//
you're reading...
Catatan & Analisis

PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (37 ) Ulama Salaf Yang Saleh Telah Mengajarkan Takwil Terhadap Ayat-Ayat Mutasyabihat Tentang Sifat-Sifat Allah?

Gambar
M Idrus Ramli (beserta ashhabnya) berkata:

“Pendekatan takwil terhadap ayat-ayat mutasyabihat telah dilakukan dan diajarkan oleh ulama salaf yang saleh. Akan tetapi Taqiyyuddin al-Nabhani mengingkari dan mengatakan bahwa pendekatan ta’wil tidak dikenal dikalangan ulama salaf. Dalam hal ini al-Nabhani mengatakan:

كان التأويل أول مظاهر المتكلمين… وكان التأويل عنصرا من عناصر المتكلمين وأكبر مميز لهم عن السلف. (الشخصية الإسلامية، 1/53).

“Ta’wil (terhadap ayat-ayat mutasyabihat) merupakan fenomena yang pertama kali dimunculkan oleh para teolog. Jadi ta’wil itu merupakan salah satu unsur dan yang paling membedakan antara mereka dengan salaf”.

Pernyataan al-Nabhani di atas menyimpulkan bahwa ta’wil terhadap ayat-ayat mutasyabihat pertama kali diperkenalkan oleh para teolog dan menjadi ciri khas pertama yang membedakan antara para tealog dengan ulama salaf. Sudah barang tentu, pernyataan tersebut mengandung kerancuan dan kebohongan. Pertama, pernyataan al-Nabhani tersebut dapat mengesankan bahwa dikalangan ulama salaf tidak ada ulama yang ahli dalam bidang teolog (ilmu kalam). Kedua, pernyataan tersebut juga mengesankan bahwa ta’wil belum dikenal pada masa generasi salaf.

Asumsi Hizbut Tahrir bahwa dikalangan generasi salaf tidak ada ulama yang ahli dalam bidang teologi adalah tidak benar. Al-Imam Abu Manshur Abdul Qahir bin Thahir al-Tamimi al-Baghdadi menegaskan bahwa teolog pertama dari generasi sahabat adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Umar. Sedangkan teolog pertama dari generasi tabi’in adalah Umar bin Abdul Aziz, Zaid bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abu Thalib dan al-Hasan al-Bashri. Kemudian al-Sa’bi, Ibnu Syihab al-Zuhri, Ja’far bin Muhammad al-Shadiq dan lain-lain. Mereka sangat keras dalam membantah ajaran Qadariyah yang menjadi embrio lahirnya sekte Muktazilah, dan belakangan ideologi Muktazilah tersebut diakui oleh Hizbut Tahrir. (Abu Manshur Abdul Qahir bin Thahir al-Tamimi al-Baghdadi, Ushul al-Din,hal. 307, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Berut, 1981).

Sedangkan asumsi bahwa ta’wil belum pernah dikenal pada masa generasi salaf juga tidak benar. Pendekatan ta’wil terhadap ayat-ayat mutasyabihat telah dikenal sejak generasi sahabat dan ulama-ulama sesudah mereka. Dalam konteks ini al-Imam Badruddin al-Zarkasi berkata dalam kitabnya al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an :

وقد اختلف الناس في الوارد منها (أي المتشابهات) في الآيات والأحاديث على ثلاث فرق: أحدها: أنه لا مدخل للتأويل فيها بل تجري على ظاهرها ولا تؤول شيئا منها وهم المشبهة. والثاني: أن لها تأويلا ولكنا نمسك عنه مع تنزيه اعتقادنا عن الشبه والتعطيل ونقول لا يعلمه إلا الله وهو قول السلف. والثالث: أنها مؤولة وأولوها على ما يليق به والأول باطل والأخيران منقولان عن الصحابة . {البرهان: 2 / 78}.

Pernyataan senada juga dikemukakan oleh al-Imam Muhammad bin Ali a-Syaukani. Ia berkata dalam kitabnya Irsyad al-Fuhul:

الفصل الثاني: فيما يدخله التأويل، وهو قسمان، أحدهما، أغلب الفروع، ولا خلاف في ذلك. والثاني، الأصول كالعقائد وأصول الديانات وصفات الباري عز وجل، وقد اختلفوا في هذا القسم على ثلاثة مذاهب: الأول: أنه لا مدخل للتأويل فيها، بل تجرى على ظاهرها ولا يؤول شيئ منها، وهذا قول المشبهة. والثاني: أن لها تأويلا ولكنا نمسك عنه، مع تنزيه اعتقادنا عن التشبيه والتعطيل لقوله تعالى (وما يعلم تأويله إلا الله)، قال ابن برهان وهذا قول السلف… والمذهب الثالث: أنها مؤولة. قال ابن برهان، والأول من هذه المذاهب باطل، والآخران منقولان عن الصحابة، ونقل هذا المذهب الثالث عن علي وابن مسعود وابن عباس وأم سلمة. {إرشاد الفحول إلى تحقيق الحق من علم الأصول: 176}.

Pernyataan al-Zarkasyi dan al-Syaukani di atas memberikan kesimpulan bahwa pendekatan ta’wil telah dikenal dan diajarkan oleh generasi salaf yang saleh termasuk para sahabat Nabi SAW yang menjadi rujukan Ahlussunnah Waljama’ah. Berikut ini beberapa riwayat dari ulama salaf yang melakukan ta’wil terhadap ayat-ayat mutasyabihat.

1.Ibnu Abbas
Terdapat banyak riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa ia melakukan ta’wil terhadap ayat-ayat mutasyabihat, antara lain adalah, Kursi [QS. 2 : 225] dita’wil dengan ilmunya Allah, datangnya Tuhan [QS. 89 : 22] dita’wil dengan perintah dan kepastian Allah, a’yun (beberapa mata) [QS. 11 : 37] dita’wil dengan penglihatan Allah, aydin (beberapa tangan) [QS. 51: 47] dita’wil dengan kekuatan dan kekuasaan Allah, nur (cahaya) [QS. 24 : 35] dita’wil dengan Allah yang menunjukkan penduduk langit dan bumi, wajah Allah [QS. 55 : 27] dita’wil dengan wujud dan Dzat Allah, dan saq (betis) [QS. 68 : 42] dita’wil dengan kesusahan yang sangat berat.

2.Mujahid dan al-Suddi
Al-Imam Mujahid dan al-Suddi, dua pakar tafsir dari generasi tabi’in juga menta’wil lafal janb [QS. 39 : 56] dengan perintah Allah.

3.Sufyan al-Tsauri dan Ibn Jarir al-Thabari
Al-Imam Ibn Jarir al-Thabari menafsirkan istiwa’ [QS. 2 : 29] dengan memiliki dan menguasai, bukan dalam artian bergerak dan berpindah. Sedangkan al-Imam Sufyan al-Tsauri mena’wilnya dengan berkehendak menciptakan langit.

4.Malik bin Anas
Al-Imam Malik bi Anas, juga menta’wil turunnya Tuhan dalam hadits shahih pada waktu tengah malam dengan turunnya perintahnya, bukan Tuhan dalam artian bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

5.Ahmad bin Hanbal
Al-Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri madzhab Hanbali, melakukan ta’wil terhadap beberapa teks yang mutasyabihat, antara lain ayat tentang datangnya Tuhan [QS. 89 : 22] dita’wil dengan datangnya pahala dari Tuhan, bukan datang dalam arti bergerak dan berpindah.

6.Al-Hasan al-Bashri
Al-Imam al-Hasan al-Bashri, juga melakukan ta’wil terhadap teks tentang datangnya Tuhan [QS. 89: 22] dengan datangnya perintah dan kepastian Tuhan.

7.Al-Bukhari
Al-Imam al-Bukhari, pengarang Shahih al-Bukhari, juga melakukan ta’wil terhadap beberapa teks yang mutasyabihat, antara lain teks tentang tertawanya Allah dalam sebuah hadits dita’wilnya dengan rahmat Allah, dan wajah Allah [QS 28: 88] dita’wilnya dengan kerajaan Allah dan amal yang dilakukan semata-mata karena mencari ridha Allah.

Demikianlah, beberapa riwayat tentang ta’wil yang dilakukan oleh ulama salaf yang saleh sejak generasi sahabat. Data-data tersebut menunjukkan bahwa ta’wil yang dilakukan oleh Ahlussunnah Waljama’ah merupakan pemahaman terhadap teks-teks mutasyabihat sesuai dengan pemahaman ulama salaf yang saleh.” (Hizbut Tahrir dalam Sorotan, hal. 67-75).

MEMBONGKAR PAT:

Kelihatannya pernyataan Idrus Ramli tersebut benar dan ilmiah, dan Hizbut Tahrir (Syaikh Taqiyyuddin) adalah pihak yang salah dan tidak ilmiah. Nanum, ketika kita mendalami pernyataan Syaikh Taqiyyuddin secara keseluruhan, tidak hanya sepenggal, terutama dalam kitab Syakhshiyyah Islamiyyahnya, juga mendalami kitab-kitab rujukan Idrus Ramli, maka permasalahannya tidak seperti yang dituduhkan oleh Idrus Ramli, tetapi justru berbalik, yaitu menunjukkan bahwa Hizbut Tahrir (Syaikh Taqiyyuddin) adalah pihak yang benar dan ilmiah, sedangkan Idrus Ramli adalah pihak yang keliru dan tidak ilmiah. Di bawah akan saya sampaikan beberapa buktinya:

Pertama: Idrus Ramli sengaja menyimpangkan terjemah terhadap perkataan Syaikh Taqiyyuddin sehingga maknanyapun berubah dari positif menjadi negatif, seperti berikut;

كان التأويل أول مظاهر المتكلمين… وكان التأويل عنصرا من عناصر المتكلمين وأكبر مميز لهم عن السلف. (الشخصية الإسلامية، 1/53).
“Ta’wil (terhadap ayat-ayat mutasyabihat) merupakan fenomena yang pertama kali dimunculkan oleh para teolog. Jadi ta’wil itu merupakan salah satu unsur dan yang paling membedakan antara mereka dengan salaf”.

Sehingga terkesan bahwa Syaikh Taqiyyuddin mengatakan bahwa takwil adalah fenomena yang pertama kali dimunculkan oleh para theolog dan tidak pernah ada sebelumnya atau tidak pernah dilakukan oleh sebagian sahabat. Ini sangat keliru dan sengaja dikelirukan oleh Idrus Ramli. Padahal justru dari perkataan Syaikh Taqiyyuddin tersebut, Idrus Ramli mengembangkan pandangan selanjutnya. Maka dapat dipastikan bahwa pandangan Idrus Ramli selanjutnya adalah keliru, karena berangkat dari pangkal yang keliru, yaitu terjemah yang keliru. Sedangkan terjemah yang tepat dan tidak merubah makna sebagai berikut;

“Talwil (terhadap ayat-ayat mutasyabihat) merupakan fenomena (indikasi) terdepan bagi para theolog….. Dan takwil merupakan unsur (pokok) di antara unsur-unsur para theolog dan yang paling membedakan mereka dari salaf.”

Jadi dengan terjemahan seperti itu maknanya tidak berubah dan tidak menyimpang dari teks aslinya, juga tidak ada indikasi bahwa Syaikh Taqiyyuddin mengingkari adanya takwil yang dilakukan oleh sebagian sahabat (kalau memang hadisnya shahih). Sebenarnya bantahan ini sudah mencukupi untuk membuktikan kesalahan Idrus Ramli. Tetapi tidak ada salahnya jika saya bongkar kesalahan berikutnya untuk lebih meyakinkan bahwa apa yang disampaikan oleh Syaikh Taqiyyuddin di atas adalah hak dan positif, bukan rekayasa maupun fitnah dan negatif.

Disamping menyimpangkan terjemah, Idrus Ramli juga kontra produktif, karena mengingkari pendapat Hizbut Tahrir yang masih berada dalam wilayah khilafiyah, karena ibarat yang disampaikan Idrus Ramli di atas mengakui hal ini. Yaitu pendapat kedua, pendapat tengah, yang mengakui adanya takwil, tetapi menahan diri darinya, karena hanya Allah yang mengetahui takwilnya, dan ini adalah madzhab salaf. Dan menurut pendapat saya justru pendapat ketiga yang batil, yaitu pendapat yang menakwil, karena dari pendapat ini terjadi beraneka takwil, seperti istiwa ditakwil dengan menguasai (istala’), memiliki (malaka), mengalahkan, menundukan, menaklukkan (qaharo), menduduki (qa’ada) dan menempati (tamakkana) di bawah akan saya sampaikan penjelasannya. Justru perbedaan takwil itulah yang dapat menjerumuskan kepada tasybih (penyerupaan), dan ini akibat dibukanya pintu takwil. Berbeda dengan pendapat kesatu, meskipun memberlakukan ayat mutasyabihat apa adanya, tetapi solusinya sangat mudah, yaitu tinggal meyakini “laisa kamitslihi syaiun” (tidak ada sesuatupun yang menyerupaiNya). Sedang arti tidak ada takwil kepadanya itu bagi manusia, bukan bagi Allah. Jadi tuduhan sebagai madzhab musyabbihah bagi pendapat pertama itu bisa ditiadakan. Dan perlu diketahui bahwa Ibnu Burhan adalah pendukung berat madzhab takwil dan bukat termasuk ulama salaf.

Kedua: Idrus Ramli mencampur aduk antara ilmu kalam, tafsir, dan takwil (dengan mengambil pendapat yang membedakan antara tafsir dan takwil), ( Lihat al-Jurjani, al-Ta’rifat, bab al-Taa’, hal. 50 dan 63, al-Haramain, Jedah).
dan antara mutakallimin, mufassirin dan muawwilin, sehingga semuanya dinamakan theologi (ilmu kalam) dan theolog (mutakkalim/ahli kalam). Dan juga mencampur aduk antara penakwilan (penafsiran) terhadap sejumlah teks mutasyabihat yang dilakukan oleh sebagian sahabat atau salaf yang saleh, dan menjadikan takwil sebagai metode baku atau unsur dalam ilmu kalam, sehingga aktifitas sebagian sahabat dan mutakallimin sama-sama dinamai aktifitas theologi (ilmu kalam). Fenomena mencampur aduk seperti ini adalah metode kaum liberal berjubah atau bersarung. Ini tidak ada bedanya dengan metode kaum liberal berdasi atau bercelana. Karena metode Idrus Ramli dalam mencomot dalil untuk mengokohkan pendapatnya yang negatif-destruktif terhadap Islam dan kaum muslim itu sama persis dengan metode kaum liberal berdasi dalam mencomot dalil untuk mengokohkan pendapatnya yang negatif-destruktif terhadap Islam dan kaum muslim. Idrus Ramli mencomot dalil berupa penakwilan yang dilakukan oleh sebagian sahabat atau ulama salaf yang saleh (kalau memang hadisnya benar) untuk membenarkan dan mengokohkan metode takwil dalam ilmu kalam. Ini sama persis dengan aktifitas pencomotan dalil berupa potongan Piagam Madinah untuk membenarkan dan mengokohkan sistem negara demokrasi atau negara demokrasi Pancasila, dan menuduh Negara Madinah sebagai negara demokrasi.

Sesungguhnya metode ilmu kalam (theologi) itu merupakan sikap moderat (jalan tengah) antara metode al-Qur’an dalam membantah kaum kuffar atau musyrik dan metode filsafat Yunani yang memakai ilmu logika. Maka metode yang dipakai oleh para theolog itu lebih mengedepankan logika dan menakwil ayat-ayat mutasyabihat untuk mendukung capaian logika. Maka fenomena ini baru muncul pada abad ke 2 hijriyah, yaitu setelah buku-buku filsafat Yunani diterjemah ke dalam bahasa Suryani lalu ke bahasa Arab dan perkembangan selanjutnya dari bahasa Yunani ke bahasa Arab. Sudah barang tentu fenomena ini tidak ada pada masa sahabat dan takwil yang dilakukan oleh sebagian sahabat atau sebagian ulama salaf itu tidak termasuk ilmu kalam, tetapi termasuk takwil yang bermakna tafsir di mana Nabi SAW pernah mendoakan Ibnu Abbas agar pandai menakwili (menafsiri) al-Qur’an.

Padahal yang bicarakan oleh Syaikh Taqiyyuddin dalam Syakhshiyyah Islamiyyahnya adalah takwil terhadap ayat-ayat mutasyabihat sebagai metode baku dalam ilmu kalam, dan ini sesuai dengan topik yang dibicarakan dalam kitab tersebut, yaitu Nasy’atul Mutakallimin wa Manhajuhum (Kemunculan Ahli Kalam dan Metodenya). Beliau sama sekali tidak menyinggung apalagi menyalahkan penakwilan yang dilakukan oleh sebagian sahabat. Kalaupun beliau berkata; “ Jadi ta’wil itu merupakan salah satu unsur dan yang paling membedakan antara mereka dengan salaf”, maka perkataan ini adalah sesuai fakta ulama salaf yang saleh yang tidak melakukan takwil dan tidak menjadikannya sebagai metode, karena sebagian kecil dari mereka yang melakukan takwil itu tidak mewakili keseluruhan ulama salaf yang saleh terutama dari generasi sahabat, apalagi kebanyakan hadisnya adalah dha’if, bahkan ada yang maudhu’, dan sebagian dari mereka juga tidak menjadikan takwil sebagai metode dalam ilmu kalam, karena pada masa sahabat belum muncul ilmu kalam dan tidak dikenal ilmu kalam, seperti pada masa mutakallimin, yaitu sejak abad ke 2 hijriyah.

Apalagi pendapat sebagian sahabat (qawlu shahabi) itu bukan dalil, apalagi yang bertabrakan dengan dalil berupa hadis yang shahih;

وأخرج الشيخان وغيرهما عن عائشة قالت: تلا رسول الله صلى الله عليه وسلم هذه الآية هو الذي أنزل عليك الكتاب إلى قوله (أولوا الألباب قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: فإذا رأيت الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله فأحذرهم. الحديث.

Imam Bukhari dan Imam Muslim dan yang lain telah mengeluarkan hadis dari Aisyah RA berkata: “Rasulullah SAW pernah membaca ayat ini;

”Dia-lah yang menurunkan al-kitab (al-Quran) kepada kamu, di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat,itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat dari padanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orang-orang yang berakal.” QS Ali ‘Imran [3] : 7.

Aisyah berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti (menakwil) ayat-ayat mutasyabihat, maka merekalah yang disebut oleh Allah, maka berhati-hatilah terhadap mereka.”

وأخرج الطبراني في الكبير عن أبي مالك الأشعري أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول لا أخاف على أمي إلا ثلاث خلال: أن يكثر لهم المال فيتحاسدوا فيقتتلوا، وأن يفتح لهم الكتاب فيأخذه المؤمن يبتغي تأويله وما يعلم تأويله إلا الله الحديث.

Dan Imam Thabrani dalam kitab al-Kabir-nya telah mengeluarkan hadis dari Abu Malik al-Asy’ari bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Aku tidak khawatir terhadap umatku kecuali terhadap tiga perkara: Melimpahnya harta bagi mereka sehingga mereka saling dengki lalu saling bunuh, dibukanya al-Qur’an kepada mereka lalu orang beriman mengambilnya dan mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengerti takwilnya kecuali Allah…..” (Al-Itqan, juz I, hal. 232, Maktabah Syamilah).

Dua hadis tersebut sudah cukup menjadi dalil bagi orang beriman yang Ahlussunnah Waljama’ah untuk manahan diri dari menakwili ayat-ayat mutasyabihat, karena pada hadis tersebut terdapat celaan terhadap orang-orang yang menakwili ayat mutasyabihat. Juga pada al-Qur’an surah Ali Imran ayat ke 7 di atas terdapat celaan terhadap orang-orang yang menakwili ayat mutasyabihat di mana mereka adalah orang-orang yang pada hatinya terselip sifat menyimpang dan suka memitnah. Jadi kita cukup mengimani ayat-ayat mutasyabihat itu dan tidak mengingkari bahwa ayat-ayat tersebut memiliki takwil. Apalagi penakwilan yang dilakukan oleh sebagian sahabat atau sebagian ulama salaf itu saling berbeda satu sama liannya. Ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa hadis-hadisnya dhaif dan maudhu’.
Ketiga: Idrus Ramli juga ngawur dalam memberikan contoh-contoh takwil. Di sini saya hanya akan membongkar satu contoh saja dan sudah mencukupi dari yang lainnya. Di atas Idrus Ramli berkata: “Al-Imam Ibn Jarir al-Thabari menafsirkan istiwa’ [QS. 2 : 29] dengan memiliki dan menguasai, bukan dalam artian bergerak dan berpindah. Sedangkan al-Imam Sufyan al-Tsauri mena’wilnya dengan berkehendak menciptakan langit.”

Sekarang kita lihat tafsir ayat terkait (QS al-Baqarah : 29) dalam Tafsir al-Thabari; Imam al-Thabari dalam Tafsirnya berkata:

القول في تأويل قوله تعالى: { ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ }. قال أبو جعفر: اختلفوا في تأويل قوله: “ثم استوى إلى السَّماء”. فقال بعضهم: معنى استوى إلى السماء، أقبل عليها،… وقال بعضهم: “ثم استوى إلى السماء”، عمدَ لها،… وقال بعضهم: الاستواء هو العلو، والعلوّ هو الارتفاع. وممن قال ذلك الربيع بن أنس.
588- حُدِّثت بذلك عن عمار بن الحسن، قال: حدثنا عبد الله بن أبي جعفر، عن أبيه، عن الربيع بن أنس: “ثم استوى إلى السماء”. يقول: ارتفع إلى السماء .

“Pendapat terkait takwil (tafsir) firman Allah: “Kemudian Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit…” Abu Jakfar berkata: “Mereka berselisih terkait takwil firman Allah, “Kemudian Dia berkehendak (menciptakan) langit”. Sebagian mereka berkata: “Makna istawaa ilassamaa ialah Dia menghadap ke langit…”. Sebagian mereka berkata: “Maknanya ialah Dia berkehendak kepadanya…”. Dan sebagian mereka berkata: “Istiwaa adalah tinggi sedang tinggi adalah naik ke atas”. Dan termasuk orang yang mengatakan demikian adalah Rabi’ bin Anas.

Aku telah mendapat hadis itu dari ‘Amar bin Hasan berkata: “Kami mendapat hadis dari Abdullah bin Abu Jakfar dari ayahnya dari Rabi’ bin Anas: “Kemudian Dia istiwaa ke langit” Rabi’ bin Anas berkata: “Dia naik ke atas langit”.

ثم اختلف متأوّلو الاستواء بمعنى العلوّ والارتفاع، في الذي استوى إلى السّماء. فقال بعضهم: الذي استوى إلى السماء وعلا عليها، هو خالقُها ومنشئها. وقال بعضهم: بل العالي عليها: الدُّخَانُ الذي جعله الله للأرض سماء .
قال أبو جعفر: الاستواء في كلام العرب منصرف على وجوه: منها انتهاءُ شباب الرجل وقوّته، فيقال، إذا صار كذلك: قد استوى الرّجُل. ومنها استقامة ما كان فيه أوَدٌ من الأمور والأسباب، يقال منه: استوى لفلان أمرُه. إذا استقام بعد أوَدٍ،… ومنها: الإقبال على الشيء يقال استوى فلانٌ على فلان بما يكرهه ويسوءه بَعد الإحسان إليه. ومنها. الاحتياز والاستيلاء ، كقولهم: استوى فلان على المملكة. بمعنى احتوى عليها وحازَها. ومنها: العلوّ والارتفاع، كقول القائل، استوى فلان على سريره. يعني به علوَّه عليه.
وأوْلى المعاني بقول الله جل ثناؤه:”ثم استوى إلى السماء فسوَّاهن”، علا عليهن وارتفع، فدبرهنّ بقدرته، وخلقهنّ سبع سموات.

Kemudian para penakwil (penafsir) istiwaa dengan makna tinggi dan naik keatas berselisih tentang dzat yang naik ke atas langit. Sebagian mereka berkata: “Dzat yang naik ke atas langit adalah Penciptanya”. Sebagian mereka berkata : “Tetapi yang tinggi di atas langit adalah asap yang dijadikan oleh Allah sebagai langit bagi bumi”.

Abu Jakfar berkata: “Istiwaa dalam perkataan orang Arab itu diterapkan pada beberapa makna.Di antaranya adalah berakhirnya masa muda dan kekuatan laki-laki. Ketika laki-laki itu sudah seperti itu, dikatakan; “Dia benar-benat telah telah habis masa mudanya”. Dan di antaranya adalah lurusnya perkara dan sebab-sebab yang sebelumnya bengkok. Padanya dikatakan; “Perkara si pulan telah lurus”, ketika perkara itu lurus setelah sebelumnya bengkok”….. Di antaranya adalah menghadap kepada sesuatu. Dikatakan; “Si pulan menghadap kepada si pulan dengan kebencian dan keburukan setelah sebelumnya berbuat baik kepadanya”. Di antaranya adalah menempati dan menguasai. Seperti perkataan orang Arab; “Si pulan menduduki kerajaannya”, dengan arti menempati dan menguasainya. Di antaranya adalah tinggi dan naik ke atas. Seperti perkataan orang Arab; “Si pulan di atas ranjangnya”, artinya ia tinggi di atasnya.

Makna yang paling tepat dengan firmanNya, “Kemudian Dia istiwaa ke langit lalu menyempurnakannya”, adalah Dia tinggi dan naik ke atasnya, lalu Dia mengaturnya dengan kekuasaannya, dan Dia menciptakannya menjadi tujuh langit.

والعجبُ ممن أنكر المعنى المفهوم من كلام العرب في تأويل قول الله:”ثم استوى إلى السماء”، الذي هو بمعنى العلو والارتفاع، هربًا عند نفسه من أن يلزمه بزعمه -إذا تأوله بمعناه المفهم كذلك- أن يكون إنما علا وارتفع بعد أن كان تحتها – إلى أن تأوله بالمجهول من تأويله المستنكر. ثم لم يَنْجُ مما هرَب منه! فيقال له: زعمت أن تأويل قوله”استوى” أقبلَ، أفكان مُدْبِرًا عن السماء فأقبل إليها؟ فإن زعم أنّ ذلك ليس بإقبال فعل، ولكنه إقبال تدبير، قيل له: فكذلك فقُلْ: علا عليها علوّ مُلْك وسُلْطان، لا علوّ انتقال وزَوال. ثم لن يقول في شيء من ذلك قولا إلا ألزم في الآخر مثله. ولولا أنا كرهنا إطالة الكتاب بما ليس من جنسه، لأنبأنا عن فساد قول كل قائل قال في ذلك قولا لقول أهل الحق فيه مخالفًا. وفيما بينا منه ما يُشرِف بذي الفهم على ما فيه له الكفاية إن شاء الله تعالى.{تفسير الطباري 1/428-430}.

Heran kepada orang yang mengingkari makna yang dipahami dari perkataan orang Arab dalam menakwili firman Allah; “Kemudian Dia istiwaa ke langit”, yang bermakna tinggi dan naik ke atas, karena miturut persangkaan dirinya adalah untuk lari -ketika ia menakwilnya dengan makna yang dipahaminya seperti tersebut- dari ketetapan bahwa Dia hanya tinggi dan naik ke atas langit setelah sebelumnya berada di bawahnya. Sehingga ia menakwilinya dengan makna yang tidak diketahui, yaitu dengan takwil yang diingkari. Kemudian ia tidak selamat dari takwil pelariannya! Karena dikatakan kepadanya: “Kamu menyangka bahwa takwil firmanNya “istawaa” adalah menghadap. Apakah sebelumnya Dia membelakangi langit lalu menghadap kepadanya?” Lalu apabila ia menyangka bahwa itu bukan menghadap bekerka, tetapi menghadap mengatur, maka dikatakan kepadanya; “Begitu pula katakanlah; “Dia tinggi di atasnya, dengan tinggi kekuasaan dan kerajaannya, bukan tinggi berpindah dan bergeser”. Kemudian ia tidak akan bisa berkata pada sesuatu dari semua itu kecuali ia menetapkan seperti perkataannya pada yang lain. Andai kata aku tidak benci memanjangkan kitab dengan sesuatu yang lain darinya, niscaya aku ceritakan tentang kerusakan perkataan setiap orang yang mengatakan semua takwil itu, perkataan ahlul haq padanya yang menyalahinya. Dan pada apa yang telah aku jelaskan terkandung kemuliaan bagi orang yang memiliki pemahaman terhadapnya, dan telah mencukupi, Insya Allah.” (Lihat Tafsir al-Thabari, juz I, hal. 428-430, Maktabah Syamilah).

Dari perkataan Imam Thabari di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa beliau lebih condong kapada makna tinggi (‘uluwwu) dan naik keatas (irtifa’) bagi kata “istiwaa” dalam firman Allah, “tsummastawaa ila al-samaai”. Padahal dalam tafsir Ibnu Katsir dan tafsir Jalalain disebutkan demikian;

{ ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ } أي: قصد إلى السماء، والاستواء هاهنا تَضَمَّن معنى القصد والإقبال؛ لأنه عدي بإلى { فَسَوَّاهُنَّ } أي: فخلق السماء سبعًا، …

“Kemudian Dia istiwaa ke langit”, yakni menuju ke langit. Istiwaa di sini menyimpan makna menuju dan menghadap, karena dimutaadikan dengan ilaa “lalu Dia menciptakannya” yakni menciptakan langit menjadi tujuh… (Tafsir Ibnu Katsir, juz I, hal. 213, Maktabah Syamilah).

{ ثُمَّ استوى } بعد خلق الأرض : أي قصد { إِلَى السماء فسواهن سَبْعَ سموات…
“Kemudian Dia istiwa” setelah menciptakan bumu, yakni Dia menuju “ke langit lalu menciptakannya menjadi tujuh langit” (Tafsir Jalalain, juz I, hal. 35, Maktabah Syamilah).

Jadi sebenarnya yang sedang dibahas terkait ayat di atas hanyalah masalah tafsir atau takwil yang berarti tafsir, yang kembali kepada makna bahasa, bukan takwil dalam pengertian sebenarnya, yaitu memalingkan dari makna bahasanya. Akan tetapi Imam Ibnu Jarir al-Thabari seperti di atas justru lebih condong kepada istiwaa bermakna tinggi dan naik keatas.

Kemudian tafsir ayat “Tsummastawaa ilaa al-samaai (kemudian Dia istiwaa ke langit)” itu sangat berbeda dengan tafsir ayat “Tsummastawaa ‘ala al-‘arsyi (kemudian Dia istiwaa di atas ‘Arasy”. Dan dalam hal ini Imam Ibnu Katsir berkata:

وأما قوله تعالى: { ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ } فللناس في هذا المقام مقالات كثيرة جدا، ليس هذا موضع بسطها، وإنما يُسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح: مالك، والأوزاعي، والثوري، والليث بن سعد، والشافعي، وأحمد بن حنبل، وإسحاق بن راهويه وغيرهم، من أئمة المسلمين قديما وحديثا، وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل.
والظاهر المتبادر إلى أذهان المشبهين منفي عن الله، فإن الله لا يشبهه شيء من خلقه، و { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ } [ الشورى:11 ] بل الأمر كما قال الأئمة -منهم نُعَيْم بن حماد الخزاعي شيخ البخاري -: “من شبه الله بخلقه فقد كفر، ومن جحد ما وصف الله به نفسه فقد كفر”. وليس فيما وصف الله به نفسه ولا رسوله تشبيه، فمن أثبت لله تعالى ما وردت به الآيات الصريحة والأخبار الصحيحة، على الوجه الذي يليق بجلال الله تعالى، ونفى عن الله تعالى النقائص، فقد سلك سبيل الهدى.

“Adapun firman Allah ta’ala “Kemudian Dia istiwaa di atas ‘Arasy”, maka pada topik ini manusia memiliki pendapat yang sangat banyak di mana kitab ini bukan tempat untuk mengembangkannya. Pada topik ini hanya menguraikan madzhab ulama salaf yang saleh: Imam Malik, Imam Auza’iy, Imam Sufyan Tsauri, Imam Laits bin Saed, Imam Syafi’iy, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ishaq bin Rohawaih dan lain-lain, dari para Imam kaum muslim, baik pada masa dahulu maupun pada masa yang baru, yaitu memberlakukan ayat tersebut apa adanya dengan tanpa membuat cara (bagaimana Allah istiwaa),menyamakan (istiwaa Allah dengan istiwaa makhluk) dan meniadakan (istiwaa Allah).

Makna lahir yang terbayang pada akal orang-orang yang menyamakan Allah dengan makhluk itu disingkirkan dari Allah, karena Allah tidak ada sesuatu dari makhlukNya yang menyamaiNya, dan “Tidak ada sesuatu yang sepertiNya dan Dia Maha mendengar dan Maha melihat”. Akan tetapi perkara yang benar seperti perkataan para Imam yang di antaranya adalah Imam Nu’aim bin Hammad al-Khuza’iy guru Imam Bukhari: “Barang siapa yang menyerupakan Allah dengan makhlukNya, maka ia benar-benar kafir, dan barang siapa yang mengingkari sesuatu di mana Allah telah menyifati DzatNya dengannya, maka ia benar-benar kafir”. Dan pada sesuatu yang Allah dan utusanNya telah menyifati DzatNya dengannya itu tidak ada penyerupaan. Maka barang siapa yang menetapkan bagi Allah sesuatu yang ayat-ayat yang jelas dan hadis-hadis yang shahih telah datang dengannya, sesuai arti yang layak dengan kebesaran Allah, dan menyingkirkan kekurangan-kekurangan dari Allah, maka ia benar-benar menempuh jalan petunjuk”. (Tafsir Ibnu Katsir, juz 3, hal. 426-427, Maktabah Syamilah).

Pada pernyataan Imam Ibnu Katsir di atas dan pernyataan Imam Suyuthi di bawah nanti, Imam Malik bin Anas, Imam Sufyan Tsauri dan Imam Ahmad bin Hanbal tergolong ulama salaf yang tidak menakwil ayat mutasyabihat terkait sifat-sifat Allah. Padahal miturut Idrus Ramli di atas bahwa mereka termasuk ulama salaf yang menakwilinya.

Dan Imam Ibnu Katsir kalau pada kata istiwaa pada ayat “Tsummastawaa ilassamaai” menafsirinya dengan makna menuju (qashada) dan menghadap (aqbala), tetapi pada kata istiwaa pada ayat “Tsummastawaa ‘alal ‘arsyi” memberlakukannya apa adanya sesuai yang telah datang, dengan catatan tidak ada kata bagaimana Allah istiwaa (takyif), penyerupaan istiwaa Allah dengan istiwaa makhluk (tasybih) dan peniadaan istiwaa Allah (ta’thil). Jadi Imam Ibnu Katsir tidak menakwilnya. Dan inilah madzhab ulama salaf yang saleh.

Kemudian ayat-ayat mutasyabihat terkait shifat-shifat Allah yang harus diberlakukan apa adanya sesuai yang telah datang, dan merupakan madzhab ulama salaf yang saleh dan mayoritas Ahlussunnah Waljama’ah, juga bisa dilihat dalam kitab al-Itqan karya Imam Suyuthi sebagai berikut:

فصل من المتشابه آيات الصفات، ولابن اللبان فيها تصنيف مفرد نحو الرحمن على العرش استوى، كل شيء هالك إلا وجهه، ويبقى وجه ربك، ولتصنع على عيني، يد الله فوق أيديهم، والسموات مطويات بيمينه. وجمهور أهل السنة منهم السلف وأهل الحديث على الإيمان بها، وتفويض معناها المراد منها إلى الله تعالى، ولا نفسرها مع تنزيهنا له عن حقيقتها:

“(Fasal): Ayat-ayat mutasyabihat terkait sifat-sifat Allah. Ibnu Luban memiliki karangan tersendiri terkait ayat-ayat itu, seperti ayat “al-Rahmaanu ‘ala al-‘arsyi istawaa”, “kullu syaiin haalikun illa Wajhahu”, “wayabqa Wajhu Rabbika”,”walitushna’a ‘alaa ‘ayniy”, “Yadullahi fawqa aydiihim”, dan “was samaawaatu mathwiyyaatun biyamiinihi”. Jumhur Ahlussunnah termasuk ulama salaf dan ahli hadis sepakat mengimaninya, menyerahkan makna yang dikehendakinya kepada Allah, dan tidak menafsirinya, serta pensucian kami kepadaNya dari makna hakikinya:

أخرج أبو القاسم اللالكائي “في السنة” من طريق قرة بن خالد، عن الحسن عن أمه عن أم سلمة في قوله تعالى: الرحمن على العرش استوى. قال: الكيف غير المعقول والاستواء غير مجهول، والإقرار به من الإيمان والجحود به كفر. وأخرج أيضاً عن ربيعة بن أبي عبد الرحمن أنه سئل عن قوله (الرحمن على العرش استوى فقال: الإيمان غير مجهول، والكيف غير معقول، ومن الله الرسالة، وعلى الرسول البلاغ المبين وعلينا التصديق. واخرج أيضاً عن مالك أنه سئل عن الآية فقال: الكيف غير معقول، والاستواء غير مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة.

Abul Qasim Lalkaiy dalam kitab “al-Sunnah” telah mengeluarkan hadis dari jalan Qurrah bin Khalid dari al-Hasan dari ibunya dari Umi Salamah tentang frman Allah ta’ala “al-Rahmaanu ‘alal ‘arsyis tawaa”, beliau berkata: “Caranya tidak terpikrkan, istiwaa tidak terbodohkan, iqrar dengannya termasuk iman, dan mengingkarinya kufur”. Juga mengeluarkan hadis dari Rabiah bin Abu Abdurrahman, beliau ditanya tentang firman Allah “al-Rahmaanu ‘alal ‘arsyis tawaa”, lalu beliau berkata: “Iman tidak terbodohkan, caranya tidak terpikirkan, risalah itu dari Allah, al-Rasul berkewajiban menyampaikan secara terbuka, dan kami wajib membenarkan”. Dan juga mengeluarkan hadis dari Imam Malik, beliau ditanya terkait ayat itu lalu berkata: “Caranya tidak terpikirkan, istiwa tidak terbodohkan, iman dengannya adalah kewajiban, dan mempersoalkannya adalah bid’ah”.

Pada pernyataan Imam Suyuthi di atas, Umi Salamah tergolong ulama salaf yang memberlakukan ayat-ayat mutasyabihat apa adanya. Padahal Idrus Ramli telah menyatakan sebaliknya. Imam Suyuthi melanjutkan pernyataannya;

وأخرج البيهقي عنه أنه قال: هوكما وصف نفسه، ولا يقال كيف، وكيف عنه مرفوع. وأخرج اللالكائي عن محمد بن الحسن قال: اتفق الفقهاء كلهم من المشرق إلى المغرب على الإيمان بالصفات من غير تقسيم ولا تشبيه. وقال الترمذي في الكلام على حديث الرؤية، المذهب في هذا عند أهل العلم من الأئمة مثل سفيان الثوري ومالك وابن المبارك وابن عيينة ووكيع وغيرهم أنهم قالوا: نروي هذه الأحاديث كما جاءت ونؤمن بها، ولا يقال كيف ولا نفسر ولا نتوهم.

Imam Baihaqi telah mengeluarkan atsar dari Imam Malik, bahwa beliau berkata: “Dia (Allah) sebagaimana telah menyifati diriNya. Tidak boleh dikatakan: “Bagaimana?” dan “Bagaimana?” Itu diangkat dariNya”. Imam Lalkaiy mengeluarkan dari Muhammad bin al-Hasan, beliau berkata: “Seluruh fuqaha dari Timur sampai Barat sepakat mengimani sifat-sifat Allah, dengan tanpa membagih dan tanpa menyamakan.” Imam Tirmidzi berkata terkait pembicaraan hadis melihat Allah di surga: “Dalam hal ini miturut ahli ilmu dari para Imam, seperti Sufyan Tsauri, Malik bin Anas, Ibnu Mubarak, Ibnu Uyainah, Waqik dan yang lainnya, sesungguhnya mereka berkata: “Kami meriwayatkan hadis-hadis ini apa adanya sesuai yang datang, kami beriman dengannya, tidak boleh dikatakan; “bagaimana?”, kami tidak menafsirinya, dan kami tidak membayangkannya”.

وذهبت طائفة من أهل السنة إلى أننا نؤولها على ما يليق بحلاله تعالى، وهذا مذهب الخلف. وكان إمام الحرمين يذهب إليه ثم رجع عنه فقال في الرسالة النظامية: الذي نرتضيه ديناً وندين الله به عقداً أتباع سلف الأمة، فإنهم درجوا على ترك التعرض لمعانيها. وقال ابن الصلاح: على هذه الطريقة مضى صدر الأمة وساداتها، وإياها اختار أئمة الفقهاء وقاداتها، وإليها دعا أئمة الحديث وأعلامه، ولا أحد من المتكلمين من أصحابنا يصدف عنها ويأباها. واختار ابن برهان مذهب التأويل قال: ومنشأ الخلاف بين الفريقين هل يجوز أن يكون في القرآن شيء لم نعلم تأويلاً بل يعلمه الراسخون في العلم؟ وتوسط ابن دقيق العيد فقال: إذا كان التأويل قريباً من لسان العرب لم ينكر، أوبعيداً توقفنا عنه وآمنا بمعناه على الوجه الذي أريد به مع التنزيه. قال: وما كان معناه من هذه الألفاظ ظاهراً مفهوماً من تخاطب العرب قلنا به.

Kelompok Ahlussunnah berpendapat bahwa kami menakwilinya sesuai takwil yang layak dengan kebesaran Allah ta’ala. Ini adalah madzhab ulama khalaf. Dulu Imam Haramain bermadzhab dengannya kemudian beliau menarik kembali. Lalu beliau berkata dalam kitab “al-Risalah al-Nizhamiyyah”: “Sesuatu yang kami ridha sebagai agama dan kami akan bertanggung jawab kepada Allah dengannya adalah mengikuti ulama salaf dari umat ini, karena mereka berjalan dengan tidak menyinggung sama sekali makna-maknanya.” Ibnu Shalah berkata: “Para pemimpin umat dan pembesar mereka telah berjalan di atas jalan ini, para imam dan pemuka fuqaha telah memilihnya, para imam dan ulama hadis telah mengajak kepadanya, dan tidak ada seorangpun dari para theolog teman-teman kami yang menyimpang dan membangkang dari padanya.” Ibnu Burhan telah memilih madzhab takwil dan berkata: “Sumber khilaf di antara dua kelompok adalah apakah boleh pada al-Qur’an terdapat sesuatu yang kami tidak mengerti takwilnya, tetapi orang-orang yang kokoh ilmunya mengetahuinya?” Ibnu Daqiq al-‘Iid bersikap moderat lalu berkata: “Apabila takwil itu mendekati bahasa Arab, maka tidak diingkari, atau jauh dari bahasa Arab, maka kami diam darinya, dan kami mengimani maknanya sesuai yang dikehendakiNya, serta mensucikan”. Beliau berkata: “Kata-kata yang maknanya jelas dan dapat dipahami dari pembicaraan orang Arab, maka kami mengatakannya” . (Al-Itqan, juz I, hal. 235, Maktabah Syamilah).

Pemaparan di atas sangat jelas bahwa takwil terhadap ayat-ayat mutasyabihat terkait sifat-sifat Allah adalah madzhab ulama khalaf, bukan ulama salaf. Lebih jelas lagi adalah pendapat-pendapat ulama salaf dari qurun sahabat, tabi’in, sampai tabi’it-tabi’in, yang terdiri dari para pembesar salaf, para imam mujtahid, dan para pengikutnya, yang mencapai 160 ulama beserta pendapatnya, yang semuanya sepakat memberlakukan ayat-ayat mutasyabihat apa adanya, terutama terkait ayat “al-Rahmaanu ‘alal ‘Arsyis tawaa”, dengan tanpa takwil, tanpa takyif, tanpa tasybih, dan tanpa ta’thil. Di mana semuanya telah dikoleksi oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya yang populer, yaitu kitab “Ijtima’ul Juyuuusyil Islamiyyati ‘ala Ghazwil Mu’athilati wal Jahamiyyah (Bersatunya Tentara Islam untuk Memerangi Mu’athilah [sekte yang mengingkari sifat Allah] dan Jahmiyyah [sekte yang menyerupakan Allah dengan maklukNya]) . Di antara pendapat-pendapat itu adalah;

أن أئمة السنة متفقون على أن تفسير الإستواء بالإستيلاء إنما هو ملتقى عن الجهمية والمعتزلة والخوارج، وممن حكى ذلك أبو الحسن الأشعري في كتبه….

“Sesungguhnya para imam sunnah sepakat bahwa menafsiri istiwaa dengan istiilaa’ (menguasai) itu hanya diterima dari Jahemiyah, Muktazilah dan Khawarij, dan termasuk ulama yang telah menceritakan hal itu adalah Imam Abul Hasan Asy’ari dalam sejumlah kitabnya…..” (Ibnu Qayyim, Ijtima’ul Juyuuusyil Islamiyyati ‘ala Ghazwil Mu’athilati wal Jahamiyyah, hal. 350, Daar al-Kitab al-Arabi, Berut).

Imam Abul Hasan Asy’ari (w. 330 H) sendiri berkata:

قال أهل السنة وأصحاب الحديث: ليس بجسم، ولا يشبه الأشياء، وإنه على عرشه، كما قال عز وجل: [20:5] {الرحمن على العرش استوى} ولا نقدم بين يدي الله في القول، بل نقول: استوى بلا كيف، وإنه نور كما قال تعالى: [24:35] {الله نور السموات والأرض} وإن له وجها كما قال: [55:27] {ويبقى وجه ربك} وإن له يدين كما قال: [38:75] {خلقت بيديً} وإن له عينين كما قال: [54:14] {تجري بأعيننا} وإنه يجيء يوم القيامة هو وملائكته كما قال: [89:22] {وجآء ربك والملك صفا صفا} وإنه ينزل إلى السماء الدنيا كما جآء في الحديث، ولم يقولوا شيئا إلا ما وجدوه في الكتاب أو ما جآءت به الرواية عن رسول الله صلى الله عليه وسلم!. وقالت المعتزلة: إن الله استوى على عرشه بمعنى استولى. وقال بعض الناس: الإستواء القعود والتمكن.

“Ahlussunnah dan para ulama hadis berkata: “Dia (Allah) itu bukan jisim, Dia tidak menyerupai segala sesuatu, dan Dia di atas ArasyNya, sebagaimana Dia azza wa jalla berfirman: “al-Rahman itu istiwaa di atas Arasy”[ QS 20:5], kami tidak mengajukan perkataan di hadapan Allah, kami hanya berkata: “Dia istiwaa dengan tanpa cara”. Dia adalah Nur, seperti firmanNya : “Allah adalah Nur langit dan bumi” [24:35]. Dia memiliki wajah, seperti firmanNya: “Dan kekal wajah Tuhanmu” [55:27]. Dia memiliki dua tangan, seperti firmanNya: “Aku menciptakan dengan kedua tanganku” [38:75]. Dia memiliki dua mata, seperti firmanNya: “Yang berlayar dengan pengawasan mata kami” [54:14]. Pada hari kiamat Dia bersama malaikatNya datang, seperti firmanNya: “Dan Tuhanmu dan Malaikat datang berbaris-baris” [89:22]. Dan Dia turun kelangit dunia, seperti telah datang dalam hadis. Dan mereka sedikitpun tidak berkata kecuali sesuai apa yang datang dalam al-Kitab (al-Qur’an), atau apa yang riwayatnya datang dari Rasululloh SAW. Muktazilah berkata: “Sesungguhnya Alloh istiwaa di atas ArasyNya, dengan makna menguasai”. Dan sebagian manusia berkata: “Istiwaa adalah duduk da bertempat”. (Abul Hasan Asy’ari, Maqaalaatul Islaamiyyiin Wakhtilaaful Mushalliin, juz I, hal. 285, Maktabah ‘Asyriyyah, Berut).

Lebih jauh lagi Ibnu Qayyim (691-751 H) berkata:

إن الأشعري حكى إجماع أهل السنة على بطلان تفسير الإستواء بالإستيلاء، ونحن نذكر لفظه بعينه الذي حكاه عنه أبو القاسم بن عساكر في كتاب {تبيين كذب المفتري} وحكاه قبله أبو بكر بن فورك وهو موجود في كتبه: قال في كتابه {الإبانة} وهي آخر كتبه قال:

“Sesungguhnya Imam Asy’ari telah menceritakan Ijmak Ahlussunnah atas kebatilan tafsir (takwil) istiwaa dengan istiilaa’ (menguasai), dan kami akan menuturkan redaksi sebenarnya yang telah diceritakan oleh Abul Qasim bin Asakir dalam kitab “Tabyiinu Kidzbil Muftari” (Menjelaskan Kebohongan Orang Yang Membuat Kebohangan) dari Imam Asy’ari, dan sebelumnya juga diceritakan oleh Abu Bakar bin Faurak, dan terdapat dalam sejumlah kitab Imam Asy’ari. Imam Asy’ari dalam kitabnya “al-Ibaanah” sebagai akhir dari kitab-kitabnya, beliau berkata:

{باب ذكر الإستيواء} إن قال قائل: ما تقولون في الإستواء؟ قيل: نقول له: إن الله تعالى مستو على عرشه كما قال تعالى: {الرحمن على العرش استوى} وساق الأدلة على ذلك ثم قال: وقال قائل من المعتزلة والجهمية والحرورية إن معنى قوله: {الرحمن على العرش استوى} أنه استولى وملك وقهر وجحدوا أن يكون الله على عرشه كما قال أهل الحق، وذهبوا في الإستواء إلى القدرة، ولو كان هذا كما قالوا لا فرق بين العرش والأرض السابعة السفلى، لأن الله تعالى قادر على كل شيئ والأرض والسموات وكل شيئ في العالم، فلو كان الله مستويا على العرش بمعنى الإستيلاء والقدرة لكان مستويا على الأرض والحشوش والأنتان والأقذار لأنه قادر على الأشياء كلها، ولم نجد أحدا من المسلمين يقول إن الله مستو على الحشوش والأخلية فلا يجوز أن يكون معنى الإستواء على العرش على معنى هو عام في الأشياء كلها، ووجب أن يكون معنى الإستواء يختص بالعرش دون سائر الأشياء، وهكذا قال في كتابه الموجز وغيره من كتبه.

“(Bab Penjelasan Istiwaa) : Apabila ada yang berkata: “Apa yang kalian katakan terkait istiwaa?”, maka dikatakan: “Kami berkata kepadanya: “Sesungguhnya Allah ta’ala itu istiwaa di atas ArasyNya, sebagaimana Dia berfirman: “al-Rahman istiwaa di atas Arasy”. Imam Asy’ari mendatangkan sejumlah dalil atas hal itu kemudian beliau berkata: “Ada yang berkata dari Muktazilah, Jahamiyah dan Haruriyah bahwa makna firmanNya “al-Rahman istiwaa di atas Arasy” adalah bahwa Dia menguasai, memiliki dan menundukkan. Mereka mengingkari keberadaan Allah di atas ArasyNya, sebagaimana perkataan ahlul hak, mereka berpendapat lagi bahwa istiwaa bermakna qudrah (kekuasaan). Seandainya ini benar seperti perkataan mereka, maka tidak ada bedanya antara Arasy dan bumi ke tujuh yang paling bawah, karena Allah itu kuasa atas segala sesuatu, bumi, langit dan segala sesuatu di dunia. Seandainya Allah istiwaa di atas Arasy, dengan makna menguasai, niscaya Allah istiwa di atas bumi, kebun, dan kotoran, karena Allah itu kuasa atas segala sesuatu semuanya. Kami tidak menemukan seorangpun dari kaum muslim yang berkata bahwa Allah istiwaa di atas kebun dan tempat kotor. Maka tidak boleh makna istiwaa di atas Arasy adalah makna umum pada segala sesuatu semuanya, dan wajib makna istiwaa itu tertentu dengan Arasy, bukan seluruh segala sesuatu. Seperti ini perkataan Imam Asy’ari dalam kitab al-Mujiz dan kitab-kitabnya yang lain”. ( Ibnu Qayyim, Ijtima’ul Juyuuusyil Islamiyyati ‘ala Ghazwil Mu’athilati wal Jahamiyyah, hal. 344, Daar al-Kitab al-Arabi, Berut).

Lebih mandetil lagi apa yang di terangkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah (lahir 223 H), guru Imam Bukhari dan Imam Muslim, dalam “Kitab al-Tauhid wa Itsbat Shifaat al-Rabbi” (buku tauhid dan menetapkan sifat-sifat Tuhan), tentang ayat-ayat mutasyabihat terkait sifat-sifat Allah, di mana semuanya diberlakukan apa adanya sesuai kedatangannya, yakni dengan tanpa takwil, tanpa takyiif, tanpa tasybih dan tanpa ta’thil. Dan di sini saya tidak akan menuturkannya, karena di atas telah lebih dari cukup.

Sesungguhnya apa yang telah saya uraikan di atas terutama terkait ayat istiwaanya Allah di atas Arasy, semuanya menunjukkan bahwa semua tuduhan miring terhadap Hizbut Tahrir yang dilakukan oleh Idrus Ramli adalah tidak tepat dan terlalu mengada-ada, bahkan termasuk rekayasa, dusta, fitnah dan profokatif terhadap Hizbut Tahrir. Bagaimana tidak, di atas telah terbukti dengan sangat nyata bahwa madzhab ulama salaf yang saleh sejak generasi sahabat sampai tabi’it-tabi’in (abad ke 1-3 H), termasuk Imam Besar sekte Ahlussunnah Waljama’ah Abul Hasan Asy’ari, semuanya sepakat memberlakukan ayat-ayat mutasyabihat terkait sifat-sifat Allah apa adanya sesuai kedatangannya, dan bahwa madzhab takwil itu hanya diterima dari sekte Jahamiyah, Muktazilah, Khawarij dan Haruriyah. Pemaparan saya terhadap ayat mutasyabinat terkait istiwaa yang cukup panjang telah mewakili dari pemaparan terhadap ayat mutasyabihat terkait sifat-sifat yang lain. Dengan demikian, betapa gegabahnya Idrus Ramli yang mengaku ilmiah, hanya mengutif pendapat-pendapat ulama khalaf asy’ariyah, yang diklaim sebagai pendapat ulama salaf yang saleh, padahal kalau diteliti secara mendalam, maka dalil-dalilnya adalah hadis-hadis dhaif dan maudhu’. Ini sangat keliru dan tidak ilmiah, karena terkait akidah minimal (miturut sebagian ulama) dalil-dalilnya harus shahih. Oleh karena itu, klaim takwil Idrus Ramli pada hakekatnya hanyalah khurafat. Kalaupun Idrus Ramli masih ngotot bahwa hadis Takwil itu shahih, maka juga masih keliru, karena tidak mengikuti Sawadul A’zham (Golongan Mayoritas) ulama salaf yang saleh, sebagai indikasi Ahlussunnah Waljama’ah ‘ala Rasulullah SAW, bukan ala asy’ariyah atau burhaniyyah. Dan tuduhan Idrus Ramli bahwa Hizbut Tahrir itu Muktazilah adalah laksana maling teriak; “Maling !”, karena seperti di atas justru madzhab takwil itulah yang diterima dari Muktazilah. Dengan demikian pembelaan terhadap madzhab takwil sejatinya adalah pembelaan terhadap Muktazilah, berarti Idrus Ramli lah yang Muktazilah. Wallahu a’lam bi al-shawwaab.

(Abulwafa Romli, Alumnus ’94, Pon Pes Lirboyo Kediri JATIM).

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,845 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: