//
you're reading...
Catatan & Analisis

PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (39) Para Nabi Terjaga Dari Perbuatan Dosa (Ma’shum), Baik Setelah Menjadi Nabi Atau Sebulumnya?

Gambar
M Idrus Ramli Berkata:
“Menurut Ahlussunnah Wal Jama’ah, setiap muslim harus meyakini bahwa para nabi itu adalah orang-orang yang ma’shum (terjaga dari perbuatan dosa), baik sesudah mereka diangkat menjadi nabi atau sebelumnya. Namun keyakinan ini berbeda dengan keyakinan Hizbut Tahrir. Dalam hal ini, Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani berkata dalam salah satu kitab primer Hizbut Tahrir:

إلا أن هذه العصمة للأنبياء والرسل إنما تكون بعد أن يصبح نبياً أو رسولاً بالوحي إليه. أما قبل النبوّة والرسالة فإنه يجوز عليهم ما يجوز على سائر البشر، لأن العصمة هي للنبوة والرسالة. (الشخصية الإسلامية، 1 / 132).

“Hanya saja keterjagaan para nabi dan rasul itu terjadi sesudah mereka menjadi nabi atau rasul dengan memperoleh wahyu. Adapun sebelum menjadi nabi dan rasul, maka sesungguhnya bagi mereka boleh terjadi perbuatan yang terjadi pada manusia biasa, karena keterjagaan itu hanya bagi kenabian dan kerasulan”.

Sudah barang tentu pernyataan an-Nabhani di atas tidak benar. Para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah telah berpendapat bahwa para nabi itu harus memiliki sifat shidq (jujur), amanat (dipercaya), dan fathanah (cerdas). Oleh karena itu, Allah SWT tidak akan memilih seseorang menjadi nabi atau rasul, kecuali orang yang selamat dari perbuatan hina, khianat, bodoh, dusta dan dungu. Orang yang pada masa lalunya melakukan sifat-sifat tercela seperti ini tidak layak menjadi seorang nabi, meskipun kini telah melepaskan diri dari sifat-sifat tercela tersebut. Dalam konteks ini al-Imam Muhammad bin Ahmad al-Dasuqi (w. 1230 H / 1615 M) berkata:

(قوله والأمانة) المراد بها حفظ ظواهرهم وبواطنهم من الوقوع في المكروهات والمحرمات، سواء كانت المحرمات صغائر أو كبائر: كانت تلك الصغائر صغائر خسة كسرقة لقمة وتطفيف كيل، أو صغائر غير خسة كنظر لامرأة أو لأمرد بشهوة، كانت قبل النبوة أو بعدها، عمدا أو سهوا.

“(Amanah) yang dikehendaki dengannya adalah menjaga lahir dan batin mereka dari melakukan perkara makruh dan haram, sama saja haram berupa dosa kecil atau haram berupa dosa besar; sama saja dosa kecil yang hina seperti mencuri sesuap makanan dan mengurangi takaran, atau dosa kecil yang tidak hina seperti memandangi perempuan atau anak laki-laki ganteng dengan sahwat; sama saja sebelum menjadi nabi atau setelahnya, secara sengaja atau lupa”.

Dengan berpijak terhadap pendapat al-Nabhani, bahwa para nabi boleh jadi melakukan perbuatan dosa apa saja sebelum menjadi nabi sebagaimana layaknya manusia biasa, Hizbut Tahrir berpandangan bahwa derajat kenabian yang agung berarti boleh disandang oleh orang yang pada masa lalunya sebagai pencuri, perampok, homo sex, pembohong, penipu, pecandu narkoba, pemabok dan pernah melakukan kehinaan-kehinaan lainnya.” (Hizbut Tahrir dalam Sorotan, hal. 81-84).

MEMBONGKAR PAT :
Pembongkaran ini akan terbagi menjadi dua bagian:

Pertama: Idrus Ramli tidak memahami pernyataan Syaikh Taqiyyuddin, “fainnahu yajuuzu ‘alaihim maa yajuuzu ‘ala saairil basyar” (maka boleh atas mereka sesuatu yang boleh atas manusia biasa). Kata “yajuuzu” (boleh) ini tidak sama dengan kata “wajaba” (wajib) atau “hatama” (harus). Dan kata “maa yajuuzu” (sesuatu yang boleh/mubah) juga tidak sama dengan kata “maa haruma” (sesuatu yang haram). Jadi konotasi pernyataan Syaikh Taqiyyuddin adalah; “Boleh bagi para nabi dan rasul, sebelum manjadi nabi dan rasul, melakukan sesuatu yang boleh dilakukan oleh manusia biasa”, bukan mengerjakan perkara haram dan meninggalkan perkara wajib atau fardhu. Dan termasuk perkara yang boleh adalah mengerjakan makruh, meninggalkan sunnah dan mengerjakan khilaful-aula. Ini juga dapat difahami dari pernyataan Syaikh Taqiyuddin sebelumnya, yaitu:

والحق أن كل ما كان طلب فعله أو طلب تركه جازماً – أي جميع الفروض والمحرمات – هم معصومون بالنسبة لها، معصومون عن ترك الواجبات، وعن فعل المحرمات، سواء أكانت كبائر أو صغائر. أي معصومون عن كل ما يسمى معصية ويصدق عليه أنه معصية. وما عدا ذلك من المكروهات والمندوبات وخلاف الأولى، فهم غير معصومين عنه، لأنه لا يتناقض مع النبوّة والرسالة. فيجوز عليهم فعل المكروه وترك المندوب، لأنه لا يترتب عليها إثم، ويجوز عليهم فعل خلاف الأولى، وهو فعل بعض المباحات دون البعض، لأن ذلك في جميع وجوهه، لا يدخل تحت مفهوم كلمة معصية. هذا ما يحتمه العقل ويقتضيه كونهم أنبياء ورسلاً. (الشخصية الإسلامية، 1 / 132).

“Sedangkan yang benar, bahwa setiap perkara yang mengandung tuntutan tegas untuk mengerjakannya atau meninggalkannya, yaitu semua kewajiban dan keharaman, mereka (para nabi dan rasul) itu terjaga dari padanya, terjaga dari meninggalkan kewajiban dan dari melakukan keharaman, baik berupa dosa-dosa besar atau kecil, yakni mereka terjaga dari setiap perkara yang bernama maksiat dan benar terbukti maksiat. Adapun selain hal itu, dari perkara makruh, mandub (sunah) dan khilaful-aula (meninggalkan yang utama), maka mereka tidak terjaga dari padanya, karena tidak berdampak pada dosa. Dan boleh (wenang) atas mereka melakukan khilaful-aula, yaitu malakukan sebagian perkara mubah, tidak sebagian yang lain, karena hal itu pada semua sisinya tidak masuk ke dalam mafhum kata maksiat. Inilah perkara yang dipastikan oleh akal dan ditetapkan oleh keberadaan mereka sebagai para nabi dan rasul.”

Sekarang kita lihat pernyataan ulama Ahlussunnah Waljama’ah yang lain. Imam Mufassir Fakhruddin al-Razi (w. 606 H / 1210 M) menyatakan:

المسألة الأولى: اختلف الناس في عصمة الأنبياء عليهم السلام وضبط القول فيه أن يقال: الاختلاف في هذا الباب يرجع إلى أقسام أربعة: أحدها: ما يقع في باب الاعتقاد، وثانيها: ما يقع في باب التبليغ، وثالثها: ما يقع في باب الأحكام والفتيا، ورابعها: ما يقع في أفعالـهم وسيرتهم…..

“Masalah pertama: Manusia berbeda pendapat tentang keterjagaan para nabi AS. Lebih tepatnya tentang itu dikatakan: “Perbedaan pendapat pada bab ini kembali kepada empat begian: Pertama, perkara yang terjadi pada bab keyakinan. Kedua, perkara yang terjadi pada bab tabligh. Ketiga, perkara yang terjadi pada bab hukum dan fatwa. Dan keempat, perkara yang terjadi pada amal perbuatan dan tingkah laku para nabi……

واختلف الناس في وقت العصمة على ثلاثة أقوال: أحدها: قول من ذهب إلى أنهم معصومون من وقت مولدهم وهو قول الرافضة، وثانيها: قول من ذهب إلى أن وقت عصمتهم وقت بلوغهم ولم يجوزوا منهم ارتكاب الكفر والكبيرة قبل النبوة، وهو قول كثير من المعتزلة، وثالثها: قول من ذهب إلى أن ذلك لا يجوز وقت النبوة، أما قبل النبوة فجائز، وهو قول أكثر أصحابنا وقول أبي الـهذيل وأبي علي من المعتزلة / والمختار عندنا أنه لم يصدر عنهم الذنب حال النبوة البتة لا الكبيرة ولا الصغيرة،…..( تفسير الرازي، البقرة : 36، ج 3/427).

Dan manusia berbeda pendapat tentang masanya ‘ishmah menjadi tiga madzhab: Pertama, madzhab orang yang mengatakan bahwa para nabi itu‘ishmah sejak kelahirannya, dan ini pendapat Rafidhah. Kedua, madzhab orang yang mengatakan bahwa masa ‘ishmahnya itu setelah baligh, dan penganut madzhab ini tidak membolehkan para nabi mengerjakan kekufuran dan dosa besar sebelum menjadi nabi, dan ini adalah pendapat mayoritas Muktazilah. Dan ketiga, madzhab orang yang mengatakan bahwa mengerjakan kekufuran dan dosa besar itu tidak boleh terjadi pada masa kenabian, adapun sebelum kenabian, maka boleh terjadi, dan ini adalah pendapat mayoritas teman-teman kami (Ahlussunnah Waljama’ah), dan pendapat Abu Hudzail dan Abu Ali dari Muktazilah. Sedang yang dipilih oleh kami adalah pendapat bahwasanya tidak keluar dari para nabi pada masa kenabiannya dosa secara pasti, baik dosa besar atau dosa kecil……” (Lihat; Tafsir al-Raazi, al-Baqarah ayat 36, juz 3, hal. 427, Daar al-Turats al-Arabi, al-Marja’ al-Akbar li al-Turats al-Islami).

Dan Imam Abu Manshur al-Qahir al-Baghdadi (w. 429 H), dalam kitabnya, Kitab Ushul al-Diin, menyatakan:

أجمع أصحابنا على وجوب كون الأنبياء معصومون بعد النبوة عن الذنوب كلها، ….. وأجازوا الذنوب قبل النبوة، …..
“Teman-teman kami (Ahlussunnah Waljama’ah) telah ijmak atas wajibnya kemakshuman para nabi setelah kenabian dari semua dosa,….. Dan mereka telah membolehkan dosa-dosa itu sebelum kenabian,…..” (Imam Abu Manshur al-Qahir al-Baghdadi, Kitab Ushuluddiin, Daar al-Kutub al-Ilmiyyah, Berut, cet. I, 1981 M/1401 H, hal. 167-168. Dikutif dari bantahan terhadap kitab al-Ghaarah al-Imaniyyah fi Mafasid al-Tahririyyah, HTI).

Dan al-Imam al-Mulla Ali al-Qari al-Hanafi menyatakan:
وفي شرح العقائد أن الأنبياء عليهم الصلاة والسلام معصومون عن الكذب خصوصا فيما يتعلق بأمر الشرع وتبليغ الأحكام وإرشاد الأمة أما عمدا فبالإجماع، وأما سهوا فعند الأكثرين، وفي عصمتهم عن سائر الذنوب تفصيل وهو أنهم معصومون عن الكفر قبل الوحي وبعده بالإجماع، وكذا عن تعمد الكبائر عند الجمهور خلافا للحشوية، وأما سهوا فجوزه الأكثرون، وأما الصغائر فتجوز عمدا عند الجمهور خلافا للجبائي وأتباعه، وتجوز سهوا باتفاق إلا ما يدل على الخسة كسرقة لقمة وتطفيف حبة، لكن المحققين اشترطوا أن ينبهوا عليه فينتهوا عنه هكذا كله بعد الوحي، وأما قبله فلا دليل على امتناع صدور الكبيرة خلافا للمعتزلة ومنع الشيعة صدور الصغيرة والكبيرة قبل الوحي وبعده.

“Dalam Syarh al-‘Aqaaid dinyatakan bahwa para nabi AS itu terjaga dari dusta, apalagi pada perkara yang berhubungan dengan perintah syara’, menyampaikan hukum, dan membimbing umat. Adapun melakukannya dengan sengaja, maka dengan dalil ijmak. Adapun melakukannya dengan lupa, maka miturut mayoritas ulama. Dan dalam terjaganya para nabi dari dosa-dosa yang lain, maka diperinci, yaitu bahwa para nabi terjaga dari kufur sebelum menerima wahyu dan setelahnya, dengan dalil ijmak, juga dari sengaja melakukan dosa besar, miturut jumhur, berbeda dengan sekte Hasyawiyah. Adapun melakukannya karena lupa, maka dibolehkan oleh mayoritas ulama. Adapun dosa-dosa kecil, maka boleh dilakukan dengan sengaja, miturut jumhur, berbeda dengan al-Jubai dan pengikutnya, dan boleh karena lupa, dengan kesepakatan ulama, kecuali pekerjaan yang menunjukkan sifat rendah dan hina seperti mencuri sesuap makanan atau mengurangi sebiji takaran. Akan tetapi ulama ahli tahqiq mensyaratkan adanya kesadaran para nabi terhadap perbuatan itu lalu mereka menghentikannya. Ini semua setelah mendapat wahyu. Adapun sebelumnya, maka tidak ada dalil yang melarang keluarnya dosa besar dari calon para nabi, berbeda dengan sekte Muktazilah dan larangan sekte Syiah atas keluarnya dosa kecil dan besar sebelum dan setelah menerima wahyu.” (al-Imam al-Mulla Ali al-Qari al-Hanafi, Syarh Kitab al-Fiqh al-Akbar, hal. 104, Daar al-Kutub al-Ilmiyyah, Berut, cet. I, 1995.Dikutif dari bantahan terhadap kitab al-Ghaarah al-Imaniyyah fi Mafasid al-Tahririyyah, HTI).

Pernyataan-pernyataan ulama di atas membuktikan kepada kita dengan sangat jelas bahwa klaim Idrus Ramli di atas pada dasarnya adalah kepanjangan dari ideologi Muktazilah dan Syiah, dan bahwa ideologi Hizbut Tahrir sangat kontradiksi dengan ideologi Muktazilah dan Syiah. Maka dakwaan Idrus Ramli bahwa ideologi Hizbut Tahrir adalah ideologi Muktazilah itu laksana maling teriak, “maling!”.

Kedua, terkait pernyataanal-Imam Muhammad bin Ahmad al-Dasuqi yang wafat pada tahun 1230 H/1615 M, yang disampaikan oleh Idrus Ramli di atas, itu sangat kontradiksi dengan pernyataan Imam Fakhruddin al-Razi yang wafat pada tahun 606 H / 1210 M, dan Imam Abu Manshur al-Qahir al-Baghdadi yang wafat tahun 429 H. Kalau kita membandingkan tanggal wafatnya, maka kedua imam ini jauh lebih saleh dan lebih dekat kepada periode salaf, karena lebih dekat kepada qurun terakhir terbaik, yaitu qurun tabi’it tabi’in. Juga bobot pernyataan kedua imam ini, yang menyampaikan pendapat aktsaru ashhabina (mayoritas teman-teman kami, yakni Ahlussunnah Waljama’ah) dan menyampaikan ijmak ashhabina, ini lebih kuat dari pada pernyataan Imam Muhammad bin Ahmad al-Dasuqi yang hanya menyampaikan pendapat pribadinya.

Kemudian terkait pernyataan Idrus Ramli bahwa, “Dengan berpijak terhadap pendapat al-Nabhani, bahwa para nabi boleh jadi melakukan perbuatan dosa apa saja sebelum menjadi nabi sebagaimana layaknya manusia biasa, Hizbut Tahrir berpandangan bahwa derajat kenabian yang agung berarti boleh disandang oleh orang yang pada masa lalunya sebagai pencuri, perampok, homo sex, pembohong, penipu, pecandu narkoba, pemabok dan pernah melakukan kehinaan-kehinaan lainnya”.

Sesungguhnya pernyataan ini hanyalah murni kesimpulan dari rekayasa dan dusta Idrus Ramli, yang terpengaruh oleh rekayasa dan dusta Syaikhul Fattan Abdullah al-Harari al-Ahbasy dalam kitab al-Gharah al-Imaniyyah-nya, bukan pendapat Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, baik manthuq atau mafhumnya. Lalu oleh Idrus Ramli direkayasa sehingga seolah-olah pendapat itu adalah pendapat Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani atau kesimpulan dari pendapatnya. Karena pernyataan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani,“fainnahu yajuuzu ‘alaihim maa yajuuzu ‘ala saairil basyar” (maka boleh atas mereka sesuatu yang boleh atas manusia biasa), di atas telah menutup rapat-rapat kesimpulan seperti itu. Dengan demikian, Idrus Ramli telah membuat kesalahan bertumpuk-tumpuk, yaitu; membuat kesimpulan buruk terhadap para nabi sebelum kenabiannya, menuduhkan kesimpulan itu terhadap Hizbut Tahrir, membohongi orang-orang muslim yang terpengaruh oleh kesimpulannya, menjauhkan mereka dari Hizbut Tahrir, menghalangi akan tegaknya khilafah, dan menghalangi penerapan Islam secara sempurna. Karena kesalahan itu saling terikat satu sama lainnya. Lalu bagaimana kalau sejumlah pernyataan sesat Idrus Ramli itu diikuti oleh orang lain. Maka Idrus Ramli akan terus menerus mendapat kiriman dosanya yang multi lepel setelah ia mati, dan tentu dosa-dosa itu tidak sebanding dengan uang yang ia terima sebagai konpensasi dari berbagai tulisannya.

(Abulwafa Romli).

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: