//
you're reading...
Catatan & Analisis

PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (36) Ideologi Hizbut Tahrir Mengadopsi Ideologi Muktazilah?

Gambar

Idrus Ramli (dan ashhabnya) berkata:
“Pada masa pemerintahan Bani Umayah, lahir gerakan revivalis yang dipelopori oleh Ma’bad bin Khalid al-Juhani, penggagas ideologi Qadariyah, yang berpijak pada pengingkaran qadha dan qadar Allah. Ideologi ini menjadi embrio lahirnya sekte Muktazilah. Belakangan ideologi pengingkaran qadha dan qadar ala Muktazilah ini juga diikuti oleh Taqiyyuddin al-Nabhani, perintis Hizbut Tahrir. Dalam bukunya, al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, rujukan primer Hizbut Tahrir, Taqiyyuddin al-Nabhani berkata:

وهذه الأفعال –أي أفعال الإنسان- لا دخل لها بالقضاء ولا دخل للقضاء بها، لأن الإنسان هو الذي قام بها بإرادته واختياره، وعلى ذلك فإن الأفعال الإختيارية لا تدخل تحت القضاء.

“Semua perbuatan ikhtiyari manusia ini, tidak ada kaitannya dengan ketentuan/qadha’, dan qadha’ juga tidak ada kaitan dengannya, karena manusialah yang melakukannya dengan kemauan dan ikhtiyarnya, oleh karena itu perbuatan ikhtiyari manusia tidak masuk dalam lingkup qadha Allah”. (Taqiyyuddin al-Nabhani, al-Syakhshiyat al-Islamiyah, juz I, [Qudus: Mansyurat Hizb al-Tahrir, 1953], hal. 71-72).

Dalam bagian lain buku tersebut, Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani juga mengatakan:

فتعليق المثوبة أو العقوبة بالهدى والضلال يدل على أن الهداية والضلال هما من فعل الإنسان وليس من الله.
“Mengkaitkan pahala dan siksa dengan petunjuk dan kesesatan menjadi dalil bahwa hidayah (petunjuk) dan kesesatan itu sebenarnya termasuk perbuatan manusia dan bukan datang dari Allah”. (Taqiyyuddin al-Nabhani, al-Syakhshiyat al-Islamiyah, juz I, hal. 74, dan Nizhamul Islam hal. 22).

Pernyataan al-Nabhani di atas memberikan dua kesimpulan. Pertama, perbuatan ikhtiyari manusia tidak ada kaitannya dengan ketentuan atau qadha’ Allah, dan kedua, hidayah dan kesesatan itu adalah perbuatan manusia sendiri dan bukan dari Allah. Demikian ini jelas bertentangan dengan al-Qur’an, Sunnah dan akal sehat. Dalam sekian banyak ayat berikut ini:

وخلق كل شيئ فقدره تقديرا. (الفرقان: 2).
“Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya”.

والله خلقكم وما تعملون. (الصافات: 96).
“Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”

إنا كل شيئ خلقناه بقدر. (القمر: 49).
“Sesungguhynya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”

Beberapa ayat di atas menegaskan bahwa segala sesuatu itu diciptakan oleh Allah SWT. Kata “segala sesuatu” dalam ayat tersebut mencakup segala apa yang ada di dunia ini seperti benda, sifat-sifat benda seperti gerakan dan diamnya manusia, serta perbuatan yang disengaja maupun yang terpaksa. Dalam realita yang ada, perbuatan ikhtiyari manusia lebih banyak dari pada perbuatan non ikhtiyari atau yang terpaksa. Seandainya perbuatan ikhtiyari manusia itu adalah ciptaan manusia sendiri, tentu saja perbuatan yang diciptakan oleh manusia akan lebih banyak dari pada perbuatan yang diciptakan oleh Allah. Dari sini dapat kita simpulkan, bahwa pernyataan al-Nabhani di atas merupakan penolakan terhadap teks-teks al-Qur’an dan hadits.

Dalam ayat lain Allah juga berfirman:
فمن يهدي من أضل الله. (الروم: 29).
“Maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah?”

إن هي إلا فتنتنا تضل بها من تشاء وتهدي من تشاء. (الأعراف: 155).
“Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa saja yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki.”

إنك لا تهدي من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء. (القصص: 56).
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.”

Ayat-ayat di atas menegaskan bahwa hidayah dan kesesatan itu berasal dari Allah, bukan dari perbuatan manusia. Pernyataan al-Nabhani di atas juga bertentangan dengan ayat berikut ini:

ونقلب أفئدتهم وأبصارهم. (الأنعام: 110).
“Dan (begitu pula) kami memalingkan hati dan penglihatan mereka.”

Ayat ini menegaskan bahwa perbuatan hati dan perbuatan lahiriah manusia termasuk perbuatan Allah. Hal ini bertentangan dengan pernyataan Hizbut Tahrir yang berpandangan bahwa hidayah dan kesesatan adalah perbuatan manusia, dan bukan dari Allah. Demikianlah sebagian ayat-ayat al-Qur’an yang menunjukan bahwa perbuatan ikhtiyari manusia serta hidayah dan kesesatan merupakan perbuatan Allah dan terjadi atas dasar qadha’ dan qadar Allah.

Pandangan Hizbut Tahrir juga bertentangan dengan hadis-hadis Nabi SAW. Di antara haidis-hadis tersebut adalah:

عن ابن عمر قال أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: كل شيئ بقدر حتى العجز والكيس. رواه مسلم وأحمد.
“Segala sesuatu itu terjadi dengan ketentuan Allah, sampai kebodohan dan kecerdasan”.

عن حذيفة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الله صانع كل صانع وصنعته. رواه الحاكم.
“Sesungguhnya Allah yang menciptakan semua pelaku dan perbuatannya”.

عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: القدرية مجوس هذه الأمة إن مرضوا فلا تعودوهم وإن ماتوا فلا تشهدوهم. رواه أبو داود.
“Qadariyah itu Majusinya umat ini, apabila mereka sakit maka janganlah menjenguk mereka dan apabila mereka meninggal, maka janganlah menyaksikan jenazah mereka”.

Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ada adalah ciptaan Allah, termasuk kebodohan, kecerdasan, setiap makhluk hidup dan semua perbuatannya. Dengan pandangan di atas, HT juga menyalahi hadis shahih berikut ini:

عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: صنفان من أمتي لا نصيب لهما في الإسلام: القدرية والمرجئة. رواه ابن جرير الطبري.
“Dua golongan dari umatku yang tidak memiliki bagian dalam Islam, yaitu Qadariyah dan Murjiah”.

Hadis ini sangat tegas dalam mengkafirkan golongan Qadariyah yang berpandangan bahwa perbuatan manusia diciptakannya sendiri dengan kemauan dan ketentuannya. Menurut sebagian ulama, pandangan ini persis dengan pandangan Hizbut Tahrir yang menanggalkan Islam, sebagaimana ular yang menanggalkan kulitnya…..”. (Hizbut Tahrir dalam Sorotan, hal. 58-66).

MEMBONGKAR PAT:

Untuk membongkar rekayasa, dusta, fitnah dan provokasi (pemikiran Aswaja topeng) Idrus Ramli terhadap Hizbut Tahrir, bantahan ini terbagi menjadi empat bagian:

Pertama: Terkait Qadha’ dan qadar yang dibicarakan oleh Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dalam dua kitabnya, al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah dan Nizhamul Islam.

Syaikh Taqiyyuddin dalam kitab al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah juz I telah membagi pembahasan qadha’ dan qadar menjadi tiga pembahasan, yaitu; 1) Qadar yang dari peradaban Islam, 2) Qadha’ yang datang dari peradaban Islam, dan 3) Qadha’ dan qadar yang datang dari peradaban Yunani tapi nama serta substansinya dibenarkan oleh Islam dan termasuk rukun Iman. Dan dalam kitab Nizhamul Islam hanya membicarakan satu pembahasan, yaitu Qadha’ dan qadar yang datang dari peradaban Yunani. (Lihat al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz I, hal. 66-97, cet. VI, 2003, Daarul Ummah, Berut. Dan Nizhamul Islam, hal. 14-21, cet. VI, 2001).

Asas pembahasan qadha dan qadar yang datang dari peradaban Yunani adalah amal perbuatan manusia dari sisi; Apakah manusia itu terpaksa dalam melakukan perbuatannya, baik atau buruk, ataukah diberi pilihan? Dan apakah manusia memiliki pilihan dalam melakukan pekerjaan atau meninggalkannya, atau manusia tidak memiliki pilihan? (Nizhamul Islam, hal. 16, cet. Keenam, 2001).
Sedangkan asas pembahasan qadha dan qadar yang datang dari peradaban Islam adalah sesuai makna qadha dan qadar yang telah datang dalam al-Qur’an dan al-Sunnah seperti berikut ini;

Qadar yang datang dari peradaban Islam itu memilik sejumlah makna, di antaranya; ketentuan (al-taqdir), ilmu (al-ilm), pengaturan (al-tadbir), waktu (al-waqt), penyediaan (al-Tahyiah). (al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz I, hal. 82).

Qadha’ yang datang dari peradaban Islam memiliki sejumlah makna, di antaranya; Mengokohkan (al-ihkam), meneruskan (al-imdha’), menjadikan (al-ja’l), memerintah (al-amr), menyempurnakan (al-itmam), mewajibkan (al-hatm), menetapkan (al-ibrom), dll. (al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz I, hal. 85).

Qadar yang datang dari peradaban Yunani itu memiliki makna; Karakter tertentu yang telah diwujudkan oleh Allah pada segala susuatu, naluri dan kebutuhan jasmani yang terdapat pada diri manusia.

Qadha’ yang datang dari peradaban Yunani itu memiliki makna; Semua amal pebuatan (al-af’al) yang terjadi pada lingkaran yang menguasai manusia. (Nizhamul Islam, hal. 16-18, dan al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz I, hal. 94-96).

Amal perbuatan itu terbagi menjadi dua bagian; Pertama,amal perbuatan yang dikuasai oleh manusia, di mana manusia melakukannya dengan murni ikhtiyarnya. Kedua,amal perbuatan yang menguasai manusia, di mana terbagi menjadi dua bagian: Yang ditetapkan oleh sistem alam, dan yang tidak berada pada kekuasaan manusia, di mana manusia tidak sanggup menolaknya. Amal perbuatan pada bagian pertama itu tidak ada kaitannya dengan pembahasan qadha’ dan qadar yang datang dari peradaban Yunani. Dan amal perbuatan pada bagian kedua semuanya itulah yang dinamakan qadha yang datang dari peradaban Yunani. ( Nizhamul Islam, hal. 16, dan al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz I, hal. 92-96).

Dengan demikian dapat diketahui bahwa perkataan Syaikh Taqiyyuddin yang dipermasalahkan oleh Idrus Ramli, yaitu;

وهذه الأفعال –أي أفعال الإنسان- لا دخل لها بالقضاء ولا دخل للقضاء بها، لأن الإنسان هو الذي قام بها بإرادته واختياره، وعلى ذلك فإن الأفعال الإختيارية لا تدخل تحت القضاء.
“Semua perbuatan ikhtiyari manusia ini, tidak ada kaitannya dengan ketentua /qadha’, dan qadha’ juga tidak ada kaitan dengannya, karena manusialah yang melakukannya dengan kemauan dan ikhtiyarnya, oleh karena itu perbuatan ikhtiyari manusia tidak masuk dalam lingkup qadha Allah.”

Perkataan ini masuk ke dalam pembahasan qadha dan qadar yang datang dari peradaban Yunani, dan sama sekali tidak masuk ke dalam pembahasan qadha’ dan qadar yang datang dari peradaban Islam. Dalam hal ini Syaikh Taqiyyuddin berkata:

ولا شأن لها في بحث القضاء والقدر الذي أورده المتكلمون…..
“Tidak ada hubungan sama sekali baginya (semua makna qadar yang datang pada sejumlah hadis terkait qadar) dalam pembahasan qadha’ dan qadar yang telah disampaikan oleh Mutakallimin…..”. ( al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz I, hal. 83).
Dan perkataan beliau:

فلا علاقة لهما في بحث القضاء والقدر. أي أن كلمة قضاء بجميع معانيها اللغوية والشرعية التي وردت عن الشارع، وكلمة قدر بجميع معانيها اللغوية والشرعية التي وردت عن الشارع بجميع معانيها اللغوية والشرعية التي وردت عن الشارع لا علاقة لأي كلمة منهما لا منفردتين ولا مجتمعتين في بحث القضاء و القدر…..
“Maka tidak ada hubungan bagi keduanya dalam pembahasan qadha’ dan qadar. Yakni bahwa kata qadha dengan semua makna bahasa dan syara’nya yang telah datang dari al-Syaari’ (Allah atau RasulNya), dan kata qadar dengan semua makna bahasa dan syara’nya yang telah datang dari al-Syaari’ itu tidak ada hubungan bagi setiap kata dari keduanya, baik yang pisah maupun yang kumpul, dalam pembahasan qadha dan qadar (yang datang dari Yunani)…..”. ( al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz I, hal. 88). Juga beliau berkata:

ولا علاقة لها ببحث القضاء والقدر….. ولا دخل لها في بحث القضاء والقدر…..
“Tidak ada hubungan bagi ayat-ayat itu dengan pembahasan qadha’ dan qadar (yang datang dari Yunani)….. tidak ada hubungan bagi ayat itu dalam pembahasan qadha’ dan qadar (yang datang dari Yunani)…..”. ( Ibid, hal. 89).
Juga beliau berkata:

وعلى ذلك فإن جميع ما تقدم لا دخل له في بحث القضاء والقدر ولا يدخل تحت مدلوله فلا علاقة له بجميع ما تقدم مطلقا، وإنما القضاء والقدر معنى جاء من الفلسفة اليونانية نقله المعتزلة وأعطوا فيه رأيا، ورد عليهم أهل السنة والجبرية، ورد أهل السنة على الجبرية…..
“Atas dasar itu, maka semua ayat dan hadis di atas tidak memiliki hubungan dalam pembahasan qadha’ dan qadar dan tidak masuk pada maknanya, maka tidak ada hubungan baginya dengan semua di atas secara muthlak, karena qadha dan qadar hanyalah makna yang datang dari filsafat Yunani yang diambil dan diopinikan oleh Muktazilah, dan dibantah oleh Ahlussunnah dan Jabariyyah, dan Ahlussunnah membantah Jabariyyah…..”. ( Ibid, hal. 90).

Jadi sebenarnya Idrus Ramli sama sekali tidak memahami pembahasan qadha dan qadar dalam kitab al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah dan Nizhamul Islam, atau ia sengaja merekayasa, berdusta, memitnah dan memprovokasi terhadap Hizbut Tahrir, sebagaimana ulama pujaannya, yaitu Syaikhul Fattan Abdullah al-Harari al-Ahbasy.

Kedua: Hizbut Tahrir tidak mengingkari qadha dan qadar sebagai rukun iman yang keenam. Dalam hal ini Syaikh Taqiyyuddin berkata:

هذه هي الأمور التي يجب الإيمان بها وهي خمسة أمور: الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن أيضا بالقضاء والقدر ولا يطلق الإيمان بالإسلام على الشخص ولا يعتبر مسلما إلا إذا آمن بهذه الخمسة جميعها وآمن بالقضاء والقدر…
“Ini adalah sejumlah perkara yang wajib diimani, yaitu lima perkara: Iman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kutub-Nya, Rusul-Nya dan Hari Akhir, dan juga beriman kepada Qadha dan Qadar. Dan tidak dikatakan Iman kepada Islam atas seseorang dan tidak pula ia dianggap sebagai muslim, kecuali ketika ia telah beriman kepada lima perkara ini, semuanya, dan beriman kepada Qadha dan Qadar…”. (Al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz I, hal. 43).

Juga di halaman yang lain Syaikh Taqiyyuddin menegaskan.

العقيدة الإسلامية هي الإيمان بالله و ملآئكته و كتبه و رسله واليوم الآخر و بالقضاء والقدر خيرهما شرهما من الله تعالى…..
“Akidah Islam ialah beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kutub-Nya, Rusul-Nya, hari akhir dan qadha dan qadar di mana baik dan buruknya dari Allah swt”. ( Ibid, hal. 29).

Dan beliau menegaskan ;
فالإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وبالقضاء والقدر خيرهما وشرهما من الله تعالى هو العقيدة الإسلامية. والإيمان بالجنة والنار والملائكة والشياطين وما شاكل ذلك هو من العقيدة الإسلامية. والأفكار وما يتعلق بها والأخبار وما يتعلق بها من المغيبات التي لا يقع عليها الحس يعتبر من العقيدة…..
“Jadi beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kutub-Nya, Rusul-Nya, hari akhir dan qadha dan qadar di mana baik dan buruknya dari Allah swt adalah akidah islamiyyah. Beriman kepada surga, neraka, syetan dlsb. Adalah termasuk akidah Islam. Dan pemikiran-pemikiran dan yang terkait dengannya, dan berita-berita dan yang terkait dengannya dari sejumlah perkara ghaib yang tidak tersentuh oleh indra semuanya tergolong akidah Islam” . ( Ibid, hal. 195).

Dari pemaparan di atas dapat dipastikan bahwa Hizbut Tahrir telah menjadikan iman kepada qadha dan qadar sebagai bagian dari akidah Islam, yaitu termasuk rukun iman yang keenam. Dan Hizbut Tahrir tidak meragukan sedikitpun terhadap keimanan kepada qadha dan qadar, karena keimanan adalah pembenaran yang pasti yang tidak menerima keraguan. Dalam hal ini Hizbut Tahrir berkata:

ومعنى الإيمان هو التصديق الجازم المطابق للواقع عن دليل، لأنه إذا كان التصديق عن غير دليل لا يكون إيمانا، إذ لا يكون تصديقا جازما إلا إذا كان ناجما عن دليل…..
“Makna iman ialah pembenaran yang pasti yang sesuai fakta dari dalil, karena ketika pembenaran itu tidak dari dalil, maka tidak ada iman, karena tidak ada pembenaran itu pasti kecuali ketika lahir dari dalil…..”. (Ibid, hal. 29).

Jadi tuduhan Idrus Ramli bahwa Hizbut Tahrir mengingkari qadha dan qadar adalah rekayasa, dusta, fitnah dan provokatif terhadap Hizbut Tahrir, atau kebodohan terhadap metode pembahasan kitab-kitab Hizbut Tahrir.

Ketiga: Terkait hidayah dan dhalal (petunjuk dan kesesatan). Syaikh Taqiyyuddin memang benar berkata:

فتعليق المثوبة أو العقوبة بالهدى والضلال يدل على أن الهداية والضلال هما من فعل الإنسان وليس من الله.
“Mengkaitkan pahala dan siksa dengan petunjuk dan kesesatan menjadi dalil bahwa hidayah (petunjuk) dan kesesatan itu sebenarnya termasuk perbuatan manusia dan bukan datang dari Allah”. (Ibid, hal. 98).
Lebih lengkapnya sebagai berikut:

والهداية شرعاً هي الاهتداء إلى الإسلام والإيمان به، والضلال شرعاً هو الانحراف عن الإسلام، ومنه قوله عليه السلام (إن الله لاَ يجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلاَلَةٍ) وقد جعل الله الجنة للمهتدين والنار للضالين، أي أن الله أثاب المهتدي وعذب الضال، فتعليق المثوبة أو العقوبة بالهدى والضلال يدل على أن الهداية والضلال هما من فعل الإنسان وليسا من الله. إذ لو كان من الله لما أثاب على الهداية وعاقب على الضلال، لأن ذلك يؤدي إلى نسبة الظلم إلى الله تعالى، إذ أنه حين يُعاقِب مَنْ قام هو بإضلاله يكون قد ظلمه، وتعالى الله عن ذلك علواً كبيراً، قال تعالى { وَمَا رَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيدِ } وقال { وَمَا أَنَا بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيد }.

“Hidayah secara syara’ ialah petunjuk kepada Islam dan beriman dengan Islam. Sedangkan dhalal secara syara’ ialah menyimpang dari Islam, termasuk makna ini adalah sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan umatku atas kesesatan. Allah benar-benar telah menjadikan surga bagi orang-orang yang mendapat petunjuk dan neraka bagi orang-orang yang sesat, artinya Allah memberi pahala kepada orang yang mendapat petunjuk dan menyiksa orang yang sesat. Jadi mengaitkan pahala atau sikasa dengan petunjuk dan kesesatan itu menunjukkan bahwa petunjuk dan kesesatan adalah dari perbuatan manusia bukan dari perbuatan Allah. Karena kalau dari Allah, maka Dia tidak memberi pahala terhadap petunjuk dan tidak menyiksa terhadap kesesatan, karena hal tersebut bisa menisbatkan kezaliman kepada Allah ta’ala, karena ketika Allah menyiksa orang yang disesatkannya, maka Allah benar-benar telah menzaliminya, maha luhur Allah dari hal demikian. Allah ta’ala berfirman: “Dan Tuhanmu tidak menzalimi hamba-hambaNya”, dan berfirman: “Dan Aku tidak menzalimi hamba-hambaKu.”. (Ibid, hal. 98).

Syaikh Taqiyyuddin tidak sebatas sampai di situ, tetapi beliau menyampaikan sederet dalil dari al-Qur’an, baik dalil-dalil yang menunjukkan penisbatan petunjuk dan kesesatan kepada Allah lalu memberi pengertian bahwa petunjuk dan kesesatan itu bukan dari hamba, tetapi hanya dari Allah, maupun dalil-dalil yang menunjukkan penisbatan petunjuk dan kesesatan kepada hamba lalu memberi pengertian bahwa petunjuk dan kesesatan itu dari hamba, bukan dari Allah, dan beliau menganalisa semuanya, sehingga kesimpulan (natijah) yang disampaikan tidak ngawur seperti kesimpulan Idrus Ramli. Dan berikut adalah dalil-dalilnya (dan saya tidak perlu mendatangkan terjemahannya, karena terlalu banyak):

قال تعالى { قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ } وقال { فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ } وقال { فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ } وقال { وَلَكِنْ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ } وقال تعالى { فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلاَمِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقاً حَرَجاً كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ } وقال { مَنْ يَشَإِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ } وقال تعالى { قُلِ اللَّهُ يَهْدِي لِلْحَقِّ } وقال { وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلاَ أَنْ هَدَانَا اللَّهُ } وقال { مِنْ آيَاتِ اللَّهِ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيّاً مُرْشِداً } وقال { إِنَّكَ لاَ تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ } .

Syaikh Taqiyyuddin menjalaskan bahwa nanthuq (teks) kelompok ayat di atas menunjukkan dengan jelas bahwa yang menunjukkan dan menyesatkan adalah Allah, bukan hamba. Ini artinya bahwa hamba itu tidak dapat menunjukkan dirinya, tetapi ketika Allah menunjukkannya, maka ia mendapat petunjuk, dan ketika Allah menyesatkannya, maka ia tersesat. Akan tetapi telah datang sejumlah qarinah (indikasi) yang memalingkan makna manthuqnya dari menjadikan pelaksanaan hidayah dan dhalal dari Allah kepada makna lain, yaitu menjadikan penciptaan hidayah dan dhalal dari Allah, dan bahwa yang melaksanakan hidayah (petunjuk), dhalal (kesesatan) dan idhlal (penyesatan) adalah hamba. Dan sejumlah qarinah itu adalah syar’iyyah dan aqliyyah, dan yang syar’iyyah adalah sederet ayat yang menisbatkan hidayah, dhalal dan idhlal kepada hamba, sebagai berikut:

قال تعالى { فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا } وقال { لاَ يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ } وقال { فَمَنِ اهْتَدَى فَلِنَفْسِهِ } وقال { وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ } وقال تعالى { وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا رَبَّنَا أَرِنَا الَّذَيْنِ أَضَلاَّنَا مِنْ الْجِنِّ وَالإِنْسِ } وقال { قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي } وقال { فَمَنْ أَظْلَمُ مِمّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِباً لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ } وقال { رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ } وقال { وَمَا أَضَلَّنَا إِلاَّ الْمُجْرِمُونَ } وقال { وَأَضَلَّهُمْ السَّامِرِيُّ } وقال { رَبَّنَا هَؤُلاَءِ أَضَلُّونَا } وقال { وَدَّتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يُضِلُّونَكُمْ وَمَا يُضِلُّونَ إِلاَّ أَنْفُسَهُمْ } وقال { إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ } وقال { مَنْ تَوَلاَّهُ فَأَنَّهُ يُضِلُّهُ وَيَهْدِيهِ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ } وقال { وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ }.

Syaikh Taqiyyuddin menjelaskan bahwa manthuq ayat-ayat di atas dengan jelas menunjukkan bahwa manusia adalah pihak yang melakukan hidayah dan dhalal lalu ia menyesatkan dirinya dan menyesatkan orang lain, dan bahwa setan juga tersesat. Maka telah datang penisbatan hidayah dan dhalal kepada manusia dan kepada setan, dan bahwa manusia mendapat hidayah dari dirinya dan tersesat dari dirinya. Maka ini adalah qarinah bahwa penisbatan hidayah dan dhalal kepada Allah itu bukan penisbatan perbuatan (mubasyarah), akan tetapi penisbatan penciptaan (khalq).

Apabila anda meletakkan ayat-ayat itu beserta sebagiannya dan anda memahaminya secara syari’at, maka menjadi jelas penerapan setiap satu dari padanya kepada makna selain makna yang dimiliki oleh yang lain. Ayat itu berkata: “qulillahu yahdiy lillhaqqi (katakanlah, Allah yang menunjukkan kepada kebenaran)” dan ayat lain berkata: “famanihtadaa fainnamaa yahtadiy linafsihi (maka barang siapa mendapat petunjuk, maka ia hanya mendapat petunjuk bagi dirinya)”. Ayat pertama menunjukkan bahwa Allah lah yang menunjukkan, sedang ayat kedua menunjukkan bahwa manusia lah yang mendapat petunjuk. Hidayah Allah pada ayat pertama adalah penciptaan hidayah pada diri manusia, yakni mewujudkan potensi hidayah, sedang ayat kedua menunjukkan bahwa manusia lah yang mengerjakan apa yang telah diciptakan oleh Allah, yaitu potensi hidayah, maka ia mendapat petunjuk.

Oleh karena itu pada ayat lain Allah berfirman: “wahadainaahun najdain ( dan kami tunjukkan manusia kepada dua jalan)”, yakni jalan kebaikan dan jalan keburukan, yakni kami menjadikan pada manusia potensi hidayah dan kami biarkan manusia mengerjakan petunjuk dengan dirinya. Jadi ayat-ayat tersebut menisbatkan hidayah dan idhlal kepada manusia, sebagai qarinah syar’iyah yang menunjukkan pembelokkan pelaksanaan hidayah dari Allah kepada hamba. Adapun qarinah aqliyahnya, sesungguhnya Allah SWT akan menghisab manusia lalu Allah memberi pahala kepada orang yang menerima hidayah dan menyiksa orang yang sesat, dan menetapkan hisab terhadap amal perbuatan manusia. Dalam hal ini Allah berfirman:

قال تعالى { مَنْ عَمِلَ صَالِحاً فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيدِ } وقال { فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ، وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ } وقال { وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلاَ يَخَافُ ظُلْماً وَلاَ هَضْماً } وقال { مَنْ يَعْمَلْ سُوءاً يُجْزَ بِهِ } وقال تعالى { وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا } .

Ketika makna penisbatan hidayah dan idhlal kepada Allah adalah pelaksanaan Allah terhadapnya, maka siksa Allah kepada orang kafir, munafik dan maksiat adalah zalim, maka maknanya harus dibelokkan kepada selain pelaksanaan, yaitu penciptaan hidayah dari tidak ada, dan pertolongan (taupiq) kepada hidayah. Jadi yang melaksanakan hidayah dan idhlal adalah hamba, oleh karena itu ia akan dihisab atas pelaksanaan itu. (Ibid, hal. 98-101).

Jadi pengertian perkataan Syaikh Taqiyyuddin di atas bahwa hidayah dan kesesatan itu dari pekerjaan manusia, bukan dari Allah, adalah Allah sebagai pihak yang menciptakan (al-Khaliq) hidayah dan dhalal, bukan manusia. Sedang manusia sebagai pihak yang mengerjakan (al-Mubasyir) hidayah dan dhalal, bukan Allah. Juga dengan al-Qur’an dan hadis yang disampaikan oleh Idrus Ramli berikut:

والله خلقكم وما تعملون. (الصافات: 96).
“Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”

إن الله صانع كل صانع وصنعته. رواه الحاكم عن حذيفة.
“Sesungguhnya Allah yang menciptakan semua pelaku dan perbuatannya”.

Konotasinya sama seperti di atas, yaitu Allah sebagai pihak yang menciptakan (al-Khaliq) manusia dan amal perbuatannya, sedang manusia adalah pihak yang mengerjakannya (al-Mabasyir), maka manusia diberi pahala atau disiksa, dan kelak pada hari kiamat akan dihisab. Justru ketika kita menuduh Allah sebagai pihak yang menciptakan sekaligus melaksanakan manusia dan amal perbuatannya, maka ia telah terjerumus ke dalam paham Jabariyah (al-Jubriyyah). Ini yang tidak disadari oleh orang seperti Idrus Ramli. Ia dengan ketidakpahamannya menyesatkan Hizbut Tahrir, dan ia juga dengan kesalahpahamannya telah terjerumus ke dalam paham Jabariyah yang sesat. Bagaimana tidak sesat, dari argumen Idrus Ramli di atas siapapun memahami bahwa Allah lah yang berbuat kebaikan seperti menolong orang, dan Allah lah yang berbuat buru seperti mencuri. Bahkan sangat berbahaya ketika dipraktekkan oleh pencuri dan pezina, ketika mencurui dan berzina ia berkata: “Allah yang mencuri, Allah yang berzina, aku ini bukan apa-apa dan tidak bisa apa-apa, karena aku hanyalah wayang yang berada dalam genggaman tangan sidalang”.

Dengan demikian, apa yang telah disampaikan oleh Syaikh Taqiyyuddin terkait qadha dan qadar, juga hidayah, dhalal dan idhlal adalah solusi dari problem terkait yang carut marut, agar kita tidak terjerumus ke dalam paham Muktazilah atau Jabariyah, di mana Idrus Ramli menambah kecarut-marutannya.

Keempat: Terkait dua hadis yang dipakai oleh Idrus Ramli untuk menghantam dan memprovokasi terhadap Hizbut Tahrir;

القدرية مجوس هذه الأمة إن مرضوا فلا تعودوهم وإن ماتوا فلا تشهدوهم. رواه أبو داود عن ابن عمر.
“Qadariyah itu Majusinya umat ini, apabila mereka sakit maka janganlah menjenguk mereka dan apabila mereka meninggal, maka janganlah menyaksikan jenazah mereka”.

صنفان من أمتي لا نصيب لهما في الإسلام: القدرية والمرجئة. رواه ابن جرير الطبري عن ابن عباس.
“Dua golongan dari umatku yang tidak memiliki bagian dalam Islam, yaitu Qadariyah dan Murjiah”.

Kedua hadis ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan pembahasan qadha dan qadar yang datang dari peradaban Yunani yang disampaikan oleh Mutakallimin, dan yang dibahas oleh Syakih Taqiyyuddin dalam kitab Syakhshiyyah dan Nizhamul Islamnya. Sesungguhnya kedua hadis tersebut hanya berkaitan dengan qadar yang datang dari Islam, dan orang-orang yang mengingkarinya. Yaitu qadar yang disinggung oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:

إذا ذكر القدر فامسكوا. أخرجه الطبراني بسند حسن من حديث ابن مسعود.
“Ketika disebut qadar, maka tahanlah”. HR Thabrani dari Ibnu Mas’ud.

Syaikh Taqiyyuddin barkata: “Yakni, ketika disebut ilmu Allah dan takdirNya kepada segala sesuatu, maka kalian jangan membicarakannya, karena adanya takdir Allah kepada segala sesuatu itu berarti Allah telah menulisnya di Lauh Mahfuzh, ini berarti bahwa Allah mengetahuinya. Sedang adanya Allah itu mengetahuinya adalah termasuk sifat Allah yang wajib diimani. Jadi hadis itu bermakna, ketika disebut bahwa Allah itu telah menakdir segala sesuatu dan mengetahuinya, yakni Allah telah menulisnya di Lauh Mahfuzh, maka kalian jangan membicarakannya, tetapi tahanlah dan serahkanlah…..”. (Ibid, hal. 83). Demikian juga terkait hadis qadar yang lain.

Jadi menggunakan hadis-hadis tersebut untuk menghantam dan memprovokasi terhadap Hizbut Tahrir adalah salah alamat, dan termasuk kejahatan pemikiran, di mana pelakunya layak dilaporkan ke Pengadilan Bebas Biaya (PBB), atau Pengadilan Besar Besaran (PBB) pada hari kiamat kelak.

(Abulwafa Romli, Alumnus ’94, Pon Pes Lirboyo Kediri JATIM).

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: