//
you're reading...
Catatan & Analisis

PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (13) Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani Mengkritik Mayoritas Kaum Muslim Ahlus Sunnah Wal Jama’ah?

Gambar

Selanjutnya M Idrus Ramli dan oran-orang yang sepaham dengannya mengatakan;

“Ketiga, dalam karyanya as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah [seperti hal. 70], an-Nabhani secara vulgar mengkritik mayoritas kaum muslimin Ahlussunnah wal Jama’ah sejak generasi salaf yang saleh. Menurutnya, kaum muslimin telah gagal dalam mengatasi persoalan ideologis sehingga terjerumus dalam ‘kesesatan’. Oleh karena itu, tidak heran apabila kita dapati sebagian petinggi HT dewasa ini menulis kritik terhadap ideologi kaum muslimin dalam ilmu kalam. Tentu saja kritik mereka terhadap kaum muslimin akan melahirkan perpecahan dan pada akhirnya keberadaan HT sendiri akan dianggap duri dalam daging yang menyakiti kaum muslimin”.
(Majalah Ijtihad, PP Sidogiri Pasuruan Jatim, edisi 28 tahun XV, Rabiul Awal-Rajab 1429, hal.7).

MEMBONGKAR PAT :

Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani Mengkritik Mayoritas Kaum Muslim Ahlus Sunnah Wal Jama’ah?

Ini adalah rekayasa, dusta, fitnah dan provokasi dari M.Idrus Ramli dan orang-orang yang sepertinya.

Padahal dalam kitab as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah terutama hal. 70 tidak terdapat perkataan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani yang ‘menyesatkan’ kaum muslimin Ahlussunnah wal Jama’ah sejak generasi salaf yang saleh, dan di sana juga beliau tidak mengkritik ideologi kaum muslimin. Itu adalah rekayasa, dusta, fitnah dan provokasi dari Idrus Ramli dan orang-orang yang sepertinya terhadap Hizbut Tahrir.

Sedangkan yang beliau kritik pada kitab tersebut dan sekitar halaman tersebut hanyalah Ahlul Kalam atau Mutakallimin, yaitu Mu’tazilah, Jabariyyah dan Ahlus Sunnah kelompok ilmu kalam atau Ahlus Sunnah kelompok Mutakallimin, bukan seluruh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Ini juga dapat dipahami dari nama bab yang dipakai dalam pembahasan terkait, yaitu dengan memakai nama bab Nasy’atul Mutakallimin Wamanhajuhum [munculnya Mutakallimin serta manhaj mereka], as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah juz 1 hal. 49, lalu disusul dengan nama bab Khathau Manhajil Mutakallimin [kekeliruan manhaj mutakallimin] as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah juz 1 hal. 57, kemudian disusul dengan nama bab Kaifa Nasyaat Mas’alatul Qadha Wal qadar [bagaimana munculnya masalah qadha dan qadar] as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah juz 1 hal. 66. Tidak keseluruhan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, apalagi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ala Rasulullah saw dan para sahabatnya.

Kritik terhadap Ahlus Sunnah Mutakallimin juga pernah dilakukan oleh para ulama salaf, berikut adalah sebagian contohnya;

Imam Malik rh berkata;
“أهل البدع الذين يتكلمون فى أسماء الله وصفاته وكلامه وعلمه وقدرته لا يسكتون عما سكت عنه الصحابة والتابعون لهم بإحسان”.
“Ahlul Bid’ah adalah orang-orang yang membicarakan nama-nama Allah, shifat-shifat-Nya, kalam-Nya, ilmu-Nya dan qudrat-Nya, mereka tidak diam dari perkara di mana para sahabat dan tabi’in sama diam darinya”.

Dan Imam Malik juga berkata;
“لعن الله عمرو ابن عبيد [المعتزلي] فإنه ابتدع هذه البدع من الكلام ولو كان الكلام علما لتكلم به الصحابة والتابعون كما تكلموا فى الأحكام والشرائع ولكنه باطل يدل على باطل”.
:”Semoga Allah melaknat ‘Amer Ibn ‘Ubaid [ulama mu’tazilah], karena sesungguhnya dia telah mencetuskan bid’ah-bid’ah ilmu kalam ini. Andai saja pembahasan kalam adalah ilmu, niscaya para sahabat dan tabi’in membicarakannya, sebagaimana mereka membicarakab hukum-hukum syari’at. Akan tetapi pembahasan kalam adalah bathil yang menunjukkan kepada bathil”. [lihat kitab al-amru bil itba’, karya Imam Suyuthi, hal 18].

Bahkan Imam Syafi’iy, Imam Malik, Imam Ahmad Ibnu Hanbal, Sufyan Tsauri dan semua ahlil hadis dari ulama salaf telah sepakat megharamkan mempelajari ilmu jadal dan ilmu kalam. Ibnu Abdul A’laa rh berkata: “Saya pernah mendengar Imam Syafi’iy ra berkata kepada Hafesh Al-Fard [tokoh kalam mu’tazilah]:
“لأن يلقى الله عز وجل العبد بكل ذنب ما خلا الشرك بالله خير له من أن يلقاه بشيء من علم الكلام”.
“Sungguh, andaikan saja seorang hamba bertemu Allah swt [mati] dengan membawa semua dosa selain menyekutukan Allah, itu lebih baik baginya dari pada bertemu dengan-Nya dengan membawa sedikit saja ilmu kalam”.

Dan Imam Syafi’iy berkata:
“قد اطلعت من أهل الكلام على شيء ما ظننته قط، ولأن يبتلى العبد بكل ما نهى الله عنه ما عدا الشرك خير له من أن ينظر فى الكلام”.
“Sungguh saya telah melihat dari ahli kalam sesuatu yang tidak pernah saya sangka sebelumnya sama sekali. Dan sungguh andaikan saja seorang hamba melakukan semua yang telah dilarang Allah swt selain syirik, itu lebih baik baginya dari pada melihat [membahas] ilmu kalam”.

Dan Imam Syafi’iy ra berkata;
لو علم الناس ما فى الكلام من الأهواء لفروا منه فرارهم من الأسد.
“Andai saja manusia mengerti sesuatu dalam ilmu kalam, yaitu hawa nafsu, niscaya mereka lari darinya seperti lari dari serigala”. Juga Imam Syafi’iy berkata;
إذا سمعت الرجل يقول الإسم هو المسمى أو غير المسمى فاشهد بأنه من أهل الكلام ولا دين له.
“Apabila kamu mendengar laki-laki berkata; “Isim [nama] itu adalah musamma [substansi] atau bukan musamma”, maka saksikanlah bahwa dia adalah ahli kalam, tidak ada agama baginya”.

Juga Imam Syafi’iy ra berkata:
حكمي فى أصحاب الكلام أن يضربوا بالجريد ويطاف بهم فى القبائل و البشائر ويقال هذا جزاء من ترك الكتاب والسنة وأخذ فى الكلام.
“Hukumku terhadap ahli kalam adalah agar mereka dipukul dengan pelepah kurma dan diarak keliling desa dan kumpulan manusia, dan dikatakan kepada mereka; Ini adalah balasan bagi orang yang meninggalkan al-Kitab dan as-Sunnah dan mengambil ilmu kalam”.

Dan Imam Ahmad Ibnu Hanbal ra berkata;
لا يفلح صاحب الكلام أبدا، ولا تكاد ترى أحدا نظر فى الكلام إلا وفى قلبه دغل.
“Tidak akan beruntung ahli kalam selamanya, dan kamu tidak akan melihat seseorang yang melihat [membahas] ilmu kalam kecuali pada hatinya terdapat kerusakan”. Dan Imam Ahmad ra sangat mencela Harits Al-Mahasibiy ra, bahkan sampai mendiaminya, padahal Hariat Al-Mahasiby sangat zuhud dan waro, hanya karena ia menulis sebuah kitab bantahan terhadap ahli bid’ah [ahli kalam].

Imam Ahmad barkata kepada Harist Al-Mahasiby;
ويحك ألست تحكي بدعتهم أولا ثم ترد عليهم! ألست تحمل الناس بتصنيفك على مطالعة البدعة والتفكر فى تلك الشبهات فيدعوهم ذلك إلى الرأي والبحث! وقال أحمد رحمه الله: علماء الكلام زنادقة.
“Celaka kamu, bukankah kamu menceritakan bid’ah mereka pertama kali, kemudian kamu membantahnya! Bukankah kamu mendorong manusia dengan karanganmu untuk melihat-lihat bid’ah dan memikirkan syubhat-syubhat itu, lalu mengajak manusia untuk meneliti dan berpendapat!”. Imam Ahmad ra juga berkata: “Ulama kalam adalah gerombolan orang zindiq”.

Dan Imam Malik ra berkata:
أهل البدع الذين يتكلمون فى أسماء الله وصفاته وكلامه وعلمه وقدرته لا يسكتون عما سكت عنه الصحابة والتابعون لهم بإحسان.
“Ahli bid’ah adalah orang-orang yang membicarakan nama-nama Allah, shifat-shifat-Nya, kalam-Nya, ilmu-Nya dan qudrat-Nya, mereka tidak diam dari perkara yang para sahabat dan tabi’in diam darinya”.

Dan Imam Malik ra berkata;
أرأيت إن جاءه من هو أجدل منه أيدع دينه كل يوم لدين جديد؟
“Bukankah kamu mengerti, ketika datang kepadanya orang yang lebih pandai berdebat darinya, apakah ia meninggalkan agamanya setiap hari untuk agama yang baru?”, yakni bahwa perkataan ahli kalam itu berbeda-beda dan bertingkat-tingkat.

Dan Imam Malik ra berkata:
لا تجوز شهادة أهل البدع والأهواء.
“Kesaksian ahli bid’ah dan hawa itu tidak diterima”. Sebagian ashhabnya berkata dalam menakwili perkataan Imam Malik itu; “Ahli hawa yang dikehendaki oleh beliau adalah ahli kalam dari pengikut madzhab manapun”.

Dan Abu Yusuf rh berkata;
من طلب العلم بالكلام تزندق.
“Baranag siapa mencari ilmu kalam, maka ia menjadi zindiq”.

Dan Hasan Al-Bashri ra berkata;
لا تجادلوا أهل الأهواء ولا تجالسوهم ولا تسمعوا منهم.
“Janganlah kalian berdebat dengan ahli hawa [ahli kalam], janganlah kalian duduk bersama mereka, dan janganlah kalian mendengarkan mereka!”. [Semua kritik terhadap mutakallimin bisa dilihat pada kitab al-Ihya’, Kitabu Qawaa’idil Aqaa’id, karya al-Ghazali . Dan as-Suyuthi, al-Amru bil-Itba’ ].

Sedangkan kemerosotan kaum muslim yang sangat parah dalam bidang ideologi disebabkan berlangsungnya berbagai motip pengkaburan yang dimulai sejak abad kedua hijriyyah sampai sekarang itu memang benar telah dikritik oleh Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani tidak dalam pembahasan qadha dan qadar atau pembahasan ilmu kalam dalam kitab as-Syakhshiyyah, tetapi dalam kitabnya yang lain seperti dalam kitab Ta’rif Hizbut Tahrir. Dalam kitab ini beliau mengungkapkan;

“Sesungguhnya perkara yang telah mengantarkan kepada kemerosotan yang parah, yang tidak layak, yang telah menimpa umat adalah kelemahan yang sangat, yang menimpa pikiran kaum muslim dalam memahami dan melaksanakan Islam, akibat berlangsungnya motif-motif pengkaburan terhadap fikroh dan thariqoh [ideologi] Islam sejak abad kedua hijriyah sampai sekarang.

Motif-motif pengkaburan itu telah lahir dari sejumlah perkara di mana lebih dominannya adalah ;

1-Pengambilan filsafat India, Persia dan Yunani dan usaha sebagian kaum muslim mengkompromikannya dengan Islam padahal di antara keduanya sangat kontradiksi.

2-Orang-orang yang dendam terhadap Islam telah menyelinapkan sejumlah pemikiran dan hukum dari luar Islam untuk membelokkan dan menjauhkan kaum muslim dari Islam.

3-Pengabaian bahasa arab dalam memahami dan melaksanakan Islam, dan memisahkan bahasa arab dari Islam pada abad ketujuh hijriyah, padahal agama Allah tidak dapat dipahami dengan selain bahasanya, sebagaimana penggalian terhadap hukum-hukum yang baru untuk sejumlah peristiwa yang baru melalui jalan ijtihad itu tidak mudah dengan tanpa bahasa arab.

4-Adanya perang misionaris dan tsaqafah kemudian perang politik dari negara-negara Barat yang kafir sejak abad ke-17 M. untuk membelokkan dan menjauhkan kaum muslim dari Islam, sebagai alat penghancuran terhadap Islam”.

Kritik tersebut adalah hasil tahqiqul manath yang sangat rasional dan realistis, tidak mengada-ada, apalagi merekayasa. Dan indikasi atas kemerosotan kaum muslim yang parah juga dapat dibuktikan melalui pakta lain, yang diantaranya adalah ;

1-Kaum muslim sejak Mu’awiyah ra. yang di dalamnya ada para khalifah benar-benar telah mengganti sistem khilafah ‘ala minhajin nubuwwah dengan khilafah ‘ala minhajil muluk, yaitu dengan memberlakukan sistem putra mahkota atau sistem waris, meskipun metode pengangkatan khalifah tidak berubah, yaitu bai’at.

2-Kaum muslim benar-benar telah terpecah minimal menjadi 73 golongan di mana Ahlus Sunnah Mutakallimin mengklaim bahwa kelompok merekalah yang termasuk kelompok yang selamat, sedangkan yang 72 kelompok dianggap tidak selamat. Padahal yang 72 kelompok itu sudah cukup untuk mewakili kaum muslim, maka ini adalah bukti yang tidak dapat dibantah bahwa kaum muslim sejak abad kedua hijriyah benar-benar telah terjatuh kedalam jurang kemerosotan dalam bidang ideologi, karena masalah ideologilah yang dominan melatar belakangi keterpecahan mereka.

Dua indikasi kemerosotan kaum muslim di atas itu sudah cukup untuk menjadi hujah bahwa apa yang disampaikan oleh Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dan kritik beliau di atas adalah rasional dan sesuai pakta, tidak mengada-ada apalagi berdusta. Dan beliau juga tidak sekedar mengkritik, tetapi telah merumuskan segudang solusinya yang tidak keluar sedikitpun dari solusi Islam yang murni, tidak tercampur oleh bid’ah, khurafat maupun tahayyul sedikitpun. Ini dapat dibuktikan dengan membaca semua kitab yang telah ditulis oleh beliau. Dengan catatan tidak ada niat jahat dari pembacanya, dan tidak dipotong-potong dan direkayasa.

Sedangkan kalau toh ada pendapatnya yang tidak sesuai atau tidak diterima oleh sebagian kaum muslim, maka ini adalah hal yang wajar, karena para sahabatpun juga para imam madzhab di antara mereka telah terjadi perbedaan pendapat yang biasa diterima dan ditolak oleh sebagian kaum muslim;

روى البيهقي عن مجاهد وعطاء أنهما كانا يقولان: ماَ مِنْ أحدٍ إلاّ ومأخوذٌ مِنْ كلامِهِ ومردودٌ عليه إلاّ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم.
Imam Baihaqi telah meriwayatkan dari Imam Mujahid dan Imam ‘Atha bahwa beliau berdua telah berkata: “Tidak ada seorangpun kecuali pendapatnya boleh diambil dan boleh ditolak kecuali perkataan Rasulullah SAW”.

وقال الإمامُ مالكٌ: ليسَ من أحدٍ إلاّ يُؤْخَذُ مِنْ قوله ويُتْرَكُ إلاّ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم.
Dan Imam Malik berkata: “Tidak ada seorangpun keculai perkataannya boleh diambil dan boleh ditinggal, kecuali perkataan Rasulullah SAW”.

Juga pada kitab as-Syakhshiyyah juz 1 hal. 71 dan 91, sebenarnya Syaikh Taqiyyuddin pada halaman tersebut sedang membicarakan pandangan tiga kelompok, yaitu Muktazilah, Jabariyyah dan Ahlus Sunnah Mutakallimin. Pandangan Mu’tazilah begini, pandangan Jabariyyah begini dan pandangan Ahlus Sunnah Mutakallimin begini. Lalu tiga pandangan itu oleh beliau dianalisa dan dikritik.

Disitu Syaikh Taqiyyuddin sama sekali tidak mendukung pandangan Mu’tazilah dan Jabariyyah dan tidak membenarkannya, dan khusus dalam hal kasbu beliau mengkritik pandangan Ahlus Sunnah Mutakallilmin, dan sama sekali tidak menyesatkannya. Kalau kita membaca kitab as-Syakhshiyyah secara keseluruhan, tidak sepotong-sepotong juga tidak direkayasa, maka apa yang dilakukan oleh Syaikh Taqiyyuddin adalah sesuai dengan fakta masalah yang sebenarnya. Beliau tidak berdusta, tidak merekayasa, tidak memitnah dan tidak memprovokasi.

Sedangkan penyampaian fakta, analisa, kritik dan solusi yang beliau kemukakan adalah kemajuan ilmiah yang selama ini, sepengetahuan saya, belum pernah ada yang mendahului. Beliau dengan ketajaman ilmu dan akalnya mampu mengembalikan masalah qadha dan qadar sesuai dengan faktanya yang datang dari peradaban Yunani yang berbeda dengan qadha dan qadar yang datang dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang telah dipahami oleh Nabi saw beserta para sahabatnya.

Kemudian beliau juga mampu menjadikan masalah qadha dan qadar, qadha, dan qadar, baik yang datang dari Yunani maupun yang datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah menjadi energi yang dahsat yang mampu membakar semangat beramal dan berjuang dari dalam dada siapa saja yang telah memahaminya, tidak membikin loyo dan malas karena pasrah kepada takdir.
Di situ ada rahasia yang tersingkap kenapa Rasulullah saw beserta para sahabatnya sangat bersemangat dalam mempraktekan serta mendakwahkan risalah Islam, sampai-sampai umur mereka habis untuk berdakwah dan berperang meninggikan kalimat Allah swt.

Dengan ketajaman ilmu dan akalnya Syaikh Taqiyyuddin mampu menyingkap rahasia tersebut, yaitu dengan menjelaskan qadha, qadar, dan masalah qadha dan qadar sesuai paktanya, dan sesuai musamma serta madlulnya. Maka karena itulah para syabab Hizbut Tahrir di manapun mereka berada rela mengorbankan waktu, harta dan nyawanya demi tegaknya Daulah Khilafah Rasyidah yang akan menerapkan syariat Islam secara kaffah, tujuannya hanya satu, menggapai ridha Allah swt.
(Abulwafa Romli).

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: