//
you're reading...
Catatan & Analisis

PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (25) Tidak ada pertentangan antara Islam dan demokrasi?

GambarWartawan Ijtihad bertanya kepada KH Abdul Muchith Muzadi;
“Menurut mereka (Hizbut Tahrir) Islam mundur karena tidak memiliki sistem khilafah, dan Negara-negara Islam itu menganut sistem demokrasi, sistem kafir. Pandangan Kiai?”.

Sanggahan untuk pertanyaan;
Pertanyaan ini keliru, karena sepengetahuan saya Hizbut Tahrir tidak pernah mengatakan Islam Mundur, tapi kaum muslim mengalami kemunduran atau kemerosotan yang parah, karena Islam itu tetap tinggi meskipun seluruh manusia menjadi kafir. Kaum muslim mengalami kemunduran yang parah, karena sangat lemah dalam memahami dan melaksanakan Islam….[Hizbut Tahrir], sehingga berujung pada ketiadaan khilafah, dan sulit diajak mendirikan kembali khilafah.

KH Abdul Muchith Muzadi menjawab pertanyaan di atas;
“Demokrasi itu suatu cara pemerintahan orang saja. Islam sendiri bisa menerima demokrasi dalam arti persamaan hak. Jika ada orang diperintah, maka yang lain juga diperintah. Itu boleh-boleh saja. Tidak ada yang bertentangan antara Islam dan demokrasi, asal demokrasi yang bukan macem-macem lho ya”.
(Majalah Ijtihad, PP Sidogiri Pasuruan, edisi 31, hal 17).

MEMBONGKAR PAT:

Tidak ada pertentangan antara Islam dan demokrasi?

Dari jawaban KH Abdul Muchith Muzadi di atas, saya memahami bahwa beliau belum memahami makna hakiki demokrasi yang sesungguhnya. Sesungguhnya demokrasi adalah sistem kufur, karena menjadikan kedaulatan sebagai milik rakyat, tidak milik Allah Tuhan semesta alam. Dalam demokrasi, rakyat dijadikan sebagai musyarri’ [pembuat hukum dan undang-undang]. Rakyat menghalalkan dan mengharamkan, dan rakyat menentukan kebaikan dan keburukan, bahkan rakyat mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, dan rakyat mejadikan baik perkara buruk dan menjadikan buruk perkara baik. Dan dalam demokrasi, rakyat tidak harus terikat dengan hukum-hukum syara’, dengan mengatas namakan kebebasan, bahkan rakyat boleh menolak dan membuang hukum-hukum syara’ atas nama kebablasan. Bagi seorang ulama sepuh seperti beliau, tentunya tidak sulit untuk memahami hakekat demokrasi, yaitu cukup dengan melihat fakta penerapan hukum-hukum syara’ yang terkait dengan bab mu’amalah, bab jinayat, bab hudud, bab jihad, bab qadha’ [pengadilan], bab dakwa dan bayyinat dlsb. dalam Negara demokrasi seperti Indonesia. Apakah semua hukum-hukum tersebut telah diterapkan dalam Negara demokrasi? Kalau tidak, apakah boleh hukum-hukum itu diterapkan di dalam demokrasi? Kalau tidak boleh, apakah benar tidak ada kontradiksi antara Islam dan demokrtasi?

Demokrasi itu bukan pemilihan lurah, bupati, gubernur atau presiden, karena pemilihan tersebut hanyalah teknis pengangkatan pemimpin sebagaimana Islam juga memiliki teknis ini, dan demokrasi juga bukan musyawarah [syuro], karena musyawarah hanyalah doktrin (ajaran). Sesungguhnya demokrasi itu telah ada sejak tahun 500 SM [sebelum masehi]. Demokrasi telah lahir dari peradaban Yunani kuno zaman batu. Asal kata demokrasi sebelum di-Inggris-kan adalah Demos Kratos [bhs Yunani], Demos artinya Rakyat, sedang Kratos artinya Pemerintah. (Redaksi Karya Anda, Kamus Internasional Populer, Penerbit “KARYA ANDA’ Surabaya). Dan hakekat demos kratos adalah pemerintahan rakyat, yakni hukum-hukum dan undang-undang pemerintahan itu dibuat oleh rakyat, sedangkan hukum-hukum dan undang-undang Tuhan itu dibuang jauh-jauh, atau dijadikan pilihan antara diambil dan dibuang. Jadi demokrasi itu telah lahir dari zaman batu, yaitu dari peradaban Yunani kuno, maka menerapkan demokrasi adalah kembali ke zaman batu, yaitu ketika manusia di sana sudah tidak mengenal Tuhan, apalagi hukum Tuhan.

Di Barat saja demokrasi baru menemukan jati dirinya setelah Revolusi Perancis abad ke XVII dengan semboyannya; LIBERTY, yakni; kemerdekaan, persaudaraan dan kebebasan. Dalam prakteknya lebih menonjolkan kebebasannya terutama dalam bidang politik dan ekonomi. Kebebasan dalam bidang politik melahirkan demokrasi liberal, yakni leberalisme di bidang politik. Sedang di bidang ekonomi malahirkan ekonomi lebaral, dan sekarang menjadi neoleberalisme. (Redaksi Karya Anda, Kamus Internasional Populer, Penerbit “KARYA ANDA’ Surabaya).

Pemahaman kita terhadap fakta dan hakekat demokrasi tidak dapat sempurna dan mengkristal, sebelum kita memahami ideologi dengan tepat dan benar. Oleh karena itu, sebelum melangkah jauh, para syabab Hizbut Tahrir terlebih dahulu dipahamkan masalah ideologi dengan benar, tepat, akurat dan mengkristal. Sehingga mereka tidak ragu-ragu lagi mengatakan, “Demokrasi Adalah Sistem Kufur!”.
(Terkait ideologi anda bisa membacanya pada kitab al-fkru al-Islamiy, karya Muhammad Muhammad Ismail, maktabah al-Waie, Bairut, 1957 M).

Di dunia ini ideologi yang benar-benar ideologi hanya ada tiga; ideologi komunisme, ideologi kapitalisme, dan ideologi Islam. Setiap ideologi itu memiliki akidah sendiri-sendiri, karena ideologi adalah pemikiran dasar yang di atasnya terbangun sistem, atau akidah rasional yang memancarkan sistem. Ideologi komunis akidahnya adalah akidah materialisme [al-madiyah] yang tidak mengimani adanya Tuhan, apalagi hukum-hukum Tuhan, dan menganggap bahwa materi adalah azali. Ideologi kapitalisme akidahnya adalah sekularisme [al-‘ilmaniyyah / ladiniyyah / fashluddien ‘anil hayati], yaitu memisahkan agama dari kehidupan, bermasyarakat dan bernegara. Kapitalisme itu mengimani adanya Tuhan, tapi dalam kehidupan membuang hukum-hukum-Nya. Dan ideologi Islam akidahnya adalah akidah Islam. Ideologi Islam mengimani adanya Tuhan dan menerapkan hukum-hukum-Nya dalam kehidupan tersebut.

Dan setiap akidah yang menjelma menjadi ideologi itu telah memiliki syariat sendiri-sendiri yang berbeda dari syariat akidah lain. Nah, demokrasi adalah syariat dari akidah sekuarisme, karena telah memancar darinya. Maka antara sekularisme dan praktek demokrasi itu sama, yaitu sama-sama membuang hukum Allah dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dengan demikian, menyamakan Islam dengan demokrasi adalah salah besar. Dan kalaupun ada kesamaannya, maka seperti manusia dan monyet yang sama-sama suka pisang, dan sama-sama suka perempuan bagi yang laki-laki, dan suka laki-laki bagi yang perempuan, tapi kalau manusia dengan menikah, sedang monyet tidak perlu menikah.

Ini adalah fakta yang sebenarnya yang sekarang sedang terjadi di Negara demokrasi ini. Bukti-bukti bahwa demokrasi adalah sistem kufur terlalu banyak untuk dimuat di tulisan ini. Bagi ulama yang benar-benar Aswaja, tulisan di atas sudah mencukupi. Sedangkan bagi virus liberal berkedok Aswaja, maka seratus kali lipat tulisan tersebut tidak akan pernah mencukupi, karena ghayah mereka itu bukan mencari hak, tapi mencari isi sak[u].
(Abulwafa Romli).

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: