//
you're reading...
Al Khilafah, Uncategorized

Apa Itu Khilafah ?

Gambar

Secara ringkas, Imam Taqiyyuddin An Nabhani mendefinisikan Khilafah sebagai kepemimpinanumum bagi seluruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum SyariatIslam dan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia (Imam Taqiyyuddin An Nabhani, Nizhamul Hukmi fil Islam, hal. 17)

Dari definisi ini, jelas bahwa Daulah Khilafah adalah hanya satuuntuk seluruh dunia.  Karena nash-nash syara’ (nushush syar’iyah) memangmenunjukkan kewajiban umat Islam untuk bersatu dalam satu institusi negara.Sebaliknya haram bagi mereka hidup dalam lebih dari satu negara.

 

Apa hukumnya mendirikan Khilafah?

Dari definisi di atas, jelas bahwa Daulah Khilafah adalah hanyasatu untuk seluruh dunia.  Karena nash-nash syara’ (nushush syar’iyah) memangmenunjukkan kewajiban umat Islam untuk bersatu dalam satu institusi negara.Sebaliknya haram bagi mereka hidup dalam lebih dari satu negara.

Kewajiban tersebut didasarkan pada nash-nash al-Qur`an,as-Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan Qiyas. Dalam al-Qur`an Allah SWT berfirman:  “Danberpeganglah kalian semuanya dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalianbercerai berai…” (Qs.Ali-’Imraan [3]: 103). 

Rasulullah SAW dalam masalah persatuan umat ini bersabda: “Barangsiapamendatangi kalian –sedang urusan (kehidupan) kalian ada di bawah kepemimpinansatu orang (Imam/Khalifah)– dan dia hendak memecah belah kesatuan kalian danmencerai-beraikan jamaah kalian, maka bunuhlah dia!” [HR. Muslim].

Rasulullah SAW bersabda: “Jika dibai’at dua orang Khalifah,maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” [HR. Muslim].

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membai’at seorang Imam(Khalifah), lalu memberikan genggaman tangannya dan menyerahkan buah hatinya,hendaklah ia mentaatinya semaksimal mungkin.  Dan jika datang orang lainhendak mencabut kekuasaannya, penggallah leher orang itu.” [HR. Muslim].

Di samping itu, Rasulullah SAW menegaskan pula dalam perjanjianantara kaum Muhajirin-Anshar dengan Yahudi: “Dengan nama Allah, Yang MahaPengasih lagi MahaPenyayang. Surat Perjanjian ini dari Muhammad —Nabi antaraorang-orang beriman dan kaum muslimin dari kalangan Quraisy dan Yatsrib –sertayang mengikut mereka dan menyusul mereka dan berjihad bersama-sama mereka–bahwa mereka adalah ummat yang satu, di luar golongan orang lain…” (Lihat Sirah Ibnu Hisyam, Jilid II,hal. 119).

Nash-nash al-Qur`an dan as-Sunnah di atas menegaskan adanyakewajiban bersatu bagi kaum muslimin atas dasar Islam (hablullah) –bukan atasdasar kebangsaan atau ikatan palsu lainnya yang direkayasa penjajah yang kafir—di bawah satu kepemimpinan, yaitu seorang Khalifah. Dalil-dalil di atas jugamenegaskan keharaman berpecah-belah, di samping menunjukkan pula jenis hukumansyar’i bagi orang yang berupaya memecah-belah umat Islam menjadi beberapa negara,yakni hukuman mati.

Selain al-Qur`an dan as-Sunnah, Ijma’ Shahabat pun menegaskanpula prinsip kesatuan umat di bawah kepemimpinan seorang Khalifah. Abu BakarAsh Shiddiq  suatu ketika pernah berkata,”Tidak halal kaum musliminmempunyai dua pemimpin (Imam).” Perkataan ini didengar oleh para shahabat dantidak seorang pun dari mereka yang mengingkarinya, sehingga menjadi ijma’dikalangan mereka.

Bahkan sebagian fuqoha menggunakan Qiyas ¾sumber hukum keempat¾untuk menetapkan prinsip kesatuan umat. Imam Al Juwaini berkata,”Para ulamakami (madzhab Syafi’i) tidak membenarkan akad Imamah (Khilafah) untuk duaorang…Kalau terjadi akad Khilafah untuk dua orang, itu sama halnya denganseorang wali yang menikahkan seorang perempuan dengan dua orang laki-laki!”

Artinya, Imam Juwaini mengqiyaskan keharaman adanyadua Imam bagi kaum muslimin dengan keharaman wali menikahkan seorang perempuandengan dua orang lelaki yang akan menjadi suaminya. Jadi, Imam/Khalifah untukkaum muslimin wajib hanya satu, sebagaimana wali hanya boleh menikahkan seorangperempuan dengan satu orang laki-laki, tidak boleh lebih. (Lihat Dr. MuhammadKhair, Wahdatul Muslimin fi Asy Syari’ah Al Islamiyah, majalah Al Wa’ie, hal.6-13, no. 134, Rabi’ul Awal 1419 H/Juli 1998 M)

Jelaslah bahwa kesatuan umat di bawah satu Khilafah adalah satukewajiban syar’i yang tak ada keraguan lagi padanya. Karena itu, tidakmengherankan bila para imam-imam madzhab ¾Imam Abu Hanifah, Imam Malik, ImamSyafi’i, dan Imam Ahmad¾ bersepakat bulat bahwa kaum muslimin di seluruh duniahanya boleh mempunyai satu orang Khalifah saja, tidak boleh lebih: “…paraimam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad) –rahimahumullah–bersepakat pula bahwa kaum mulimin di seluruh dunia pada saat yang sama tidakdibenarkan mempunyai dua imam, baik keduanya sepakat maupun tidak.” (Lihat Syaikh Abdurrahman Al Jaziri,Al Fiqh ‘Ala Al Madzahib Al Arba’ah, jilid V, hal. 416)

ukum menegakkan Khilafah itu sendiri adalah wajib, tanpa adaperbedaan pendapat di kalangan imam-imam madzhab dan mujtahid-mujtahid besaryang alim dan terpercaya. 

Siapapun yang menelaah dalil-dalil syar’i dengan cermat danikhlas akan menyimpulkan bahwa menegakkan Daulah Khilafah hukumnya wajib atasseluruh kaum muslimin.  Di antara argumentasi syar’i yang menunjukkan haltersebut adalah:

 

Dalil Al-Qur’an

Di dalam al-Qur’an memang tidak terdapat istilah Daulah yangberarti negara. Tetapi di dalam al-Qur’an terdapat ayat yang menunjukkanwajibnya umat memiliki pemerintahan/negara (ulil amri) dan wajibnya menerapkanhukum dengan hukum-hukum yang diturunkan Allah SWT. 

Allah SWT berfirman:  “Wahai orang-orang yang beriman,taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul-Nya dan ulil amridi antara kalian.” (Qs.An-Nisaa` [4]: 59). 

Ayat di atas telah memerintahkan kita untuk mentaati Ulil Amri,yaitu Al Haakim (Penguasa). Perintah ini, secara dalalatul iqtidha`, berartiperintah pula untuk mengadakan atau mengangkat Ulil Amri itu, seandainya UlilAmri itu tidak ada, sebab tidak mungkin Allah memerintahkan kita untuk mentaatipihak yang eksistensinya tidak ada. Allah juga tidak mungkin mewajibkan kitauntuk mentaati seseorang yang keberadaannya berhukum mandub. Maka menjadi jelasbahwa mewujudkan ulil amri adalah suatu perkara yang wajib. Tatkala Allah memberiperintah untuk mentaati ulil amri, berarti Allah memerintahkan pula untukmewujudkannya. Sebab adanya ulil amri menyebabkan terlaksananya kewajibanmenegakkan hukum syara’, sedangkan mengabaikan terwujudnya  ulil amrimenyebabkan terabaikannya hukum syara’. Jadi mewujudkan ulil amri itu adalahwajib, karena kalau tidak diwujudkan akan menyebabkan terlanggarnya perkarayang haram, yaitu mengabaikan hukum syara’ (tadhyii’ al hukm asy syar’iy).

Di samping itu, Allah SWT telah memerintahkan Rasulullah SAW untukmengatur urusan kaum muslimin berdasarkan hukum-hukum yang diturunkan AllahSWT. Firman Allah SWT:   “Maka putuskanlah perkara di antaradi antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikutihawa nafsu mereka (dengan) meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.”(Qs.Al-Maa’idah [5]: 48). 

“Dan putuskanlah perkara di antara di antara mereka dengan apayang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Danberhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dariapa yang telah diturunkan Allah kepadamu”  (Qs.Al-Maa’idah [5]: 49).  

Dalam kaidah ushul fiqh dinyatakan bahwa, perintah (khitab)Allah kepada Rasulullah juga merupakan perintah kepada umat Islam selama tidakada dalil yang mengkhususkan perintah ini hanya untuk Rasulullah (Khitaburrasuli khithabun li ummatihi malam yarid dalil yukhashishuhu bihi). Dalam halini tidak ada dalil yang mengkhususkan perintah tersebut hanya kepadaRasulullah SAW. Oleh karena itu, ayat-ayat tersebut bersifat umum, yaituberlaku pula bagi umat Islam. Dan menegakkan hukum-hukum yang diturunkan Allah,tidak mempunyai makna lain kecuali kecuali menegakkan hukum dan pemerintahan(as sulthan), sebab dengan pemerintahan itulah hukum-hukum yang diturunkanAllah dapat diterapkan secara sempurna. Dengan demikian, ayat-ayat inimenunjukkan wajibnya keberadaan sebuah negara untuk menjalankan semua hukumIslam, yaitu negara Khilafah.

 

Dalil As-Sunnah

Abdullah bin Umar meriwayatkan, “Aku mendengar Rasulullahmengatakan, ‘Barangsiapa melepaskan tangannyadari ketaatan kepada Allah, niscaya  dia akan menemui Allah di Hari Kiamatdengan tanpa alasan. Dan barangsiapa mati sedangkan di lehernya tak ada bai’ah(kepada Khalifah) maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” [HR. Muslim]. 

          Nabi SAWmewajibkan adanya bai’at pada leher setiap muslim dan mensifati orang yang matidalam keadaan tidak berbai’at seperti matinya orang-orang jahiliyyah. Padahalbai’at hanya dapat diberikan kepada Khalifah, bukan kepada yang lain. Jadihadits ini menunjukkan kewajiban mengangkat seorang Khalifah, yang dengannyadapat terwujud bai’at di leher setiap muslim. Sebab bai’at baru ada di leherkaum muslimin kalau ada Khalifah/Imam yang memimpin Khilafah. 

Rasulullah SAW bersabda: “Bahwasanya Imam itu bagaikan perisa(tameng), dari belakangnya umat berperang dan dengannya umat berlindung.” [HR. Muslim]

Rasulullah SAW bersabda: “Dahulu para nabi yang mengurus BaniIsrail. Bila wafat seorang  nabi diutuslah nabi berikutnya, tetapi tidakada lagi nabi setelahku. Akan ada para Khalifah dan jumlahnya akan banyak.”Para shahabat bertanya,’Apa yang engkau perintahkan kepada kami? Nabimenjawab,’Penuhilah bai’at yang pertama dan yang pertama itu saja. Penuhilahhak-hak mereka. Allah akan meminta pertanggungjawaban terhadap apa yang menjadikewajiban mereka.” [HR.Muslim].

Rasulullah SAW bersabda:

Bila seseorang melihat sesuatu yang tidak disukai dari amirnya(pemimpinnya), maka bersabarlah. Sebab barangsiapa memisahkan diri daripenguasa (pemerintahan Islam) walau sejengkal saja lalu ia mati, maka matinyaadalah mati jahiliyah.” [HR. Muslim].

Hadits pertama dan kedua merupakan pemberitahuan (ikhbar) dariRasulullah SAW bahwa seorang Khalifah adalah  laksana perisai, dan bahwaakan ada penguasa-penguasa yang memerintah kaum muslimin. Pernyataan RasulullahSAW bahwa seorang Imam itu laksana perisai menunjukkan pemberitahuan tentangadanya faidah-faidah keberadaan seorang Imam, dan ini merupakan suatu tuntutan(thalab). Sebab, setiap pemberitahuan yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya,apabila mengandung celaan (adz dzamm) maka yang dimaksud adalah tuntutan untukmeninggalkan (thalab at tarki), atau merupakan larangan (an nahy); dan apabilamengandung pujian (al mad-hu) maka yang dimaksud adalah tuntutan untukmelakukan perbuatan (thalab al fi’li). Dan kalau pelaksanaan perbuatan yangdituntut itu menyebabkan tegaknya hukum syara’ atau jika ditinggalkanmengakibatkan terabaikannya hukum syara’, maka tuntutan untuk melaksanakanperbuatan itu berarti bersifat pasti (fardlu). Jadi hadits pertama dan keduaini menunjukkan wajibnya Khilafah, sebab tanpa Khilafah banyak hukum syara’akan terabaikan.

Hadits ketiga menjelaskan keharaman kaum muslimin keluar(memberontak, membangkang) dari penguasa (as sulthan). Berarti keberadaanKhilafah adalah wajib, sebab kalau tidak wajib tidak mungkin Nabi SAW sampaibegitu tegas menyatakan bahwa orang yang memisahkan diri dari Khilafah akanmati jahiliyah. Jelas ini menegaskan bahwa mendirikan pemerintahan bagi kaummuslimin statusnya adalah wajib. 

Rasulullah SAW bersabda pula :  “Barangsiapa membai’at seorang Imam (Khalifah), lalumemberikan genggaman tangannya dan menyerahkan buah hatinya, hendaklah iamentaatinya semaksimal mungkin.  Dan jika datang orang lain hendakmencabut kekuasaannya, penggallah leher orang itu.” [HR. Muslim].

Dalam hadits ini Rasululah SAW telah memerintahkan kaum musliminuntuk mentaati para Khalifah dan memerangi orang-orang yang merebut kekuasaanmereka. Perintah Rasulullah ini berarti perintah untuk mengangkat seorangKhalifah dan memelihara kekhilafahannya dengan cara memerangi orang-orang yangmerebut kekuasaannya. Semua ini merupakan penjelasan tentang wajibnyakeberadaan penguasa kaum muslimin, yaitu Imam atau Khalifah. Sebab kalau tidakwajib, niscaya tidak mungkin Nabi SAW memberikan perintah yang begitu tegasuntuk memelihara eksistensinya, yaitu perintah untuk memerangi orang yang akanmerebut kekuasaan Khalifah.

Dengan demikian jelaslah, dalil-dalil As Sunnah ini telahmenunjukkan wajibnya Khalifah bagi kaum muslimin.  

 

Dalil Ijma’ Shahabat

Sebagai sumber hukum Islam ketiga, Ijma’ Shahabat menunjukkanbahwa mengangkat seorang Khalifah sebagai pemimpin pengganti Rasulullah SAWhukumnya wajib.  Mereka telah sepakat mengangkat Khalifah Abu Bakar AshShiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib,ridlwanullah ‘alaihim.

Ijma’ Shahabat yang menekankan pentingnya pengangkatan Khalifah,nampak jelas dalam kejadian bahwa mereka menunda kewajiban menguburkan jenazahRasulullah SAW dan mendahulukan pengangkatan seorang Khalifah pengganti beliau.Padahal menguburkan mayat secepatnya adalah suatu keharusan dan diharamkan atas orang-orang yang wajib menyiapkan pemakaman jenazah untukmelakukan kesibukan lain sebelum jenazah dikebumikan.  Namun, parashahabat yang wajib menyiapkan pemakaman jenazah Rasulullah SAW ternyatasebagian di antaranya justru lebih mendahulukan upaya-upaya untuk mengangkatKhalifah daripada menguburkan jenazah Rasulullah. Sedangkan sebagian shahabatlain mendiamkan kesibukan mengangkat Khalifah tersebut, dan ikut pulabersama-sama menunda kewajiban menguburkan jenazah Nabi SAW sampai dua malam,padahal mereka mampu mengingkari hal ini dan mampu mengebumikan jenazah Nabisecepatnya. Fakta ini menunjukkan adanya kesepakatan (ijma’) mereka untuksegera melaksanakan kewajiban mengangkat Khalifah daripada menguburkan jenazah.Hal itu tak mungkin terjadi kecuali jika status hukum mengangkat seorangKhalifah adalah lebih wajib daripada menguburkan jenazah. 

Demikian pula bahwa seluruh shahabat selama hidup mereka telahbersepakat mengenai kewajiban mengangkat Khalifah. Walaupun sering munculperbedaan pendapat mengenai siapa yang tepat untuk dipilih dan diangkat menjadiKhalifah, namun mereka tidak pernah berselisih pendapat sedikit pun mengenaiwajibnya mengangkat seorang Khalifah, baik ketika wafatnya Rasulullah SAWmaupun ketika pergantian masing-masing Khalifah yang empat. Oleh karena ituIjma’ Shahabat merupakan dalil yang jelas dan kuat mengenai kewajibanmengangkat Khalifah. 

 

Dalil Dari Kaidah Syar’iyah

Ditilik dari analisis ushul fiqh, mengangkat Khalifah jugawajib. Dalam ushul fiqh dikenal kaidah syar’iyah yang disepakati para ulama: “Sesuatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali adanya sesuatu, makasesuatu itu wajib pula keberadaannya.” 

Menerapkan hukum-hukum yang berasal dari Allah SWT dalam segalaaspeknya adalah wajib. Sementara hal ini tidak dapat dilaksanakan dengansempurna tanpa adanya kekuasaan Islam yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Makadari itu, berdasarkan kaidah syar’iyah tadi, eksistensi Khilafah hukumnyamenjadi wajib.

Jelaslah, berbagai sumber hukum Islam tadi menunjukkan bahwamenegakkan Daulah Khilafah merupakan kewajiban dari Allah SWT atas seluruh kaummuslimin.  

 

Pendapat Para Ulama

Seluruh imam madzhab dan para mujtahid besar tanpa kecuali telahbersepakat bulat akan wajibnya Khilafah (atau Imamah)  ini. SyaikhAbdurrahman Al Jaziri menegaskanhal ini dalam kitabnya Al Fiqh ‘Ala Al Madzahib Al Arba’ah, jilid V, hal. 416:

“Para imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad)–rahimahumullah– telah sepakat bahwa Imamah (Khilafah) itu wajib adanya, danbahwa ummat Islam wajib mempunyai seorang imam (khalifah,) yang akanmeninggikan syiar-syiar agama serta menolong orang-orang yang tertindas dariyang menindasnya…”

Tak hanya kalangan Ahlus Sunnah saja yang mewajibkan Khilafah,bahkan seluruh kalangan Ahlus Sunnah dan Syiah ¾termasuk Khawarij danMu’tazilah¾ tanpa kecuali bersepakat tentang wajibnya mengangkat seorangKhalifah. Kalau pun ada segelintir orang yang tidak mewajibkan Khilafah, makapendapatnya itu tidak perlu dianggap, karena bertentangan dengan nash-nashsyara’ yang telah jelas.

Imam Asy Syaukani dalam Nailul Authar jilid 8 hal. 265menyatakan: “Menurut golongan Syiah, minoritasMu’tazilah, dan Asy A’riyah, (Khilafah) adalah wajib menurut syara’.”

Ibnu Hazm dalamAl Fashl fil Milal Wal Ahwa’ Wan Nihal juz 4 hal. 87 mengatakan: “Telahsepakat seluruh Ahlus Sunnah, seluruh Murji`ah, seluruh Syi’ah, dan seluruhKhawarij, mengenai wajibnya

Imamah (Khilafah).”

Bahwa Khilafah adalah sebuah ketentuan hukum Islam yang wajib¾bukan haram apalagi bid’ah— dapat kitab temukan dalam khazanah TsaqafahIslamiyah yang sangat kaya. Berikut ini sekelumit saja referensi yangmenunjukkan kewajiban Khilafah: Imam Al Mawardi,  AlAhkamush Shulthaniyah, hal. 5, Abu Ya’la Al Farraa’, Al Ahkamush Shulthaniyah, hal.19IbnuTaimiyahAs Siyasah Asy Syar’iyah, hal.161IbnuTaimiyah, Majmu’ul Fatawa, jilid 28 hal. 62ImamAl GhazaliAl Iqtishaad fil I’tiqad,hal. 97Ibnu KhaldunAl Muqaddimah, hal.167,  ImamAl QurthubiTafsir Al Qurthubi, juz 1 hal.264IbnuHajar Al HaitsamiAsh Shawa’iqul Muhriqah,  hal.17IbnuHajar A1 AsqallanyFathul Bari, juz 13 hal. 176,Imam An NawawiSyarah Muslim, juz 12hal. 205Dr. Dhiya’uddin Ar RaisAlIslam Wal Khilafah, hal.99Abdurrahman Abdul KhaliqAsySyura, hal.26Abdul Qadir AudahAl Islam Wa Audla’unaAs Siyasiyah, hal. 124Dr. Mahmud Al KhalidiQawaidNizham Al Hukum fil Islam, hal. 248SulaimanAd Diji,  AlImamah Al ‘Uzhma, hal.75Muhammad AbduhAlIslam Wan Nashraniyah, hal. 61, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Adapun buku-buku yang mengingkari wajibnya Khilafah –seperti AlIslam Wa Ushululul Hukm oleh AliAbdur RaziqMabadi` Nizham Al Hukmi fil Islam oleh AbdulHamid MutawalliTidak Ada Negara Islamoleh NurcholisMadjid—sebenarnya tidak perlu dianggap sebagai buku yang seriusdan bermutu. Sebab isinya bertentangan dengan nash-nash syara’ yang demikianjelas dan terang. Buku-buku seperti ini tak lain hanya sampah yang kotor yangmerupakan penyambung lidah kaum kafir penjajah –dan agen-agennya yaitu parapenguasa muslim yang zalim– yang selalu memaksakan sekulerisme kepada umatIslam dengan berbagai argumentasi palsu yang berkedok studi “ilmiah” atau studi“sosiohistoris-objektif”, dengan tujuan untuk menghapuskan hukum-hukum Allahdari muka bumi dengan cara menghapuskan ide Khilafah yang bertanggung jawabmelaksanakan hukum-hukum tersebut.  

 

Bagaimana metode (cara) mendirikan Khilafah itu?

Dalam hal ini perlu ditegaskan 2 (dua) prinsip. Pertama, bahwaaktivitas muslim wajib bersandar kepada hukum syara’, bukan bersandar kepadaselainnya, seperti kepentingan sesaat, hawa nafsu, atau akal. Karena itu,perjuangan umat untuk mendirikan Khilafah harus berdasarkan kepada hukum-hukumsyara’, tidak boleh didasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan yangnon-syara’. Keterikatan kepada Syariat Islam adalah kewajiban tiap muslim.Kedua, bahwa umat Islam wajib mengambil suri teladan (uswah hasanah) dari NabiMuhammad SAW dalam masalah ini. Sebab, Rasulullah SAW telah memberi teladanbagaimana cara mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat Islam. Kitawajib meneladani manhaj (metode) Rasulullah SAW ini. Firman Allah SWT:  “Sesungguhnya telah ada pada (diri)Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yangmengharap (rahmat) Allah dan kedatangan Hari Kiamat, dan dia banyak menyebutAllah (dengan membaca dzikir dan mengingat Allah).” (Qs. Al-Ahzab [33]: 21).  

“Katakanlah: ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah,ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Qs.Ali-Imran [3]: 31).  

 “Apa saja yang dibawa Rasul untuk kalian, maka ambilah.Dan apa saja yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah.” (Qs.Al-Hasyr [59]: 7).  

Berdasarkan 2 (dua) prinsip itulah, maka langkah-langkah untukmendirikan Khilafah dapat disarikan sebagai berikut:

1. Perjuangan harus dilakukan secara jama’i (berkelompok).Sebab mendirikan Khilafah adalah tugas yang berat yang tidak akan mampu dipikuloleh individu-individu. Karena itu, umat wajib berkelompok (berjamaah) untukmendirikan Khilafah, sebab tanpa berkelompok tak mungkin kewajiban mulia itudapat terealisir secara sempurna. Kaidah syara’ menetapkan:                                       

Maa laa yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajib

“Jika sebuah  kewajiban tidak sempurna kecuali denganadanya sesuatu, maka sesuatu itu wajib pula hukumnya.”

Selain itu, berdirinya jamaah yang menyeru kepada Islam danmelaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar adalah wajib pula berdasarkan firmanAllah SWT:   “(Dan) hendaklah ada di antara kaliansegolongan umat (jamaah) yang menyeru kepada kebaikan (mengajak memilihkebaikan, yaitu memeluk Islam), memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarangdari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (Qs. Ali-Imran [3]: 104).  

2. Perjuangan harus berada di jalur politik (siyasah).Sebab mendirikan Khilafah adalah masalah politik sehingga metode yang relevanuntuk mendirikannya tentunya adalah melalui pendekatan politik. Penggunaanjalan politik ini bukan berarti menghalalkan segala cara, sebagaimana praktekpolitik saat ini yang sangat kotor dan tuna susila.  Akan tetapi maksudnyaadalah, perjuangan yang dilakukan harus selalu mengacu pada aktivitaspemeliharaan urusan umat, sebab politik (siyasah) adalah pemeliharaan danpengaturan segala urusan umat menurut hukum-hukum syara’.

Dengan demikian, penegakan Khilafah tidak ditempuh melalui jalurselain politik. Jadi, mendirikan Khilafah paling tepat dilakukan oleh sebuahkelompok politik. Tidak tepat bila mendirikan Khilafah ditempuh melalui jalurselain politik, misalnya jalur yang dilakukan kelompok yang mengadakan kegiatansosial-kemasyarakatan (seperti membangun sekolah dan rumah sakit; membantufakir miskin, anak-anak yatim atau orang-orang jompo dan sebagainya), ataukelompok yang bergerak dalam peribadatan dan amalan-amalan sunnah, ataukelompok yang menerbitkan buku-buku keislaman, mentakhrij hadits-hadits NabiSAW, dan sebagainya.

Memang, semua itu adalah amal shaleh, bukan amal salah. Namuntidak tepat kalau itu dimaksudkan sebagai langkah atau jalur menuju berdirinyaKhilafah.   

3. Perjuangan tidak menggunakan cara kekerasan (fisik),misalnya dengan membentuk milisi-milisi bersenjata untuk menyerang penguasa.Sebab, aktivitas  Rasulullah SAW di Mekah terbatas hanya pada dakwahsecara lisan dan tidak melakukan kegiatan apapun yang bersifat fisik sampaibeliau Hijrah. Bahkan tatkala tokoh-tokoh Madinah menawarkan kepada beliau padaBai’atul Aqabah II agar mereka diizinkan memerangi penduduk Mina dengan pedang,Rasulullah SAW menjawab “lam nu`mar bi dzalika ba’du”(“Kami belum diperintahkan (untukmelakukan yang demikian (perang)”).

Kekuatan fisik yang dimaksud dalam hal ini tidak ada hubungannyadengan Jihad. Jihad tetap berlangsung terus hingga hari Kiamat. Apabilamusuh-musuh kafir menyerang salah satu negeri Islam, maka wajib atas kaummuslimin yang menjadi penduduk negeri itu untuk menghadapinya.  

4. Perjuangan harus menempuh tahap-tahap (marhalah) yangdicontohkan Rasulullah SAW. Dengan mendalami sirahRasulullah SAW di Makkah hingga beliau berhasil mendirikan suatu Daulah Islamdi Madinah, akan tampak jelas beliau menjalani dakwahnya dengan beberapatahapan yang jelas ciri-cirinya. Beliau melakukan kegiatan-kegiatan tertentuyang tampak dengan jelas tujuan-tujuannya. Dari sirah Rasulullah SAW inilahkita mengambil metode dakwah dan tahapan-tahapannya, beserta kegiatan-kegiatanyang harus dilakukannya pada seluruh tahapan ini. Berdasarkan sirah RasulullahSAW tersebut, kita dapati terdapat 3 (tiga) tahapan (marhalah) berikut :Pertama, Tahapan Pembinaan dan Pengkaderan (Marhalah At Tatsqif), yangdilaksanakan untuk membentuk kader-kader yang mempercayai pemikiran Islam dalamrangka pembentukan kerangka tubuh jamaah/kelompok. Kedua, Tahapan Berinteraksidengan Umat (Marhalah Tafa’ul Ma’a Al Ummah), yang dilaksanakan agar umat turutmemikul kewajiban dakwah Islam, hingga umat menjadikan Islam sebagaipermasalahan utamanya, agar umat berjuang untuk mewujudkannya dalam realitaskehidupan. Ketiga, Tahapan Pengambilalihan Kekuasaan (Marhalah Istilaam AlHukm), yang dilaksanakan untuk menerapkan Islam secara menyeluruh dan mengembanrisalah Islam ke seluruh dunia.

Tahap pertama tersebut, serupa dengan apa yang telah dilakukanRasulullah SAW pada tahap awal dakwah beliau yang berlangsung selama tigatahun. Beliau berdakwah melalui individu dan menyam­paikan kepada orang-orang(yang ada di Mekah dan sekitarnya) apa yang telah disampaikan Allah kepada­nya.Bagi orang yang sudah mengimaninya, maka diikat dengan kelompoknya (pengikutRasul) atas dasar Islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah SAW berusahamengajarkan Islam kepada setiap orang baru dan membacakan kepada mereka apa-apayang telah diturunkan Allah dan ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga mereka berpolahidup secara Islam. Beliau bertemu dengan mereka secara rahasia dan membinamereka secara rahasia pula di tempat-tempat yang tersembunyi. Selain itu merekamelaksanakan ibadah secara sembunyi-sembunyi. Kemudian penyebaran Islam makinmeluas dan menjadi buah bibir masyarakat (Mekah), yang pada akhirnya secaraberangsur-angsur mereka masuk ke dalam Islam

Adapun tahap kedua, dilaksanakan Rasulullah SAW setelah turunnyafirman Allah SWT:  “Makasampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan(kepadamu) dan berpa linglah dari orang-orang yang musyrik.” (Qs. Al-Hijr [15]: 94). 

Rasulullah SAW diperintahkan menyampaikan risalahnya secara terang-terangan.Beliau menyeru orang-orang Quraisy di bukit Shafa dan memberitahu bahwasanyabeliau adalah seorang nabi yang diutus. Beliau meminta agar mereka berimankepadanya. Beliau memulai menyampaikan dakwahnya kepada kelompok-kelompok dankepada individu-individu. Beliau menentang orang-orang Quraisy melawantuhan-tuhan mereka, aqidah dan pemikiran mereka, mengungkapkan kepalsuan,kerusakan dan kesalahannya.

Beliau menyerang dan mencela setiap aqidah dan pemikiran kufuryang ada pada saat itu, sementara ayat al-Qur’an masih turun secaraberangsur-angsur. Ayat al-Qur’an tersebut turun dan menyerang apa yangdilakukan orang-orang Quraisy, seperti perbuatan memakan riba, menguburanak-anak perempuan (hidup-hidup), mengurangi timbangan dan perzinahan. Seiringdengan itu ayat al-Qur’an turun mengecam para pemimpin dan tokoh-tokoh Quraisy,mencapnya sebagai orang bodoh, termasuk nenek moyang mereka dan mengungkapkanpersekongkolan yang mereka rancang untuk menentang Rasul dansahabat-sahabatnya.

Sedang tahap ketiga, yakni pengambilalihan kekuasaan, ditempuhdengan cara melakukan thalabun nushrah (mencari pertolongan dan dukungan) untukmenjamin keberlangsungan dakwah secara aman dan memperoleh kekuasaan. Dalamsirah Rasulullah SAW, beliau mendapatkan nushrah dari kabilah Aus dan Khazrajyang dengan peristiwa Baiat Aqabah II, mereka akhirnya menjadikan RasulullahSAW sebagai pemimpin mereka dan menyerahkan kekuasaan kepada beliau. Secaranyata kekuasaan ini dilaksanakan dan dijalankan oleh Rasulullah SAW setelah beliauberhijrah ke Madinah dan menjadikan Madinah sebagai Daulah Islamiyah pertama dimuka bumi, untuk menegakkan hukum Allah di dalam negeri dan menyebarluaskanIslam dengan jalan dakwah dan jihad ke luar negeri. 

          Inilahlangkah-langkah yang harus ditempuh umat untuk mengembalikan KhilafahIslamiyah.  

 

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,845 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: