//
you're reading...
Catatan & Analisis, Uncategorized

PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (9)

Gambar
Khilafah HTI, Benarkah Khilafah Sunni?

Setelah dua tema berturut-turut [Hati-Hati HTI dan Muktazilah Edisi Revisi] yang disampaikan oleh Abdurrohim Arief, kali ini majalah Ijtihad edisi 31 pada hal 11 menampilkan virus liberal berikutnya, yaitu A.Biyadi yang dalam maqalnya mengusung tema Khilafah HTI, Benarkah Khilafah Sunni? Tema ini sebenarnya berkaitan erat dengan tema sebelum dan sesudahnya. Substansinya juga sama, yaitu penggembosan terhadap dakwah Hizbut Tahrir dan menuduhnya bukan Aswaja, dan mendukung dengan sepenuh hati atas sistem pemerintahan yang ada, yaitu sistem kufur demokrasi dengan dalih menjaga NKRI dan dengan memasang kedok Aswaja untuk menutup wajah liberalnya.
Setelah sedikit menyinggung konsep Khilafah Hizbut Tahrir, A Biyadi mengatakan ;

“Sebenarnya memang ada perbedaan antara konsep khilafah ala HT dan Ahlussunnah. Perbedaan ini berawal dari perbedaan sudut pandang mengenai apakah konsep itu merupakan harga mati ataukah sebuah konsep ideal. Untuk itu, berikut penulis tampilkan beberapa di antaranya ;

Pertama, mereka menyebutkan dalam kitab Ajhizatu Daulatil Khilafah, hal 60, “Kaum muslim di seluruh dunia wajib berada dalam satu Negara dan wajib pula hanya ada satu khalifah bagi mereka. Secara syariat, kaum muslim di seluruh dunia haram memiliki lebih dari satu Negara dan lebih dari seorang khalifah”. Menurut mereka, khalifah di muka bumi harus satu orang dan itu harga mati. Jika khilafah telah ditegakkan di suatu daerah, maka seluruh umat Islam di dunia harus tunduk dan patuh kepadanya.
Memang pendapat jumhur ulama Sunni menyatakan bahwa imam tidak boleh lebih dari satu dalam satu masa. Namun Imam al-Haramain dan Imam al-Juwaini serta sebagian ulama Syafi’iyyah dan Malikiyyah memperbolehkan dilantiknya imam lebih dari satu bila memang tidak memungkinkan.
Untuk saat ini, penegakan imam tunggal di muka bumi sangatlah sulit untuk diwujudkan mengingat umat Islam telah terkotak-kotak di negara yang berbeda-beda, dengan ideologi yang berbeda-beda pula. Tentu saja perdebatan tentang penegakkan khalifah tunggal dan khilafah sentral akan sangat alot. Bahkan bisa jadi sebelum khilafah itu tegak, perang saudara justru bakal meledak. Di situlah Ahlussunnah melihat kenyataan. Pesimis? Bukan, tapi realistis. Melihat realita yang ada, bangunan Islam di Indonesia tetap kita sempurnakan bukannya merombak dan membangunnya dari awal lagi”.

MEMBONGKAR PAT :

Adakah perbedaan antara khilafah HT dan khilafah Aswaja?

Terkait perkataan A.Biyadi dalam mengawali pembicaraannya; “Sebenarnya memang ada perbedaan antara konsep khilafah ala HT dan Ahlussunnah. Perbedaan ini berawal dari perbedaan sudut pandang mengenai apakah konsep itu merupakan harga mati ataukah sebuah konsep ideal”. Dan perkataannya dalam mengakhiri pembicaraannya; “Disitulah Ahlussunnah melihat kenyataan. Pesimis? Bukan, tapi realistis. Melihat realita yang ada, bangunan Islam di Indonesia tetap kita sempurnakan bukannya merombak dan membangunnya dari awal lagi”.

Dari metode A.Biyadi dalam membuka dan menutup pembicaraannya, sebenarnya keliberalannya sudah terlihat sangat jelas. Ia dengan sengaja memisahkan antara konsep khilafah Hizbut Tahrir dan konsep khilafah Aswaja. Padahal sistem khilafah yang sedang diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir adalah khilafah ala minhajin-nubuwah, bukan khilafah ala minhajil-muluk. Kesimpulan ini berangkat dari pengkajian terhadap sejumlah kitab Hizbut Tahrir terkait khalifah dan khilafah di mana dalil-dalilnya dipenuhi dengan dalil-dalil dari al-Qur’an, as-Sunnah dan Ijmak Shahabat. Lebih-lebih Hizbut Tahrir mampu memahami siroh al-Khulafa ar-Rosyidin al-Mahdiyyiin sehingga ketika kita membaca Ajhizatu Daulatil Khilafah [Fil Hukmi Wal Idaroh] atau kitab Nidzamul Hukmi Fil Islam, kita bisa menghadirkan perjalanan mereka, sejak Abu Bakar ra sampai Ali ra, dalam menjalankan pemerintahan seakan-akan kita melihat mereka di depan mata. A.Biyadi tidak memahami bahwa konsep khilafah yang telah dipraktekkan oleh al-Khulafa ar-Rosyidin adalah konsep khilafah yang wajib ditiru dan diikuti oleh Aswaja, bukan konsepnya Imam Haramain atau Imam Juwaini, karena telah terjadi ijmak shahabat terkait konsep itu. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda ;

عن عبد الله بن عمرو بن العاص قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “افترقت اليهود على إحدى وسبعين ملة وافترقت النصارى على انتين وسبعين ملة وستفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلها فى النار إلا ملة واحدة”، قالوا: “من هي يا رسول الله ؟” قال: “من كان على ما أنا عليه وأصحابي”. رواه الترمذي فى الإيمان باب ما جاء فى افتراق هذه الأمة من سننه ورواه أيضا الإمام أجمد فى المسند وإسناده صحيح.
Dari Abdullah Ibn Umar Ibnil ‘Ash, Rasulullah SAW bersabda ; “Yahudi telah terpecah menjadi 71 kelompok. Nasrani telah terpecah menjadi 72 kelompok. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 kelompok, semuanya di neraka kecuali satu kelompok”. Sahabat bertanya ; “Siapakah mereka wahai Utusan Allah?”. Nabi benjawab ; “Siapa saja yang berpegang teguh [mengimani, mengamalkan dan mendakwahkan] terhadap sunahku dan [sunah] sahabatku”.

وفى رواية الطبراني: إفترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة وافترقت النصارى على اثنتين فرقة وستفترف أمتي علي ثلاث وسبعين فر قة واحدة منها ناجية والباقون هلاكى”. قالوا : “وما الناجية يا رسول الله؟”. قال: “أهل السنة والجماعة”، قالوا: “وما أهل السنة والجماعة؟”، قال: “من كان على ما أنا عليه اليوم وأصحابي”.
Dalam riwayat at-Thabarani, Nabi saw. bersabda; ”Yahudi telah terpecah menjadi 71 kelompok. Nasharo telah terpecah menjadi 72 kelompok. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 kelompok, darinya hanya ada satu kelompok yang selamat, sedang yang lain semuanya rusak”. Shabat bertanya; ”Siapakah kelompok yang selamat itu, wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda; ”Ahlussunah Waljama’ah”. Mereka bertanya; ”Siapakah Ahlussunah Waljamaah itu ?”. Beliau bersabda; ”Orang yang berpegang teguh [meyakini, mempraktekkan dan memperjuangkan] dengan sunahku pada hari ini dan [sunah] shahabatku”.

Dan Nabi SAW terkait sistem dan bentuk pemerintahan bersabda ;
أوصيكم بتقوى الله عزّ وجلّ والسمعِ والطاعةِ، وإن تأمرَ عليكم عبدٌ، فإنه منْ يعشْ منكم فسيرى إختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنةِ الخلفاء الراشدين المهديين، عضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كلَ محدثة بدعة، وكلَ بدعة ضلالة، وكلَ ضلالة فى النار. رواه أحمد وأبو داود والترميذي وابن ماجه.
“Aku wasiat kepada kalian dengan taqwa kepada Allah swt, mendengar dan taat [kepada khalifah atau amir], meskipun kalian dipimpin oleh seorang hamba sahaya, karena sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang masih diberi hidup, maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang teguh [meyakini, mempraktekkan dan memperjuangkan] dengan sunahku dan sunah para khalifah yang cerdas dan mendapat petunjuk, gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham, dan jauhilah segala perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat dan setiap sesat adalah di neraka”.

Dan selama ini yang sangat getol memperjuangkan tegaknya Khilafah Ala Minhajin Nubuwah yang telah dipraktekkan oleh al-Khulafa ar-Rosyidin adalah Hizbut Tahrir. Maka tidak berlebihan kalau saya katakan dalam hal ini bahwa konsep khilafah ala Hizbut Tahrir lebih Aswaja dari konsep khilafah ala NU. Apalagi selama ini NU tidak memiliki konsep khilafah dan tidak pernah memperjuangkan tegaknya khilafah.
Sedangkan sejumlah petikan perkataan ulama Aswaja terkait pemerintahan Islam atau khilafah hanya dijadikan alat untuk mengokohkan sistem pemerintahan yang nyata-nyata kontradiksi dengan sistem pemerintahan Islam. Padahal para ulama tersebut berbicara terkait sistem pemerintahan Islam saat itu, yaitu sistem khilafah. Dan tidak berlebihan pula saya katakan Bahwa Hizbut Tahrir adalah bagian dari Aswaja dan ke-Aswaja-annya tidak diragukan lagi. Dan saya katakan lagi bahwa istilah konsep harga mati dan konsep ideal itu tidak ada, karena mengikuti sunah Nabi SAW dan sunah al-Khulafa ar-Rosyidin [seperti ditunjukkan oleh hadis di atas] adalah wajib, bukan ideal.

Terkait dengan kewajiban khalifah tunggal dan khilafah sentral, mari kita telaah dari sumber lain.

Dalam ta’lik [komentar] kitab Bulughul-Marom, bab Qitali Ahlil Baghyi, Sayyid Muhammad Amin menegaskan:
واتفق الأئمة الأربعة على أن الإمامة فرض، وأنه لا بد للمسلمين من إمام يقيم شعائر الدين، وينصف المظلومين من الظالمين. وعلى أنه لا يجوز أن يكون للمسلمين فى وقت واحد فى جميع الدنيا إمامان لا متفقان ولا مفترقان …..{بلوغ المرام، ص:265، وانظر الميزان الكبرى فى باب حكم البغاة، ج 2، ص: 153}.
“Empat Imam telah sepakat bahwasannya Imamah [Khilafah] adalah fardhu. Dan bahwa kaum muslim harus memiliki seorang Imam [Khalifah] yang menegakkan syiar-syiar agama dan menolong orang-orang yang terzalimi dari orang-orang yang zalim. Dan bahwasannya tidak boleh kaum muslim dalam satu waktu di seluruh dunia memiliki dua Imam, baik dua Imam yang sepakat [rukun] atau dua Imam yang berselisih…………”.

Padahal A.Biyadi telah mengatakan; “Memang pendapat jumhur ulama Sunni menyatakan bahwa imam tidak boleh lebih dari satu dalam satu masa. Namun Imam al-Haramain dan Imam al-Juwaini serta sebagian ulama Syafi’iyyah dan Malikiyyah memperbolehkan dilantiknya imam lebih dari satu bila memang tidak memungkinkan”.

Di sini ada kekacauan pemikiran, atau memang sengaja merekayasa dan mengacaukan. Ia mengakui bahwa jumhur ulama sunni menyatakan bahwa imam tidak boleh lebih dari satu dalam satu masa. Sedang yang dimaksud dengan jumhur seperti ibarot di atas adalah Aimmatul Arba’ah dan ulama mujtahid Aswaja yang lain. Dan pendapat Hizbut Tahrir sama persis dengan pendapat mereka. Berarti Hizbut Tahrir juga Aswaja, karena di samping pendapatnya sama, dalil-dalil yang dipakai juga sama. Sedangkan keabsahan sebuah pendapat itu harus dilihat dari dalilnya, bukan orang atau kelompoknya. Karena dalil-dalil dari al-Qur’an, as-Sunnah, Ijmak dan Qiyas itu diperuntukkan bagi semua kaum muslim, bahkan bagi semua manusia. Lalu A.Biyadi menyingkirkan pendapat jumhur mujtahidun dan mengambil pendapat minoritas muqollidun yang ia klaim sebagai pendapat Aswaja. Jadi karena antipati [benci] terhadap Hizbut Tahrir ia berani mengorbankan pendapat Jumhur Mujtahidun.

Terkait dengan perkataan A.Biyadi di atas; “Bangunan Islam di Indonesia tetap kita sempurnakan bukannya merombak dan membangunnya dari awal lagi”.

Justru Hizbut Tahrir datang ke Indonesia untuk menyempurnakan bangunan Islam yang telah dibawa ke negeri ini oleh para pengemban dakwah yang di antaranya adalah Wali Songo di mana mayoritas mereka adalah utusan khalifah. Wali Songo sendiri dalam membawa Islam ke Jawa tidak hanya Islam kepasturan [sepiritual], tetapi juga melalui politik Islam di mana berdirinya kesultanan Demak adalah salah satu buktinya. Kemudian bangunan Islam yang telah didirikan oleh Wali Songo dan para pengemban dakwah lainnya sedikit demi sedikit terkikis oleh gelombang kristenisasi, sekularisasi dan demokratisasi yang diperankan oleh para penjajah beserta kaki tangannya dari gerombolan nasionalis pribumi, dan pada akhirnya menjadi Indonesia seperti sekarang ini. Yaitu Indonesia yang berdiri di dalamnya bangunan demokrasi-sekular di atas reruntuhan pondasi bangunan Islam, sedangkan Pancasila hanya menjadi kedok.

Jadi Hizbut Tahrir itu akan menyempurnakan bangunan Islam. Tetapi dengan merobohkan dulu bangunan demokrasi-sekular yang telah berdiri di atas pondasi bangunan Islam, lalu bangunan Islam baru ditegakkan kembali di atas pondasi Islamnya. Ini yang tidak dipahami oleh orang-orang seperti A.Biyadi. (Abulwafa Romli)

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: