//
you're reading...
Catatan & Analisis

PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (21) Nostalgia Negeri Monarki

Gambar
Dalam rublik taqrir terakhirnya, majalah Ijtihad PP Sidogiri Pasuruan Jatim, edisi 31, hal 20-21, mewawancarai KH Muhyiddin Abdusshamad. Dan terdapat beberapa catatan yang dapat saya simpulkan dari gaya beliau dalam menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan wartawan Ijtihad.

Pertama, dalam menjawab pertanyaan wartawan Ijtihad;
“Dari mana awal munculnya gerakan ini [Hizbut Tahrir]?”, beliau lebih mempercayai sumber dari Barat, yaitu Prof Dr Martin van Brunessen, pakar sejarah asal Belanda, dari pada merujuk kepada sumber-sumber dari Hizbut Tahrir, atau dari syabab Hizbut Tahrir, atau dari pihak yang selama ini mendukung dakwah Hizbut Tahrir. Perilaku seperti itu dengan sendirinya telah membuka kedok dari wajah aslinya, dan membongkar pemikiran yang selama ini tersembunyi di dalam otaknya. Sesungguhnya kaum liberalis, atau lebih tepat disebut dengan gerombolan virus liberal yang terdiri dari para intelektual muslim, baik dari kampus maupun dari pesantren, mereka telah terbiasa dan merasa bangga memakai rujukan dari kaum liberalis Barat, atau dari buku-buku hasil karya para orientalis Barat, atau dari intelektual muslim yang telah tercekoki peradaban Barat yang kafir. Otomatis pandangan negative dan pesimis mereka terhadap Islam kaffah dan kaum muslim yang konsisten mengimani, mengamalkan dan memperjuangkan penerapan syariat Islam secara kaffah, tidak dapat ditutup-tutupi lagi, dan wajah leberalnya yang selama ini tertutup kedok Aswaja terbuka tanpa malu-malu. Hal ini juga terjadi dengan KH Muhyiddin Abdusshamad yang dalam pandangannya terhadap Hizbut Tahrir sangat pesimis, negatif dan provokatif, beliau menjawab:

“Awal munculnya Hizbut Tahrir itu terdapat beberapa versi. Menurut Prof Dr Martin van Brunessen, pakar sejarah asal Belanda yang pernah berhadapan langsung dengan saya, menyatakan bahwa berdirinya Hizbut Tahrir itu berawal dari gagasan para penguasa kaya Timur Tengah, khusunya yang terdapat di Jordania. Mereka ingin bernostalgia atas kejayaan yang pernah diraih oleh Timur Tengah dahulu dengan menjadikannya sebagai penguasa tunggal kembali bagi umat Islam.
Kemudian gagasan tersebut didukung dan difasilitasi oleh Barat, misalnya dengan memperkenankan pusat kegiatan kelompok Hizbut Tahrir di Wina, Austria. Ini kan ironis. Mengapa Islam justru digerakkan dari Barat? Maka sudah barang tentu ada maksud tersembunyi, ada udang di balik batu. Anehnya lagi, kelompok ini justru ditolak di Timur Tengah, termasuk Mesir dan Saudi Arabia. Tapi, Indonesia memperkenankan gerakan ini beraktivitas bebas”.

Pandangan seperti itu sebenarnya bukan hal yang baru dikemukakan oleh KH Muhyiddin Abdusshamad, tetapi sudah diulang-ulang oleh virus-virus liberal berkedok Aswaja yang lain dari kelompok struktural NU, bahkan sampai keranting-ranting dan telah menyerang kalangan IPNU.

Kedua, KH Muhyiddin Abdusshamad sebenarnya adalah sosok ulama pendukung sistem demokrasi-sekular yang berkedok Aswaja, akan tetapi beliau telah membuka kedoknya sendiri melalui jawabannya terhadap pertanyaan Ijtihad;

“Perlukah Nahdlatul Ulama mendukung mewujudkan wacana Hizbut Tahrir dalam upaya menegakkan khilafah di bumi Indonesia?”

Beliau menjawab;
“Nahdhatul Ulama bertujuan memberlakukan ajaran Islam yang menganut paham Ahlussunah Waljamaah demi terciptanya tatanan masyarakat yang demokratis dan berkeadilan. Karenanya, jelas sekali bahwa NU tidak pernah mendukung wacana yang digulirkan oleh Hizbut Tahrir. Paham NU sangat bertolak belakang dengan paham Hizbut Tahrir yang tidak menganut konsep Ahlussunah Waljamaah. Hal ini terbukti dari beberapa tulisan Taqiyyuddin an-Nabhani atau Abdul Qadim Zallum yang senantiasa menyalahkan paham Ahlussunah Waljamaah”.

Sebenarnya yang dimaksud Ahlussunah Waljamaah di sini adalah Ahlussunah Mutakallimin seperti Asy’ariyah, bukan Ahlussunnah Waljama’ah hakiki. Ini akan terungkap pada jawaban beliau selanjutnya. Menggunakan paham Ahlussunah Waljamaah Mutakallimin Asy’ariyah demi terciptanya tatanan masyarakat yang demokratis dan berkeadilan hanyalah retorika liberal yang tidak akan dapat menjadi kenyataan. Di samping kerena paham Ahlussunah Mutakallimin Asy’ariyah itu tidak memiliki konsep Negara demokrasi, juga dalam demokrasi itu sama sekali tidak ada keadilan dan tidak akan pernah ada keadilan, karena keadilan hakiki hanya ada pada Islam, yaitu ketika Islam diterapkan secara kaffah melalui penegakkan daulah khilafah rasyidah. Menuduh bahwa Hizbut Tahrir tidak menganut konsep Ahlussunah Waljamaah ini bisa benar dan bisa keliru. Benar kalau yang dimaksud dengan Ahlussunah Waljamaah adalah Ahlussunah Waljamaah Mutakallimin, dan keliru kalau yang dimaksud dengan Ahlussunah Waljamaah adalah;

“من كان على ما أنا عليه وأصحابي”.
“Siapa saja orang yang berpegang teguh [mengimani, mengamalkan dan mendakwahkan] terhadap sunahku dan sunah para sahabatku” , atau;

“من كان على ما أنا عليه اليوم وأصحابي”.
“Siapa saja orang yang berpegang teguh terhadap sunahku pada hari ini dan sunah para sahabatku”. Dan;

“فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين”.
“Maka berpegang teguhlah kamu dengan sunahku dan sunah para khalifah yang cerdas dan mendapat petunjuk”.

Karena kalau kita membaca kitab-kitab Hizbut Tahrir yang berkaitan dengan konsep atau sistem khilafah, seperti kitab Nizhamul Hukmi Fil Islam [sistem pemerintahan Islam], Ajhizatud Daulatil Khilafah Fil Hukmi Wal Idaroh [aparatur Negara dalam pemerintahan dan administrasi], Nizhamul Iqtishadi Fil Islam [sistem ekinomi Islam], Nizhamul Ijtima Fil Islam [sistem pergaulan Islam]’, Nizhamul ‘Uqubat [sistem persanksian] dan Muqadimatud Dustur [pengantar undang-undang dasar], maka sunah Nabi SAW dan sunah al-Khulafa’ ar-Rasyidin itu seperti terlihat di depan mata dan sangat dekat, karena kitab-kitab tersebut penuh dengan dalil-dalil dari sunah Nabi SAW dan sunah al-Khulafa’ ar-Rasyidin. Asalkan kita membacanya dengan ikhlas, niat mencari hak, bukan mencari-cari kesalahan nisbi untuk direkayasa yang selama ini dilakukan oleh gerombolan virus liberal.

Dan terkait tuduhan bahwa beberapa tulisan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani atau Syaikh Abdul Qadim Zallum yang senantiasa menyalahkan paham Ahlussunah Waljamaah, ini juga bisa benar dan bisa keliru, karena yang sering dikritik oleh beliau berdua hanyalah paham Ahlussunnah Mutakallimin, bukan Ahlussunnah Waljama’ah ala Nabi SAW dan para sahabatnya seperti di atas tadi, dan pada pemikiran Aswaja Topeng (13) juga sudah saya jelaskan.

Kemudian keliberalan cara berpikir KH Muhyiddin Abdusshamad juga terlihat dari berbagai pandangan dan pernyataan selanjutnya yang tidak perlu saya kemukakan di sini, karena pandangan dan pernyataan yang sama berikut bantahannya sudah saya kemukakan pada pemikiran Aswaja topeng sebelum-sebelumnya. Dia menjadikan berbagai peristiwa berdarah di sela-sela masa khilafah yang sangat panjang, yaitu selama lebih dari 13 abad, menjadi dalil untuk menolak dan memustahilkan akan berdirinya khilafah ala minhajin nubuwwah jilid 2 yang kini tunasnya mulai muncul membelah bumi. Dia memejamkan mata dan menutup telinga dari peristiwa berdarah yang dilakukan oleh tangan-tangan demokrasi terhadap kaum muslim di berbagai belahan Dunia Islam. Seharusnya peristiwa itu juga dijadikan dalil untuk menolak demokrasi, karena berbagai peristiwa berdarah itu mengatas namakan demokrasi. Dia juga tidak memahami dan tidak bisa membedakan antara sejarah manusia yang dihiasi dengan pertumpahan darah dan kewajiban menerapkan Islam secara kaffah.

Pertumpahan darah manusia itu telah terjadi sejak zaman anak Nabi Adam AS sampai saat ini, tidak hanya di Dunia Islam, tapi juga di berbagai dunia yang lain, tanpa melihat agamanya. Dan sejarah itu bisa benar dan bisa salah tergantung kepentingan penulisnya, maka tidak bisa dijadikan dalil, apalagi untuk menolak kewajiban.

KH Muhyiddin Abdusshamad juga tidak memahami bahwa segala sesuatu dan amal perbuatan yang ada di dunia yang fana ini telah mengandung dua dampak sekaligus, yaitu dampak negatif dan dampak positif. Sebagai contohnya adalah shalat yang termasuk tiang agama juga demikian. Allah SWT berfirman;

فويل للمصلين، الذين هم عن صلاتهم ساهون، الذين هم يرآءون، ويمنعون الماعون.
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6. Orang-orang yang berbuat riya,
7. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna. QS Al-Maa’uun [107]: 4-7.

Jadi sangat bodoh orang yang menolak dan meninggalkan shalat dengan dalih takut terhadap al-Wayl, karena ia tidak bisa khusyuk [menurut sebagian mufasir makna lali dari shalat adalah tidak khusyuk], tidak bisa ikhlas dan tidak bisa menjadi dermawan. Karena yang benar adalah kita harus tetap mengerjakan kewajiban shalat sambil terus berusaha khusyuk, ikhlas dan menjadi dermawan. Juga dengan khilafah, kita harus menegakkannya dan setelah tegak kita berusaha agar tidak terjadi kekacauan dan pertumpahan darah.

Sebagai contoh yang lain adalah nikah yang sangat dianjurkan oleh Islam. Orang yang bodoh akan meninggalkan nikah dengan dalih khawatir ada pertengkaran di dalamnya, karena Islam melarang pertengkaran. Sedangkan orang yang bijak, maka ia tetap menikah sambil berusaha menghindari pertengkaran yang kadang terjadi. Orang yang bodoh itu meninggalkan nikah karena selalu membayangkan dampak negatifnya. Sedangkan orang yang bijak itu malakukan nikah karena selalu membayangkan dampak positifnya sambil terus berusaha menghindari dampak negatifnya.
Logika ini juga berlaku dengan kewajiban menegakkan khilafah.

Jadi logika yang dapakai oleh KH Muhyiddin Abdusshamad adalah logika orang bodoh dan pengecut. Beliau kalah pandai dan kalah beraninya oleh maling [pencuri] yang terus mencuri, karena ia selalu membayangkan dampak positifnya sebagai maling, yaitu harta yang melimpah tanpa susah-susah bekerja, dan melupakan dampak negatifnya, yaitu tertangkap, dipukuli sampai mati dipenjara. Jadi logika KH Muhyiddin Abdusshamad itu kalah oleh logika maling. Subhanallah! Inikah tipe orang yang paling mengklaim sebagai Aswaja? Agama ini hancur karena kebanyakan manusia seperti beliau.

Terakhir wartawan Ijtihad bertanya ;
“Mereka pernah meramalkan bahwa Khilafah akan tegak di Indonesia tahun 2013 nanti?”

KH Muhyiddin Abdusshamad menjawab;
“Ya boleh saja mereka meramalkan begitu. Bukankah banyak pula pihak yang meramalkan hari kiamat terjadi pada tahun dua ribu sekian. Namun, tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui kehendak Allah SWT. Manusia tidak akan mampu mendahului kehendak Allah.”

Kalau yang dimaksud dengan mereka adalah para syabab HTI, maka pertanyaan itu keliru dan mengada-ada, atau dari oknum syabab yang tidak mewakili ‘mereka’. Yang benar para syabab HTI terus berharap dan berdoa agar Khilafah segera tegak untuk memimpin dunia, di manapun tempatnya, Indonesia, Palestina, Saudi Arabia, atau di negeri Islam yang lainnya. Dan kapan saja tahunnya, 2013, 2015, atau 2017. Yang jelas gedung putih AS telah meramalkan bahwa 2020 khilafah telah tegak.
(Abulwafa Romli).

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: