//
you're reading...
Catatan & Analisis, Uncategorized

PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (11)

Gambar
Hizbut Tahrir Membolehkan Jabatan Tangan Dengan Ajnabiyah?

M Idrus Ramli dan orang-orang yang seideologi dengannya mengatakan;

“Keempat, masa lalu an-Nabhani yang pernah tidak lulus dalam studinya di Universitas al-Azhar karena hasil ujiannya yang buruk, sangat berpengaruh terhadap pemikiran HT. Tidak jarang an-Nabhani sendiri dan petinggi-petinggi HT yang lain mengeluarkan fatwa-fatwa kontroversial dan keluar dari al-Qur’an dan Hadis, seperti… … fatwa bolehnya jabatan tangan dengan wanita ajnabiyyah, fatwa bolehnya qublat al-muwada’ah [ciuman selamat tinggal] dengan wanita ajnabiyyah sehabis pertemuan semisal acara-acara seminar, pelatihan dan lain-lain”.
(Majalah Ijtihad, PP Sidogiri Pasuruan Jatim, edisi 28 tahun XV, Rabiul Awal-Rajab 1429, hal.7).

MEMBONGKAR PAT :

Hizbut Tahrir Membolehkan Jabatan Tangan Dengan Ajnabiyah?

Ya benar, tetapi sebelum saya menjelaskan hujahnya, alangkah baiknya saya kemukakan pepatah arab atau kaidah yang sangat popular, yaitu;

لسانُ الحال أفصحُ من لسان المقال
“Bahasa Kondisi Itu Lebih Jelas Daripada Bahasa Perkatan”

Kemudian pembaca saya ajak menengok sejumlah pakta yang telah terjadi dan yang sedang terjadi terkait berjabatan tangan dengan ajnabiyah [perempuan asing]. Beberapa tahun yang silam, ketika menjadi capres dan setelah menjadi presiden, mantan ketua PBNU KH Abdurrahman Wahid benar-benar telah berjabatan tangan dengan Megawati Sukarno Putri. Peristiwa itu hampir disaksikan oleh seluruh rakyat Indonesia, karena gambarnya dipasang di mana-mana, dan dipublikasikan oleh berbagai media nasional. Kemudian peristiwa tersebut juga dipraktekan oleh KH Hasyim Muzadi dengan Ibu Megawati Sukarno Putri ketika keduanya menjadi capres. Dan berjabatan tangan dengan ajnabiyah juga telah dan sedang dipraktekkan oleh banyak ulama NU yang tidak perlu saya sebut namanya. Lalu warga NU juga ramai-ramai mempraktekkannya di mana mayoritas mereka beralasan ikut kepada kyainya.

Jadi pakta-pakta tersebut sebenarnya sudah sangat jelas menunjukkan bahwa NU sendiri membolehkan berjabatan tangan dengan ajnabiyah, tapi kenapa sejumlah ustadz dan kyai yang telah masuk kedalam setrutur NU malah ramai-ramai menyalahkan Hizbu Tahrir. Maka orang yang cerdas pasti mengerti bahwa di balik itu semua ada tujuan jahat yang tersembunyi. Bisa jadi mereka adalah kepanjangan dari Barat yang kafir yang sangat ketakutan akan berdirinya Daulah Khilafah Rasyidah, atau kepanjangan dari para penguasa termasuk dari kerajaan Arab Saudi yang juga sangat ketakutan akan berdirinya Daulah Khilafah.

Di sini saatnya saya kemukakan hujah Hizbut Tahrir dalam membolehkan jabatan tangan dengan ajnabiyah.

Pertama; Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani rh. dalam kitabnya an-Nizhamu al-Ijtima’iy fil Islam [yang dipenuhi dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah] hal.71-72, menegaskan demikian;

ومما يدل على أن اليد ليست بعورة مصافحة الرسول للنساء في البيعة. عن أم عطية قالت: بايعنا النبي صلى الله عليه وسلم فقرأ علينا أن لا يشركن بالله شيئا ونهانا عن النياحة، فقبضت امرأة منا يدها فقالت: فلانة أسعدتني وأنا أريد أن أجزيها. فلم يقل شيئا فذهبت ثم رجعت. وهذا الحديث يدل على أن النساء كن يبايعن باليد، لأن هذه المرأة قبضت يدها بعد أن كانت مدتها للبيعة. فكون الحديث ينص على أن المرأة قبضت يدها حين سمعت لفظ البيعة صريح بأن البيعة كانت باليد، وأن الرسول
كان يبايع النساء بيده الشريفة.

وأما ما روي عن عائشة من أنها قالت: وما مست يد رسول الله صلى الله عليه وسلم امرأة إلا امرأة يملكها. فإنه رأي لعائشة وتعبير عن مبلغ علمها، وإذا قورن قول عائشة بحديث أم عطية هذا ترجح حديث أم عطية، لأنه نص عن عمل حصل أمام الرسول، ودل على عمل للرسول فهو أرجح من رأي محض لعائشة. ولذلك رجح الرواة حديث أم عطية وأخذوا به وأجازوا مصافحة الرجل للمرأة.
“Dan termasuk dalil yang menunjukkan bahwa tangan itu bukan aurat adalah jabatan tangannya Rasulullah saw kepada wanita dalam baiat. Dari Umi Athiyah ra berkata; “Kami pernah berbaiat kepada Nabi saw. lalu beliau membacakan kepada kami; “Hendaknya mereka tidak menyekutukan sesuatu kepada Allah” dan beliau melarang kami niyahah. Lalu seorang perempuan dari kami menarik tangannya lalu ia berkata; “Sipulanah telah membantu saya dan saya hendak membalasnya”. Maka beliau Nabi tidak berkata sedikitpun, lalu perempuan itu pergi kemudian ia kembali”. Hadis ini menunjukkan bahwa kaum wanita pernah berbaiat dengan tangan, karena perempuan ini telah menarik tangannya setelah ia mengulurkannya untuk baiat. Maka keberadaan hadis yang menjelaskan bahwa seorang perempuan telah menarik tangannya ketika ia mendengar lafadz baiat adalah sharih [jelas] bahwa baiat itu dengan tangan, dan bahwa Rasulullah saw telah membaiat kaum wanita dengan tangannya yang mulia.

Sedangkan hadis yang telah diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa ia berkata; “Tangan Rasulullah saw tidak pernah menyentuh perempuan kecuali perempuan yang dimilikinya”. Maka itu adalah pendapat Aisyah dan ungkapan dari capaian ilmunya. Ketika perkataan Aisyah itu ditemukan dengan hadis Umi Athiayah ini, maka hadis Umi Athiyah menjadi unggul, karena menjelaskan perbuatan yang terjadi di depan Rasulullah saw dan menunjukkan perbuatan Rasulullah. Maka hadis itu lebih unggul dari pada pendapat murni Aisyah. Oleh karena itu para perawi hadis mengunggulkan hadis Umi Athiyah dan mengambilnya, dan mereka membolehkan jabatan tangan laki-laki kepada perempuan”.

Dan dalam kitab yang sama hal. 57-58 Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani menjelaskan;
أما بالنسبة للمصافحة فإنه يجوز للرجل أن يصافح المرأة وللمرأة أن يصافح الرجل دون حائل بينهما لما ثبت في صحيح البخاري عن أم عطية قالت: بايعنا النبي صلى الله عليه وسلم فقرأ علينا أن لا يشركن بالله شيئا ونهانا عن النياحة، فقبضت امرأة منا يدها. وكانت المبايعة بالمصافحة. ومعنى قبضت يدها ردت يدها بعد أن كانت مدتها للمبايعة. فكونها قبضت يدها يعني أنها كانت ستبايع بالمصافحة.

ومفهوم فقبضت امرأة منا يدها أن غيرها لم تقبض يدها وهذا يعني أن غيرها بايع بالمصافحة. وأيضا فإن مفهوم قوله تعالى: أو لامستم النساء. بلفظه العام لجميع النساء من حيث أن الملاسمة تنقض الوضوء يدل اقتصار الحكم على نقض الوضوء من لمس النساء على أن لمسهن بغير شهوة ليس حراما فمصافحتهن كذلك ليست حراما. علاوة على أن يد المرأة ليست بعورة ولا يحرم النظر إليها بغير شهوة فلا تحرم مصافحتها.
“Adapun terkait jabatan tangan, maka boleh bagi laki-laki berjabatan tangan dengan perempuan, dan bagi perempuan berjabatan tangan dengan laki-laki tanpa ada tirai [pemisah] di antara keduanya, karena hadis yang tetap pada Shahih Bukhari dari Umi Athiyah berkata; “Kami pernah berbaiat kepada Nabi saw. lalu beliau membacakan kepada kami; “Hendaknya mereka tidak menyekutukan sesuatu kepada Allah” dan beliau melarang kami niyahah. Lalu seorang perempuan dari kami menarik tangannya”. Dan pembaiatan itu dengan berjabatan tangan. Sedangkan makna “menarik tangannya” adalah mengembalikan tangannya setelah ia mengulurkannya untuk berbaiat. Jadi keberadaannya menarik tangannya itu berarti bahwa ia telah bersiap untuk berbaiat dengan berjabatan tangan.

Sedangkan mafhum “Lalu seorang perempuan dari kami menarik tangannya” adalah bahwa selain dia tidak menarik tangannya. Ini berarti bahwa selain dia telah berbaiat dengan berjabatan tangan. Begitu juga mafhum firman Allah swt; “Atau kalian telah menyentuh wanita”, dengan lafadznya yang umum untuk semua wanita, dari sisi bahwa bersentuhan itu membatalkan wudhu, itu menunjukan pembatasan hukum atas batalnya wadhu dari menyentuh wanita, bahwa menyentuh mereka dengan tanpa syahwat itu tidak haram, maka berjabatan tangan dengan mereka dengan tanpa syahwat juga tidak haram. Apalagi tangan perempuan itu bukan aurat, dan tidak haram memandang kepadanya dengan tanpa syahwat, maka tidak haram berjabatan tangan dengannya”.

Metode istinbath Syaikh Taqiyyuddin seperti di atas itu sesuai dengan fitrah, yaitu menenangkan hati dan memuaskan akal. Lebih-lebih dengan gaya bahasa yang sederhana dan mudah difahami. Itu menunjukan bahwa beliau sangat menguasai berbagai disiplin ilmu. Maka tidak berlebihan ketika ada yang mengklaim bahwa beliau telah mencapai derajat mujtahid muthlaq [tanpa qayyid]. Dan dari penjelasan beliau juga dapat diketahui bahwa berjabatan tangan yang dibolehkan adalah berjabatan tangan dengan tanpa syahwat. Jadi alasannya sama dengan alasan yang dipakai oleh para kyai NU yang ramai-ramai berjabatan tangan dengan ajnabiyah dengan alasan dengan tanpa syahwat.

Padahal meskipun dalam pandangan Hizbut Tahrir berjabatan tangan dengan ajnabiyah itu boleh, para syabab dan syabah Hizbut Tahrir tidak melakukannya di antara mereka, karena sesuatu yang mubah itu boleh ditinggalkan, artinya tidak sunah dan tidak wajib dikerjakan. Lebih-lebih ketika adanya syahwat dan takut terjadi fitnah, seperti takut diikuti oleh orang awam, apalagi di antara muda mudi yang ganteng dan cantik yang tentu tegangan syahwatnya 220, maka berjabatan tangan bisa menjadi haram. (Abulwafa Romli).

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: