya.

Padahal kalau kita mau membaca kitab as-Syakhshiyah al-Islamiyah secara keseluruhan, tidak sepenggal-sepenggal, tidak dipotong-potong dan tidak direkayasa seperti di atas, niscaya kita menemukan pembahasan masalah qadha dan qadar yang sangat sempurna dan memuaskah akal serta menenangkan hati, karena dimulai dari awal munculnya masalah al-qadha wal qadar, al-jabru wal ikhtiyar atau huriyatul irodah di mana semuanya itu berasal dari satu sumber, yaitu dari falsafah Yunani. Kemudian masalah tersebut diadopsi oleh Muktazilah. Kemudian bangkit Jabariyah dan Ahlussunah membantah pandangan Muktazilah lalu Ahlussunah membantah pandangan Muktazilah dan Jabariyah. Semua pandangan terkait masalah qadha dan qadar sejak awal munculnya dibicarakan secara lengkap dan mendetail, baik pandangan Muktazilah, pandangan Jabariyah maupun pandangan Ahlussunah. Pada pembahasan tersebut tidak ada indikasi sedikitpun bahwa Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani telah mengadopsi atau merevisi pandangan Muktazilah, karena semuanya sama-sama dikoreksi oleh beliau, dan tidak ada satu katapun penyesatan terhadap Muktazilah, Jabariyah maupun Ahlussunah oleh beliau.

Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dengan penguasaannya terhadap sejarah perkembangan ilmu kalam dan dengan ketajaman analisanya juga kedalaman ilmunya mampu memposisikan setiap permasalahan tepat pada posisinya, tidak mengacak-acak dan tidak pula mencampur-aduknya sehingga menjadi permasalahan yang carut-marut dan membingungkan. Beliau telah memposisikan masalah qadha dan qadar yang datang dari Yunani, masalah qadha dari Islam, dan masalah qadar juga dari Islam. Dan ketika beliau berbicara tentang kegagalan Ahlussunah dalam masalah kasbu, tidak berarti beliau menyesatkannya, tetapi berdasarkan pakta dari pandangan mereka yang benar-benar gagal sehingga mereka menyamai Jabariyah dalam pandangannya terkait masalah qadha dan qadar yang datang dari Yunani yang memunculkan masalah kasbu, tidak menggagalkan semua pandangan Ahlussunah. Lebih-lebih yang dianggap ‘gagal’ oleh beliau hanyalah Ahlussunah Mutakallimin atau Ahlulkalam, bukan Ahlus Sunah Wal Jama’ah secara keseluruhan, atau bukan Ahlus Sunah Wal Jama’ah man kana ‘ala ma ana ‘alaihi al-yawma wa ash-habi. Jadi sebenarnya kita ini sedang dihadapkan kepada masalah kecil dan sepele, bagian dari ilmu kalam yang tidak layak menjadi akidah, karena tidak memiliki dalil yang qath’iy, yang dibesar-besarkan oleh seseorang yang disinyalir sebagai virus liberar yang sangat pandai merekayasa, berdusta, memitnah dan memprovokasi. Lalu kita dijauhkan dari masalah besar yang selama ini sedang digeluti dan didakwahkan oleh Hizbut Tahrir barsama umat Islam yang lain.
Kemudian terkait dengan ke-Jabariyah-an Ahlussunah Mutakallimin, saya juga dapat membuktikannya melalui dua jalur yang lain, sebagi berikut ;

Pertama, perkataan ulama yang tidak diragukan lagi ke-Aswaja-annya, yaitu Syarif Ali Ibn Muhammad al-Jurjani as-Syafi’iy dalam kitab Ta’rifat-nya;
الجبرية: هو من الجبر وهو إسناد فعل العبد إلى الله، والجبرية اثنان: متوسطة تثبت للعبد كسبا فى الفعل، كالأشعرية، وخالصة لا تثبت كالجهمية.
“Jabariyyah; Itu diambil dari kata al-Jabr [paksaan], yaitu menyandarkan pekerjaan hamba kepada Allah. Jabariyyah itu ada dua; Jabariyyah Moderat yang menetapkan kasb pada pekerjaan hamba, seperti pengikut Asy’ari. Dan Jabariyyah Murni yang tidak menetapkan kasb, seperti pengikut Jahem”.

Jadi bukan hanya Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani yang mengatakan bahwa Ahlussunnah Mutakallimin adalah Jabariyah karena teori kasbu-nya. Dan tidak menutup kemungkinan masih banyak juga ulama yang lain yang berpandangan sama, tetapi apa yang dikemukakan oleh al-Jurjani telah mencukupi sebagai bukti.

Kedua, pandangan terkait teori kasbu dari jalur kitab Fathul Majid Syarhud Durril Farid Fi’aqaidi Ahlit Tauhid karya Syaikh Muhammad Nawawi Ibn Umar Banten, hal 17, sebagai berikut ;
وفي أفعال العبد التي تسمى بالكسب أربعة مذاهب :
1- مذهب المعتزلة ويقال لهم القدرية وهو أن العبد خالق لأفعاله الإختيارية بقدرة خلقها الله فيه. قالوا لأنه لو كان تعالى خالقا لأفعال العبد لكان هو القائم والقاعد والآكل والشارب إلى غير ذلك …….
2- ومذهب الجبرية، وهم فرقة من المعتزلة، وهو أن العبد مجبور على الفعل ظاهرا وباطنا، وليس له فعل أصلا، ولا اختيار له في صدور جميع أفعاله عنه، فهو كريشة معلقة في الهواء تميلها الرياح يمينا وشمالا ……….
3- ومذهب الفلاسفة، وهو أن الله تعالى خلق للعبد قدرة مؤثرة بطريق الإيجاد.
4- ومذهب أهل السنة، وهو أنه ليس للعبد في الأفعال الإختيارية إلا الكسب، فليس للعبد تأثيرما، فهو مجبور باطنا ومختار ظاهرا، وليس فعل العبد بالإجبار المحض، ولا بالإختيار المحض، بل أمر بين الأمرين ….
“Terkait pekerjaan hamba yang dinamai kasbu terdapat empat madzhab;
1-Madzhab Muktazilah Qadariyah, yaitu bahwa hamba menciptakan pekerjaan ikhtiarnya dengan qudrot yang telah diciptakan oleh Allah padanya. Mereka berkata ; Karena kalau Allah SWT yang menciptakan pekerjaan hamba, maka Allah-lah yang berdiri, yang duduk, yang makan, yang minum dlsb………
2-Madzhab Jabariyah. Mereka adalah kelompok Muktazilah, yaitu bahwa hamba itu dipaksa atas pekerjaannya lahir dan batin. Ia sama sekali tidak memiliki pekerjaan dan tidak pula memiliki ikhtiar dalam semua pekerjaan yang keluar darinya. Maka ia laksana sehelai bulu yang tergantung di udara tertiup angin kekanan dan kekiri……….
3-Madzhab falsafat, yaitu bahwa Allah SWT telah menciptakan qudrot yang berpengaruh melaui jalan pengadaan.
4-Madzhab Ahlussunah, yaitu bahwasanya tidak ada bagi hamba pada pekerjaan ikhtiarnya kecuali kasbu, maka hamba tidak memiliki pengaruh apapun. Ia dipaksa secara batin dan ikhtiar secara lahir. Dan pekerjaan hamba itu tidak dengan paksaan murni dan tidak pula dengan ikhtiar murni, tetapi perkara di antara dua perkara”.

Jadi pandangan Ahlussunah yang seperti itu yang dianggap sama dengan pandangan Jabariyah dan yang berbeda hanya redaksinya.

Juga teori kasbu seperti itu yang dianggap gagal [dan tidak dianggap sesat] oleh Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani Karena bagaimana ia melakukan pekerjaan ikhtiar kalau secara batin dipaksa oleh Allah. Padahal lahir manusia itu tidak akan dapat bekerja tanpa adanya kehidupan atau dorongan batin. Ini sama halnya dengan perkataan ;”Saya mencuri, tetapi secara batin saya dipaksa oleh Allah untuk mencuri. Saya berzina, tetapi secara batin saya dipaksa oleh Allah untuk berzina”, dan seterusnya. Pandangan Ahlussunah yang seperti itu sering dijadikan alasan bagi kebanyakan orang untuk meninggalkan kewajiban dan melakukan kemaksiatan dan kemunkaran. Pakta seperti ini benar-benar terjadi di tengah-tengah masyarakat nahdhiyin. Mereka menamakan pandangan tersebut dengan nama Ilmu Hakekat. Ketika mereka diajak berbicara terkait kerusakan perilaku umat Islam yang kian hari kian parah dan diajak memperbaikinya, mereka hanya menjawab; “Itu sudah menjadi qadha dan qadar Allah, kita ini tidak dapat berbuat apa-apa”, dan seterusnya.

Sekarang perhatikan perkataan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani berikut;
فهذا الكلام تصوره الباحثون تصورا، وفرضوه فرضا، ولا واقع له حسا، ولكنهم أعطوا العقل حرية البحث، فبحث هذا الأمر، ووجد لديه هذا التصور، فأوجبوا الإيمان بما تصوروه وأطلقوا عليه اسم الكسب والإختيار. ولو جعل العقل يبحث في المحسوسات وحدها، لأدركوا أن خلق الفعل من حيث إيجاد مواده إنما هو من الله، لأن الخلق من العدم لا يتأتى إلا من الخالق، أما مباشرة هذه المواد وإيجاد الفعل منها فهو من العبد كأي صناعة يقوم بها، كصناعة الكرسي مثلا. ولو جعلوا العقل يبحث في المحسوسات وحدها لما آمنوا بكثير من الوهميات والفروض النظرية.
“Perkataan ini telah digambarkan oleh para peneliti, dan mereka memperkirakannya, padahal tidak memiliki realita yang terindra. Akan tetapi mereka memberikan kepada akal kebebasan meneliti, lalu akal meneliti perkara ini dan menemukan gambar dihadapannya. Lalu mereka mewajibkan iman kepada perkara yang telah digambarkannya, dan mengucapkan kepadanya nama kasb dan ikhtiyar. Andaikan saja mereka menjadikan akal hanya membahas pada perkara yang tersentuh oleh indra, niscaya mereka menemukan bahwa penciptaan perbuatan dari sisi pengadaan semua materinya itu hanya dari Allah, karena penciptaan dari tidak ada itu tidak mudah kecuali dari al-Khaliq. Adapun pelaksanaan materi dan pengadaan perbuatan daripadanya, maka itu dari hamba, seperti layaknya pertukangan yang ia kerjakan, contohnya seperti membuat kursi. Dan seandainya mereka menjadikan akal hanya meneliti pada perkara yang tersentuh indra, niscaya mereka tidak mengimani banyak perkara dari imajinasi dan hipotesa”.
(Taqiyyuddin an-Nabhani, asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz 1, hal 63-64, cetakan ke 7, 2003 M).

Padahal kita telah mengerti bahwa “Iman adalah pembenaran yang teguh, yang sesuai dengan fakta, yang berdasar dalil (yang qath’iy)”. Lalu bagaimana sesuatu yang lahir dari imajinasi dan hipotesa, seperti masalah kasbu dab ikhtiyar, bisa digolongkan kedalam akidah? Kita sudah cukup, dan tidak akan berdosa, ketika memasukkan masalah ini kedalam polemik yang terjadi diantara Mutakallimin (Muktazilah, Jabariyyah dan Ahlussunnah), tidak memasukkannya kedalam akidah, dan kita mencukupkan diri dengan mengimani shifat wahdaniyah ( karena masalah kasbu dan ikhtiyar ini oleh mutakallimin dimasukkan ke dalam pembahasan shifat wahdaniyah. Ini menunjukkan bahwa qadha dan qadar yang dibahas oleh mereka itu qadha dan qadar yang datang dari Yunani, karena terkait qadar yang datang dari Islam mereka memasukkannya kedalam pembahasan shifat ilmu, lihat kitah al-Hushun al-Hamidiyyah, hal 125-126, cetakan al-Hidayah, Surabaya), dan tidak berlebihan memasuki pembahasan ilmu kalam yang penuh dengan imajinasi dan hipotesa..

Berbeda ketika kita menelaah dan memahami pandangan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani terkait masalah qadha dan qadar dari kitab Nizhamul Islam sampai as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, maka alasan-alasan seperti di atas tidak ada sama sekali, dan tidak terbuka untuknya sama sekali. Pandangan beliau mampu membangkitkan semangat beramal shaleh termasuk berdakwah menuju penerapan syariat Islam secara kaffah. Karena pandangannya tidak condong ke Muktazilah dan tidak pula condong ke Jabariyah, dan mampu memposisikan pekerjaan hamba pada posisinya, yaitu mana pekerjaan yang masuk kedalam wilayah qadha dan mana pekerjaan yang masuk kedalam wilayah qadar. Perlu diperhatikan masalah qadha dan qadar disini adalah yang datang dari peradaban Yunani.

Kalaupun ditemukan adanya kesamaan antara pandangan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dan Muktazilah atau Jabariyah, maka tidak berarti bahwa pandangan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani sama persis dengan pandangan Muktazilah dan Jabariyah, karena perbedaannya juga banyak, sebagaimana terdapat banyak kesamaan pandangan beliau dengan pandangan Ahlussunah. Karena baik Muktazilah, Jabariyah dan Ahlussunah semuanya adalah kaum muslim yang Tuhan dan Rasulnya sama, rukun iman dan Islamnya sama, shalat dan puasanya sama, ininya sama dan itunya sama. Jadi adanya kesamaan dalam kebenaran (haqq) di antara mereka adalah fitrah Islam, sedangkan perbedaan yang ada adalah rahmat. Jadi sangat berlebihan dan mengada-ada kesimpulan Abdurrahim Arif sebagai kedok dari M Idrus Ramli yang menyama-persiskan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dan HIzbut Tahrir dengan Muktazilah dan menganggapnya sebagai Muktazilah Edisi Revisi.

Ditulis Oleh : Ustadz Abulwafa Romli

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: