//
you're reading...
Catatan & Analisis

PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (28)

Gambar
Khilafah ala Minhajin Nubuwwah Pada Hadis Imam Ahmad dari Hudzaifah bin al-Yaman adalah khilafahnya Umar bin Abdul Aziz?

Idrus Ramli dan orang-orang yang seideologi dengannya berkata:
Semangat Hizbut Tahrir dalam memperjuangkan tegaknya khilafah, juga didasarkan atas bisyarah nabawayyah (kabar gembira dari Nabi SAW) yang diasumsikan menjanjikan kembalinya khilafah al-nubuwwah kepada umat Islam. Bisyarah tersebut terdapat dalam hadis berikut ini:

عن حُذَيْفَة بن اليمان رضي الله عنه، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ. رواه أحمد
“Dari Hudzaifah bin al-Yaman RA, Rasulullah SAW bersabda: “Di tengah kalian sedang ada kenabian, yang dengan izin Allah ia akan tetap ada, kemudian Allah mangangkatnya, ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti tuntunan kenabian, yang dengan izin Allah ia akan tetap ada, kemudian Allah mangangkatnya, ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada pemerintahan zalim, yang dengan izin Allah ia akan tetap ada, kemudian Allah mangangkatnya, ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada pemerintahan diktator, yang dengan izin Allah ia akan tetap ada, kemudian Allah mangangkatnya, ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti tuntunan kenabian”. Kemudian belaiu diam”. HR Ahmad.

Menurut Hizbut Tahrir, hadis di atas telah membagi kepemimpinan umat Islam pada empat fase. Pertama, fase kenabian yang dipimpin langsung oleh Nabi SAW. Kedua, fase khilafah yang sesuai dengan minhaj al-nubuwwah yang dipimpin oleh Khulafaur Rosyidin. Ketiga dan keempat, fase kerajaan yang diktatot dan otoriter. Dan kelima, fase khilafah al-nubuwwah yang sedang dinanti-nantikan oleh Hizbut Tahrir.

Sudah barang tentu asumsi Hizbut Tahrir bahwa hadis di atas memberikan bisyarah kepada mereka tentang kembalinya khilafah al-nubuwwah yang mereka nanti-nantikan, adalah tidak benar. Karena para ulama ahli hadits sejak generasi salaf yang saleh telah menegaskan bahwa yang dimaksud dengan bisyarah khilafah al-nubuwwah pada fase kelima dalam hadis di atas adalah khilafahnya Umar bin Abdul Aziz, penguasa kedelapan dalam dinasti Bani Umayah. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh perawi hadits Hudzaifah bin al-Yaman di atas, yaitu Habib bin Salim yang berkata:

قَالَ حَبِيبٌ فَلَمَّا قَامَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَكَانَ يَزِيدُ بْنُ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ فِي صَحَابَتِهِ فَكَتَبْتُ إِلَيْهِ بِهَذَا الْحَدِيثِ أُذَكِّرُهُ إِيَّاهُ فَقُلْتُ لَهُ إِنِّي أَرْجُو أَنْ يَكُونَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ يَعْنِي عُمَرَ بَعْدَ الْمُلْكِ الْعَاضِّ وَالْجَبْرِيَّةِ فَأُدْخِلَ كِتَابِي عَلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ فَسُرَّ بِهِ وَأَعْجَبَهُ.
“Habib bin Salim berkata: “Setelah Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, sedangkan Yazid bin al-Nu’man bin Basyir menjadi sahabatnya, maka aku menulis hadits ini kepada Yazid. Aku ingin mengingatkannya tentang hadits ini (yang aku riwayatkan dari ayahnya). Lalu aku berkata kepada Yazid dalam surat itu: “Sesungguhnya aku berharap, bahwa Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah yang mengikuti minhaj al-nubuwwah sesudah kerajaan yang menggigit dan memaksakan kehendak.” Kemudian suratku mengenai hadis ini disampaikan kepada Umar bin Abdul Aziz, dan ternyata beliau merasa senang dan kagum dengan hadis ini.”

Di antara ulama yang menyatakan bahwa maksud khalifah dalam hadits di atas adalah Umar bin Abdul Aziz, adalah al-Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Bakar al-Bazzar, Abu Dawud al-Thayalisi, Abu Nu’aim al-Ashfihani, al-Hafidz al-Baihaqi, al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali, al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi, Syaikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani (kakek Taqiyyuddin al-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir) dan lain-lain.

Di samping itu hadits Hudzaifah di atas tidak menjadi dalil wajibnya menegakkan khilafah sebagaimana dalam asumsi Hizbut Tahrir. Dalam hadits di atas, Nabi SAW tidak bersabda: “Tegakkanlah khilafah nubuwwah itu.” Nabi SAW hanya bersabda: “Akan ada khilafah nubuwwah”, yang berarti hadits tersebut sebatas bisyarah (kabar gembira) tentang khilafah nubuwwah sesudah beliau wafat.
(M Idrus Ramli, Hizbut Tahrir dalam Sorotan, hal. 1-3).

MEMBONGKAR PAT:
Bantahan ini terbagi menjadi tiga bagian:

Pertama: Sebagaimana telah saya kemukakan di atas, Hizbut Tahrir telah memiliki dalil-dalil yang sangat lengkap, kuat dan akurat, yaitu mulai dari al-Qur’an, as-Sunnah, Ijmak sahabat dan Qiyas syar’iy, atas wajibnya menegakkan khilafah. Sedangkan hadits yang dikemukakan Idrus Ramli di atas dalam pandangan Hizbut Tahrir itu bukan merupakan dalil atas wajibnya menegakkan khilafah sebagaimana asumsi dan tuduhan Idrus Ramli, tetapi termasuk dalil yang menunjukkan bahwa khilafah ala minhajin nubuwwah benar-benar akan kembali, dan hadis tersebut menjadi spirit bagi para syabab Hizbut Tahrir dalam perjuangan menegakkan khilafah, sebagaimana hadis akan ditaklukannya Kostantinopel oleh sebaik-baik amir menjadi spirit bagi para khalifah dan sultan Muhammad al-Fatih. Hadis tersebut adalah;

لتفتحن القسطنطنية فنعم الأمير أميرها ونعم الجيش جيشها.
(Pasti akan ditaklukkan Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan itu). HR Bukhari, Ahmad, Hakim, Thabroni dan Ibnu Huzaimah.

Dan Nabi SAW juga pernah bersabda:
تقاتلون جزيرة العرب فيفتحها الله عز وجل، ثم تقاتلون الروم فيفتحها الله عز وجل.
“Kalian sedang/akan memerangi jazirah Arab lalu Alloh azza wa jalla menaklukkannya. Kemudian kalian akan memerangi Romawi lalu Alloh azza wa jalla menaklukkannya”. HR Muslim.

Hadis ini menjadi dalil bahwa Roma akan ditaklukkan, juga menjadi spirit bagi para syabab Hizbut Tahrir dalam perjuangannya untuk menegakkan khilafah nubuwwah untuk menaklukkan kota Roma yang sampai saat ini belum ditaklukkan. Karena tidak mungkin, bahkan mustahil, kaum muslim bisa menaklukkan kota Roma dan seluruh dunia, dari belahan timur sampai barat, tanpa terlebih dahulu mereka memiliki daulah khilafah. Sunnah Nabi SAW dan para sahabatnya juga demikian.

Kedua: Nabi SAW tidak menentukan kapan kembalinya khilafah ala minhajin nubuwwah; tidak menentukan hari, tanggal dan tahunnya; juga tidak menentukan siapa khalifahnya, berapa jumlah khalifahnya dan di mana tempatnya. Sedangkan pendapat ulama yang mengatakan bahwa khilafah ala minhajin nubuwwah itu jatuh pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah murni pendapat ulama, yang tidak bisa dijadikan dalil, apa lagi dijadikan dalil untuk menyalahkan Hizbut Tahrir. Seharusnya Idrus Ramli menjadikan pendapat ulama itu bagian dari masalah khilafiyyah yang harus dihargai dan dihormati, tidak disalahkan dan disesatkan, karena kaidah fiqhiyyah berkata; al-ijtihad laa yunqodu bil ijtihad (produk ijtihad itu tidak bisa dibatalkan dengan produk ijtihad yang lain). Karena hadis tersebut adalah hadis yang umum, sehingga ketika terjadi perselisihan di antara para ulama dalam menafsiri dan menakwilinya, maka perselisihan itu adalah hal yang wajar dan dibenarkan.
Sebagaimana para ulama juga telah berselisih dalam menafsiri dan menakwili sejumlah nash yang umum yang lain. Apalagi kalau kita mencermati perkataan Habib bin Salim; “Sesungguhnya aku berharap, bahwa Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah yang mengikuti minhaj al-nubuwwah sesudah kerajaan yang menggigit dan memaksakan kehendak.”, kita memahami bahwa perkataan itu adalah bukti bahwa sebenarnya Habib bin Salim serta ulama yang lain hanya berharap bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah orangnya, bukan kepastian bahwa Umar bin bdul Aziz adalah orangnya.

Ketiga: Untuk mengokohkan pendapat saya di atas, di bawah akan saya tunjukkan bahwa masalahnya tidak seperti yang diasumsikan oleh Idrus Ramli, yaitu bahwa khilafah ala minhajin nubuwwah yang terdapat pada hadis riwayat Ahmad dari Hudzaifah Ibn al-Yaman itu terjadi pada masa Umar bin Abdul Aziz, tetapi bisa terjadi pada masa dua belas khalifah, sebagaimana telah disampaikan Idrus Ramli :

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِنَّ هَذَا الْأَمْرَ لَا يَنْقَضِي حَتَّى يَمْضِيَ فِيهِمْ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ. رواه مسلم
Dari Jabir bin Samuroh berkata: “Aku pernah mendengar Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya perkara agama ini tidak akan selesai sehingga berlalu pada mereka (kaum muslim/para khalifah) dua belas khalifah yang semuanya dari Quraisy”. HR Muslim.

Idrus Ramli berkata:
“Menurut al-Imam al-Qadli ‘Iyadl, maksud hadis di atas adalah umat Islam akan berada pada masa kejayaan, kekuatan, semua urusan mereka istiqamah dan bersatu di bawah komando seorang pemimpin selama dipimpin oleh dua belas orang khalifah. Pendapat al-Qadli ‘Iyadl di atas diperkuat oleh al-Hafidz Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Syarh al-Bukhari. Menurut al-Hafidz Ibn Hajar, persatuan umat Islam di bawah komando seorang khalifah benar-benar terjadi pada masa-masa pemerintahan 12 orang khalifah, yaitu; 1) Abu Bakar, 2) Umar, 3) Utsman, 4) Ali, 5) Muawiyah, 6) Yazid bin Muawiyah, 7) Abdul Malik bin Marwan, 8) al-Walid bin Abdul Malik, 9) Sulaiman Abdul Malik, 10) Umar bin Abdul Aziz, 11) Yazid bin Abdul Malik, 12) Hisyam bin Abdul Malik. Setelah Hisyam bin Abdul Malik meninggal, umat Islam membaiat al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik, namun kemudian mereka membunuhnya, dan setelah itu kekacauan terjadi di mana-mana dan umat Islam tidak pernah bersatu lagi di bawah komando seorang khalifah hingga masa-masa sesudahnya”.

Padahal Imam Suyuthi dalam kitab Tarikhul Khulafa’ yang menjadi rujukan Idrus Ramli, juga berkata:
وقيل: إن المراد وجود اثني عشر خليفة في جميع مدة الإسلام إلى يوم القيامة يعملون بالحق وإن لم تتوال أيامهم ويؤيد هذا ما أخرجه مسدد في مسنده الكبير عن أبي الخلد أنه قال: لا تهلك هذه الأمة حتى يكون منها اثنا عشر خليفة كلهم يعمل بالهدى ودين الحق منهم رجلان من أهل بيت محمد صلى الله عليه وسلم وعلى هذا فالمراد بقوله ” ثم يكون الهرج ” أي الفتن المؤذنة بقيام الساعة من خروج الدجال وما بعده انتهى.
“Di katakan; bahwa yang dikehendaki adalah wujudnya dua belas khalifah pada semua masa Islam sampai hari kiamat, mereka semua mempraktekkan hak, meskipun masa mereka tidak berturut-turut. Pendapat ini dikokohkan oleh hadis yang dikeluarkan Musaddad dalam ‘Musnad Kabir’-nya, dari Abul Khald, sesungguhnya beliau berkata: “Umat ini tidak akan rusak sehingga dari mereka ada dua belas khalifah yang semuanya mempraktekkan petunjuk dan agama yang hak, dari mereka ada dua laki-laki dari ahli bait (keturunan) Muhammad SAW.” Atas dasar ini, maka yang dikehendaki dengan perkataan, “kemudian akan ada kekacauan”, adalah fitnah-fitnah yang memberi tahukan akan datangnya kiamat, yaitu keluarnya Dajjal dan seterusnya.”

قلت: وعلى هذا فقد وجد من الاثني عشر خليفة الخلفاء الأربعة والحسن ومعاوية وابن الزبير وعمر بن عبد العزيز هؤلاء ثمانية ويحتمل أن يضم إليهم المهتدي من العباسيين لأنه فيهم كعمر بن عبد العزيز في بني أمية وكذلك الطاهر لما أوتيه من العدل وبقى الاثنان المنتظران أحدهما المهدي لأنه من آل بيت محمد صلى الله عليه وسلم.
“Saya berkata: Atas dasar pendapat ini, dari dua belas khalifah telah ada para khalifah yang empat (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali), Hasan, Muawiyah, Ibnu Zubair, Umar bin Abdul Aziz, mereka adalah delapan khalifah. Dan dapat dikumpulkan kepada mereka, al-Muhtadi dari para khalifah Bani Abbas (khilafah abbasyiyyah), karena pada mereka ia seperti Umar bin Abdul Aziz pada Bani Umayah. Begitu pula at-Thahir, karena keadilannya. Dan masih tersisa dua khalifah yang dinanti-nantikan, salah satunya adalah Imam Mahdi, karena beliau termasuk keturunan Muhammad SAW”.

Dari pernyataan Imam Suyuthi ini dan dari uraian sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

a. Penentuan dua belas khalifah adalah termasuk masalah khilafiyyah, dan kita tidak tahu pendapat siapa yang benar, karena Nabi SAW sendiri tidak menentukan siapa orangnya, di mana tempatnya, dan kapan hari, tanggal dan tahunnya. Semuanya Wallohu A’lam. Yang jelas semuanya dari Quraisy. Kita harus bersikap bijak dan cerdas dengan tidak menyalahkan orang lain yang tidak sefaham dengan kita.

b. Masalah khilafiyyah ini juga berlaku dengan masalah sebelumnya, yaitu terkait bisyaroh nabawiyyah akan datangnya khilafah ala minhajin nubuwwah dalam hadis Imam Ahmad dari Hudzaifah bin al-Yaman di atas. Karena dua belas khalifah yang disebutkan oleh Nabi SAW itu memiliki criteria yang sama, yaitu dari Quraisy, menyatukan umat Islam di bawah komandonya, mempraktekkan petunjuk, dan menerapkan agama yang hak.

c. Asumsi saya, justru pendapat yang memasukkan Yazid bin Muawiyah kedalam jajaran dua belas khalifah adalah kurang tepat, karena bagaimana bisa diterima menyejajarkan Yazid yang tangannya berlumuran darah dan kezaliman dengan al-Khulafa’ ar-Rosyidin yang keadilannya telah disepakati.

d. Kalau khilafah ala minhajin nubuwwah yang dibisyarohkan oleh Nabi SAW telah berakhir dengan berakhirnya masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, maka bagaimana dengan para khalifah yang adil setelahnya seperti al-Muhtadi dan at-Thahir dari khilafah Abbasyiyyah, dan Muhammad al-Fatih yang telah dibisyarohkan oleh Nabi SAW sebagai sebaik-baik amir dll. Dan bagaimana pula dengan Imam Mahdi yang dalam banyak hadis Nabi SAW telah membisyarahkannya sebagai khalifah. Apakah khilafah mereka bukan khilafah nubuwwah?

e. Hadis Imam Ahmad dari Hudzaifah tersebut diakhiri dengan redaksi, tsumma takuunu khilafatan ‘ala minhajin nubuwwah, tsumma sakata (kemudian akan ada khilafah yang mengikuti metode kenabian, kemudian beliau Nabi diam).Khilafah ala minhajin nubuwwah adalah rumah bagi para khalifah rosyidin mahdiyyin (yang cerdas dan benar). Khilafah Nubuwwah pertama telah menampung lima khalifah (dengan memasukkan Hasan bin Ali). Dan kalau benar bahwa khilafah Umar bin Abdul Aziz adalah khilafah nubuwwah, maka khilafah Muawiyah juga khilafah nubuwwah, karena derajat Muawiyah lebih tinggi dari derajat Umar bin Abdul Aziz, karena Muawiyah adalah sahabat Nabi SAW dan semua sahabat adalah adil, ini adalah ijmak. Dan kalau khilafah Muawiyah adalah khilafah mulkiyyah padahal beliau menjadi khalifah melalui baiat, bukan warisan, maka khilafah Umar bin Abdul Aziz meskipun beliau telah membatalkan warisannya dan memulai dengan baiat, al-Muhtadi dan at-Thahir dari para khalifah Bani Abbas juga khilafah mulkiyyah.

Dengan demikian khilafah ala minhajin nubuwwah sampai saat ini masih belum tegak. Dan dengan diamnya Nabi SAW setelah bersabda tsumma takuunu khilafatan ‘ala minhajin nubuwwah, tidak menutup kemungkinan bahwa khilafah nubuwwah itu masih akan terus berlanjut dan para khalifahnya juga bisa lebih dari satu, karena rumah itu bisa ditinggali oleh banyak orang, dan tadi saya katakana bahwa khilafah nubuwwah adalah rumah bagi para khalifah. Apalagi kalau dikaitkan dengan bisyaroh Nabi SAW bahwa khilafah akan muncul dari Palestina, kaum Yahudi akan dimusnahkan, umat Islam akan menaklukkan kota Roma, dunia dari ujung timur sampai ujung barat akan diatur oleh sistem Islam sampai-sampai tidak ada rumah, baik rumah gedung punya orang kota (bait madar) maupun rumah alang-alang atau bulu milik suku pedalaman (bait wabar), yang tidak dimasuki sistem Islam. Ini juga menunjukkan bahwa khilafah nubuwwah belum tertutup, karena Nabi SAW hanya diam, tidak mengatakan, “Setelah ini sudah tidak ada lagi khilafah nubuwwah”.

Apa lagi para ulama yang diklaim oleh Idrus Ramli bahwa mereka menyatakan bahwa maksud khalifah dalam hadits di atas adalah Umar bin Abdul Aziz, yaitu; al-Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Bakar al-Bazzar, Abu Dawud al-Thayalisi, Abu Nu’aim al-Ashfihani, al-Hafidz al-Baihaqi, al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali, al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi, Syaikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani (kakek Taqiyyuddin al-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir) dan lain-lain. Sebagian mereka hanya menjadi perowi hadis tanpa menyinggung perkataan Habib bin Salim, seperti halnya Imam Ahmad, sedangkan sebagian yang lainnya hanya menjadi kepanjangan dari perkataan Habib bin Salim, bukan pendapatnya sendiri, seperti Imam Baihaqi dll. Ini berbeda dengan pendapat Imam Suyuthi di atas dari jalur yang lain, yaitu dari Abul Khaled. Jadi sebenarnya hanya ada dua pendapat, yaitu pendapat Habib bin Salim dan pendapat Abul Khaled. Dan telah ada ribuan ulama dari berbagai penjuru dunia yang sedang berjuang bersama Hizbut Tahrir yang mendukug pendapat Abul Khaled. Maka sejarah kedepanlah yang akan membuktikan pendapat siapa yang benar.

By Ustadz Abulwafa Romli

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: