//
you're reading...
Catatan & Analisis

KESALAHAN LOGIKA IDRUS RAMLI (ke 15 dari 17) MENUDUH SYAIKH TAQIYYUDDIN AN-NABHANI MEMBOLEHKANBERSALAMAN DENGAN AJNABIYYAH SECARA MUTLAK

Dalam menjawab kronologi pertanyaan pada bukunya:

“DPP HTI beranggapan bahwa membolehkan  bersalaman dengan wanita ajnabiyyah selama tidakkhawatir menimbulkan fitnah bukanlah pendapat asing, bahkan ini merupakanpendapat mayoritas ulama di luar madzhab Syafi’i. Lihat, Wahbah Az-Zuhaily,al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, juz III/567. Sehingga kritik anda terhadapal-Nabhani karena membolehkan salaman dengan ajnabiyyah tidak tepat. Bagaimanasebenarnya?”

 

Idrus Ramli berkata:

“DPP HTI kurang teliti dalam memahami pernyataan Syaikh Wahbahaz-Zuhaily dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu yang berbedajauh dengan pernyataan al-Nabhani. Syaikh Wahbah az-Zuhaily berkata:

وتحرممصافحة المرأة ، لقوله صلى الله عليه وسلم: {إني لا أصافح النساء}. لكن الجمهورغير الشافعية أجازوا مصافحة العجوز التي لا تشتهى ، ومس يدها ، لانعدام خوف الفتنة.

 “Dan haram bersalaman dengan wanita ajnabiyah, karena sabda NabiSAW: “Sesungguhnya aku tidak bersalaman dengan kaum wanita”. Akan tetapimayoritas ulama selain madzhab Syafi’i membolehkan bersalaman dengan wanita tuayang tidak disyahwati, dan menyentuh tangannya, karena tidak adanyakekhawatiran timbulnya fitnah”.(Wahbah az-Zuhaily, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, [Damaskus, Darel-Fikr, tt], juz 4, hal. 2657).

Pernyataan Syaikh Wahbah az-Zuhaily di atas memberikan kesimpulanbahwa bersalaman dengan wanita ajnabiyyah pada dasarnya haram. Akan tetapi,mayoritas ulama selain madzhab Syafi’i, memberikan ruang kebolehan bersalamandengan wanita ajnabiyyah dengan dua ketentuan, yaitu wanita tersebut harussudah tua dan tidak disyahwati. Demikian ini berbeda dengan pernyataanal-Nabhnai yang membolehkan bersalaman dengan wanita ajnabiyyah secara mutlak.Pernyataan Syiakh Wahbah az-Zuhaily tersebut kurang dipahami secara teliti olehDPP HTI, sehingga menjadi kesimpulan yang terdistorsi. DPP HTI menyimpulkanpernyataan Syaikh Wahbah sebagai berikut: “Boleh bersalaman dengan wanitaajnabiyyah selama tidak khawatir menimbulkan fitnah”. Dengan demikian,pandangan al-Nabhani yang membolehkan bersalaman dengan wanita ajnabiyyahmerupakan pandangan yang asing dalam ilmu fiqih Islam. Wallahu a’lam.” (Jurus AmpuhMembungkam HTI, hal. 103-104).

SANGGAHAN:

Bismillahir Rohmaanir Rohiim

Sebagaimana telah saya sampaikan pada buku, Ketika Virus LiberalMenggerogoti Pondok Pesantren, Hizbut Tahrir Menjadi Kambing Hitam, bantahanatas Majalah Ijtihad Pondok Pesantren Sidogiri, dan buku, Membongkar PemikiranAswaja Topeng, bantahan atas buku Hizbut Tahrir dalam Sorotan. Sesungguhnyaberjabatan tangan antara laki-laki dan ajnabiyah yang dibolehkan oleh SyaikhTaqiyyuddin al-Nabhani dan Hizbut Tahrirnya adalah jabatan tangan bersyarat danterbatas, yaitu jabatan tangan dengan tanpa syahwat dan sewaktu-waktu, karenameskipun boleh, kalau dilakukan dengan berlebihan (israf), maka agama telahmelarangnya, yaitu terkait larangan berlebihan. Bukan jabatan tangan secarabebas (muthlaq) dan dikakukan dengan terus menerus. Kesimpulan ini dapat kitapahami dari pernyataan Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani yang utuh:

أمابالنسبة للمصافحة فإنه يجوز للرجل أن يصافح المرأة وللمرأة أن تصافح الرجل دونحائل بينهما لما ثبت في صحيح البخاري عن أُم عطية قالت: “بايعنا النبي – صلىالله عليه وسلم – فقرأ علينا أن لا يشركن بالله شيئاً ونهانا عن النياحة، فقبضتامرأة منا يدها” وكانت المبايعة بالمصافحة، ومعنى قبضت يدها ردت يدها بعد أنكانت مدتها للمبايعة. فكونها قبضت يدها يعني أنها كانت ستبايع بالمصافحة. ومفهوم”فقبضت امرأة منا يدها” أن غيرها لم تقبض يدها وهذا يعني أن غيرها بايعتبالمصافحة. وأيضاً فإن مفهوم قوله تعالى: { أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ } بلفظهالعام لجميع النساء من حيث أن الملامسة تنقض الوضوء يدل اقتصار الحكم على نقضالوضوء من لمس النساء على أن لمسهن بغير شهوة ليس حراماً فمصافحتهن كذلك ليستحراماً. علاوة على أن يد المرأة ليست بعورة ولا يحرم النظر إليها بغير شهوةفلا تحرم مصافحتها.{النظام الإجتماعي في الإسلام: 54}.

“Adapunterkait jabatan tangan, maka boleh bagi laki-laki berjabatan tangan denganperempuan, dan bagi perempuan berjabatan tangan dengan laki-laki tanpa adatirai (pemisah) di antaratangan keduanya, karena ada hadis padaShahih Bukhari dari Umi Athiyah berkata; “Kami pernah berbaiat kepadaNabi saw. lalu beliau membacakan kepada kami; “Hendaknya mereka tidakmenyekutukan sesuatu kepada Allah” dan beliau melarang kami niyahah. Laluseorang perempuan dari kami menarik (menggenggam) tangannya“. Danpembaiatan itu dengan berjabatan tangan. Sedangkan makna “menariktangannya” adalah mengembalikan tangannya setelah ia mengulurkannya untukberbaiat. Jadi keberadaan perempuan itu menarik tangannya itu berarti bahwa ia telah bersiap untukberbaiat dengan berjabatan tangan.

Sedangkan mafhum “Lalu seorang perempuan dari kami menariktangannya” adalah bahwa selain dia tidak menarik tangannya. Iniberarti bahwa selain dia telah berbaiat dengan berjabatan tangan. Begitu jugamafhum firman Allah swt; “Atau kalian telah menyentuh wanita“,dengan lafadznya yang umum untuk semua wanita, dari sisi bahwa bersentuhan itumembatalkan wudhu, itu menunjukan pembatasan hukum atas batalnya wadhu darimenyentuh wanita, bahwa menyentuh mereka dengan tanpa syahwat itu tidak haram, makaberjabatan tangan dengan mereka dengan tanpa syahwat juga tidak haram.Apalagi tangan perempuan itu bukan aurat, dan tidak haram memandang kepadanya dengantanpa syahwat, maka tidak haram berjabatan tangan dengannya”.

 

Dengan menyampaikan pernyataan Syaikh Taqiyyuddin secara utuh, kitadapat memahami bahwa berjabatan tangan dengan ajnabiyah yang dibolehkan olehbeliau adalah jabatan tangan dengan tanpa syahwat, bukan dengan syahwat,apalagi dengan mengumbar syahwat. Mafhumnya, berjabatan tangan dengan syahwatadalah haram, seperti yang selama ini biasa dilakukan oleh para laki-laki danwanita yang masih muda-muda, atau salah satu dari keduanya muda dan yangsatunya tua, atau salah satunya ada yang syahwat, maka jabatan tangan sepertiini adalah haram. Berarti yang dibolehkan adalah jabatan tangan antarakakek-kakek dan nenek-nenek yang keduanya sudah tidak memiliki syahwat. Akantetapi masalah syahwat dan tidaknya adalah masalah batin di mana hanya yangbersangkutan dan Tuhannya yang mengerti. Bisa saja laki-laki dan perempuan yangmasih muda sudah tidak syahwat terhadap lawan jenisnya seperti karena terlaluburuk atau keimanannya kepada Allah yang tinggi, atau kepada bidadari di surga,sehingga baginya semua yang ada di dunia adalah buruk dan tidak membangkitkansyahwat. Dan bisa saja kakek-kakek dan nenek-nenek yang sudah keriput dan peotmasih menyimpan syahwat yang tinggi karena lama tidak melihat lawan jenisnya.Maka solusinya disamping kita harus saling nasihat-menasihati juga harus baiksangka kepada seorang muslim. Dan karena jabatan tangan antara laki-laki danperempuan yang dibolehkan oleh Syaikh Taqiyyuddin adalah yang tanpa syahwat,para aktivis Hizbut Tahrir tidak melakukannya di antara syabab dan syabah,mereka tetap menjaga kehormatan (‘iffah) di antara sesama.

Dan di bawah adalah sejumlah pernyataan terkait berjabatan tangandengan ajnabiyah dengan tanpa syahwat:

فَإِنْكَانَا شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَلَا بَأْسَ بِالْمُصَافَحَةِ لِخُرُوجِالْمُصَافَحَةِ مِنْهُمَا مِنْ أَنْ تَكُونَ مُورِثَةً لِلشَّهْوَةِ لِانْعِدَامِالشَّهْوَةِ وَقَدْ رُوِيَ[أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَكَانَ يُصَافِحُ الْعَجَائِزَ].{بدائعالصنائع في ترتيب الشرائع، 10 / 489، المكتبة الشاملة}.

“Apabila keduanya adalah sudah tua renta, maka tiada halangan untukberjabatan tangan, karena berjabatan tangan dari keduanya tidak menimbulkansyahwat karena syahwat itu sudah tiada. Dan telah diriwayatkan bahwa RasulullahSAW pernah berjabatan tangan dengan perempuan-perempuan tua renta”. (Fiqih  Hanafi, Badai’u al-Shanai’ fi Tartibial-Syarai’, juz 10, hal. 489, Maktabah Syamilah).

وَأَمَّاإذَا كَانَتْ عَجُوزًا لَا تُشْتَهَى فَلَا بَأْسَ بِمُصَافَحَتِهَا وَمَسِّبَدَنِهَا لِانْعِدَامِ خَوْفِالْفِتْنَةِ وَعَنْ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يُصَافِحُالْعَجَائِزَ فَإِذَا كَانَ شَيْخًا يَأْمَنُ عَلَى نَفْسِهِ وَعَلَيْهَا يَحِلُّلَهُ الْمُصَافَحَةُ…..{البحر الرائق شرح كنز الدقائق، 22 / 134، المكتبةالشاملة}.

“Adapunketika perempuan itu sudah tua renta yang tidak disyahwati, maka tiada bahayaberjabatan tangan dengannya juga menyentuh tubuhnya, karena khawatir fitnah itusudah tiada. Dan dari Abu Bakar RA bahwa beliau pernah bersalaman denganperempuan-perempuan tua renta. Dan apabila laki-laki itu sudah tua yang merasaaman terhadap dirinya juga terhadap perempuan itu, maka berjabatan tangan halalbaginya…..” (Al-Bahru al-Raiq Syarh Kanzu al-Haqaiq,Fiqih Hanafi, juz 22, hal. 134, Maktabah Syamilah).

فَإِنْكَانَتْ عَجُوزًا لَا تُشْتَهَى فَلَا بَأْسَ بِمُصَافَحَتِهَا وَمَسِّ يَدِهَاوَأَنْ تَغْمِزَ رِجْلَهُ وَكَذَا إذَا كَانَ شَيْخًا يَأْمَنُ عَلَى نَفْسِهِوَعَلَيْهَا وَفِي الْغِيَاثِيَّةِ وَلَا بَأْسَ أَنْ يُعَانِقَهَا مِنْ وَرَاءِالثِّيَابِ إلَّا أَنْ تَكُونَ ثِيَابُهَا رَقِيقَةً تَصِلُ حَرَارَةُ بَدَنِهَاإلَيْهِ…..{البحر الرائق شرح كنز الدقائق، 22 / 145, المكتبة الشاملة}.

“Apabila perempuan itu sudah tua renta yang tidak disyahwati, makatidak bahaya berjabatan tangan dengannya, menyentuh tangannya dan menginjakkakinya, begitu pula ketika laki-laki itu sudah tua renta yang merasa amanterhadap dirinya juga terhadap perempuan itu. Dalam kitab al-Ghiyatsiyyahdisebutkan: “Tiada bahaya ia (laki-laki) memeluknya (perempuan) dari belakangkain, kecuali ketika kainnya (perempuan) tipis yang suhu tubuhnya ( perempuan)sampai padanya…..”. (Ibid, juz 22, hal. 145).

 

Dengan demikian, dua ketentuan yang dibuat oleh Idrus Ramli denganperkataannya, “Akan tetapi, mayoritas ulama selain madzhab Syafi’i, memberikanruang kebolehan bersalaman dengan wanita ajnabiyyah dengan dua ketentuan, yaituwanita tersebut harus sudah tua dan tidak disyahwati”, bahkan lebih dari duaketentuan, semuanya telah terpenuhi dan masuk ke dalam pernyataan SyaikhTaqiyyuddin an-Nabhanai, “Maka berjabatan tangan dengan mereka (ajnabiyat)dengan tanpa syahwat juga tidak haram. Apalagi tangan perempuan itu bukanaurat, dan tidak haram memandang kepadanya dengan tanpa syahwat, maka tidakharam berjabatan tangan dengannya”. Karena yang membolehkan bersalaman itubukan tua dan mudanya, tetapi dengan tanpa syahwatnya. Sedangkan penyebutanperempuan tua hanyalah secara kebiasaan saja, karena pada umumnya perempuan tuaitu sudah tidak disyahwati. Apalagi pada sejumlah redaksi di atas kata “yangtidak disyahwati” adalah sifat dari kata “perempuan tua”, juga adaredaksi “laki-laki tua yang tidak khawatir fitnah terhadap dirinya danterhadap perempuan”. Ini berarti tidak semua perempuan tua itu tidakdisyahwati, tetapi ada perempuan tua yang disyahwati dan haram bersalamandengannya, dan ada laki-laki tua yang syahwat dan haram bersalaman dengannya.Oleh karenanya, ilat (ketentuan) haramnya bersalaman itu hanya satu, yaitudengan syahwat, karena ilat khawatir terjadi fitnah juga karena adanya syahwat.Kesimpulan ini juga ditunjukkan oleh mafhum hadits Ummi “Athiyah, dimanaRasulullah SAW dalam baiat bersalaman dengan kaum wanita, dan di sana tidak adapenjelasan bahwa kaum wanita itu sudah tua renta semua.

Jadi pernyataan yang tidak teliti, yang asing dan terdistorsi itu,adalah pernyataan Idrus Ramli sendiri, tetapi ia tidak menyadarinya.

By Ustadz Abulwafa Romli

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: