//
you're reading...
Catatan & Analisis

PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (30) Hizbut Tahrir Tidak Mengikuti Mainstream Dan Arus Mayoritas Kaum Muslim?

GambarSetelah menyinggung hadits Nabi SAW berikut:

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء، حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رؤوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا. رواه البخاري ومسلم.

“Dari Abdullah bin Amr berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu agama dengan mengambilnya dari hati hamba-hambaNya, akan tetapi Allah mencabut ilmu agama dengan mencabut para ulama. Sehingga setelah tidak ada orang yang alim, maka orang-orang akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Lalu mereka ditanya tentang hukum-hukum agama, ternyata mereka berfatwa dengan tanpa dibekali ilmu, akibatnya mereka tersesat dan menyesatkan orang lain.” HR Bukhari dan Muslim.

Idrus Ramli berkomentar: “Hadits di atas menjelaskan bahwa kesesatan itu dapat saja terjadi ketika ilmu agama tidak lagi dimiliki oleh seorang pemimpin dalam berdakwah menegakkan agama Allah SWT. Hadits tersebut tidak mengisyaratkan bahwa kesesatan sosial di atas disebabkan oleh ketidaktulusan seorang pemimpin dalam berdakwah. Kesesatan dapat terjadi ketika ilmu pengetahuan agama tidak dimiliki oleh para tokoh yang berdakwah…..”.

Lalu setelah menyinggung hadits Nabi SAW berikut:

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ثلاث لا يغل عليهن قلب المؤمن: إخلاص العمل، والنصيحة لولي الأمر، ولزوم الجماعة، فإن دعوتهم تكون من ورائهم. رواه الترميذي وأحمد والحاكم

“Dari Ibnu Mas’ud berkata: “Tiga perkara yang hati seorang mukmin tidak dengki terhadapnya; tulus dalam beramal, memberi nasihat kepada penguasa, dan selalu mengikuti jamaah kaum muslim (yang dipimpin oleh seorang khalifah), karena doa mereka akan selalu mengikutinya”. HR Tirmidzi, Ahmad dan Hakim.

Idrus Ramli berkomentar: “Hadits di atas memberikaan pesan moral yang sangat berharga dalam mengatur relasi social sesama muslim, yaitu agar selalu mengikuti mainstream dan arus mayoritas kaum muslim…..”

Lalu setelah menyinggung hadits Nabi SAW berikut:

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: عليكم بالجماعة، وإياكم والفرقة، فإن الشيطان مع الواحد، وهو من الإثنين أبعد، ومن أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة. رواه الترميذي والنسائي وأحمد وصححه الحاكم.

Dari Umar bin Khaththab RA berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Ikutilah jamaah kaum muslim dan jauhilah perpecahan. Kerena syetan itu bersama orang yang sendirian. Dan syetan lebih jauh dari orang yang berduaan. Dan barang siapa menginginkan tempat yang lapang di surga, maka ikutilah jamaah kaum muslim (yang dipimpin oleh seorang khalifah)”. HR Tirmidzi, Nasai dan Ahmad, dan hadits ini disahehkan oleh Hakim.

Idrus Ramli berkomentar: “Kedua hadits di atas dan hadits-hadits lain yang serupa memberikan pesan kepada kita agar selalu berhati-hati dan menjaga kesetiakawanan social sesama muslim dengan tidak mengambil jalan yang nyeleneh dan menyimpang dari arus dan mainstream kaum muslimin. Sikap yang nyeleneh dan menyimpang dari arus dan mainstream mayoritas kaum muslimin akan mudah menjerumuskan seseorang terhadap perangkap syetan dan membawa kesesatan dalam beragama. Tidak jarang seseorang yang memiliki militansi dan semangat yang menggelora dalam berjuang, mengambil kebijakan dan tindakan yang nyeleneh dari mainstream kaum muslimin, dan hasilnya bukan kesuksesan yang ia dapatkan, namun justru ia sendiri dan pengikutnya terjerumus dalam kesesatan………..”

Kemudian Idrus Ramli menutup topiknya dengan berkata:
“Hal ini juga kita rasakan dalam pemikiran Hizbut Tahrir, di mana pendapat-pendapat pendirinya Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani serta pengikut-pengikutnya banyak yang menyimpang dari ajaran al-Qur’an, Sunnah dan pendapat para ulama salaf, sebagaimana akan dipaparkan dalam bagian-bagian berikut ini. Hal tersebut sebagai implikasi dari sikap syudzudz (nyeleneh) dari mainstream kaum muslimin (al-jama’ah).” (M Idrus Ramli, Hizbut Tahrir dalam Sorotan, hal. 21-26).

MEMBONGKAR PAT:

Idrus Ramli menuduh Hizbut Tahrir menyelewengkan makna sejumlah hadits, tetapi dia sendiri terus menerus mendatangkan sejumlah hadits yang dijadikan dalil untuk menghantam Hizbut Tahrir, untuk menggembosi ijmak sahabat dan kesepakatan para imam dari berbagai madzhab Ahlussunnah Waljama’ah dan aliran yang lain tentang kewajiban menegakkan daulah khilafah, dan untuk menjauhkan kaum muslim tradisional (nahdliyyin) yang terdiri dari kaum santri tulen dan kaum santri moderen yang telah mengenyam pendidikan di berbagai universitas. Tulisan saya pada topik terdahulus telah membuktikan bahwa sebenarnya bukan Hizbut Tahrir yang menyelewengkan makna sejumlah hadis, tetapi justru Idrus Ramli sendiri yang telah memaksakan sejumlah hadis serta menyelewengkan maknanya untuk menghantam Hizbut Tahrir. Idrus Ramli sangat pandai dan berani dalam merekayasa, berdusta, memitnah dan memprovokasi terhadap Hizbut Tahrir, dan bersembunyi di balik topeng Aswaja. Sehingga orang yang telah mengerti dengan wajah Idrus Ramli yang sebenarnya akan berkata; ‘Maling Teriak Maling!’.

Selanjutnya bantahan ini terdiri dari beberapa bagian;

Pertama,terkait hadis Abdulloh bin ‘Amr, yaitu sabda Nabi SAW;

….حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رؤوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا
“….. Sehingga ketika Allah tidak menghidupkan seorang alim, maka manusia menjadikan para pemimpin yang bodoh, lalu mereka ditanya, lalu mereka berfatwa dengan tanpa ilmu, lalu mereka tersesat dan menyesatkan.”

Hadits ini sesuai dengan kondisi umat Islam sekarang di mana mereka memiliki para pemimpin yang minim ilmu agama yang terkait dengan urusan kehidupan, bermasyarakat dan bernegara, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan. Para pemimpin yang minim pengetahuan agama tersebut terdiri dari para umaro dan ulama. Para umaronya tidak menerapkan syariat Islam dalam pemerintahannya kecuali sebagian terkecil saja seperti yang terkait nikah dan talak. Dikatakan bagian terkecil, karena syariat Islam yang harus diterapkan oleh Negara itu terdiri dari lima kelompok sistem, yaitu; 1) sistem pergaulan, 2) sistem ekonomi, 3) sistem pendidikan, 4) sistem politik luar negeri, dan 5) sistem pemerintahan. (Taqiyyuddin an-Nabhani, Nizhamul Islam, hal. 45, cetakan ke 6).

Sedangkan nikah dan talak itu bagian terkecil dari sistem pergaulan. Padahal kelima sistem tersebut dalam pemerintahan yang ada sekarang tidak ada satupun yang terdiri atau diambil dari syariat (sistem) Islam, tetapi semuanya telah diambil dari pancaran ideologi kapitalisme dan komunisme termasuk sosialisme. Sebagai bukti yang tak terbantahkan adalah kitab KUHP, kitab suci bagi NKRI. Di namakan kitab suci karena bagi NKRI mengalahkan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Para ulamanya juga berkolaborasi dan bersinergi dengan para umaro yang anti penerapan syariat (sistem) Islam dalam kehidupan, bermasyarakat dan bernegara, sehingga mereka layak disebut sebagai ulama salathin (pro penguasa yang zalim). Ketika musim pemilu yang biasa disebut dengan pesta rakyat datang, maka para ulama tersebut ramai-ramai mencari mangsa dengan mendatangi atau menerima dengan penuh hormat para ca-ca, mulai dari caleg, capres, cawapres, cagub, cawagub, dan para ca-ca yang lain. Di samping itu para ulama tersebut juga ramai-ramai menjaring umpan yang terdiri dari kaum santri dari berbagai lepelnya, karena siapa di antara mereka yang memiliki umpan yang banyak, maka keuntungannya juga akan banyak. Oleh karena itu, ketika musim pemilu tiba, ulama yang tadinya hanya memiliki sepeda ontel tiba-tiba punya sepeda motor, dan yang tadinya sepeda motor tiba-tiba punya mobil, dan seterusnya.

Akibat dari kolaborasi dan sinergi yang berjalan di antara umaro zalim dan ulama salathin yang kedua-duanya telah tersesat, maka sudah dapat dipastikan umat yang selama ini berada di bawah pengaruh dan kendali mereka sama-sama tersesat seperti mereka, karena mereka itu bukan hanya tersesat, tapi juga menyesatkan. Umat Islam yang kata al-Qur’an sebagai sebaik-baik umat, meskipun mereka tetap memeluk Islam sebagai agama langit, tetapi mereka telah dijauhkan dari Islam sebagai ideologi, karena kedudukan Islam sebagai ideologi telah digantikan oleh ideologi yang lain, yaitu oleh ideologi kapitalisme yang lahir dari akidah sekularisme, dan ideologi komunisme yang lahir dari akidah materialisme.

Jadi dalam kondisi seperti itulah Hizbut Tahrir lahir, membesar dan menyebar dari belahan dunia Timur sampai belahan dunia Barat, untuk mengangkat kembali nama besar umat Islam sebagai umat terbaik (khairu ummatin) yang dilahirkan bagi semua umat manusia, yang menyeru kepada kebaikan (Islam) dan mencegah dari kemunkaran. Caranya tentu dengan mengajak umat kembali mengimani, mangamalkan dan mendakwahkan Islam sebagai akidah dan syariat, Islam sebagai agama langit dan ideologi, dan Islam sebagai solusi atas semua problem manusia sebagai manusia, tanpa memandang asal-usul serta agamanya, yaitu Islam yang datang dari Rabbul ‘Alamin sebagai Rahmatan Lil‘Alamin. Jadi Hizbut Tahrir sangat memahami konotasi hadis tersebut, baik manthuq maupun mafhumnya. Maka salah alamat menjadikan hadis itu untuk menghantam Hizbut Tahrir.

Dilihat dari manthuqnya, Sehingga ketika Allah tidak menghidupkan seorang alim,…, maka hadis ini termasuk tanda-tanda kiamat kubro, yaitu ketika Allah mengangkat al-Qur’an dan ilmu-ilmu yang terkait dengannya, maka ketika itulah tidak ada satupun orang alim, sehingga manusia sama tersesat dan menyesatkan, sampai-sampai tidak ada lagi orang yang mengatakan; Allah, Allah…. Jadi untuk saat ini hadis itu belum terjadi, maka sangat keliru dan betapa bodohnya orang yang memakai hadis itu sebagai dalil untuk menghantam Hizbut Tahrir. Dan dilihat dari mafhumnya, hadis itu mendorong kaum muslim untuk selalu menuntut ilmu, dan melarang kaum muslim mengangkat orang bodoh sebagai pemimpin, maka juga sangat keliru dan betapa bodohnya orang yang menjadikan hadis itu sebagai dalil untuk menghantam Hizbut Tahrir, karena Hizbut Tahrir mewajibkan seluruh anggotanya menuntut ilmu dalam sejumlah halqah, dan terus menerus menyebarkan berbagai media ilmu ketengah-tengah umat. Dan Hizbut Tahrir mengharamkan memilih dan mengangkat orang yang bodoh ilmu agama menjadi pemimpin, dan karena inilah Hizbut Tahrir mewajibkan golput terhadap anggotanya pada setiap musim pemilu yang diselenggarakan oleh dan untuk pemerintahan yang zalim yang tidak mau menerapkan syariat Islam.

Hizbut Tahrir Tidak Mengikuti Mainstream Dan Arus Mayoritas Kaum Muslim?

Kedua, terkait sabda Nabi SAW; waluzumul jama’ah (tetap mengikuti jamaah) dan wa’alaikum biljama’ah (kalian harus mengikuti jamaah), pada hadis Ibnu Mas’ud dan Umar Ibn al-Khaththab RA.

Term al-Jama’ah pada hadis ini adalah satu makna dengan term Ahlussunnah Waljama’ah. Sedangkan Ahlussunnah Waljama’ah adalah man kaana ‘ala maa ana ‘alaihi al-yawma wa ashhabi (siapa saja orang yang berpegang teguh [mengimani, mengamalkan dan mendakwahkan] terhadap sunahku pada hari ini dan sunah sahabatku), bukan mayoritas kaum muslim atau mainstream mayoritas kaum muslim seperti dikatakan Idrus Ramli. Asumsi ini diperkuat oleh beberapa hadis berikut:

عن معاوية بن أبي سفيان رضي الله عنه قال:ألا إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قام فينا فقال:ألا إن من قبلكم من أهل الكتاب افترقوا على ثنتين وسبعين ملة وإن هذه الملة ستفترق على ثلاث وسبعين ثنتان وسبعون فى النار وواحدة فى الجنة وهي الجماعة. أخرجه أبو داود واللفظ له والدارمي والحاكم وصححه ووافقه الذهبي.

Dari Muawiyah bin Abu Sufyan RA berkata: “Ingat, sesungguhnya Rasululloh SAW berdiri di tengah-tengah kami lalu bersabda: “Ingat, sesungguhnya umat sebelum kalian, yaitu Ahlul kitab, telah terpecah menjadi tujuh puluh dua kelompok. Dan umat ini (umat Islam) akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (kelompok), yang tujuh puluh dua mampir di neraka, dan yang satu langsung ke surga, yaitu al-Jama’ah”.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن بني إسرائيل افترقت على إحدى وسبعين فرقة وإن أمتي ستفترق على ثنتين وسبعين فرقة كلها فى النار إلا واحدة وهي الجماعة. أخرجه أحمد وابن ماجه واللفظ له والطبري.

Dari Anas bin Malik RA berkata: “Rasululloh SAW bersabda: “Sesungguhnya Bani Isroil telah terpecah menjadi tujuh puluh satu kelompok, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh dua kelompok, semuanya mampir di neraka kecuali satu, yaitu al-Jama’ah.”
من معاوية رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من فارق الجماعة شبراً دخل النار. أخرجه الحاكم وسكت عنه الذهبي.

Dari Muawiyah RA berkata: “Rasululloh SAW bersabda: “Siapa saja yang meninggalkan al-Jama’ah sejengkal, maka ia masuk neraka”.

Jadi term al-Jama’ah pada tiga hadis tersebut adalah semakna dengan term Ahlussunnah Waljama’ah pada hadis berikut;

وفى رواية الطبراني: إفترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة، وافترقت النصارى على اثنتين فرقة، وستفترف أمتي علي ثلاث وسبعين فر قة، واحدة منها ناجية، والباقون هلاكى”. قالوا : “وما الناجية يا رسول الله؟”. قال: “أهل السنة والجماعة”، قالوا: “وما أهل السنة والجماعة؟”، قال: “من كان على ما أنا عليه اليوم وأصحابي”.

Dalam riwayat at-Thabarani, Nabi saw. bersabda; ”Yahudi telah terpecah menjadi 71 kelompok. Nasrani telah terpecah menjadi 72 kelompok, dan umatku akan terpecah menjadi 73 kelompok, darinya hanya ada satu kelompok yang selamat, sedang yang lain semuanya rusak”. Shabat bertanya; ”Siapakah kelompok yang selamat itu, wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda; ”Ahlussunah Waljama’ah”. Mereka bertanya; ”Siapakah Ahlussunah Waljama’ah itu ?”. Beliau bersabda; ”Siapa saja orang yang berpegang teguh (meyakini, mempraktekkan dan memperjuangkan) dengan sunah (doktrin, tuntunan atau metode) ku pada hari ini dan (sunah) para shahabatku”.

Atau term al-jama’ah pada hadis Ibnu Mas’ud dan Umar Ibn al-Khattob RA di atas itu bermakna jamaah kaum muslim yang dipimpin oleh seorang khalifah, bukan mayoritas kaum muslim yang dipimpin oleh banyak presiden dan dalam banyak Negara nasional seperti kata Idrus Ramli. Asumsi ini diperkuat oleh beberapa hadis berikut;

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: من خرج من الجماعة قيد شبر فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه حتى يراجعه وقال: ومن مات وليس عليه إمام جماعة فإن موتته موتة جاهلية. أخرجه الحاكم وقال على شرح الشيخين ووافقه الذهبي.

Dari Umar RA, sesungguhnya Rasululloh SAW bersabda: “Siapa saja yang keluar dari al-jama’ah sejengkal saja, maka ia telah melepas tali Islam dari lehernya (halal dipenggal lehernya) sampai ia kembali kepada Islam”. Dan beliau bersabda: “Siapa saja yang mati dalam kondisi tidak memiliki imam jama’ah, maka matinya adalah mati jahiliyah”.

من فضالة بن عبيد رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: ثلاثة لا تسأل عنهم: رجل فارق الجماعة وعصى إمامه ومات عاصياً، وأمة أو عبد أبق من سيده فمات، وامرأة غاب عنها زوجها وقد كفاها مؤنة الدنيا فتبرجت بعده، فلا تسأل عنهم. أخرجه الحاكم وقال هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ووافقه الذهبي.

“Dari Fadlalah bin Ubaid RA, dari Rasululloh SAW, sesungguhnya beliau bersabda: “Tiga orang, kamu jangan bertanya tentang mereka; Laki-laki yang meninggalkan jama’ah, mendurhakai imamnya dan mati dalam kondisi durhaka; Budak perempuan atau laki-laki yang lari dari tuannya lalu ia mati; Dan perempuan yang ditinggal pergi oleh suaminya yang telah mencukupi biaya hidupnya lalu perempuan itu mempertontonkan hiasan dan kecantikannya (kepada laki-laki ajnabiy) setelah suaminya pergi. Maka kamu jangan bertanya tentang mereka”.

Ketiga, kesalahan asumsi Idrus Ramli; bahwa yang dimaksud dengan term al-Jama’ah adalah mayoritas kaum muslim atau mainstream mayoritas kaum muslim. Kesalahan ini didasarkan pada sejumlah hadis berikut;
عن عوف بن مالك رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ستفترق أمتي على بضع وسبعين فرقة أعظمها فرقة قوم يقيسون الأمور برأيهم فيحرمون الحلال ويحللون الحرام. أخرجه الحاكم وصححه وسكت عنه الذهبي.

Dari ‘Auf bin Malik RA berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh kelompok lebih, di mana kelompok yang paling besar adalah kaum yang menganalogkan perkara dengan pendapatnya, lalu mereka mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram”.

Hadis ini sangat jelas menunjukkan bahwa mayoritas kaum muslim atau mainstream mayoritas kaum muslim, yaitu menganalogkan perkara dengan pendapat, lalu mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, itu telah keluar dari mainstream Ahlussunnah Waljama’ah atau al-Jama’ah. Dan Nabi SAW bersabda;

بدأ الإسلامُ غريباً وسيعودُ غريباً فطُوْبي للغُرَبَاء. رواه مسلم عن أبي هريرة.

“Islam mulai datang dalam kondisi asing dan akan kembali asing, maka berbahagialah kelompok yang terasingkan”.

وعن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: إنّ الإسلامَ بدأ غريباً وسَيَعُوْدُ غريباً كما بدأ فطوبى للغرباء، قيلَ: وَمَنْ الغرباءُ؟ قال: النزاعُ من القبائل. رواه الدارمي وابن ماجه وابن أبي شيبة والبزار وأبو يعلى وأحمد واللفظ له.

Dan dari Abdullah Ibn Mas’ud ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Islam telah memulai dalam kondisi asing dan akan kembali asing sebagaimana semula, maka berbahagialah kelompok yang terasingkan”. Dikatakan: “Siapakah kelompok yang terasingkan itu?”. Beliau bersabda: “Para pendatang dari berbagai kabilah”.

وعن عمروبن عوف بن زيد بن ملحة المزني رضي الله عنه أن رسولَ الله صلى الله عليه وسلم قال: إنّ الدينَ بدأ غريباً ويَرْجِعُ غريباً فطوبى للغرباء الذينَ يُصْلِحُوْنَ ما أفسدَ الناسُ مِنْ بعدي من سنتي. وفى رواية الطبراني فى الكبير قالوا: يارسولَ الله وَمَن الغرباءُ؟ قال: الذينَ يُصْلِحُوْنَ عندَ فسادِ الناس. وفى الأوسط والصغير يُصْلِحُوْنَ إذا فسدَ الناسُ.

Dan dari ‘Amer Bin ‘Auf Bin Zaid Bin Malhah ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya agama telah memulai dengan kondisi asing dan akan kembali asing, maka berbahagialah kelompok yang terasingkan, yaitu orang-orang yang melakukan perbaikan setelah [wafat] ku terhadap sunnahku yang telah dirusak oleh manusia”. Dalam riwayat Thabarani dalam kitab Kabirnya: Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, siapakah kelompok yang terasingkan itu?”, beliau bersabda: “Orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia rusak”. Dalam kitab al-Ausath dan al-Shagiir memakai redaksi: “Orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak”.

وعن عبد الله بن عمرو رضي الله عنه قال: كنتُ عندَ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم يوماً وطلعتِ الشمسُ فقال: …..طوبى للغرباء، طوبى للغرباء، قيل ومَن الغرباءُ؟ قال: ناسٌ صالحونَ قليلٌ فى ناسٍ سوءٍ كثيرٍ مَنْ يَعْصِيْهم أكثرُ مِمَنْ يُطِيْعُهُمْ. رواه أحمد والطبراني

Dan dari Abdullah Ibn ‘Amer ra berkata: “Pada suatu hari aku berada di sisi Rasulullah saw sedang Matahari telah terbit lalu beliau bersabda: “…..berbahagialah kelompok yang terasingkan, berbahagialah kelompok yang terasingkan”. Dikatakan: “Siapakah mereka wahai Rasulallah?, beliau bersabda: “Orang-orang shalih yang minoritas di tengah-tengah orang-orang buruk yang mayoritas, yang membangkan terhadap mereka itu lebih banyak daripada yang menurut kepada mereka.”

Sejumlah hadis tersebut juga sangat jelas menunjukkan bahwa kebenaran itu tidak terletak pada mayoritas kaum muslim, tetapi justru terletak pada minoritas kaum muslim. Dan Nabi SAW bersabda:

المتمسك بسنتى عند فساد أمتى له أجر شهيد. أخرجه الطبراني في الأوسط عن أبي هريرة. وفي رواية: المتمسك بسنتى عند اختلاف أمتى كالقابض على الجمر. أخرجه الحكيم عن ابن مسعود رضي الله عنه {الجامع الصغير للسيوطي}.

“Orang yang berpegang teguh terhadap sunahku ketika umatku rusak itu mendapat pahala orang mati syahid.” Dalam riwayat lain; “Orang yang berpegang teguh terhadap sunahku ketika umatku berselisih itu seperti orang yang menggenggam bara api”.

Kondisi itu terjadi karena banyaknya bid’ah, atau karena sedikitnya penolong dan banyaknya penentang. Dengan demikian, hadis tersebut sangat jelas menunjukkan bahwa kebenaran (al-Haq) itu ada pada minoritas umat Islam, bukan pada mayoritasnya. Sufyan al-Tsauri berkata:

استوصوا بأهل السنة خيراً، فإنهم غرباء.
“Minta wasiat baiklah kalian kepada Ahlussunnah, karena mereka adalah orang-orang yang terasingkan”. (Al-Suyuthi, al-Amru bil Itba’ wa al-Nahyu ‘anil Ibtida’, hal. 2). Dan Abu Bakar bin ‘Iyasy berkata:

السنة في الإسلام أعز من الإسلام في سائر الأديان.
“Sunnah dalam Islam itu lebih sedikit dari pada Islam dalam agama-agama yang lain”. (Al-Suyuthi, al-Amru bil Itba’ wa al-Nahyu ‘anil Ibtida’, hal. 2).

Tentang pengertian Ahlussunnah wal Jama’ah K.H. Moenawar Kholil dalam buku ‘Kembali Kepada al-Qur’an dan as-Sunnah’ mengutip perkataan Ibnu Mas’ud RA kepada ‘Amir bin Maimun:

الجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الحَقَّ وَ لَوْ كُنْتَ وَحْدَكَ
“Al-Jama’ah (Ahlussunnah Waljamaah) adalah apa saja yang sesuai dengan kebenaran (al-haq) meskipun kamu sendirian yang melakukan”.

Di lain riwayat Ibnu Mas’ud berkata:

مَنْ كَانَ عَلَى اْلحَقِّ فَهُوَ جَمَاعَةٌ وَ إِنْ كَانَ وَحْدَهُ.
“Siapa saja yang berada di atas kebenaran (al-haq), maka ia adalah Ahlussunnah Waljamaah, walaupun ia sendirian”.

Ketika Ali bin Abi Thalib ditanya tentang pengertian al-Jama’ah, maka beliau berkata:

وَالجَمَاعَةُ وَ اللَّهِ مُجَامَعَةُ أَهْلِ الحَقِّ وَ إِنْ قَلُّوْا.
“Al-Jama’ah (Ahlussunnah Waljamaah)-demi Allah- adalah golongan pengikut kebenaran meskipun jumlah mereka sedikit”.

Imam Abu Syamah dalam kitab al-Bai’its berkata:
الجَمَاعَةُ لُزُوْمُ الحَقِّ وَ اتِّبَاعُهُ وَ إِنْ كَانَ المُتَمَسِّكُ بِهِ قَلِيْلاً وَ المُخَالِفُ كَثِيْرًا.
“Al-Jama’ah (Ahlussunnah Waljamaah) adalah berpegang pada kebenaran dan mengikutinya, meskipun orang yang berpegang padanya jumlahnya sedikit, sementara mereka yang menentang jumlahnya banyak”.

Muhammad Shodiq Hasan Khan al-Qanuji dalam Qathfu al-Tsamar fi Bayani ‘Aqidati Ahli al-Atsar berkata:

أَهْلُ السُّنَّةِ وَ الجَمَاعَةِ هُمْ اَلْمُتَمَسِّكُوْنَ بِاْلإِسْلاَمِ اْلمَحْضِ اَلْخَالِصِ عَنِ الشَّوْبِ.
“Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mereka yang berpegang pada Islam yang murni yang tidak tercampuri oleh apapun”.

Dengan demikian, menggunakan hadis Ibnu Mas’ud dan hadis Umar Ibn al-Khaththab untuk menghantam Hizbut Tahrir adalah sangat tidak tepat dan tidak ilmiah. Karena Hizbut Tahrir sedang berjuang untuk mewujudkan jama’ah kaum muslim yang dipimpin oleh seorang khalifah, para syabab Hizbut Tahrir adalah kelompok minoritas di antara umat Islam yang telah rusak, baik ideologi maupun mainstreamnya, meskipun akidah Islam mereka tetap kokoh.

Abulwafa Romli

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,845 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: