//
you're reading...
Catatan & Analisis

PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (40) Hizbut Tahrir Melecehkan Umat Islam?

Gambar

Idrus Ramli menyatakan:

“Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani berkata:
والحقيقة هو أن رأيهم ورأي الجبرية واحد فهم جبريون. وقد أخفقوا كل الإخفاق في مسألة الكسب، فلا هي جارية على طريق العقل، إذ ليس عليها أي برهان عقلي، ولا على طريق النقل، إذ ليس عليها أي دليل من النصوص الشرعية، وإنما هي محاولة مخفقة للتوفيق بين رأي المعتزلة ورأي الجبرية.{الشخصية الإسلامية : 1 / 70}.

“Pada dasarnya pendapat Ahlussunnah dan pendapat Jabariyah itu sama. Jadi Ahlussunnah itu Jabariyah. Mereka telah gagal segagal-gagalnya dalam masalah kasb (perbuatan makhluk), sehingga masalah tersebut tidak mengikuti pendekatan rasio, karena tidak didasarkan oleh argumen rasional sama sekali, dan tidak pula mengikuti pendekatan naqli karena tidak didasarkan atas dalil dari teks-teks syar’i sama sekali. Masalah kasb tersebut hanyalah usaha yang gagal untuk menggabungkan antara pendapat Muktazilah dan pendapat Jabariyah”.

Dalam bagian lain al-Nabhani juga mengatakan:
والثاني الإجبار وهو رأي الجبرية وأهل السنة مع اختلاف بينهما بالتعابير والاحتيال على الألفاظ، واستقر المسلمون على هذين الرأين وحُولوا عن رأي القرآن ورأي الحديث وما كان يفهمه الصحابة منهما.{الشخصية الإسلامية : 1/74}.

“Ijbar (keterpaksaan) adalah pendapat Jabariyah dan Ahlussunnah, hanya antara keduanya ada perbedaan dalam retorika dan memanipulasi kata-kata. Kaum muslimin konsisten dengan dua pendapat ini (kebebasan kehendak dan paksaan) . Mereka telah dipalingkan dari pendapat al-Qur’an, hadits dan pemahaman shahabat dari al-Qur’an dan hadits…”.

Pernyataan al-Nabhani di atas mengantarkan kepada beberapa kesimpulan. Pertama, pendapat Ahlussunnah Wal Jamaah dan Jabariyah itu pada dasarnya sama dalam masalah perbuatan manusia. Perbedaan antara keduanya hanya dalam retorika dan dalam manipulasi kata-kata.
Kedua, Ahlussunnah Wal-Jama’ah telah gagal dalam mengatasi problem perbuatan manusia melalui pendekatan teori kasb, sehingga terjebak dalam pendapat yang tidak didukung oleh dalil rasional maupun dalil naqli.
Ketiga, kaum Muslim sejak sekian lamanya telah berpaling dari al-Qur’an, hadits dan ajaran sahabat. Dan
keempat, pernyataan tersebut memberikan kesan yang cukup kuat bahwa al-Nabhani dan Hizbut Tahrir telah keluar dari golongan Ahlussunnah Wal-Jama’ah dan mayoritas kaum muslim.” (Hizbut Tahrir dalam Sorotan, hal. 84-86).

Dan sebagaimana biasanya, selanjutnya Idrus Ramli menyampaikan sejumlah argumen yang terdiri dari pernyataan ulama untuk memperkuat kesimpulan yang telah dibuatnya sendiri yang seolah-olah itu adalah pernyataan Syaikh Taqiyyuddin atau Hizbut Tahrir. Dalam bagian lain, Idrus Ramli juga membuat kesimpulan sendiri lalu dituduhkan kepada Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir, ia berkata:

“Al-Nabhani tidak berfikir, bahwa dengan pernyataan di atas, bahwa seluruh kaum muslimin telah berpaling dari ajaran al-Qur’an, hadits dan pendapat sahabat, berarti al-Nabhani telah melecehkan seluruh ulama kaum muslimin dari kalangan ahli hadits, ahli fiqih, ahli tafsir, ahli teologi, ahli gramatika, ahli sejarah dan lain-lain, di mana ilmu al-Nabhani tidak ada apa-apanya dibanding dengan ilmu mereka. Secara tidak langsung, al-Nabhani beranggapan bahwa seluruh ulama dalam segala bidang, telah menyesatkan kaum muslimin dari ajaran al-Qur’an, hadits dan ajaran para sahabat. Padahal orang yang melecehkan seorang ulama besar, haruslah diberi sanksi hukum dengan dita’zir, karena dapat merusak kepercayaan umat terhadap para ulama. Sementara al-Nabhani dan Hizbut Tahrir, dengan sikap sombong dan arogannya telah melecehkan seluruh ulama kaum muslimin.” (Ibid, hal. 91).

Lalu kesimpulan yang sangat provokatif itu oleh Idrus Ramli dicarikan argumen pendukungnya yang ditujukan terhadap Hizbut Tahrir, ia berkata:

“Pernyataan Hizbut Tahrir di atas bahwa seluruh kaum muslimin telah berpaling dari ajaran al-Qur’an, hadits dan ajaran sahabat, merupakan penilaian sesat terhadap seluruh kaum muslimin. Sedangkan para ulama telah bersepakat bahwa setiap pendapat yang berimplikasi pada penilaian sesat terhadap seluruh kaum muslimin adalah kufur secara definitif berdasarkan kesepakatan para ulama. Dalam konteks ini, al-Hafidz Ibnu Hajar dengan mengutif dari al-Qadhi Iyadh dan al-Imam al-Nawawi berkata:

وقال صاحب الشفاء فيه : وكذا نقطع بكفر كل من قال قولا يتوصل به إلى تضليل الأمة، أو تكفير الصحابة، وحكاه صاحب “الروضة” في كتاب الردة عنه وأقره.

“Pengarang kitab “al-Syifa’” berkata mengenai hal tersebut: “Demikian pula kami pastikan kekufuran setiap orang yang mengeluarkan suatu pendapat yang dapat mengantar pada penilaian sesat seluruh umat atau pengkafiran sahabat.” Hal ini juga diceritakan oleh pengarang kitab “al-Raudhah” dalam kitab al-riddah dari kitab “al-Syifa’” dan mengakuinya”. (Ibid, hal. 91-92).

MEMBONGKAR PAT :

Idrus Ramli dalam menyikapi pernyataan Syaikh Taqiyyuddin di atas telah membuat empat kesimpulan. Kesimpulan pertama dan kedua adalah benar dan faktanya pun demikian. Ini dapat diterima dengan memahami pernyataan Syaikh Taqiyyuddin sebelumnya, yaitu;

وقالوا عن أفعال العباد في الرد على المعتزلة والجبرية: للعباد أفعال اختيارية يثابون بها إن كانت طاعة، ويعاقبون عليها إن كانت معصية. وبيَّنوا وجه كونها اختيارية مع أنهم يقولون أن الله مستقل بخلق الأفعال وإيجادها فقالوا: إن الخالق لفعل العبد هو الله تعالى. وإن لقدرة العبد وإرادته مدخلاً في بعض الأفعال كحركة البطش، دون البعض كحركة الارتعاش، وإن الله تعالى خالق كل شيء، والعبد كاسب.

“Ahlussunnah berkata dalam membantah Muktazilah dan Jabariyah terkait perbuatan hamba: “Hamba itu memiliki perbuatan ikhtiar (sukarela) di mana mereka diberi pahala dengannya kalau berupa taat, dan dijatuhi sanksi atasnya kalau berupa maksiat”. Ahlussunnah telah menjelaskan dasar ke-ikhtiar-ran perbuatan hamba, padahal mereka mengatakan bahwa Allah menyendiri dengan menciptakan dan mewujudkan perbuatan, mereka berkata: “Sesungguhnya Pencipta perbuatan hamba adalah Allah. Dan bahwa qudrat dan iradat hamba itu bisa masuk pada sebagian perbuatan seperti gerakan memukul, tidak sebagian yang lain seperti gerakan gemetar. Dan Allah adalah pencipta segala sesuatu, sedang hamba adalah pelaksana”.

ثم وضحوا ذلك فقالوا: إن صرف العبد قدرته وإرادته إلى الفعل كسب، وإيجاد الله الفعل عقب ذلك خلق، والمقدور الواحد داخل تحت القدرتين لكن بجهتين مختلفتين، فالفعل مقدور لله تعالى بجهة الإيجاد ومقدور للعبد بجهة الكسب، وبعبارة أخرى أن الله تعالى أجرى العادة بخلق الفعل عند قدرة العبد وإرادته لا بقدرة العبد وإرادته، فهذا الاقتران هو الكسب. واستدلوا على قولهم بالآيات التي استدل بها الجبرية على خلق الله للأفعال وإرادته لها، واستدلوا على الكسب من العبد بقوله تعالى { جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } وقوله تعالى { فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ } وقوله { لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ } اعتبروا أنفسهم أنهم ردوا على المعتزلة والجبرية.{الشخصية الإسلامية، 1/69-70}.

Kemudian Ahlussunnah menjelaskan hal tersebut, mereka berkata: “Penggunaan hamba terhadap qudrat dan iradatnya kepada perbuatan adalah kasb, dan setelah itu pengadaan Allah terhadap perbuatan adalah penciptaan. Satu perkara yang dikuasai itu masuk ke dalam dua kekuasaan, tetapi dengan dua sudut yang berbeda. Perbuatan itu dikuasai oleh Allah dari sudut pengadaan, dan dikuasai oleh hamba dari sudut pelaksanaan.” Dengan kata lain; “Sesungguhnya Allah telah menjalankan tradisi dengan menciptakan perbuatan pada qudrat dan iradat hamba, tidak dengan qudrat dan iradat hamba. Jadi perkawinan ini adalah kasb”. Mereka berdalil atas pernyataannya dengan ayat-ayat di mana Jabariyah berdalil dengannya atas penciptaan Allah terhadap perbuatan serta iradah-Nya padanya. Dan mereka berdalil atas kasb dari hamba dengan firman Allah; “Sebagai balasan terhadap apa yang mereka telah perbuat”, dan firman-Nya; “Barang siapa berkehendak maka berimanlah, dan barang siapa berkehendak maka kufurlah”, dan firman-Nya;“Baginya apa yang telah diperbuatnya, dan atasnya apa yang telah diperbuatnya”. Mereka menganggap dirinya telah membantah Muktazilah dan Jabariyah”.

Dari pernyataan Syaikh Taqiyyuddin tersebut kita dapat memahami tentang kegagalan teori kasb, karena hanya merupakan imajinasi dan hipotesa yang tidak berdasarkan dalil aqli atau naqli. Sedangkan dalil-dalil berupa ayat-ayat al-Qur’an yang dipakai dalam teori kasb hanyalah dalil-dalil yang dipakai oleh Jabariyah dan Muktazilah dalam pandangannya terhadap perbuatan hamba. Dan dalil teori kasb itu sendiri tidak ada, selain imajinasi dan hipotesa, yaitu perkawinan antara qudrat dan iradat Allah dengan qudrat dan iradat hamba. Dan qudrat dan iradat hamba bisa masuk kepada sebagian perbuatan, padahal diatas Ahlussunnah mengatakan bahwasannya Allah itu menyendiri dengan menciptakan dan mewujudkan perbuatan hamba. Jadi karena ini, teori kasb dianggap gagal. Disamping itu teori kasb ini tidak dikenal selain dari sekte Ahlussunnah Mutakallimin. Kemudian untuk memahami bagaimana tepatnya pandangan Hizbut Tahrir terhadap perbuatan hamba, maka pembaca harus membaca dan memahami kitab Nizhamul Islam terlebih dahulu, yaitu terkait Masalah Qadha’ dan qadar, sebelum membaca kitab Syakhshiyyah Islamiyyah, karena kalau tidak demikian, maka pembaca tidak akan pernah mendapat pemahaman yang mengkristal terkait perbuatan hamba. Dan jawaban saya di sini terkait perbuatan hamba tidak akan pernah memuaskan, karena tidak membicarakannya secara mendetil.

Dan kesimpulan Idrus Ramli yang ketiga dan keempat adalah kesimpulan rekayasa, dusta, fitnah dan provokasi terhadap Hizbut Tahrir. Dan dari kesimpulan ketiga, Idrus Ramli telah membuat kesimpulan anak-cucu, yaitu kesimpulan cabang dan ranting yang tidak sedikit yang semuanya adalah rekayasa, dusta, fitnah dan provokasi.

Idrus Ramli berkata:“Ketiga, kaum Muslim sejak sekian lamanya telah berpaling dari al-Qur’an, hadits dan ajaran sahabat”.

Ini adalah kesimpulan yang berlebihan dan keterlaluan (ghuluw wa ifrath). Padahal yang dikehendaki oleh Syaikh Taqiyyuddin dalam pernyataannya, wa istaqarra al-muslimuun (dan kaum muslim konsisten) adalah kaum muslim dari tiga sekte, yaitu Muktazilah, Jabariyah dan Ahlussunnah ala mutakallimiin dimana semuanya termasuk sekte mutakallimin, bukan kaum muslim dengan arti umat Islam secara keseluruhan. Ini juga dapat dipahami dari pernyataan Syaikh Taqiyyuddin secara keseluruhan terutama pernyataan lanjutannya sebagai berikut;

واستقر المسلمون على هذين الرأين وحُولوا عن رأي القرآن ورأي الحديث وما كان يفهمه الصحابة منهما إلى المناقشة في اسم جديد هو (القضاء والقدر) أو (الجبر والاختيار) أو (حرية الإرادة) وفي مسمى جديد هو: هل الأفعال بخلق العبد وإرادته أم بخلق الله وإرادته؟ أو هل ما يُحدثهُ الإنسان في الأشياء من خاصيات هي من فعل العبد وإرادته أم هي من الله تعالى؟ وصار بعد وجود هذا البحث توضع مسألة القضاء والقدر في بحث العقيدة وجعلت أمراً سادساً من أمور العقيدة. (الشخصية الإسلامية، 1 / 74).

Kaum muslimin konsisten dengan dua pendapat ini (kebebasan kehendak dan paksaan). Mereka telah dipalingkan dari pendapat al-Qur’an, hadits dan pemahaman shahabat dari keduanya, kepada perdebatan terkait nama baru, yaitu “qadha’ dan qadar”, atau “paksaan dan kehendak”, atau “kebebasan berkehendak”, dan terkait substansi yang baru, yaitu, “Apakah perbuatan itu diciptakan oleh hamba dan dengan kehendaknya ataukah diciptakan oleh Allah dan dengan kehendak-Nya?”, atau “Apakah khasiat yang diadakan oleh manusia pada segala sesuatu itu dari perbuatan hamba dan kehendaknya atau kah dari Allah?”. Dan setelah adanya pembahasan tersebut masalah qadha’ dan qadar diletakan pada pembahasan akidah dan dijadikan perkara keenam dari perkara akidah”.

Idrus Ramli sengaja memotong dan membuang kalimat “ilal munaqasyati…”(kepada perdebatan…) yang berhubungan dengan kalimat sebelumnya, yaitu “wahuuwiluu ‘an…” (mereka telah dipalingkan dari…). Padahal antara dua kalimat itu saling melengkapi dimana dengan membuang salah satunya makna yang dimaksud tidak dapat terpenuhi. Sedangkan makna yang dimaksud dari pernyataan tersebut adalah “kaum muslim yang berdebat terkait nama dan substansi yang baru”, dan mereka adalah tiga sekte mutakallimin, bukan kaum muslim secara keseluruhan. Dan juga mereka tidak berpaling dari al-Qur’an, hadits dan ajaran sahabat secara keseluruhan, tetapi mereka dipalingkan dari ketiganya dalam teori kasb, karena seperti di atas, teori kasb ini tidak didukung oleh pendapat al-Qur’an, pendapat hadis dan ajaran sahabat. Jadi kesimpulan Idrus Ramli itu sangat mengada-ada dan gegabah, juga sangat berlebihan dan keterlaluan, tidak sesuai dan sangat kontradiksi dengan pernyataan yang disimpulkannya. Dengan kata lain, Idrus Ramli telah gagal total dalam membuat kesimpulan ketiganya. Dan dengan demikian, kesimpulan anak-cucunya pun telah gagal total, karena merupakan cabang dan ranting dari kesimpulan ketiga yang telah gagal.

Dengan demikian juga, orang yang layak dianggap sombong, arogan dan melecehkan ulama besar adalah Idrus Ramli sendiri dan dialah yang berhak dijatuhi sanksi hukuman, karena dapat merusak nama baik ulama nahdhiyyin yang lain. Apalagi selama ini Idrus Ramli selalu mengatasnamakan Ahlussunnah Waljamaah dan membawa-bawa pondok pesantren tempat belajar dan jam’iyyah NU-nya. Dan sesungguhnya ustadz perekayasa, pendusta, pemitnah dan provokator seperti Idrus Ramli ini sangat tidak pantas dan tidak tahu diri mengkritik dan menyalahkan ulama besar sekelas Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani yang hampir semua hidupnya dikorbankan untuk meninggikan agama Allah. Sedangkan kritik tajam Syaikh Taqiyyuddin terhadap ilmu kalam dan mutakallimin adalah sangat wajar dan apa adanya, sebagaimana ulama salaf pun melakukan hal yang sama, dan menunjukkan bahwa beliau termasuk pengikut ulama salaf yang kritis. Sebagaimana telah saya sampaikan pada buku “Ketika Virus Liberal Menggerogoti Pondok Pesantren Sebagai Bantahan Atas Majalah Ijtihad Pondok Pesantren Sidogiri”, maka tidak ada salahnya saya sampaikan di sini ;

Imam Malik rh berkata;
“أهل البدع الذين يتكلمون فى أسماء الله وصفاته وكلامه وعلمه وقدرته لا يسكتون عما سكت عنه الصحابة والتابعون لهم بإحسان”.
“Ahlul Bid’ah adalah orang-orang yang membicarakan nama-nama Allah, shifat-shifat-Nya, kalam-Nya, ilmu-Nya dan qudrat-Nya, mereka tidak diam dari perkara di mana para sahabat dan tabi’in sama diam darinya”.

Dan Imam Malik juga berkata;
“لعن الله عمرو ابن عبيد [المعتزلي] فإنه ابتدع هذه البدع من الكلام ولو كان الكلام علما لتكلم به الصحابة والتابعون كما تكلموا فى الأحكام والشرائع ولكنه باطل يدل على باطل”.
“Semoga Allah melaknat ‘Amer Ibn ‘Ubaid [ulama mu’tazilah], karena sesungguhnya dia telah mencetuskan bid’ah-bid’ah ilmu kalam ini. Andai saja pembahasan kalam adalah ilmu, niscaya para sahabat dan tabi’in membicarakannya, sebagaimana mereka membicarakab hukum-hukum syari’at. Akan tetapi pembahasan kalam adalah bathil yang menunjukkan kepada bathil”. [lihat kitab al-amru bil itba’, karya Imam Suyuthi, hal 18].

Bahkan Imam Syafi’iy, Imam Malik, Imam Ahmad Ibnu Hanbal, Sufyan Tsauri dan semua ahlil hadis dari ulama salaf telah sepakat megharamkan mempelajari ilmu jadal dan ilmu kalam. Ibnu Abdul A’laa rh berkata: “Saya pernah mendengar Imam Syafi’iy ra berkata kepada Hafesh Al-Fard [tokoh kalam mu’tazilah]:

“لأن يلقى الله عز وجل العبد بكل ذنب ما خلا الشرك بالله خير له من أن يلقاه بشيء من علم الكلام”.
“Sungguh, andaikan saja seorang hamba bertemu Allah swt [mati] dengan membawa semua dosa selain menyekutukan Allah, itu lebih baik baginya dari pada bertemu dengan-Nya dengan membawa sedikit saja ilmu kalam”.

Dan Imam Syafi’iy berkata:
“قد اطلعت من أهل الكلام على شيء ما ظننته قط، ولأن يبتلى العبد بكل ما نهى الله عنه ما عدا الشرك خير له من أن ينظر فى الكلام”.
“Sungguh saya telah melihat dari ahli kalam sesuatu yang tidak pernah saya sangka sebelumnya sama sekali. Dan sungguh andaikan saja seorang hamba melakukan semua yang telah dilarang Allah swt selain syirik, itu lebih baik baginya dari pada melihat [membahas] ilmu kalam”.Dan Imam Syafi’iy ra berkata;

لو علم الناس ما فى الكلام من الأهواء لفروا منه فرارهم من الأسد.
“Andai saja manusia mengerti sesuatu dalam ilmu kalam, yaitu hawa nafsu, niscaya mereka lari darinya seperti lari dari serigala”.Juga Imam Syafi’iy berkata;

إذا سمعت الرجل يقول الإسم هو المسمى أو غير المسمى فاشهد بأنه من أهل الكلام ولا دين له.
“Apabila kamu mendengar laki-laki berkata; “Isim [nama] itu adalah musamma [substansi] atau bukan musamma”, maka saksikanlah bahwa dia adalah ahli kalam, tidak ada agama baginya”. Juga Imam Syafi’iy ra berkata:

حكمي فى أصحاب الكلام أن يضربوا بالجريد ويطاف بهم فى القبائل و البشائر ويقال هذا جزاء من ترك الكتاب والسنة وأخذ فى الكلام.
“Hukumku terhadap ahli kalam adalah agar mereka dipukul dengan pelepah kurma dan diarak keliling desa dan kumpulan manusia, dan dikatakan kepada mereka; Ini adalah balasan bagi orang yang meninggalkan al-Kitab dan as-Sunnah dan mengambil ilmu kalam”.

Dan Imam Ahmad Ibnu Hanbal ra berkata;
لا يفلح صاحب الكلام أبدا، ولا تكاد ترى أحدا نظر فى الكلام إلا وفى قلبه دغل.
“Tidak akan beruntung ahli kalam selamanya, dan kamu tidak akan melihat seseorang yang melihat [membahas] ilmu kalam kecuali pada hatinya terdapat kerusakan”.

Dan Imam Ahmad ra sangat mencela Harits Al-Mahasibiy ra, bahkan sampai mendiaminya, padahal Hariat Al-Mahasiby sangat zuhud dan waro dan termasuk Ahlussunnah Waljama’ah, hanya karena ia menulis sebuah kitab bantahan terhadap ahli bid’ah [ahli kalam].

Imam Ahmad barkata kepada Harist Al-Mahasiby;
ويحك ألست تحكي بدعتهم أولا ثم ترد عليهم! ألست تحمل الناس بتصنيفك على مطالعة البدعة والتفكر فى تلك الشبهات فيدعوهم ذلك إلى الرأي والبحث! وقال أحمد رحمه الله: علماء الكلام زنادقة.
“Celaka kamu, bukankah kamu menceritakan bid’ah mereka pertama kali, kemudian kamu membantahnya! Bukankah kamu mendorong manusia dengan karanganmu untuk melihat-lihat bid’ah dan memikirkan syubhat-syubhat itu, lalu mengajak manusia untuk meneliti dan berpendapat!”. Imam Ahmad ra juga berkata: “Ulama kalam adalah gerombolan orang zindiq”.

Dan Imam Malik ra berkata:
أهل البدع الذين يتكلمون فى أسماء الله وصفاته وكلامه وعلمه وقدرته لا يسكتون عما سكت عنه الصحابة والتابعون لهم بإحسان.
“Ahli bid’ah adalah orang-orang yang membicarakan nama-nama Allah, shifat-shifat-Nya, kalam-Nya, ilmu-Nya dan qudrat-Nya, mereka tidak diam dari perkara yang para sahabat dan tabi’in diam darinya”.

Dan Imam Malik ra berkata;
أرأيت إن جاءه من هو أجدل منه أيدع دينه كل يوم لدين جديد؟
“Bukankah kamu mengerti, ketika datang kepadanya orang yang lebih pandai berdebat darinya, apakah ia meninggalkan agamanya setiap hari untuk agama yang baru?”, yakni bahwa perkataan ahli kalam itu berbeda-beda dan bertingkat-tingkat. Dan Imam Malik ra berkata:

لا تجوز شهادة أهل البدع والأهواء.
“Kesaksian ahli bid’ah dan hawa itu tidak diterima”. Sebagian ashhabnya berkata dalam menakwili perkataan Imam Malik itu; “Ahli hawa yang dikehendaki oleh beliau adalah ahli kalam dari pengikut madzhab manapun”.

Dan Abu Yusuf rh berkata;
من طلب العلم بالكلام تزندق.
“Baranag siapa mencari ilmu kalam, maka ia menjadi zindiq”.

Dan Hasan Al-Bashri ra berkata;
لا تجادلوا أهل الأهواء ولا تجالسوهم ولا تسمعوا منهم.
“Janganlah kalian berdebat dengan ahli hawa [ahli kalam], janganlah kalian duduk bersama mereka, dan janganlah kalian mendengarkan mereka!”.

Semua kritik terhadap mutakallimin di atas bisa dilihat pada kitab al-Ihya’, Kitabu Qawaa’idil Aqaa’id, karya al-Ghazali, ( al-Ghazali, al-Ihya’, juz 1, hal 163-165, Darul Fikri, cetakan pertama, 1975 M). dan kitab al-Amru bil-Itba’ karya as-Suyuthi.

Dan Idrus Ramli berkata: “Dan keempat, pernyataan tersebut memberikan kesan yang cukup kuat bahwa al-Nabhani dan Hizbut Tahrir telah keluar dari golongan Ahlussunnah Wal-Jama’ah dan mayoritas kaum muslim”.

Benar, Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani dan Hizbut Tahrir telah keluar dari Ahlussunnah Waljama’ah, tapi Ahlussunnah Waljama’ah Mutakallimin (dalam terminologi theolog), bukan Ahlussunnah Waljama’ah ‘ala Rasulullah SAW dan para sahabatnya (dalam terminologi syara’). Karena terminilogi syara’ bagi Ahlussunnah Waljama’ah -seperti dipermulaan buku ini- adalah orang-orang yang meyakini (mengimani), mempraktekkan (mengamalkan) dan memperjuangkan (mendakwahkan) sunnah Nabi saw dan sunnah para sahabatnya. Justru para mutakallimin lah (dilihat dari sisi ilmu kalamnya) yang telah keluar dari Ahlussunnah Waljama’ah ‘ala Rasulullah SAW dan para sahabatnya, karena ilmu kalam itu sebagaimana telah saya kemukakan di atas tidak berasal dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Apalagi Hizbut Tahrir sebagai partai politik Islam ideologis, fikrah serta thariqahnya sedikitpun tidak menyimpang dari ajaran Islam yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Justru organisasi yang Idrus Ramli ada di dalamnya (dilihat dari sisi politiknya) yang telah keluar dariAhlussunnah Waljama’ah ‘ala Rasulullah SAW dan para sahabatnya, karena selalu menolak dan melakukan penggembosan dan penjegalan terhadap pendirian khilafah sebagai institusi politik Ahlussunnah Waljama’ah ‘ala Rasulullah SAW dan para sahabatnya, dan malah mendukung dan mengokohkan sistem politik kafir demokrasi-sekuler-kapitalis ‘ala Amerika dan sekutunya, padahal sistem politik ini juga telah menyimpang jauh dari sistem politik Ahlussunnah Waljama’ah Mutakallimin, bahkan termasuk sistem politik munafik, karena menggabungkan antara sistem Islam dan sistem kafir. Subhanallah!

Dan kalau kata Idrus Ramli Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir telah keluar dari mayoritas kaum muslimin, maka juga benar, tapi dari sisi pengetahuan dan keterikatannya dengan hukum-hukum syariat, karena mayoritas kaum muslim adalah orang awam yang tidak mengerti dan tidak terikat dengan hukum-hukum syariat, terutama hukum-hukum yang terkait politik Islam ideologis serta penerapannya dalam wadah daulah khilafah. Akan tetapi Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir sangat konsisten dalam mengikuti dan menerapkan (memperjuangkan) hukum-hukum syariat terkait yang telah dibawa, disampaikan dan diterapkan oleh mayoritas ulama kaum muslim dari semua generasi sepanjang lebih dari 13 abad sejak kepergian baginda Rasulullah SAW. Justru sangat ironis dan memalukan, Idrus Ramli beserta organisasi pendukungnya benar-benar talah keluar dari mayoritas ulama kaum muslim dalam hukum-hukum syariat terkait politik Islam ideologis serta penerapannya dalam wadah daulah khilafah, dan telah terjerumus ke dalam jurang mengikuti mayoritas kaum muslim awam yang jauh dari penerapan hukum-hukum syariat Islam dalam realita kehidupan, masyarakat dan negara. Subhanallah!

(Abulwafa Romli).

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,845 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: