//
you're reading...
Catatan & Analisis

PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (12) Hizbut Tahrir Membolehkan Berciuman Dengan Ajnabiyah ?

GambarM Idrus Ramli dan orang-orang yang seideologi dengannya dari kelompok salafi (wahabi) salathin mengatakan;

“Keempat, masa lalu an-Nabhani yang pernah tidak lulus dalam studinya di Universitas al-Azhar karena hasil ujiannya yang buruk, sangat berpengaruh terhadap pemikiran HT. Tidak jarang an-Nabhani sendiri dan petinggi-petinggi HT yang lain mengeluarkan fatwa-fatwa kontroversial dan keluar dari al-Qur’an dan Hadis, seperti… … fatwa bolehnya jabatan tangan dengan wanita ajnabiyyah, fatwa bolehnya qublat al-muwada’ah [ciuman selamat tinggal] dengan wanita ajnabiyyah sehabis pertemuan semisal acara-acara seminar, pelatihan dan lain-lain”.
(Majalah Ijtihad, PP Sidogiri Pasuruan Jatim, edisi 28 tahun XV, Rabiul Awal-Rajab 1429, hal.7).

MEMBONGKAR PAT :

Hizbut Tahrir Membolehkan Berciuman Dengan Ajnabiyah ?

Masalah ini telah berulang-ulang dituduhkan kepada Hizbut Tahrir oleh berbagai pihak baik individu maupun organisasi, sebagaimana telah dituduhkan kepadanya oleh HIMASAL [Himpunan Alumni Santri Lirboyo] dalam materi turbanya, dan saya telah membantahnya dalam buku Nasihat Terbuka Untuk HIMASAL Sebagai Bantahan Atas Materi Turba HIMASAL.
Tuduhan miring di atas adalah copy paste dari kitab Al-Gharoh Al-Imaniyyah. Padahal dalam hal pergaulan Hizbut Tahrir telah memiliki kitab An-Nizham Al-Ijtima’iy Fil Islam [sistem pergaulan dalam Islam] yang sudah ada sebelum tuduhan itu muncul, dan dalam kitab tersebut Syaikh Taqiyyuddin benar-benar telah menegaskan:

وهذا بخلاف القبلة، فقبلة الرجل لامرأة أجنبية يريدها وقبلة المرأة لرجل أجنبي تريده هي قبلة محرمة، لأنها من مقدمات الزنا، ومن شأن مثل هذه القبلة أن تكون من مقدمات الزنا عادة، ولو كانت من غير شهوة، ولو لم توصل إلى الزنا، لأن قول الرسول لماعزٍ لما جاءه طالبا منه أن يطهره لأنه زنى: لعلك قبلتَ… يدل على أن مثل هذه القبلة هي من مقدمات الزنا، ولأن الآيات والأحاديث التي تحرم الزنا تشمل جميع مقدماته ولو كانت لمساً، إن كان من شأنه أنه من مقدمات الزنا، مثل أن يريد المرأة أو أن يراودها عن نفسها، أو أن يقبلها بشغف أو شهوة، أو أن يشدها إليه، أو أن يعانقها، أو ما شاكل ذلك، كما يحصل بين بعض من لا خلاق لهم من الشباب والشابات، فهذه القبلة تكون محرمة حتى ولو كانت للسلام على قادم من سفر، لأن من شأن مثل هذه القبلة بين الشباب والشابات أن تكون من مقدمات الزنا.{النظام الإجتماعيّ فى الإسلام, ص:58}.
“Ini [tentang hukum jawaznya bersalaman dengan ajnabiyyah dengan tanpa syahwat dan tanpa takut fitnah] berbeda dengan berciuman [kecupan]. Maka menciuamnya laki-laki kepada perempuan asing yang dikehendakinya dan menciumnya perempuan kepada laki-laki asing yang dikehendakinya adalah ciuman yang diharamkan, karena termasuk pendahuluan [pemanasan] zina. Sedangkan keadaan ciuman seperti ini termasuk pendahuluan zina adalah secara kebiasaan saja, meskipun ciuman itu dengan tanpa syahwat, meskipun tidak mendatangkan kepada zina dan meskipun tidak terjadi zina [maka tetap haram], karena sabda Rasulullah saw kepada Ma’iz ketika ia datang kepada beliau meminta agar beliau membersihkannya karena ia telah berzina: “Barangkali kamu hanya mencium….”, itu menunjukan bahwa ciuman seperti ini adalah termasuk pendahuluan zina, dan karena sejumlah ayat dan hadis yang mengharamkan zina itu mencakup pengharaman semua pendahuluannya meskipun hanya rabaan ketika keadaannya termasuk pendahuluan zina, seperti laki-laki menghendaki perempuan, atau merayu tubuhnya, atau menciumnya dengan penuh cinta dan syahwat, atau menariknya kepadanya, atau memeluknya, atau hal-hal yang sejenis denganya, sebagai mana terjadi di antara sebagian orang yang tidak memiliki bagian agama sedikitpun, dari para pemuda dan pemudi. Maka ciuman ini adalah diharamkan, sehingga meskipun untuk menyambut orang yang datang dari perjalanan, karena keadaan ciuman seperti ini di antara para pemuda dan pemudi adalah termasuk pendahuluan zina”.

Jadi hukum yang telah ditabanni oleh Hizbut Tahrir terkait ciuman tersebut di atas sudah sangat jelas dan tidak perlu dimasalahkan lagi. Sedangkan selebaran [nasyrah] tertanggal sekian dan tahun sekian yang telah ditulis oleh Abdullah Harori dalam kitab Al-Gharoh itu mengandung tiga kemungkinan:

Pertama; dikeluarkan oleh pihak yang tidak suka dengan kehadiran Hizbut Tahrir dengan mengatasnamakan Hizbut Tahrir. Ini tidak sulit, karena dapat dilakukan oleh siapa saja.

Kedua; selebaran itu sebenarnya tidak ada, tetapi hanya rekayasa dan dusta dari Abdullah Harori, karena dia telah terbukti suka merekayasa dan berdusta, sehingga baik sangka kepada Hizbut Tahrir itu harus didahulukan dari pada baik sangka kepada orang yang telah terbukti suka merekayasa dan berdusta.

Dan ketiga; benar dari Hizbut Tahrir atau oknum Hizbut Tahrir, tetapi telah dirujuk kembali, karena ibarat atau takbir di atas benar-benar telah menunjukkan hal ini. Ini bukan hal yang baru dalam sejarah umat Islam. Imam Syafi’iy sendiri telah memiliki dua qaul [pendapat], yaitu qaul qadim [pendapat lama] dan qaul jadid [pendapat baru], dan Syaikh Abul Hasan al-Asy’ariy yang disebut sebagai Ulama Aswaja juga dulunya Mu’tazilah lalu bertaubat menjadi Aswaja, bahkan para sahabat dulunya adalah orang-orang kafir dan musyrik. Dan kemungkinan ketiga ini sampai sekarang tidak dapat dibuktikan, karena tidak ada arsipnya. Sedang yang kata Idrus Ramli (dalam tulisannya pada tempat lain seperti buku Hizbut Tahrir dalam sorotan) sebagai naskah asli dari Hizbut Tahrir, adalah kopian dari kopian, bukan naskah asli. Dan yang harus membuktikan adalah orang yang menuduh, bukan yang tertuduh. Maka tidak ada jalan lain selain percaya kepada Hizbut Tahrir, karena telah mempunyai bukti yang sangat kuat dan akurat, padahal seharusnya cukup bersumpah. Dalam hal ini Rasulullah saw benar-benar telah bersabda;

لكن البينة على المدعي واليمين على من أنكر. حديث حسن رواه البيهقي وغيره عن ابن عباس رضي الله عنهما.
“Sesungguhnya pihak yang mendakwa itu harus mendatangkan bukti sedang pihak yang [didakwa dan] inkar cukup bersumpah”. Hadis hasan riwayat Baihaqi dll. dari Ibnu Abbas ra.

Dan beliau saw benar-benar telah bersabda:
دَعْ مَا يُرِيْبُكَ إلى مَا لايريبك. رواه الترمذي والنسائي عن الحسن بن عليّ رضي الله عنهما وقال الترمذي: حديث حسن صحيح.
“Tinggalkanlah sesuatu yang meragukan untuk sesuatu yang tidak meragukan”. HR Tirmidzi dan Nasai dari Hasan Ibn Aly ra.

Dan kaidah fiqhiyyah juga berkata:
اليقين لا يزال بالشك

“Keyakinan itu tidak dapat dihilangkan oleh keraguan”.
(Abulwafa Romli)

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: