//
you're reading...
Catatan & Analisis

PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (31) Metode Perjuangan Hizbut Tahrir Tidak Sama Dengan Metode Perjuangan Para Ulama?

Gambar

Pada topik selanjutnya, ‘Dari Mana Kita Memulai’, Idrus Ramli (dan didukung oleh orang-orang yang seideologi dengannya) berkata:

“Dalam metode perjuangan, Hizbut Tahrir (HT) memiliki metode yang berbeda dengan metode yang selama ini diambil oleh para ulama di tanah air maupun di negara-negara lain di Timur Tengah. HT memfokuskan perjuangannya melalui jalur politik dengan visi dan misi tegaknya khilafah dan berlakunya syariat Islam secara kaffah melalui mesin kekuasaan dan pemerintahan. Sementara para ulama sejak masa-masa yang silam, utamanya di Indonesia, memfokuskan perjuangannya melalui jalur dakwah dan pendidikan kemasyarakatan. Hal ini kemudian sering disalahpahami oleh HT dan simpatisannya bahwa gerakan para ulama selama ini tidak mencerminkan ghirah dan orientasi pada berlakunya syariat Islam di tanah air dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebenarnya para ulama di tanah air sejak dulu, memfokuskan perjuangan mereka melalui jalur dakwah dan pendidikan kemasyarakatan, dengan mengelola pesantren, madrasah, mushalla dan pengajian-pengajian rutin kepada masyarakat sekitar mereka, karena berangkat dari pemahaman yang benar terhadap dalil-dalil agama….. ….. …..

Apabila umat berhasil dididik dengan baik, lalu mereka dapat menerapkan kewajiban-kewajiban individu mereka kepada Allah secara baik dan sempurna, maka tanpa disadari dengan sendirinya akan terbangun kesalehan individual yang pada akhirnya akan membawa pada kesalehan social. Hal ini sebagaimana misalnya ditegaskan dalam ayat al-Qur’an:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar, dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain), dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”………
(Hizbut Tahrir dalam Sorotan, hal. 26-29).

MEMBONGKAR PAT:
Sesungguhnya pernyataan di atas itu mencerminkan atas kebodohan Idrus Ramli dengan tiga fakta sekaligus, yaitu; 1) fakta Hizbut Tahrir, 2) fakta para syabab Hizbut Tahrir, dan 3) fakta qadliyyah mashiriyyah (problem utama) bagi kaum muslim. Maka pembongkaran ini juga terbagih menjadi tiga bagian:

Pertama, fakta Hizbut Tahrir:

Hizbut Tahrir adalah partai politik yang berasaskan akidah Islam dan berideologi Islam. Politik adalah aktifitasnya, dan Islam adalah ideologinya. Hizbut Tahrir beraktifitas di tengah-tengah umat dan bersama umat, agar umat mengambil Islam sebagai permasalahan utamanya, dan Hizbut Tahrir menuntun umat untuk mengembalikan khilafah dan pemerintahan sesuai hukum yang diturunkan Allah SWT. (Ta’rif Hizbut Tahrir, hal.1).

Dengan demikian, sangat keliru membandingkan aktifitas Hizbut Tahrir sebagai partai politik dengan aktifitas para ulama sebagai individu kaum muslim. Seharusnya aktifitas Hizbut Tahrir itu dibandingkan dengan aktifitas partai politik yang lain, seperti PKB, PKNU, PKS, Golkar atau PDIP.

Dan karena Hizbut Tahrir sebagai partai politik Islam, maka wajar kalau menegakkan pemerintahan Islam (khilafah) adalah target utamanya untuk menerapkan sistem Islam secara sempurna. Sebagaimana partai-partai sekular juga menjadikan pemerintahan demokrasi sebagai target utamanya untuk menerapkan sistem demokrasi.

Kedua, fakta Para Syabab Hizbut Tahrir:

Para syabab Hizbut Tahrir adalah bagian dari individu kaum muslim yang beraktifitas sebagaimana individu kaum muslim beraktifitas. Di antara mereka ada yang menjadi pengasuh dan ustadz pondok pesantren; ada yang menjadi guru SD, SMP, SMA atau MI, MTs dan MA, sampai menjadi dosen dan dekan di perguruan tinggi; ada yang menjadi penceramah, muballigh dan pendidik serta Pembina masyarakat; ada yang menjadi dokter dan spikiater; ada yang sebagai petani dan pedagang; bahkan ada yang menjadi mushannif dan muallif, dan seterusnya. Hanya saja di luar itu para syabab Hizbut Tahrir memiliki aktifitas lebih yaitu aktifitas politik. Sebagaimana banyak para kiai dan ustadz juga beraktifitas politik di luar Hizbut Tahrir.
Ketiga, fakta Qadliyyah Mashiriyyah (Problem Utama) Bagi Kaum Muslim:

Sesungguhnya qadliyyah mashiriyyah bagi kaum muslim di seluruh dunia adalah mengembalikan pemerintahan sesuai hukum (sistem) yang telah diturunkan oleh Alloh SWT, melalui penegakkan daulah khilafah, dan mengangkat seorang khalifah yang dibaiat atas dasar kitabulloh dan sunnah Rasululloh, untuk merobohkan sistem kufur dan menggantikannya dengan penerapan sistem Islam, untuk mengintegrasikan negeri-negeri Islam kepada Negara Islam, dan masyarakatnya kepada masyarakat Islam, dan untuk mengemban risalah Islam ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad. (Manhaj Hizbut Tahrir fit Taghyir, hal. 3-4).

Menetukan qadliyyah mashiriyyah dengan mengembalikan pemerintahan sesuai hukum (sistem) yang telah diturunkan oleh Alloh SWT ini telah sesuai dengan fakta serta realita kaum muslim, fakta serta realita negeri-negeri Islam, fakta serta realita Negara di negeri-negeri Islam, fakta serta realita masyarakat di negeri-negeri Islam, dan fakta serta realita hukum-hukum syara’ yang terkait dengan semuanya. (Lihat Manhaj Hizbut Tahrir fit Taghyir, hal. 5-11).

Salah satunya adalah problematika kaum muslim di seluruh dunia saat ini dan akan terus berlangsung. Contohnya problem kemiskinan akibat dibuangnya sistem ekonomi Islam dan diterapkannya sistem ekonomi kapitalis. Problem perzinaan, pemerkosaan dan aborsi akibat dibuangnya sistem pergaulan dan persangsian Islam dan diterapkannya sistem pergaulan dan persangsian sekular. Problem korupsi, kolusi, pencurian, perampokan dan pencucian uang akibat dibuangnya sistem ekonomi dan persanksian Islam dan diterapkannya sistem ekonomi dan persangsian sekular. Dan problem kekerasan pisik sampai pembunuhan lagi-lagi akibat dibuangnya sistem persanksian Islam dan diterapkannya sistem persangsian sekuler.

Karena kalau orang yang berzina dicambuk, atau diranjam sampai mati sesuai hukum Islam, maka orang akan berpikir seribu kali sebelum berzina. Kalau orang yang korupsi, mencuri dan merampok dipotong tangannya atau dihukum mati, maka orang akan berpikir seribu kali sebelum korupsi, mencuri dan merampok. Kalau orang yang melakukan kekerasan pisik dan membunuh dibalas setimpal, dibunuh lagi atau dikenai denda yang sesuai syariat (yang sangat mahal, yaitu senilai seratus unta), maka orang akan berpikir seribu kali sebelum melakukan kekerasan dan pembunuhan. Dan seterusnya.

Jadi semua problem di atas itu telah terjadi, sedang terjadi dan akan terus terjadi, karena dibuangnya sistem Islam yang terkait dengan semuanya. Memang semua problem itu tidak bisa dihapus dari muka bumi selama masih ada manusia, karena baik dan buruk adalah qadar dari Alloh. Ya itu benar. Akan tetapi sistem Islam itu datang bukan untuk menghilangkan keburukan, tetapi sebagai solusi terbaik dan untuk meminimalkan keburukan. Contohnya kalau sekarang keburukan itu bisa terjadi 1kasus dari 1000 orang per hari, maka dengan diterapkannya sistem Islam bisa menjadi 1kasus dari 1.000.000, orang per hari, dan solusi yang diterapkannya adalah sesuai Islam yang dapat dipertanggung jawabkan sampai akhirat kelak.

Dan Hizbut Tahrir tidak menyalahkan aktifitas para ulama dalam mendidik dan membina kaum muslim di berbagai lembaganya masing-masing, karena aktifitas tersebut adalah bagian dari hukum-hukum Islam dan diperintahkan oleh Islam. Akan tetapi Hizbut Tahrir hanya berkata bahwa aktifitas tersebut tidak berhubungan dengan qadiyyah mashiriyyah, karena bukan aktifitas politik. Padahal qadliyyah mashiriyyah itu hanya bisa terwujud dengan aktifitas politik. (Lihat Manhaj Hizbut Tahrir fit Taghyir, hal. 16-19).

Sebagaimana pemerintahan demokrasi saat ini mustahil bisa terwujud hanya dengan mendidik santri di pesantren, tanpa disertai aktifitas politik. Juga pemerintahan Islam, yaitu khilafah mustahil dapat terwujud hanya dengan mendidik santri di pesantren, tanpa disertai aktifitas politik. Contohnya NU dan Muhammadiyah yang sudah berapa puluh tahun berdiri dan sudah berapa juta kaum muslim terdidik dan terbina, tetapi karena keduanya tidak menyentuh qadliyyah mashiriyyah, ya sampai kiamat pun khilafah tidak akan berdiri melalui keduanya. Kecuali kalau keduanya bersaktifitas politik yang menyentuh qadliyyah mshiriyyah, maka meskipun sulit dan lama, khilafah akan bisa tegak melalui keduanya.

Dan terkait perkataan Idrus Ramli;
“Apabila umat berhasil dididik dengan baik, lalu mereka dapat menerapkan kewajiban-kewajiban individu mereka kepada Allah secara baik dan sempurna, maka tanpa disadari dengan sendirinya akan terbangun kesalehan individual yang pada akhirnya akan membawa pada kesalehan social.”

Ya itu benar. Karena umat yang telah terdidik dengan baik akan memahami qadliyyah mashiriyyah dan akan tergerak dan berjuang untuk mewujudkannya. Dan itu membuktikan bahwa selama ini yang telah berhasil mendidik umat dengan baik hanya Hizbut Tahrir, yang baru masuk ke Indonesia pada tahun 80-an, tetapi gaung kembalinya khilafah dari tanah air ini telah menggetarkan dunia. Sampai-sampai NU Jatim yang terkenanal sebagai negeri para kyai tidak berani mengeluarkan ulama terkemukanya untuk lantang menolak khilafah, kecuali seorang ustadz yang tidak punya malu, yang sombong dan congkak, yang mengaku ilmiah tapi jahiliah, yang berjalan kesana-kemari untuk menebar rekayasa, dusta, fitnah dan provokatif, yang mengklaim menjaga akidah Aswaja tetapi hanya topeng yang menutup wajah sekularnya, yaitu seorang Idrus Ramli.

Ini juga membuktikan bahwa perjuangan penegakkan khilafah adalah hak. Jadi hanya ulama atau ustadz yang tidak waras yang berani menolaknya. Karena kesalehan sosial itu mustahil dapat terwujud tanpa adanya negara yang menerapkan sistem yang saleh, yaitu sistem Islam secara sempurna, dan negara itu adalah khilafah.

Inilah rahasia kenapa Nabi SAW beserta para pembesar sahabatnya hampir menghabiskan hidupnya untuk mengatur dan mengelola negara yang menerapkan Islam secara sempurna, untuk mewujudkan kesalehan sosial. Dan logika orang yang waras pasti berkata; Nabi SAW dan para pembesar sahabatnya saja masih membutuhkan sebuah Negara untuk mewujudkan kesalehan social. Lalu bagaimana dengan kondisi sekarang. Tentu Negara itu sangat dibutuhkan. Akan tetapi bukan sembarang Negara. Karena negera itu juga harus Negara yang telah wujud pada masa Nabi SAW dan sahabatnya, yaitu Negara Khilafah.
(Abulwafa Romli)

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: