//
you're reading...
Catatan & Analisis

PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (27) Khilafah yang Konsisten Menerapkan Ajaran Nabi SAW Hanya Berjalan Selama 30 tahun?

Gambar
M Idrus Ramli (dan orang-orang yang seideologi dengannya) mengatakan: “Di sisi lain Rasulullah SAW juga mengabarkan tentang khilafah al-nubuwwah (khilafah yang konsisten menerapkan ajaran-ajaran Nabi SAW), sesudahnya yang hanya akan berjalan selama tiga puluh tahun. Dalam hadits lain Nabi SAW bersabda:

عن سعيد بن جمهان قال حدثني سفينة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الخلافة في أمتي ثلاثون سنة ثم ملك بعد ذلك ثم قال لي سفينة أمسك خلافة أبي بكر ثم قال وخلافة عمر وخلافة عثمان ثم قال لي أمسك خلافة علي قال فوجدناها ثلاثين سنة قال سعيد فقلت له إن بني أمية يزعمون أن الخلافة فيهم قال كذبوا بنو الزرقاء بل هم ملوك من شر الملوك.
“Sa’id bin Jumhan berkata: “Safinah menyampaikan hadits kepadaku, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Pemerintahan khilafah pada umatku selama tiga puluh tahun, kemudian setelah itu dipimpin oleh pemerintahan kerajaan.” Lalu Safinah berkata kepadaku: “Hitunglah masa kekhilafahan Abu Bakar (2 tahun), Umar (10 tahun) dan Utsman (12 tahun).” Safinah berkata lagi kepadaku: “Tambahkan dengan masa khilafahnya Ali (6 tahun). Ternyata semuanya tiga puluh tahun.” Sa’id berkata: “Aku berkata kepada Safinah: “Sesungguhnya Bani Umayah berasumsi bahwa khilafah ada pada mereka.” Safinah menjawab: “Mereka (Bani Umayah) telah berbohong. Justru mereka adalah para raja, yang tergolong seburuk-buruk para raja”. HR Ahmad dan Tirmidzi.

Hadits di atas menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa kepemimpinan khilafah yang mengatur roda pemerintahan umat sesuai dengan ajaran kenabian (khilafah al-nubuwwah) dan menerapkan syariat Islam secara sempurna, hanya berjalan selama tiga puluh tahun, yaitu masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radliyallahu ‘anhum. Sebagian ulama ada yang memasukkan masa pemerintahan sayidina Hasan bin Ali RA ke dalam khilafah al-nubuwwah ini,karena masa kekuasaan beliau melengkapi masa tiga puluh tahun tersebut. Sementara para khalifah sesudah mereka, meskipun menyandang gelar sebagai khalifah dan Amirul Mukminin, mereka adalah para raja yang mengatur roda pemerintahan tidak sesuai dengan ajaran kenabian, yaitu sejak dari khilafah Bani Umayah, Bani Abbasyiyah dan Bani Utsman. Hal ini dipertegas oleh hadits berikut ini:

عن أبي عبيدة بن الجراح رضي الله عنه قال: إن أول دينكم بدأ نبوة ورحمة ثم يكون خلافة ورحمة ثم يكون ملكا وجبرية.
“Abu Ubaidah bin al-Jarrah berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya permulaan agama kalian dimulai dengan kenabian dan kerahmatan, kemudian dilanjutkan oleh khilafah dan kerahmatan, kemudian dilanjutkan oleh kerajaan dan pemaksaan”. HR al-Bazzar.
(M Idrus Ramli, Hizbut Tahrir dalam Sorotan, hal. 1-3).

MEMBONGKAR PAT:

Pembongkaran ini paling tidak terbagi menjadi dua bagian:

Pertama, Terkait Hadis Safinah:
Imam Suyuthi berkata:
أخرج ابن أبي شيبة في المصنف عن سعيد بن جمهان قال: قلت لسفينة: إن بني أمية يزعمون أن الخلافة فيهم قال: كذب بنو الزرقاء بل هم ملوك من أشد الملوك وأول الملوك معاوية.
Ibnu Abi Syaibah dalam ‘Mushannaf’ mengeluarkan hadis dari Sa’id bin Jumhan, ia berkata: “Aku berkata kepada Safinah: “Sesungguhnya Bani Umayyah mengklaim bahwa khilafah ada pada mereka.” Safinah berkata: “Bani Zurqa’ telah berdusta. Justru mereka adalah para raja, yang tergolong sekeras-keras para raja, dan awal para raja itu Mu’awiyyah”. (Imam Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, juz 1, hal. 81, Maktabah Syamilah)
Hadis ini memakai kalimat min asyaddil muluk (tergolong sekeras-keras para raja) sebagai ganti dari kalimat min syarril muluk (yang tergolong seburuk-buruk para raja) dalam Sunan Tirmidzi.

Juga Imam Ahmad dalam Musnadnya hanya berkata:
عن سَعِيدُ بْنُ جُمْهَانَ عَنْ سَفِينَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْخِلَافَةُ ثَلَاثُونَ عَامًا ثُمَّ يَكُونُ بَعْدَ ذَلِكَ الْمُلْكُ قَالَ سَفِينَةُ أَمْسِكْ خِلَافَةَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَنَتَيْنِ وَخِلَافَةَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَشْرَ سِنِينَ وَخِلَافَةَ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ اثْنَيْ عَشْرَ سَنَةً وَخِلَافَةَ عَلِيٍّ سِتَّ سِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
Dari Sa’id bin Jumhan dari Safinah, ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasululloh SAW bersabda: “Khilafah itu tiga puluh tahun. Kemudian setelah itu kerajaan”. Safinah berkata: “Hitunglah khilafah Abu Bakar RA dua tahun, khilafah Umar RA sepuluh tahun, khilafah Utsman RA dua belas tahun, dan khilafah Ali RA enem tahun”. (Musnad Imam Ahmad, juz 44, hal. 388, Maktabah Syamilah).
Pada hadis riwayat Imam Ahmad ini tidak terdapat perkataan Safinah seperti dalam riwayat Imam Tirmidzi.

Juga Imam Suyuthi berkata:
وأخرج البيهقي وابن عساكر عن إبراهيم بن سويد الأرمني قال: قلت لأحمد بن حنبل: من الخلفاء؟ قال أبو بكر وعمر وعثمان وعلي قلت: فمعاوية؟ قال لم يكن أحق بالخلافة في زمان على من علي.
“Imam Baihaqi dan Ibnu Asakir telah mengeluarkan hadis dari Ibrahim bin Suwaid al-Armani, ia berkata: “Aku berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal: “Siapakah para khalifah itu?.” Imam Ahmad berkata: “Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.” Aku berkata: “Lalu Muawiyyah?” Beliau berkata: “Ia (Muawiyyah) tidak layak mendapat khilafah pada masa Ali dari pada Ali”. (Imam Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, juz 1, hal. 81, Maktabah Syamilah).
Pada hadis ini juga Imam Ahmad hanya mengatakan: “Ia (Muawiyyah) tidak berhak mendapat khilafah pada masa Ali dari pada Ali”, dan sama sekali tidak menyinggung perkataan Safinah.

Dengan masih diperselisihkannya perkataan Safinah, antara ada dan tidak ada, dan antara min asyaddil muluk (tergolong sekeras-keras para raja) dan min syarril muluk (yang tergolong seburuk-buruk para raja),maka seharusnya yang dijadikan dalil hanyalah hadis dari Safinah yang hanya berbicara bahwa khilafah itu tiga puluh tahun, bukan perkataan Safinahnya yang menganggap keras atau buruk khilafah Bani Umayyah, karena perkataan sahabat itu bukan hujjah atas sahabat yang lain, dan untuk selain sahabat bukan dalil syara’ yang disepakati. (Taqiyyuddin an-Nabhani, asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz 3, hal. 415-418., Syarah Matan Jam’ul Jawami’ dan Hasyiyahnya, Juz 2, hal. 453-456).

Kalaupun perkataan Safinah dibenarkan, maka tujuannya adalah sebatas nasihat dan muhasabah lil hukkam (mengkoreksi penguasa), bukan pengingkaran terhadap kewajiban sistem khilafah. Ini sangat kontradiksi dengan apa yang dilakukan oleh Idrus Ramli selama ini, yang menggunakan hadis dari Safinah dan perkataan Safinah untuk penggembosan serta pengingkaran terhadap kewajiban menegakkan system khilafah yang telah disepakati oleh semua ulama Ahlussunnah Waljama’ah dan lainnya, dan kewajiban memperjuangkannya.

Kemudian kenapa Safinah sampai sekeras itu dalam menasihati dan mengkoreksi para khalifah? Karena yang telah dilihat dan dirasakan oleh Safinah adalah Rasululloh SAW (daulah nubuwwah) dan al-Khulafa’ ar-Rosyidin (daulah khilafah ala minhajin nubuwwah), yang dalam pandangan Safinah tidak memiliki cacat sama sekali, baik dalam metodenya maupun dalam teknisnya. Sehingga ketika Safinah melihat satu cacat terdapat pada khilafah Bani Umayah, yaitu pengangkatan putra mahkota, maka Safinah sangat mengingkarinya. Lalu bagaimana seandainya Safinah melihat dan merasakan cacat dalam semua metode dan teknis dalam sistem pemerintahan saat ini, yaitu sistem pemerintahan yang memancar dari ideologi kapitalisme dan dibangun di atas dasar akidah sekularisme, maka tentu Safinah tidak hanya menasihati dan mengkoreksinya, tetapi saya yakin seyakin-yakinnya bahwa Safinah akan mengkafir-kafirkannya.
Ini juga berbalik seratus delapan puluh derajat dari pemikiran Aswaja topeng Idrus Ramli, yang tidak menerima dengan satu cacat dari khilafah Bani Umayah, dan menerima dengan sepenuh hati serta mendukung terhadap sistem pemerintahan saat ini. Subhanalloh!

Kemudian kalau ucapan Safinah bahwa Bani Umayah tergolong seburuk-buruk para raja itu dibenarkan, maka ini juga tidak sesuai dengan paktanya, karena khilafah fathimiyyah adalah yang paling buruk. Sampai-sampai dalam hal ini Imam Suyuthi berkata:
“Saya tidak menyampaikan seorangpun dari para khalifah ubaidiyyah, karena imamah mereka tidak sah karena beberapa alasan:

Di antaranya; Mereka bukan bangsa Quraisy. Hanya kaum awam yang bodoh-bodoh yang menamakan mereka para khalifah fathimiyyah. Padahal kakek mereka adalah orang Majusi.
Qadli Abdul Jabbar al-Bashri berkata: “Nama kakek para khalifah Mesir adalah Sa’id yang ayahnya adalah bangsa Yahudi tukang pande besi tempuling / seruit (alat untuk menangkap ikan laut)”.
Qadli Abu Bakar al-Baqilani al-Qaddah berkata: “Kakek Ubaidillah yang bernama al-Mahdi adalah Majusi. Ubaidillah pernah masuk ke Maghrib (Maroko) dan mengklaim sebagai keturunan Ali RA, dan tidak ada seorangpun dari ulama nasab yang mengenalinya. Dan orang-orang bodoh menamai mereka para khalifah fathimiyyah (keturunan Siti Fatimah binti Rasulillah SAW)”.

Dan Ibnu Khalkan berkata: “Mayoritas ulama tidak membenarkan nasab al-Mahdi Ubaidillah kakek para khalifah Mesir”…
Imam Dzahabi berkata: “Para ulama muhaqqiq sepakat bahwa Ubaidillah al-Mahdi itu bukan keturunan Ali RA”…

Di antaranya: Mayoritas mereka adalah orang-orang zindiq yang keluar dari Islam. Di antara mereka ada yang memusuhi para nabi secara terang-terangan, ada yang menghalalkan khamer, ada yang menyuruh sujud dan berbuat baik kepadanya, dan ada yang rafidlah (syi’ah ekstrim) yang buruk dan tercela yang menyuruh memusuhi para sahabat RA. Orang seperti mereka itu tidak sah akad baiat kepada mereka, dan tidak sah imamah bagi mereka.
Qadli Abu Bakar al-Baqilani berkata: “Al-Mahdi Ubaidillah adalah pengikut kebathinan yang buruk yang berambisi melenyapkan agama Islam, dan melenyapkan ulama dan fuqaha, agar dapat menyesatkan makhluk dengan mudah. Anak-anaknya juga mengikuti jejak ayahnya di mana mereka menghalalkan khamer dan zina, dan menyebarkan faham Rafidlah”.

Imam Dzahabi berkata: “Khalifah al-Qaim bin al-Mahdi itu lebih buruk dari ayahnya. Ia adalah zindiq yang terlaknat. Ia memusuhi para nabi secara terang-terangan”. Dan Imam Dzahabi berkata: “Para khalifah ubaidiyyah itu lebih buruk terhadap agama Islam dari pada pasukan Tatar”.
Abul Hasan al-Qabisi berkata: “Para ulama dan para abid yang telah dibunuh oleh Ubaidillah dan anak-anaknya itu mencapai empat ribu satu laki-laki. Mereka dipaksa meninggalkan membaca rodliyallohu ‘anhum kepada para sahabat, lalu mereka memilih mati. Maka betapa baiknya seandainya Ubaidillah hanya rofidlah, akan tetapi ia adalah zindiq”.
Dan Syaikh Yusuf al-Ro’ini berkata: “Ulama Qairuwan telah ijmak bahwa kondisi Bani Ubaid adalah kondisi orang-orang murtad dan zindiq, karena mereka menyalahi syariat dengan terang-terangan…”

Di antaranya: Sesungguhnya pembaiatan mereka telah berlangsung, padahal khilafah Bani Abbas telah tegak dan eksis yang terdahulu baiatnya, maka pembaiatan mereka (khilafah fathimiyyah) tidak sah, karena pembaiatan dua imam dalam waktu yang sama itu tidak sah, sedangkan yang sah adalah yang pertama baiatnya”.

Dan di antaranya: Sesungguhnya hadis telah datang bahwa perkara khilafah ini ketika telah sampai kepada Bani Abbas, maka tidak akan keluar dari mereka sampai mereka menyerahkannya kepada Isa Ibnu Maryam AS atau kepada Imam Mahdi, maka diketahui bahwa orang yang mengaku khilafah padahal Bani Abbas masih berdiri adalah pemberontak dan bughat.

Maka karena sejumlah alasan tersebut, saya tidak menuturkan seorangpun dari khilafah ubaidiyyah, dan tidak pula dari selain mereka, yakni Khawarij. Saya hanya menuturkan khalifah yang telah disepakati keabsahan imamah dan akad baiatnya. Dan pada awal kitab saya telah mendahulukan pasal-pasal penting yang berfaidah, dan saya telah mendatangkan berbagai peristiwa dan kejadian yang indah dan menakjubkan yang diseleksi dari kitab Tarikhul Islam milik al-Hafidz Dzahabi…”. (Imam Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, juz 1, hal. 1-2, Maktabah Syamilah).

Jadi pakta tersebut menunjukkan bahwa yang layak disebut sebagai min syarril muluk (seburuk-buruk para raja) adalah khilafah ubaidiyyah, yaitu yang disebut sebagai khilafah fathimiyyah, yaitu para khalifah Mesir yang Syi’ah, Rafidlah, murtad dan zindiq. Bukan Bani Umayah yang diawali oleh sahabat yang adil, yaitu Muawiyah. Dan dari penuturan Imam Suyuthi juga dapat diketahui bahwa khilafah Bani Umayah dan khilafah Bani Abbas semuanya telah disepakati keabsahan khilafah dan baiatnya, dan mereka juga disebut sebagai khalifah, bukan sebagai raja. Maka hadis yang menuturkan bahwa khilafah tiga puluh tahun dan setelahnya adalah kerajaan, konotasinya adalah khilafah ala minhajin nubuwwah dan khilafah ala minhajil muluk, bukan benar-benar raja atau kerajaan. Dan dinamakan ala minhajil muluk, hanya karena pengangkatan putra mahkota atau sistem warisnya, bukan karena tidak menjalankan syariatnya sebagaimana diasumsikan Idrus Ramli.

Kedua, Idrus Ramli berasumsi bahwa khilafah yang menerapkan syariat Islam secara sempurna hanya khilafah nubuwwah, tidak khilafah setelahnya, yaitu sejak dari khilafah Umawiyah, khilafah Abbasyiyah dan khilafah Utsmaniyah.

Sebagaimana di atas bahwa yang menyebabkan khilafah Bani Umayah kehilangan karakter nubuwwahnya adalah hanya karena sistem warisnya, bukan karena tidak menerapkan syariat Islam secara sempurnanya. Dalam hal ini Imam Suyuthi berkata:
Ibnu Sirin berkata: “Amer bin Hazem pernah datang ke Muawiyah, lalu ia berkata kepada Muawiyah: “Aku mengingatkan kamu, takutlah kepada Alloh pada umat Muhammad SAW, dengan orang yang akan kamu jadikan khalifah atas mereka”. Lalu Muawiyah berkata: “Kamu telah memberi nasihat dan berkata dengan pendapatmu. Sesungguhnya tidak tersisa kecuali anakku dan anak-anak mereka, dan anakku lebih berhak (menjadi khalifah)”. (Imam Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, juz 1, hal. 84, Maktabah Syamilah).

Adapun kazaliman yang dilakukan oleh beberapa khalifah Bani Umayah dan seterusnya terhadap sebagian kaum muslim itu tidak berarti bahwa khalifah tidak menerapkan syariat Islam secara sempurna, tetapi hanya merupakan cacat individual, atau buruknya penerapan Islam oleh mereka. Ini bisa dan mudah terjadi dan bukan hal mustahil, karena para khalifah itu manusia biasa, mereka bukan nabi dan bukan rasul yang makshum.
Sebagaimana halnya seorang muslim yang shaleh yang telah menerapkan syariat Islam secara sempurna. Pada suatu hari ia menerjang larangan atau meninggalkan kewajiban, seperti meminum khamer atau meninggalkan shalat fardlu, atau melakukan keburukan dalam meninggalkan larangan dan mengerjakan kewajiban, lalu ia segara bertaubat.

Jadi terdapatnya cacat dan keburukan penerapan Islam dalam kehidupan khalifah atau seorang muslim yang shaleh itu tidak berarti bahwa ia tidak menerapkan syariat Islam secara sempurna, tetapi hanya berarti bahwa dia telah berbuat zalim dengan menerjang larangan atau meninggalkan kewajiban.

Apalagi sepanjang perjalanan khilafah islamiyyah itu tidak pernah kosong dari jabatan Qadlil Qudlat dan Syaikhul Islam yang berwenang memutuskan bahwa sistem dan perundang-undangan yang diterapkan oleh para khalifah itu tidak keluar dari hukum-hukum syara’. Dan khilafah islamiyyah sepanjang perjalanannya selama lebih dari tiga belas abad tidak pernah menerapkan selain sistem Islam. Meskipun pada akhir khilafah utsmaniyyah terdapat sistem-sistem yang diadopsi dari luar Islam, itu tidak berarti khilafah menerapkan sistem selain Islam, karena Syaikhul Islam pada saat itu memfatwakan bahwa sistem tersebut adalah sistem Islam dan tidak keluar dari Islam.
(Lihat; Taqiyyuddin an-Nabhani, Nizhamul Islam, hal. 44-52, cetakan keenam, mu’tamadah).

Juga ketika kita membaca kitab Tarikh seperti kitab Tarikhul Khulafa’ karya Imam Suyuthi, di sana tidak ditemukan statemen bahwa khilafah tidak menerapkan syariat Islam secara sempurna, tetapi hanya membicarakan cacat individual dan buruknya penerapan Islam oleh khalifah.

Dengan demikian, selayaknya, seharusnya dan yang paling tepat dikatakan oleh Idrus Ramli adalah bahwa khilafah yang tidak memiliki cacat dan tidak pula memiliki keburukan dalam penerapannya terhadap Islam hanyalah khilafah ala minhajin nubuwwah atau khilafah rasyidah mahdiyyah.
(Abulwafa Romli).

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: