//
you're reading...
Catatan & Analisis

PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (29/a) Kemenangan Islam Menghadapi Seluruh Agama Akan Terjadi Ketika Nabi Isa bin Maryam AS Turun ke Dunia?

Gambarm Idrus Ramli dan orang-orang yang seideologi dengannya berkata:

“Di sisi lain, Hizbut Tahrir juga tidak jarang dalam menjustifikasi visi dan misi perjuangan mereka untuk menegakkan khilafah tunggal di muka bumi, berargumentasi dengan ayat al-Qur’an dan hadis-hadis yang membawa bisyarah (kabar gembira) tentang kemenangan Islam menghadapi seluruh agama di seluruh dunia. Dalam hal ini, al-Qur’an menegaskan:

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” QS at-Taubah: 32-33.

Ayat di atas menegaskan, bahwa Islam akan menang menghadapi seluruh agama di dunia. Dalam beberapa hadis shahih, Rasululloh SAW juga bersabda:

عَنْ مَسْعُودِ بْنِ قَبِيصَةَ أَوْ قَبِيصَةَ بْنِ مَسْعُودٍ يَقُولُ :صَلَّى هَذَا الْحَيُّ مِنْ مُحَارِبٍ الصُّبْحَ فَلَمَّا صَلَّوْا قَالَ شَابٌّ مِنْهُمْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّهُ سَيُفْتَحُ لَكُمْ مَشَارِقُ الْأَرْضِ وَمَغَارِبُهَا وَإِنَّ عُمَّالَهَا فِي النَّارِ إِلَّا مَنْ اتَّقَى اللَّهَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ

Dari Mas’ud bin Qabishah atau Qabishah bin Mas’ud berkata: “Marga Muharib ini menunaikan shalat shubuh. Setelah itu seorang pemuda di antara mereka berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya negeri-negeri Timur dan Barat di seluruh bumi ini akan ditaklukkan oleh kalian (umat Islam), dan sesungguhnya para pegawainya akan masuk ke neraka kecuali orang yang takut kepada Allah dan menunaikan amanat”. HR Ahmad. (Musnad Ahmad, juz 47, hal. 83, hadis no. 22030, Maktabah Syamilah).

Dalam hadits lain Rasulullah juga bersabda:

أَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَلَا يَتْرُكُ اللَّهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلَا وَبَرٍ إِلَّا أَدْخَلَهُ اللَّهُ هَذَا الدِّينَ بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ عِزًّا يُعِزُّ اللَّهُ بِهِ الْإِسْلَامَ وَذُلًّا يُذِلُّ اللَّهُ بِهِ الْكُفْرَ

Dari Tamim ad-Dari berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh agama ini akan sampai ke negeri-negeri yang dicapai oleh waktu siang dan malam. Allah tidak akan membiarkan rumah di kota-kota dan di desa-desa kecuali akan dimasuki oleh agama ini, dengan kemuliaan orang yang mulia dan kehinaan orang yang hina. Kemuliaan di mana Allah memuliakan Islam dan kehinaan di mana Allah menghinakan kekufuran”. HR Ahmad. (Musnad Ahmad, juz 34, hal. 308, hadis no. 16344, Maktabah Syamilah).

……………………
Menurut Hizbut Tahrir, bisyarah dalam hadits di atas tidak mungkin menjadi kenyataan kecuali melalui sistem pemerintahan khilafah, di mana kaum muslimin berada di bawah satu komando seorang pemimpin bernama khalifah.

……………………
Namun asumsi Hizbut Tahrir bahwa bisyarah dalam hadits di atas menjadi kenyataan apabila kaum muslimin telah menegakkan atau memperjuangkan sistem khilafah, adalah asumsi belaka yang tidak memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan. Karena hadits-hadits di atas, baik secara tersirat maupun secara tersurat, tidak mengisyaratkan bahwa bisyarah tersebut akan terjadi ketika khilafah telah kembali ke tangan kaum muslimin. Dalam hadis di atas Nabi SAW tidak bersabda: “Kabar gembira ini akan terjadi apabila kalian memperjuangkan tegaknya khilafah, atau kalian bersatu di bawah naungan khilafah.”

Bahkan para ulama salaf menegaskan bahwa kejayaan dan kemenangan Islam menghadapi seluruh agama di muka dunia, seperti yang diisyaratkan dalam ayat al-Qur’an dan hadits-hadits di atas akan menjadi kenyataan ketika Nabi Isa AS turun ke dunia menjelang hari kiamat nanti, setelah Dajjal turun menyebarkan kesesatan dan kerusakan di seluruh muka bumi. Dalam konteks ini al-Imam Ibn Jarir al-Thabari berkata:

وقد اختلف أهل التأويل في معنى قوله: (ليظهره على الدين كله). فقال بعضهم: ذلك عند خروج عيسى، حين تصير المللُ كلُّها واحدةً. عن أبي هريرة في قوله: (ليظهره على الدين كله)، قال: حين خروج عيسى ابن مريم. عن أبي جعفر: (ليظهره على الدين كله)، قال: إذا خرج عيسى عليه السلام، اتبعه أهل كل دين.

“Para ulama ahli tafsir berbeda pendapat mengenai firman Allah, “Sesunggunya Allah pasti akan memenangkan agama-Nya”, maka sebagian ulama berkata, hal itu akan terjadi ketika Nabi Isa AS keluar dan seluruh agama menjadi satu (Islam). Diriwayatkan dari Abu Hurairah tentang firman Allah, “Sesunggunya Allah pasti akan memenangkan agama-Nya”, ia berkata: “Ketika keluarnya Isa bin Maryam AS.” Abu Ja’far Muhammad al-Baqir berkata mengenai firman Allah, “Sesunggunya Allah pasti akan memenangkan agama-Nya”, ketika nabi Isa AS keluar, maka Islam akan diikuti oleh seluruh penganut agama-agama.”

Dalam bagian lain, Ibn Jarir al-Thabari juga meriwayatkan sebagai berikut:

عن مجاهد، قوله ( حَتَّى تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ) قال: حتى يخرج عيسى ابن مريم، فيسلم كلّ يهودي ونصرانيّ وصاحب ملة، وتأمن الشاة من الذئب، ولا تقرض فأرة جِرابا، وتذهب العداوة من الأشياء كلها، ذلك ظهور الإسلام على الدين كله، وينعم الرجل المسلم حتى تقطر رجله دما إذا وضعها.

“Diriwayatkan dari Mujahid: “Maksud firman Allah, “Sehingga perang selesai”, Mujahid berkata: “Ketika Nabi Isa bin Maryam AS keluar, maka setiap pengikut agama Yahudi, Nasrani dan agama-agama lain akan memeluk Islam. Kambing akan aman dari singa. Tikus tidak akan menggigit kantong. Permusuhan akan lenyap dari segalanya. Itulah kemenangan Islam atas seluruh agama. Laki-laki muslim menjadi senang, sehingga kakinya akan meneteskan darah ketika menaruhnya.”

Al-Imam al-Hafizh Jalaluddim al-Suyuthi berkata dalam tafsirnya al-Durr al-Mantsur:

وأخرج سعيد بن منصور وابن المنذر والبيهقي في سننه عن جابر رضي الله عنه في قوله ( ليظهره على الدين كله ) قال: إذا خرج عيسى بن مريم اتبعه أهل كل دين. وأخرج ابن المنذر وابن أبي حاتم وأبو الشيخ والبيهقي في سننه عن مجاهد في قوله (ليظهره على الدين كله) قال: لا يكون ذلك حتى لا يبقى يهودي ولا نصراني صاحب ملة إلا الإِسلام ، حتى تأمن الشاة الذئب والبقرة الأسد والإِنسان الحية ، وحتى لا تقرض فأرة جراباً ، وحتى توضع الجزية ، ويكسر الصليب ، ويقتل الخنزير ، وذلك إذا نزل عيسى ابن مريم عليه السلام .

“Telah meriwayatkan Sa’id bin Manshur, Ibn al-Mundzir dan al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra dari Jabir mengenai firman Allah: “Sesungguhnya Allah pasti akan memenangkan agama-Nya”. Jabir berkata: “Ketika Nabi Isa Ibn Maryam AS keluar, maka Islam akan diikuti oleh penganut seluruh agama.” Telah meriwayatkan Ibn al-Mundzir, Ibn Abi Hatim, Abu al-Syaikh dan al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra dari Mujahid mengenai firman Allah: “Sesungguhnya Allah pasti akan memenangkan agama-Nya”. Mujahid berkata: “Kemenangan Islam atas seluruh agama tidak akan terjadi sehingga tidak tersisa orang Yahudi, Nasrani dan penganut agama lain, kecuali memeluk Islam, sehingga kambing dan sapi menjadi aman dari singa, manusia aman dari ular, tikus tidak menggigit kantong, upeti diletakkan dan babi dibunuh. Hal itu terjadi ketika Nabi Isa bin Maryam AS turun.”

Idrus Ramli melanjutkan:
“Demikianlah beberapa riwayat dari ulama salaf yang menegaskan bahwa kemenangan Islam menghadapi seluruh agama akan terjadi ketika Nabi Isa bin Maryam AS turun ke dunia, ketika menjelang hari kiamat nanti.

Disamping itu, kita juga mendapat sekian banyak bisyarah nabawiyyah yang terjadi tidak melalui tangan para khalifah, namun justru terjadi melalui tangan para ulama, orang-orang saleh dan para raja yang baik yang bukan khalifah. Hal ini dapat diketahui dari buku-buku sejarah Islam yang mudah dibaca.

Di sisi lain, Rasulullah SAW juga mengisyaratkan tentang hilangnya khilafah dari tangan kaum muslimin pada akhir zaman seperti sekarang ini. Dengan terpecah belahnya umat Islam menjadi puluhan Negara, masing-masing dipimpin oleh seorang kepala Negara. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كيف أنتم إذا لبستم فتنة فتتخذ سنة يربو فيها الصغير ويهرم فيها الكبير وإذ ترك منها شيئ قيل تركت سنة. قالوا متى ذلك يا رسول الله؟ قال: إذا كثر قراؤكم وقلت علماؤكم وكثرت أمراؤكم وقلت أمناؤكم والتمست الدنيا بعمل الآخرة وتفقه لغير الله. رواه الدارمي وأبو نعيم والحاكم

“Dari Abdullah bib Mas’ud RA, berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Bagaimana kondisi kalian, ketika fitnah (jalan yang keliru) menyelimuti kalian dan dijadikan sebagai jalan yang baik. Pada waktu itu, anak kecil cepat menjadi dewasa, dan orang dewasa cepat menjadi tua. Apabila fitnah itu ditinggalkan, maka akan dikatakan telah meninggalkan jalan yang baik.” Mereka bertanya: “Kapan hal itu terjadi wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab: “Apabila banyak orang yang pandai pidato, tetapi sedikit orang yang mengerti agama. Banyak pemimpin Negara, tetapi sedikit yang dapat dipercaya. Amal akhirat dilakukan untuk mencari dunia, dan ilmu agama dielajari bukan karena Allah.”

Hadits di atas mengisyaratkan tentang akan lenyapnya kepemimpinan sentral kaum muslimin, yang disimbolkan dengan sistem khilafah. Al-Imam al-Hafizh al-Hujjah Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani berkata; hadits tersebut merupakan tanda-tanda akan terjadinya kiamat, di mana umat Islam dipimpin oleh sekian banyak kepala Negara. Di Jazirah Arab saja, terdapat lebih dari dua puluh amir, sebagai akibat dari kolonialisme Barat.

Dengan demikian, asumsi Hizbut Tahrir bahwa hadits-hadits bisyarah nabawiyyah tentang kejayaan Islam sebagai motivasi bagi mereka untuk menegakkan khilafah, tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Sementara hadits lain juga mengisyaratkan tentang akan lenyapnya sistem khilafah dari dunia Islam, dengan terpecah belahnya umat Islam menjadi puluhan Negara. Hal tersebut dapat meruntuhkan visi dan misi Hizbut Tahrir dalam memperjuangkan tegaknya khilafah islamiyyah di muka bumi”. (Hizbut Tahrir dalam Sorotan, hal. 11-20).

MEMBONGKAR P A T :

Pembongkaran ini terdiri dari lima bagian:

Pertama: Sesungguhnya telah terjadi ikhtilaf (perbedaan pendapat) di antara ulama mufassir terkait takwil (tafsir) firman Allah, liyuzhhirohu ‘alad diini kullihi (untuk dimenangkanNya atas seluruh agama). Padahal Idrus Ramli juga mengakui akan ikhtilaf ini, yaitu ketika mengutif perkataan Ibnu Jarir al-Thabari; Para ulama ahli tafsir berbeda pendapat mengenai firman Allah, sesungguhnya Allah pasti memenangkan agama-Nya”. Dan perkataan Idrus Ramli itu benar, karena Ibnu Jarir al-Thabari dalam tafsirnya juga telah menyampaikan ikhtilaf ini;

وقد اختلف أهل التأويل في معنى قوله:(ليظهره على الدين كله).
“Pakar tafsir berbeda pendapat terkait makna firman-Nya, (untuk dimenangkan-Nya atas semua agama).

وقال آخرون: معنى ذلك: ليعلمه شرائعَ الدين كلها، فيطلعه عليها.
“Pakar tafsir yang lain berkata: “Makna firman Allah itu, “Supaya Allah mengajarkan kepada Nabi SAW seluruh hukum-hukum agama, lalu Allah memperlihatkannya kepadanya”.

عن معاوية، عن علي، عن ابن عباس قوله: (ليظهره على الدين كله)، قال: ليظهر الله نبيّه على أمر الدين كله، فيعطيه إيّاه كله، ولا يخفى عليه منه شيء. وكان المشركون واليهود يكرهون ذلك.

“Dari Muawiyah, dari Ali, dari Ibnu Abbas terkait firman Allah, (untuk dimenangkan-Nya atas semua agama), berkata: “Supaya Allah menampakkan semua perkara agama kepada Nabi-Nya SAW, Allah memberikan kepadanya semuanya, sehingga tidak ada yang samar sedikitpun terhadapnya, dan kaum musyrik dan Yahudi tidak menyukai hal itu”.

قال أبو جعفر: (الذي أرسل رسوله)، محمدًا صلى الله عليه وسلم (بالهدى)، يعني: ببيان فرائض الله على خلقه، وجميع اللازم لهم وبدين الحق، وهو الإسلام (ليظهره على الدين كله)، يقول: ليعلي الإسلام على الملل كلها.

“Abu Jakfar berkata: “ (Dia telah mengutus RasulNya), Muhammad SAW (dengan petunjuk), yakni dengan menjelaskan semua yang difardlukan dan yang diwajibkan Allah atas makhlukNya, dan dengan (agama yang benar), yaitu Islam, (untuk dimenangkan-Nya atas semua agama), yakni untuk meninggikan Islam atas semua agama”. (Ibnu Jariri, Tafsir al-Thabari, juz 14, hal. 214-215).

Perbedaan pendapat tersebut juga dijelaskan dalam berbagai kitab tafsir, di antaranya dalam tafsir al-Durr al-Mantsur, Imam Suyuthi berkata:

وأخرج ابن مردويه والبيهقي في سننه عن ابن عباس رضي الله عنه في قوله { ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون } قال : يظهر الله نبيه صلى الله عليه وسلم على أمر الدين كله، فيعطيه إياه كله ولا يخفى عليه شيء منه، وكان المشركون واليهود يكرهون ذلك .

“Terkait firmanNya, (untuk dimenangkan-Nya atas semua agama}, Ibnu Abbas RA berkata: “Allah menampakkan kepada NabiNya SAW semua perkara agama, lalu Dia memberikan semuanya kepadanya, sehingga tidak ada yang samar sedikitpun dari padanya,… .”

وأخرج ابن أبي حاتم وابن مردويه والبيهقي في سننه عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : بعث الله محمد صلى الله عليه وسلم ليظهره على الدين كله، فديننا فوق الملل ورجالنا فوق نسائهم، ولا يكونون رجالهم فوق نسائنا.

Ibnu Abbas RA berkata: “Allah telah mengutus Muhammad SAW untuk menampakkan kepadanya semua agama. Maka agama kami di atas semua agama, laki-laki kami di atas wanita mereka, dan laki-laki mereka tidak berada di atas wanita kami.”

وأخرج عبد بن حميد وابن المنذر عن قتادة رضي الله في قوله { ليظهره على الدين كله } قال : الأديان ستة. الذين آمنوا، والذين هادوا، والصابئين، والنصارى، والمجوس، والذين أشركوا، فالأديان كلها تدخل في دين الإِسلام، والإِسلام لا يدخل في شيء منها، فإن الله قضى فيما حكم، وأنزل أن يظهر دينه على الدين كله ولو كره المشركون .

“Terkait firman Allah, (untuk dimenangkan-Nya atas semua agama), Qatadah RA berkata: “Agama itu ada enam; “(Agama) orang-orang beriman, Yahudi, Shabi-in, Nasrani, Majusi dan Musyrikin. Semua agama bisa masuk ke dalam Islam, sedangkan Islam tidak bisa masuk ke dalam agama-agama itu…”. (Imam Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, juz 5, hal. 56, Maktabah Syamilah).

Perbedaan pendapat ulama tafsir juga dipertegas oleh perkataan Tamim al-Dari ketika mengomentari hadis yang telah di sampaikan oleh Idrus Ramli di atas:

عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَلَا يَتْرُكُ اللَّهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلَا وَبَرٍ إِلَّا أَدْخَلَهُ اللَّهُ هَذَا الدِّينَ بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ عِزًّا يُعِزُّ اللَّهُ بِهِ الْإِسْلَامَ وَذُلًّا يُذِلُّ اللَّهُ بِهِ الْكُفْرَ

“Dari Tamim ad-Dari berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh agama ini akan sampai ke negeri-negeri yang dicapai oleh waktu siang dan malam. Allah tidak akan membiarkan rumah di kota-kota dan di desa-desa kecuali akan dimasuki oleh agama ini, dengan kemuliaan orang yang mulia dan kehinaan orang yang hina. Kemuliaan di mana Allah memuliakan Islam dan kehinaan di mana Allah menghinakan kekufuran”. HR Ahmad. (Musnad Ahmad, juz 34, hal. 308, hadis no. 16344, Maktabah Syamilah).

وَكَانَ تَمِيمٌ الدَّارِيُّ يَقُولُ قَدْ عَرَفْتُ ذَلِكَ فِي أَهْلِ بَيْتِي لَقَدْ أَصَابَ مَنْ أَسْلَمَ مِنْهُمْ الْخَيْرُ وَالشَّرَفُ وَالْعِزُّ وَلَقَدْ أَصَابَ مَنْ كَانَ مِنْهُمْ كَافِرًا الذُّلُّ وَالصَّغَارُ وَالْجِزْيَةُ.

Dan Tamim al-Dari RA telah berkata: “Sungguh aku telah mengerti hal tersebut pada keluargaku. Orang yang memeluk Islam dari mereka telah mendapat kebaikan, kemuliaan dan kejayaan. Dan orang yang masih kafir dari mereka telah mendapat kehinaan, kerendahan dan ditarik pajak”. (Musnad Ahmad, juz 34, hal. 308, hadis no. 16344, Maktabah Syamilah).
Dan hadis ini oleh Imam Ibnu Katsir dipakai untuk menafsiri firman Alloh, (untuk dimenangkan-Nya atas semua agama).

Dan alangkah bijaksananya Ibnu Abdus Salam yang mengakui semua perbedaan pendapat ulama tafsir:

{ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ } عند نزول عيسى عليه السلام فلا يعبد الله تعالى إلا بالإسلام، أو يطلعه على شرائع الدين كله، أو يظهر دلائله وحججه، أو يرعب المشركين من أهله، أو لما أسلمت قريش انقطعت رحلتاهم إلى الشام واليمن لتباينهم في الدين فذكروا ذلك للرسول صلى الله عليه وسلم فنزلت { لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ } في الشام واليمن وقد أظهره الله تعالى أو الظهور : الاستعلاء، والإسلام أعلى الأديان كلها .

“(untuk dimenangkan-Nya atas semua agama), ketika turunnya Nabi Isa AS, maka Alloh ta’ala tidak disembah kecuali dengan agama Islam; atau Allah memperlihatkan kepada Nabi SAW terhadap semua hukum-hukum agama; atau Alloh melahirkan semua dalil dan hujahNya; atau Alloh mempertakuti orang-orang musyrik dari kekasihNya; atau ketika suku Quraisy memeluk Islam, maka perjalanan mereka ke Syam dan Yaman terputus karena perbedaan agama mereka, lalu mereka menuturkan hal tersebut kepada Rasulullah SAW, lalu turun ayat, (untuk dimenangkan-Nya atas semua agama), yakni di Syam dan Yaman, dan Alloh benar-benar memenangkannya; atau zhuhur bermakna isti’la’ (tinggi) dan Islam adalah agama yang paling tinggi di antara semua agama”. (Tafsir Ibnu Abdus Salam, juz 2, hal. 269, Maktabah Syamilah).

Kedua: Menyikapi perbedaan tafsir. Pemaparan di atas terkait perbedaan tafsir di antara para ulama mufassir sudah sangat jelas, dan hanya orang bodoh atau berniat jahat yang masih meragukan dan menyembunyikannya. Bagi saya semua tafsir terkait firman Alloh (untuk dimenangkan-Nya atas semua agama) di atas adalah benar, tidak ada yang keliru, semuanya saling melengkapi dan menyatu laksana bagian-bagian rantai yang saling mengait. Alasannya, karena sejak masa Nabi SAW dan para sahabatnya Islam itu sudah menang dan tinggi, dan tidak ada yang mengalahkan dan melebihi tingginya. Dalam hal ini Rasululloh SAW bersabda:

الإسلام يعلو ولا يعلى عليه. رواه الروياني والدارقطني والبيهقي والضياء عن عائذ بن عمرو.
“Islam itu tinggi dan tidak ada yang melebihi tingginya”.

Jadi Islam itu sudah tinggi dan menang atas semua agama, dari masa ke masa, sejak masa Nabi SAW sampai turunnya Nabi Isa AS menjelang datangnya kiamat kubro. Hanya saja ketika Nabi Isa AS turun di samping Islam itu tinggi dan menang atas semua agama, umat manusia dari dunia Barat sampai dunia Timur, baik Yahudi maupun Nasrani, semuanya sama memeluk agama Islam. Jadi masalahnya tidak pada agama Islamnya, tetapi umat manusia yang memeluk Islamnya.

Atas dasar itu, bersikap panatik terhadap satu tafsir atau satu pendapat ulama mufassir seperti menafsiri firman Alloh, (untuk dimenangkan-Nya atas semua agama), dengan keluar atau turunnya Nabi Isa AS, serta menyalahkan tafsir yang lain dan menuduhnya tidak memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, adalah tindakan bodoh dan gegabah, dan termasuk Pemikiran Aswaja Topeng.

Begitu pula terkait perkataan Idrus Ramli, “Dalam bagian lain, Ibn Jarir al-Thabari juga meriwayatkan sebagai berikut:

عن مجاهد، قوله ( حَتَّى تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ) قال: حتى يخرج عيسى ابن مريم، فيسلم كلّ يهودي ونصرانيّ وصاحب ملة، وتأمن الشاة من الذئب، ولا تقرض فأرة جِرابا، وتذهب العداوة من الأشياء كلها، ذلك ظهور الإسلام على الدين كله، وينعم الرجل المسلم حتى تقطر رجله دما إذا وضعها.

“Diriwayatkan dari Mujahid: “Maksud firman Allah, “Sehingga perang selesai”, Mujahid berkata: “Ketika Nabi Isa bin Maryam AS keluar, maka setiap pengikut agama Yahudi, Nasrani dan agama-agama lain akan memeluk Islam. Kambing akan aman dari singa. Tikus tidak akan menggigit kantong. Permusuhan akan lenyap dari segalanya. Itulah kemenangan Islam atas seluruh agama. Laki-laki muslim menjadi senang, sehingga kakinya akan meneteskan darah ketika menaruhnya.”

Di sini juga terdapat perbedaan tafsir seperti di atas, dan saya tidak perlu memaparkannya, karena di atas sudah lebih dari cukup.

Kemenangan Islam Menghadapi Seluruh Agama Akan Terjadi Ketika Nabi Isa bin Maryam AS Turun ke Dunia?

……………………..
Ketiga: Terkait perkataan Idrus Ramli, “Menurut Hizbut Tahrir, bisyarah dalam hadits di atas tidak mungkin menjadi kenyataan kecuali melalui sistem pemerintahan khilafah, di mana kaum muslimin berada di bawah satu komando seorang pemimpin bernama khalifah …..

Namun asumsi Hizbut Tahrir bahwa bisyarah dalam hadits di atas menjadi kenyataan apabila kaum muslimin telah menegakkan atau memperjuangkan sistem khilafah, adalah asumsi belaka yang tidak memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan …..”

Justru ini adalah asumsi Idrus Ramli yang tidak memiliki dasar ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan keculai ucapannya, “Dalam hadis di atas Nabi SAW tidak bersabda: “Kabar gembira ini akan terjadi apabila kalian memperjuangkan tegaknya khilafah, atau kalian bersatu di bawah naungan khilafah.” Ini adalah logika orang yang tidak pernah ngaji ushul fikih, atau orang yang sengaja menyembunyikan ilmunya, karena tujuan jahat, karena di dalam ushul fiqih itu ada istilah mantuq dan ada mafhum, dan setetusnya.

Logika orang waras dan berilmu itu mengatakan: “Tidak mungkin Nabi Isa AS turun ke dunia serta merta kaum Yahudi dan Nasrani beriman dan menurut seperti terhipnotis, tanpa terlebih dahulu Nabi Isa memiliki daulah yang menerapkan sistem Islam, dan memiliki tentara beserta peralatan perangnya yang canggih. Bahkan Nabi Isa AS bisa dianggap orang gila yang ngaku-ngaku jadi nabi. Karena Rasulullah SAW saja sebagai imam para nabi dan para rasul, ketika belum memiliki daulah nabawiyah yang menerapkan sistem Islam dan belum memiliki tentara, tidak serta-merta manusia beriman kepadanya, bahkan beliau dituduh sebagai tukang sihir dan orang gila, beliau dilempari dengan batu dan kotoran hewan. Padahal mukjizat beliau sudah Nampak dan mereka menyaksikannya. Jadi semuanya butuh proses. Ini adalah hukum kausalitas (sebab akibat / sabab musabbab). Kita tidak perlu jauh-jauh ke masa Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW, para wali di Jawa saja, yang bergelar Wali Songo, ketika belum memiliki daulah dan tentara, dakwah mereka tersendat-sendat, tidak seperti membalikkan telapak tangan. Dan berdirinya sejumlah kesultanan di Nusantara adalah bukti sejarah yang tak terbantahkan”.

Logika orang waras dan berilmu juga mengatakan; “Nabi Isa AS turun kebumi itu tidak untuk menerapkan syariat agama Kristen, tetapi untuk menerapkan syariat agama Islam, dan Nabi Isa AS sebagai umat Nabi kita Muhammad SAW.” Logika ini adalah mafhum dari firman Allah; liyuzhhirahu ‘aladdiini kullihi (untuk dimenangkan-Nya atas semua agama). Jadi yang dimenangkan adalah agama Islam, bukan agama Kristen. Lalu kalau Nabi Isa AS itu menerapkan syariat agama Islam dan beliau termasuk umat Nabi Muhammad SAW, maka Nabi Isa pasti mengerti bahwa Nabi SAW telah bersabda:

أصيكم بتقوى الله عزّ وجلّ والسمعِ والطاعةِ وإن تأمرَ عليكم عبدٌ، فإنه منْ يعشْ منكم فسيرى إختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنةِ الخلفاء الراشدين المهديين، عضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كلَ محدثة بدعة وكلَ بدعة ضلالة وكلَ ضلالة فى النار. رواه أحمد وأبو داود والترميذي وابن ماجه.

“Aku wasiatkan kepada kalian dengan taqwa kepada Allah swt, mendengar dan taat [kepada khalifah atau amir], meskipun kalian dipimpin oleh seorang hamba sahaya, karena sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang masih diberi hidup, maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang teguh [meyakini, mempraktekkan dan memperjuangkan] dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus/benar dan mendapat petunjuk, gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham, dan jauhilah segala perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat dan setiap sesat adalah di neraka”. HR Imam Ahmad, Abu Daud, Turmudzi dan Ibnu Majah.

Dan termasuk sunnah al-Kulafa’ al-Rosyidin adalah menerapkan syariat Islam secara total melalui penegakkan daulah khilafah. Dan para sahabat telah ijmak terkait kewajiban ini, juga para imam madzhab telah sepakat atasnya. Maka Nabi Isa dalam kapasitasnya sebagai penerap syariat Islam dan sebagai umat Nabi SAW tidak akan menyalahi kewajiban ini. Atas dasar ini, saya yakin dengan seyakin-yakinnya, bahwa ketika Nabi Isa AS turun ke bumi, maka beliau turun sebagai khalifah (kepala Negara daulah khilafah), bukan nabi sebagai kepala Negara daulah nubuwwah yang telah berakhir dengan kepergian Nabi SAW. Ini adalah mafhum dari sabda Nabi SAW;

كانت بنو إسرائيل تسوسهم الأنبياء كلم هلك نبي خلفه نبي وإنه لا نبي بعدي وستكون خلفاء تكثر …

“Kaum Bani Israil selalu dipimpin oleh para nabi. Setiap ada nabi meningggal, maka akan diganti oleh nabi berikutnya. Sesungguhnya tidak ada nabi lagi sesudahku. Dan akan ada para khalifah yang banyak…..”. Dan mafhum dari hadits berikut;

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ….. ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ. رواه أحمد

“Di tengah kalian sedang ada kenabian, yang dengan izin Allah ia akan tetap ada, kemudian Allah mangangkatnya, ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti tuntunan kenabian, yang dengan izin Allah ia akan tetap ada, kemudian Allah mangangkatnya, ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya………. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti tuntunan kenabian”. Kemudian belaiu diam”. HR Ahmad.

Jadi setelah Nabi SAW wafat tidak akan ada lagi daulah nubuwwah, sedangkan yang akan ada adalah daulah khilafah ala minhajin nubuwwah.

Keempat: Idrus Ramli dengan sengaja karena tujuan jahat, atau karena kebodohannya, tidak menyinggung sama sekali hadits-hadits terkait Imam Mahdi. Sesungguhnya hadits-hadits terkait Imam Mahdi adalah kunci pembenaran bahwa; Umat Islam tidak akan mencapai kejayaannya, syariat agama Islam tidak mungkin bisa diterapkan secara total, dan bisyaroh Nabi SAW tidak akan menjadi kenyataan, kecuali dengan tegaknya daulah khilafah (ala minhajin nubuwwah), dan dengan wujudnya khalifah (yang rosyid [cerdas] dan mahdi [adil]). Karena Imam Mahdi adalah khalifah, dan pengganti khalifah sebelumnya. Hadits-hadits terkait Imam Mahdi sebagai khalifah adalah sebagai berikut;

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يقتتل عند كنزكم ثلاثة كلهم ابن خليفة ثم لا يصير إلى واحد منهم ثم تطلع الرايات السود من قبل المشرق فيقتتلونكم قتلا لم يقتله قوم”. ثم ذكر شيئا لا أحفظه فقال: “فإذا رأيتموه فبايعوه ولو حبوا على الثلج فإنه خليفة الله المهدي”. أخرجه ابن ماجه و الحاكم عن ثوبان و أخرجه أحمد عن علي بن زيد ، و الحاكم أيضا من طريق عبد الوهاب بن عطاء عن خالد الحذاء عن أبي قلابة.

Rasulullah SAW bersabda: “Akan berperang di samping simpanan harta kalian tiga orang di mana semuanya adalah anak khalifah, kemudian harta itu tidak dimiliki oleh salah seorang dari mereka. Kemudian muncul panji-panji hitam dari Timur, lalu mereka memerangi kalian dengan perang yang tidak pernah dilakukan oleh suatu kaum”. Kemudian Nabi menuturkan sesuatu yang aku tidak menghapalnya, lalu Nabi bersabda: “Apabila kalian melihatnya (Imam Mahdi), maka berbaiatlah kepadanya walaupun dengan merangkak di atas salju, karena dia adalah khalifah Allah al-Mahdi”.

Imam Ibnu Katsir berkata: “Yang dikehendaki dengan harta tersebut adalah harta yang tersimpan di dalam Ka’bah di mana tiga orang dari anak khalifah berperang untuk mengambilnya. Sehingga pada akhir zaman itu keluarlah Imam Mahdi dari negeri Timur ….. Allah mengokohkan Imam Mahdi dengan manusia dari negeri Timur, mereka menolongnya, menegakkan kekuasaannya, dan mengokohkan tiang-tiangnya. Dan panji-panji mereka adalah hitam, karena panji Rasulullah SAW yang bernama Rayatul ‘Uqab adalah hitam ….. Sesungguhnya Imam Mahdi yang keberadaannya dijanjikan pada akhir zaman itu akan keluar dari negeri Timur dan akan dibaiat disisi Ka’bah sebagaimana ditunjukkan oleh banyak hadits”. (Imam Ibnu Katsir, an-Nihayah fil Fitan wa al-Malahim, juz 1, hal. 55-56).

وعن أبي سعيد الخذري و جابر بن عبد الله رضي الله عنهم أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: يكون في آخر الزمان خليفة يقسم المال ولا يعده. وفي رواية: يكون في آخر أمتي خليفة يحثو المال حثوا. أخرجه مسلم

“Dan dari Abu Said al-Khudzri dan Jabir RA, sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “Pada akhir zaman aka nada khalifah yang membagi-bagikan harta dan tidak menghitung-hitungnya.” Dalam riwayat lain: “Pada akhir umatku akan ada khalifah yang membagi-bagikan harta”. HR Muslim.
Dan hadits-hadits yang lain.

Pernyataan Ulama Terkait Hadits Imam Mahdi:

Al-Hafidz Abul Hasan al-Abari berkata: “Sungguh hadis-hadis terkait akan keluarnya Imam Mahdi telah mencapai mutawatir karena banyak yang meriwayatkannya dari Mushthafa SAW di mana beliau termasuk ahli baitnya, berkuasa selama tujuh tahun, memenuhi dunia dengan keadilan, akan keluar bersama Nabi Isa AS, lalu Nabi Isa membantunya membunuh Dajjal di pintu lud wilayah Palestina, dan beliau akan memimpin umat Islam, dan Nabi Isa akan shalat di belakangnya”. (Imam Ibnu Katsir, an-Nihayah fil Fitan wa al-Malahim, juz 1, hal. 55-56).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Hadits-hadits yang dijadikan hujah atas keluarnya Imam Mahdi adalah hadis-hadis shahih riwayat Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad dll.” (Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah, juz 4, hal. 95).

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata: “Fasal terkait penjelasan Imam Mahdi yang akan keluar pada akhir zaman. Beliau adalah salah seorang dari al-Khulafa’ ar-Rasyidin dan Para Imam Mahdi. Beliau bukan yang ditunggu-tunggu kedatangannya (al-Muntazhar) yang telah diklaim oleh kaum Rafizhah, dan kemunculannya diharap dari terowongan di Samara, karena tidak ada faktanya sama sekali, baik dari hadis maupun dari atsar. Adapun Imam Mahdi yang akan aku tuturkan, maka benar-benar telah diberitakan oleh hadis-hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwa beliau akan keluar pada akhir zaman. Aku berasumsi keluarnya sebelum turunnya Nabi Isa AS sebagaimana telah ditunjukkan oleh beberapa hadits.” (an-Nihayah fil Fitan wa al-Malahim, juz 1, hal. 49).

Dan al-Alamah al-Syaukani (Imam Syaukani) berkata: “Hadis-hadis terkait kemutawatiran kedatangan Imam Mahdi al-Muntazhar, yang dapat dijadikan hujjah di antaranya ada lima puluh hadis, ada yang shahih, hasan, dan dhaif munjabir. Hadis-hadis tersebut adalah mutawatir tanpa keraguan dan tanpa syubhat….” (Al-Taudhih fi Tawaturi ma ja-a fil Mahdi al-Muntazhar wa al-Dajjal wa al-Masih, hal. 4-5).

Yang harus diperhatikan dari pemaparan di atas adalah:
a. Imam Mahdi sebagai khalifah
b. Sebelum Imam Mahdi sudah ada khalifah
c. Nabi Isa AS turun pada masa Imam Mahdi dan shalat di belakangnya
d. Imam Mahdi meninggal sebelum Nabi Isa AS
e. Nabi Isa AS menjadi penerus Imam Mahdi.

Dengan demikian, pandangan Hizbut Tahrir bahwa bisyarah nabawiyyah pada sejumlah hadis di atas itu akan menjadi kenyataan ketika kaum muslim telah memiliki daulah khilafah adalah pandangan yang logis, realistis dan ilmiah, karena ketika Imam Mahdi adalah khalifah, maka Nabi Isa juga sebagai penerusnya tentu khalifah. Dan kalau sebelum Imam Mahdi sudah ada khalifah, maka tidak menutup kemungkinan bahwa jumlah khalifah itu banyak dan yang terakhir dan menjadi puncak kejayaannya adalah Imam Mahdi lalu Nabi Isa AS kemudian baru Kiamat. Lalu kalau sebelum dan setelah Imam Mahdi adalah khalifah, maka tidak ada keraguan dan tidak ada syubhat, pasti dan yakin bahwa di sana telah berdiri daulah khilafah, karena khalifah adalah presiden daulah khilafah. Lalu kalau daulah khilafah itu dipastikan dan diyakini keberadaannya, maka pasti dan yakin bahwa daulah khilafah itu ada yang memperjuangkan dan menegakkannya. Pertanyaannya; Siapakah yang sekarang sedang berjuang untuk menegakkan daulah khilafah? Dan apakah salah mereka yang sedang memperjuangkan tegaknya daulah khilafah? Jawabannya sangat jelas; Hizbut Tahrir dan Tidak Salah. Karena kalau memperjuangkan khilafah itu salah, maka khilafah juga salah, khalifah juga salah, maka Imam Mahdi dan Nabi Isa AS juga salah, karena semuanya saling melengkapi, saling terkait dan saling tolong-menolong.

Hadis berikut juga mengokohkan asumsi ini;

عَنْ نَافِعِ بْنِ عُتْبَةَ قَال: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةٍ….. قَالَ: فَحَفِظْتُ مِنْهُ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ أَعُدُّهُنَّ فِي يَدِي قَالَ تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ فَيَفْتَحُهُ اللَّهُ. فَقَالَ نَافِعٌ يَا جَابِرُ لَا نَرَى الدَّجَّالَ يَخْرُجُ حَتَّى تُفْتَحَ الرُّومُ. رواه مسلم.

“Dari Nafik bin Utbah berkata: “Kami pernah bersama Rasulullah SAW dalam peperangan…..” Nafik berkata: “Maka aku menghapalkan empat kalimat dari beliau di mana aku menghitungnya dengan tanganku. Beliau bersabda: “Kalian memerangi Jazirah Arab lalu Allah menaklukkannya, kemudian memerangi Persia lalu Allah menaklukkannya, kemudian memerangi Romawi lalu Allah menaklukkannya, kemudian memerangi Dajjal lalu Allah menaklukkannya”. Lalu Nafik berkata: “Wahai Jabir, kami tidak melihat Dajjal keluar sampai Romawi ditaklukkan”. HR Muslim.

Mafhum hadis ini mengatakan; Kalau dulu kaum muslim memerangi dan menaklukkan Jazirah Arab dan Persia di bawah komando Rasulullah SAW dan seorang khalifah, maka kaum muslim juga akan memerangi dan menaklukkan Romawi dan Dajjal tentu di bawah komando seorang khalifah dan nabi Isa. Dan pada hadis tersebut Nabi SAW sama sekali tidak menuturkan Imam Mahdi dan Nabi Isa AS, tapi hanya menuturkan kaum muslim (kalian). Ini berarti Imam Mahdi dan Nabi Isa tidak berperang hanya berdua, tetapi bersama kaum muslim yang berada di bawah komandonya. Berarti kalau dulu kaum muslim menaklukkan Jazirah Arab dan Persia di bawah komando Nabi SAW dan khalifah, maka nanti juga kaum muslim menaklukkan Romawi dan Dajjal tentu di bawah komando khalifah dan Nabi Isa AS sebagai khalifah. Jadi alangkah indahnya mafhum hadis ini, yaitu bahwa kejayaan dan kemuliaan Islam dan kaum muslim dibuka dan ditutup oleh seorang nabi, dan alangkah indahnya bahwa para khalifah itu berada ditengah-tengah dua orang nabi. Dan mudah-mudahan pada hari kiamat kelak para khalifah semuanya berbaris dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW diurutan pertama dan diperhatikan oleh Nabi Isa AS diurutan paling belakang, dan setiap khalifah membawahi rakyatnya pada masanya. Subhanallah…

Ke-khalifah-han Imam Mahdi dan Nabi Isa AS juga bisa dipahami dari mafhum perkataan Umar Ibn al-Khaththab RA;

لا إسلام إلا بالجماعة، ولا جماعة إلا بالإمارة، ولا إمارة إلا بالطاعة.
“Tidak ada Islam kecuali dengan jamaah, tidak ada jamaah kecuali dengan kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan taat”.

Mafhum atsar ini mengatakan:
a. Kaum muslim tidak akan bisa meraih kemuliaan kecuali dengan menerapkan Islam secara sempurna sehingga Islam bisa menang atas semua agama.
b. Agama Islam tidak akan bisa sempurna dan menang atas semua agama kecuali setelah kaum muslim berjamaah (bersatu).
c. Kaum muslim tidak akan bisa berjamaah dengan sempurna kecuali setelah wujudnya amirul mu’minin (pemimpin kaum muslim), yaitu khalifah.
d. Amirul mu’minin tidak akan bisa wujud dengan sempurna kecuali dengan ketaatan kaum muslim. Dan
e. Ketaatan kaum muslim tidak akan biasa sempurna kecuali dengan baiat.

Kemudian mafhum atsar itu oleh Hizbut Tahrir disimpulkan menjadi:

لا عزة إلا بالإسلام، ولا إسلام إلا بالشريعة، ولا شريعة إلا بالدولة، دولة الخلافة الراشدة.
“Tidak ada kemuliaan (bagi kaum muslim) kecuali dengan Islam, tidak ada Islam (yang sempurna) kecuali dengan (penerapan) syariat (secara sempurna), dan tidak ada (penerapan) syariat (secara sempurna) kecuali dengan tegaknya daulah, yaitu daulah khilafah rosyidah”.

Dan diperkuat oleh perkataan Imam Ali RA:

الحق بلا نظام يغلبه الباطل بنظام.
“Agama Islam yang benar dengan tanpa sistem itu bisa dikalahkan oleh agama yang batil dengan sistem.”

Dan sistem pemerintahan Islam adalah sistem khilafah. Ini adalah Ijmak sahabat dan kesepakatan para imam dari berbagai madzhab dan aliran.

Juga dikokohkan oleh perkataan Imam Malik rh :

لن يصلح أخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها، فما لم يكن يومئذ دينا لا يكون اليوم دينا

“Akhirnya umat ini tidak akan bisa menjadi baik, kecuali dengan sesuatu dimana awalnya umat menjadi baik dengannya. Maka apasaja yang ketika itu bukan termasuk agama, hari ini juga tidak termasuk agama”. (al-Qadli ‘Iyadl, asy-Syifa’, juz 2, hal 88).

Generasi pertama umat Islam menjadi baik dengan nubuwwah dan khilafah, maka generasi seterusnya juga akan menjadi baik dengan daulah khilafah, karena sudah tidak ada lagi nubuwwah. Maka sangat tidak rasional dan tidak ilmiah, bahkan mimpi dan utopis, mengharapkan kebaikan Islam dan umat Islam dengan selain daulah khilafah.

Kelima: Terkait perkataan Idrus Ramli:
“Disamping itu, kita juga mendapat sekian banyak bisyarah nabawiyyah yang terjadi tidak melalui tangan para khalifah, namun justru terjadi melalui tangan para ulama, orang-orang saleh dan para raja yang baik yang bukan khalifah. Hal ini dapat diketahui dari buku-buku sejarah Islam yang mudah dibaca.

Di sisi lain, Rasulullah SAW juga mengisyaratkan tentang hilangnya khilafah dari tangan kaum muslimin pada akhir zaman seperti sekarang ini. Dengan terpecah belahnya umat Islam menjadi puluhan Negara, masing-masing dipimpin oleh seorang kepala Negara. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كيف أنتم إذا لبستم فتنة فتتخذ سنة يربو فيها الصغير ويهرم فيها الكبير وإذ ترك منها شيئ قيل تركت سنة. قالوا متى ذلك يا رسول الله؟ قال: إذا كثر قراؤكم وقلت علماؤكم وكثرت أمراؤكم وقلت أمناؤكم والتمست الدنيا بعمل الآخرة وتفقه لغير الله. رواه الدارمي وأبو نعيم والحاكم

“Dari Abdullah bib Mas’ud RA, berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Bagaimana kondisi kalian, ketika fitnah (jalan yang keliru) menyelimuti kalian dan dijadikan sebagai jalan yang baik. Pada waktu itu, anak kecil cepat menjadi dewasa, dan orang dewasa cepat menjadi tua. Apabila fatnah itu ditinggalkan, maka akan dikatakan telah meninggalkan jalan yang baik.” Mereka bertanya: “Kapan hal itu terjadi wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab: “Apabila banyak orang yang pandai pidato, tetapi sedikit orang yang mengerti agama. Banyak pemimpin Negara, tetapi sedikit yang dapat dipercaya. Amal akhirat dilakukan untuk mencari dunia, dan ilmu agama dielajari bukan karena Allah.”

Perkataan Idrus Ramli ini benar, ada sekian bisyarah nabawiyah tidak terjadi melalui tangan para khalifah. Akan tetapi di bawah komando para khalifah. Seperti sultan Shalahudin al-Ayubi dapat membebaskan Palestina dan mangalahkan pasukan salibis di bawah komando khilafah Fathimiyyah di Mesir, Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel sebelum menjadi khalifah tapi dibawah komando khilafah Abbasiyyah, dan Wali Songo dapat menaklukkan Jawa juga di bawah komando khilafah Utsmaniyyah. Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya. Jadi ada perbedaan antara melalui tangan khalifah dan di bawah komando khalifah.

Sedangkan hadis di atas itu bukan dalil untuk menggembosi serta menghalangi perjuangan menegakkan khilafah. Akan tetapi menjadi dalil kenapa umat Islam sampai saat ini belum bisa menegakkan daulah khilafah? Maka jawabannya seperti dalam hadits itu; Yaitu karena saat ini banyak orang yang hapal al-Qur’an atau pandai berpidato, tetapi sedikit ulama akhiratnya, yaitu ulama yang hanya takut kepada Allah, ulama yang siap mengorbankan harta dan jiwanya demi kejayaan dan kemuliaan Islam dan umat Islam; Karena saat ini banyak para umaronya, tetapi sedikit yang amanah, karena semuanya sama menolak syariat Islam untuk mengatur pemerintahan, dan tidak ada amanah bagi orang yang menolak diterapkannya syariat Islam dalam kehidupan, masyarakat dan Negara. Karena definisi amanah ialah melaksanakan hak-hak Allah dan hak-hak sesama hamba Allah. Dan termasuk hak Allah adalah melaksanakan hudud dan qishash; Dan karena saat ini amal akhirat dilakukan untuk mencari dunia, dan ilmu agama dipelajari bukan karena Allah. Jadi sekarang ini banyak tokoh agama yang mencari dunia melalui jalan pintas, yaitu Narik Uang (NU) dengan mengorbankan agama, yaitu dengan bekerjasama dengan orang-orang kafir atau agen-agennya untuk menghalangi penerapan syariat Islam melalui penegakkan daulah khilafah, dengan membuat-buat Pemikiran Aswaja Topeng.

(Abulwafa Romli).

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,845 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: