//
you're reading...
Catatan & Analisis

PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (42) Hizbut Tahrir Mengkafirkan Kaum Muslim?

Gambar

Idrus Ramli berkata:
“Sikap yang paling baik dalam mengahadapi suatu persoalan adalah sikap moderat, netral dan tidak berlebih-lebihan. Sikap demikian ini akan dapat mengantarkan seseorang untuk mengambil keputusan secara bijak, adil, berimbang dan tidak memihak. Agama kita juga melarang bersikap ekstrem (ghuluw) dalam menghadapi persoalan, meskipun berkaitan dengan soal-soal agama. Karena tidak jarang sikap ekstrem menjerumuskan seseorang kedalam keputusan yang fatal dan merugikan diri sendiri. Nabi SAW bersabda:

عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إياكم والغلو في الدين، فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين.

Ibn Abbas berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Jauhilah sikap ekstrem (berlebih-lebihan) dalam agama, karena sesungguhnya yang mencelakakan orang-orang sebelum kamu adalah sikap ekstrem dalam agama”. (HR al-Nasai, (hadis no. 3007), Ibn Majah, (hadis no. 3020), Ahmad, (hadis no. 1754), dan dinilai shahih oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak, (hadis no. 1664).

Tegaknya khilafah Islamiyyah, sebagai simbol pemersatu umat Islam dan lambang kejayaan kaum muslim pada masa silam, memang diwajibkan dalam agama apabila kita mampu melakukannya. Namun berlebih-lebihan dan terlalu bersemangat dalam menyikapi khilafah, juga kurang baik dan dapat menjerumuskan kita pada sikap yang keliru. Tidak sedikit sikap ekstrem seseorang justru menjerumuskannya ke dalam jurang kesalahan yang sangat fatal. Seperti yang terjadi pada Taqiyyuddin al-Nabhani dalam pernyataannya berikut ini:

والقعود عن إقامة خليفة للمسلمين معصية من أكبر المعاصي، لأنها قعود عن القيام بفرض من أهم فروض الإسلام، بل و يتوقف عليه وجود الإسلام في معترك الحياة. {الشخصية الإسلامية، 2/12}.

“Berpangku tangan dari usaha mendirikan seoang khalifah bagi kaum muslimin adalah termasuk perbuatan dosa yang paling besar, karena hal tersebut berarti berpangku tangan dari melaksanakan di antara kewajiban Islam yang paling penting, bahkan wujudnya Islam dalam kancah kehidupan tergantung pada adanya khalifah”.

Tentu saja pernyataan al-Nabhani di atas sangat berlebih-lebihan. Dalam pernyataan di atas, al-Nabhani menganggap orang yang tidak ikut memperjuangkan visi dan misi Hizbut Tahrir tentang khilafah, berdosa besar. Menurutnya pula, ketika khilafah tidak ada, maka Islam pun tidak ada di muka bumi ini. Hal ini, berarti menurut al-Nabhani, ketika khilafah tidak ada, maka semua orang di muka bumi ini menjadi kafir, karena Islam mereka anggap tidak ada. Ini merupakan statemen al-Nabhani yang sangat ekstrem dan ceroboh.

Dalam bukunya, al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah dan al-Nizham al-Ijtimai fi al-Islam, al-Nabhani tidak pernah menyinggung kewajiban-kewajiban utama dalam Islam seperti membaca syahadat, menunaikan shalat, zakat, puasa dan haji. Al-Nabhani juga tidak pernah menyinggung dosa-dosa besar dan terbesar dalam Islam seperti kekufuran dan kesyirikan, membunuh orang dan lain-lain. Namun di bagian akhir bukunya al-Nabhani berlebih-lebihan dalam menyikapi khilafah, seakan tidak ada kewajiban lain yang lebih penting dari pada khilafah, dan tidak ada dosa lain selain berpangku tangan dari memperjuangkan tegaknya khilafah.

Urgensi khilafah dalam ranah politik Islam sebagai simbol pemersatu kaum muslimin dan lambang kejayaan umat Islam memang benar. Para ulama telah memaparkan pentingnya khilafah serta segala hal yang terkait dengannya dalam kitab-kitab mereka. Tetapi lebih penting dari itu, harus dijelaskan pula bahwa khilafah bukan termasuk rukun iman dan bukan pula rukun Islam.

Sedangkan pernyataan al-Nabhani di atas bahwa, “wujudnya Islam dalam kancah kehidupan tergantung pada adanya khalifah,” jelas keliru fatal dan tidak benar. Pernyataan tersebut memberikan makna bahwa, Islam itu ada kalau ada khalifah, dan Islam tidak ada ketika tidak ada khalifah. Pernyataan tersebut bermakna pula terhadap pengkafiran kaum muslimin di muka bumi sejak satu abad yang lalu, setelah sistem khilafah dihapus dari negara Turki. Demikian pula, pernyataan sebagian aktivis Hizbut Tahrir, la syari’ata illa bidaulah al-khilafah (Tidak ada syariat kecuali ada negara khilafah) dan pernyataan Hizbut Tahrir, la islama bila khilafatin (Tidak ada Islam tanpa khilafah).
Makna pernyataan di atas adalah pengkafiran terhadap seluruh kaum muslimin sejak satu abad yang silam, setelah khilafah tidak ada. Tentu saja pernyataan tersebut sangat ekstrem dan berlebih-lebihan… Bahkan menurut al-Imam Hujjatul Islam al-Ghazali, kajian tentang khilafah itu tidak terlalu penting. Dalam hal ini Hujjatul Islam al-Ghazali berkata:

النظر في الإمامة أيضاً ليس من المهمات، وليس أيضاً من فن المعقولات فيها من الفقهيات، ثم إنها مثار للتعصبات والمعرض عن الخوض فيها أسلم من الخائض بل وإن أصاب، فكيف إذا أخطأ.

“Kajian tentang imamah/khilafah bukan termasuk hal yang penting. Ia juga bukan termasuk studi ilmu rasional, akan tetapi termasuk bagian dari ilmu fiqih. Kemudian masalah imamah berpotensi melahirkan sikap fanatik. Orang yang menghindar dari menyelami soal imamah lebih selamat dari pada yang menyelaminya dengan benar, dan apalagi ketika salah dalam menyelaminya”. (Hizbut Tahrir dalam Sorotan, hal. 99-104).

Kemudian sebagaimana biasanya, Idrus Ramli menyampaikan dalil-dalil dari hadis dan al-Qur’an terkait iman dan Islam yang mengokohkan kesimpulannya lalu berkomentar:

“Dalam hadis-hadis diatas, Islam didefinisikan dengan amaliah-amaliah pokok dalam agama seperti mengesakan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan puasa. Terkadang Islam didefinisikan dengan keimanan, dan terkadang pula dengan budi pekerti yang luhur seperti perkataan yang indah dan menyuguhkan makanan kepada orang lain. Agaknya kita kesulitan menemukan teks al-Qur’an dan sunnah atau perkataan ulama yang mendefinisikan Islam dengan khilafah yang memang bukan ajaran pokok dalam agama. Oleh karena wujudnya khilafah dalam Islam bukan termasuk kewajiban pokok, para ulama mengatakan bahwa mengangkat seorang khalifah itu wajib ketika umat Islam mampu melakukannya. Dalam konteks ini al-Imam Abu al-Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah al-Juwaini yang menyandang gelar Imam al-Haramain berkata:

فنصب الإمام عند الإمكان واجب.
“Mengangkat seorang imam adalah wajib ketika mampu melakukan”.
Dewasa ini kaum muslimin tidak memiliki khalifah, karena memang tidak mampu melakukannya. Suatu kewajiban akan menjadi gugur ketika tidak mampu dilakukan…” (Ibid, hal. 108-110).

MEMBONGKAR PAT :

Untuk memudahkan para pembaca, bantahan ini akan terbagi menjadi lima bagian:

Pertama, terkait pernyataan Syaikh Taqiyyuddin yang dipermasalahkan oleh Idrus Ramli;

والقعود عن إقامة خليفة للمسلمين معصية من أكبر المعاصي، لأنها قعود عن القيام بفرض من أهم فروض الإسلام، ، بل و يتوقف عليه وجود الإسلام في معترك الحياة.

“Berpangku tangan dari usaha mendirikan seoang khalifah bagi kaum muslimin adalah termasuk perbuatan dosa yang paling besar, karena hal tersebut berarti berpangku tangan dari melaksanakan di antara kewajiban Islam yang paling penting, dan bahkan wujudnya Islam dalam kancah kehidupan tergantung pada adanya khalifah”.

Di situ ada redaksi yang dibuang dan terjemahan yang dikorupsi. Padahal redaksi dan terjemahan yang tepat adalah sebagai berikut;

والقعود عن إقامة خليفة للمسلمين معصية من أكبر المعاصي، لأنها قعود عن القيام بفرض من أهم فروض الإسلام، ويتوقف عليه إقامة أحكام الدين، بل يتوقف عليه وجود الإسلام في معترك الحياة. {الشخصية الإسلامية، 2/12}.

“Berpangku tangan dari usaha mendirikan seoang khalifah bagi kaum muslimin adalah termasuk maksiat diantara maksiat-maksiat yang paling besar, karena hal tersebut berarti berpangku tangan dari melaksanakan kewajiban di antara kewajiban-kewajiban Islam yang paling penting dan tergantung padanya penegakkan hukum-hukum agama, bahkan wujudnya Islam dalam kancah kehidupan tergantung pada kewajiban itu”.

Sehingga dengan redaksi dan terjemah seperti ini kesimpulannya sangat berbeda dengan kesimpulan Idrus Ramli. Kesimpulannya adalah: 1) Berpangku tangan dari menegakkan khalifah adalah maksiat diantara maksiat-maksiat yang paling besar. Berarti masih banyak maksiat yang paling besar selain dari padanya seperti syirik, sihir, zina, membunuh dll. 2) Karena termasuk berpangku tangan dari melaksanakan kewajiban di antara kewajiban-kewajiban Islam yang paling besar. Berarti masih banyak kewajiban Islam yang paling besar selain dari padanya seperti shalat, puasa, zakat dll. 3) Penegakkan hukum-hukum agama bergantung pada kewajiban itu, yaitu hukum-hukum yang terkait kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ini dapat dipahami dari redaksi setelahnya. Jadi menegakkan khilafah termasuk kewajiban yang paling besar karena kewajiban yang paling besar yang lain bergantung kepadanya, yaitu kewajiban menerapkan hukum-hukum Allah dalam realita kehidupan bermasyarakat dan bernegara seperti hudud dll. Dan 4) Wujudnya Islam dalam kancah kehidupan bergantung pada kewajiban itu, yaitu wujudnya hukum-hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Jadi arti kehidupan dalam kitab-kitab Hizbut Tahrir adalah kehidupan bermasyarakat dan bernegara, atau kehidupan politik dan berpolitik, bukan hanya kehidupan pribadi atau individu.

Sedangkan kenapa Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir dalam sejumlah kitabnya tidak menuturkan kewajiban-kewajiban besar yang lain dan tidak pula menuturkan dosa-dosa besar yang lain? Jawabannya karena, 1) Mencukupkan diri dengan kitab-kitab terkait yang telah ditulis oleh para ulama yang lain. 2) Hizbut Tahrir adalah partai politik Islam ideologis dan Syaikh Taqiyyuddin adalah pendirinya, maka kitab-kitabnya pun harus yang dibutuhkan dan terkait dengan politik dan ideologi Islam.

Akan tetapi secara pribadi, para syabab Hizbut Tahrir termasuk Syaikh Taqiyyuddin juga telah menulis kitab-kitab yang lain yang menjelaskan kewajiban-kewajiban besar dan dosa-dosa besar yang lain, dan saya juga telah menulis kitab Iqadzul Himah litaqwiyah al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah yang di antara isinya menjelaskan kewajiban-kewajiban dan dosa-dosa besar yang lain. Dan perlu diketahui bahwa dalam dunia tashnif dan ta’lif, penulisan isi kitab adalah hak pribadi penulis dan sesuai kebutuhan yang menjadi motifnya. Dan juga perlu diketahui bahwa para mushannif dan muallif itu saling melengkapi antara satu sama lainnya. Maka kitab-kitab yang ditulis oleh Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir juga oleh para syababnya pada dasarnya adalah melengkapi hazanah tsaqafah Islam yang telah ditulis oleh para ulama terdahulu. Jadi bukan kesalahan yang harus dipermasalahkan apalagi dosa yang harus dikritik, dibenci dan dicaci-maki, ketika seorang mushannif atau muallif dalam kitabnya tidak menjelaskan ini dan itu.
Dengan demikian, dapat kita pastikan bahwa redaksi pernyataan Syaikh Taqiyyuddin dan terjemahnya yang telah disampaikan, dikurangi dan dikorupsi oleh Idrus Ramli seperti di atas adalah kesalahan dari Idrus Ramli. Maka semua kesimpulan pokok, kesimpulan cabang dan kesimpulan rantingnya pun ikut salah, karena semuanya hanyalah pengikut dari yang diikuti yang juga salah. Apalagi Idrus Ramli terlalu ekstrem dan berlebih-lebihan dalam membuat semua kesimpulannya.

Kedua, terkait fardhu kifayah serta karakternya. Bukan hal yang asing bagi para ulama Ahlussunnah Waljamaah dan para aktivis Hizbut Tahrir bahwa menegakkan khilafah dan mengangkat khalifah adalah fardhu kifayah, fardhu ‘alal kifayah atau fardhu ‘alal muslimin atau ‘ala jami’il muslimin. Dalam hal ini Imam Nawawi berkata:

لا بد للأمة من إمام يقيم الدين وينصر السنة وينتصف للمظلومين ويستوفي الحقوق ويضعها مواضعها. قلت: تولي الإمامة فرض كفاية…

“Umat Islam harus memiliki Imam (khalifah) yang menegakkan agama, menolong sunnah, memberi keadilan kepada orang-orang yang teraniaya, menyempurnakan serta meletakkan sejumlah hak pada tempatnya. Aku berkata: “Mengatur imamah adalah fardhu kifayah…..” (Al-Nawawi, Raudhatut Thalibiin wa ‘Umdatul Muftiin, juz III, hal. 433, al-Maktabah al-Syamilah).

Abu Yahya Zakaria al-Anshari berkata:
(فصل) في شروط الامام الاعظم، وفي بيان طرق انعقاد الامامة، وهي فرض كفاية كالقضاء…
“(Fasal) Syarat-syarat Imam Agung (khalifah) dan menjelaskan metode legalitas imamah. Imamah adalah fardhu kifayah seperti pengadilan…..” (Abu Yahya Zakaria al-Anshari, Fathul Wahhab, juz II, hal. 268, al-Maktabah al-Syamilah).

Dan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani berkata:
وإقامة خليفة فرضٌ على كافة المسلمين في جميع أقطار العالم. والقيام به -كالقيام بأي فرض من الفروض التي فرضها الله على المسلمين…
“Menegakkan khalifah adalah fardhu atas semua kaum muslim (fardhu kifayah) di semua penjuru dunia. Sedang melaksanakannya itu seperti halnya melaksanakan fardhu yang lain dari sejumlah fardhu yang telah difardhukan oleh Allah atas kaum muslim…..” (Al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz II, hal. 15, cetakan ke III, 1994 M. Daar al-Ummah, Berut).

Dan terkait karakter fardhu kifayah, Syarif Ali bin Muhammad al-Jarjani dalam kitab al-Ta’rifat-nya berkata:

وفرض الكفاية: ما يلزم جميع المسلمين إقامته ويسقط بإقامة البعض عن الباقين كالجهاد وصلاة الجنازة.
“Fardhu kifayah ialah perkara dimana semua kaum muslim berkewajiban menegakkannya, dan dengan ditegakkan oleh sebagian kaum muslim,dosanya gugur dari kaum muslim yang lainnya, seperti jihad dan shalat janazah”.

Dan komunitas ulama al-Azhar berkata:
فرض كفاية متى قام به البعض سقط عن الباقين وإذا تركه الجميع أثموا….
“Fardhu kifayah kapan saja ada sebagian (dari kaum muslim) yang telah melaksanakannya, maka (dosanya) gugur dari sebagian yang lainnya,dan apabila mereka semua meninggalannya, maka semuanya berdosa…..” (Fatawa al-Azhar, jus I, hal. 185, al-Maktabah al-Syamilah).

Dan komunitas ulama Hijaz berkata:
صلاة العيدين فرض كفاية؛ إذا قام بها من يكفي سقط الإثم عن الباقين…
“Shalat ‘idul fitri dan ‘idul adhha adalah fardhu kifayah dimana ketika telah dilaksanakan oleh orang-orang yang mencukupi, maka dosanya gugur dari orang-orang yang lain… ” (Fatawa al-Lajnah al-Daaimah lil buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’, juz X, hal. 289,al-Maktabah al-Syamilah).

Dan Sayyid Abu Bakar al-Bakri bin Sayyid Muhammad Shatha al-Dimyathi berkata:
وقولهم فرض الكفاية يسقط بفعل واحد: معناه يسقط الاثم به.
“Pernyataan ulama “Fardhu kifayah gugur dengan pekerjaan satu orang (seperti mengurus janazah)”, maknanya dosanya gugur denga pekerjannya… ”. (I’anatuh al-Thalibiin, juz II, hal. 150,al-Maktabah al-Syamilah).

Dan Imam Nawawi berkata:
وان فرض الكفاية إذا فعله من حصل به المطلوب سقط الحرج عن الباقين والا اثموا كلهم…
“Dan bahwa fardhu kifayah ketika telah dikerjakan oleh orang yang bisa menghasilkan tuntutan, maka dosa itu gugur dari orang-orang yang lain, dan apabila tidak ada yang mengerjakan (sampai selesai), maka semua kaum muslim berdosa…” (Al-Majmu’, juz I, hal. 32,al-Maktabah al-Syamilah).

Dalam bagian lain Imam Nawawi berkata:
لان فرض الكفاية واجب علي جميعهم ولكن يسقط الحرج بفعل البعض ولهذا لو تركوه كلهم عصوا…
“Karena fardhu kifayah itu wajib atas semua kaum muslim, tetapi dosanya gugur dengan pekerjaan sebagian mereka, oleh karena ini, apabila mereka semua meninggalkannya, maka semuanya maksiat… (Ibid, juz V, hal. 3).

Dan pada bagian lain Imam Nawawi berkata:
ومعني فرض الكفاية انه إذا فعله من فيه كفاية سقط الحرج عن الباقين وان تركوه كلهم اثموا …
“Konotasi fardhu kifayah ialah apabila telah dikerjakan oleh orang yang mencukupi, maka dosanya gugur dari orang-orang yang lain, dan apabila meraka semua meninggalkannya, maka semuanya berdosa…..” (Ibid, juz V, hal. 128).

Dan al-‘Allamah Zainuddin al-Malaibari berkata:
وحكم فرض الكفاية أنه إذا فعله من فيهم كفاية سقط الحرج عنه وعن الباقين، ويأثم كل من لا عذر له من المسلمين إن تركوه وإن جهلوا،…..
“Hukum fardhu kifayah ialah ketika telah dikerjakan oleh orang-orang yang bisa mencukupi, maka dosanya gugur darinya juga dari orang-rang yang lain, dan setiap orang muslim yang tidak memiliki udzur itu berdosa ketika mereka meninggalkannya meskipun mereka bodoh,…..” (Lihat; Fathul Mu’in, juz IV, hal. 206, al-Maktabah al-Syamilah.

Dengan mengutif sejumlah pernyataan ulama di atas terkait fardhu kifayah serta karakternya, maka pernyataan Syaikh Taqiyyuddin yang dipermasalahkan oleh Idrus Ramli di atas adalah pernyataan yang sesuai dengan realita dan karakter fardhu kifayah yang sebenarnya, yang padanya tidak terselip sedikitpun sikap ekstrem dan berlebih-lebihan, sebagaimana kesimpulan Idrus Ramli yang sangat ekstrem dan berlebih-lebihan. Jadi sebenarnya yang sangat ekstrem dan berlebiha-lebihan adalah Idrus Ramli sendiri, bukan Syaikh Taqiyyuddin atau Hizbut Tahrir.

Ketiga, terkait pengkafiran (takfir). Sebenarnya bantahannya sudah cukup dari bagian bantahan pertama, yaitu terkait pernyataan Syaikh Taqiyyuddin yang dipermasalahkan oleh Idrus Ramli. Saya sendiri telah membantahnya dalam buku “Ketika Pirus Liberal Menggerogoti Pondok Pesantren, Sebagai Bantahan Atas Majalah Ijtihad Sidogiri”. Akan tetapi di sini perlu saya sampaikan bahwa tuduhan Idrus Ramli terhadap Hizbut Tahrir terkait pengkafiran adalah murni dari kebodohan Idrus Ramli sendiri dalam memahami dan menyimpulkan pernyataan Syaikh Taqiyyuddin di atas, atau sengaja merekayasa, berdusta, memitnah dan memprovokasi terhadap Hizbut Tahrir yang telah menjadi karakter Idrus Ramli. Idrus Ramli salah dalam memahami pernyataan Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani ;

….، بل يتوقف عليه وجود الإسلام في معترك الحياة.
“….., bahkan wujudnya Islam dalam kancah kehidupan tergantung pada kewajiban itu”.Dan dalam memahami sebuah syair dan nasyid yang biasa dikumandangkan oleh para syabab Hizbut Tahrir;

لا إسلام إلا بالشريعة، ولا شريعة إلا بالدولة، دولة الخلافة الراشدة
“Tidak ada Islam kecuali dengan syariah, dan tidak ada syariah kecuali dengan negara, negara khilafah rasyidah”.

Dan pernyataan syabab Hizbut Tahrir;
لا إسلام بلا خلافة
“Tidak ada Islam dengan tanpa khilafah”.

Sehingga dipahami dan disimpulkan oleh Idrus Ramli sebagai pengkafiran terhadap semua kaum muslim diseluruh dunia sejak runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah melalui tangan Musthafa Kemal terlaknat. Padahal makna ‘kehidupan’ dalam istilah Hizbut Tahrir adalah kehidupan bermasyarakat dan bernegara, yaitu kehidupan umum, bukan kehidupan pribadi atau kehidupan di dalam masjid, mushalla dan pondok pesantren. Dan arti “La Islama illa bi al-Syari’ah wa la Syari’ata illa bi al-Daulah, Daulah al-Khilafah al-Rasyidah”adalah “Tidak ada Islam sempurna kecuali dengan penerapan syariat secara total, dan tidak ada penerapan syariat secara total kecuali dengan negara, yaitu negara khilafah rasyidah”, dan arti “La Islama bila khilafah” adalah “Tidak ada Islam sempurna tanpa negara khilafah”, yaitu dengan menakdirkan makna ‘sempurna’. Dan dalam hal yang serupa, Rasulullah SAW juga sering bersabda:

لا صلاة لجار المسجد إلا في المسجد. رواه الدارقطني عن جابر وعن أبي هريرة.
“Tidak ada shalat (sempurna) bagi tetangga masjid kecuali di masjid”.

لا صلاة بحضرة طعام ولا وهو يدافعه الأخبثان. رواه مسلم وأبو داود عن عائشة
“Tidak ada shalat (sempurna) di hadapan makanan, dan tidak (pula ada shalat sempurna) sedangkan ia menahan dua perkara buruk (buang angin dan buang air)”.

لا إعتكاف إلا بصيام. رواه الحاكم والبيهقي عن عائشة.
“Tidak ada I’tikaf (sempurna) kecuali dengan puasa”.

لا إيمان لمن لا أمانة له ولا دين لمن لا عهد له. رواه أحمد وابن حبان عن أنس.
“Tidak ada iman (sempurna) bagi orang yang tidak menjaga amanat, dan tidak ada agama (sempurna) bagi orang yang tidak menepati janji”, dan seterusnya.

Jadi Idrus Ramli sangat gegabah, ekstrem dan berlebihan dalam menyimpulkan pernyataan-pernyataan Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir di atas, akibatnya ia terjatuh ke dalam kesalahan yang fatal dan menyesatkan.

Keempat, terkait pernyataan Imam Ghazali sebagaimana disampaikan oleh Idrus Ramli di atas;

النظر في الإمامة أيضاً ليس من المهمات، وليس أيضاً من فن المعقولات فيها، بل من الفقهيات، ثم إنها مثار للتعصبات والمعرض عن الخوض فيها أسلم من الخائض بل وإن أصاب، فكيف إذا أخطأ.
“Kajian tentang imamah (khilafah) bukan termasuk hal yang penting. Ia juga bukan termasuk studi ilmu rasional, akan tetapi termasuk bagian dari ilmu fiqih. Kemudian masalah imamah berpotensi melahirkan sikap fanatik. Orang yang menghindar dari menyelami soal imamah lebih selamat dari pada yang menyelaminya dengan benar, dan apalagi ketika salah dalam menyelaminya.”

Imam Ghazali pada pernyataannya memakai kata “al-Nazhru fil Imamah” yang oleh Idrus Ramli diterjemahkan dengan “Kajian tentang imamah”. Padahal juga bisa diterjemahkan dengan “Merenungkan/memikirkan tentang imamah”, dengan arti dibuat tafakkur,yang dalam hemat saya lebih tepat, karena dilihat dari pernyataan al-Ghazali sebelumnya, yaitu;

بل المهم أن ينفي الانسان الشك عن نفسه في ذات الله تعالى، على القدر الذي حقق في القطب الأول، وفي صفاته وأحكامها كما حقق في القطب الثاني، وفي أفعاله بأن يعتقد فيها الجواز دون الوجوب كما في القطب الثالث، وفي رسول الله صلى الله عليه وسلم بأن يعرف صدقه ويصدقه في كل ما جاء به كما ذكرناه في القطب الرابع، وما خرج عن هذا فغير مهم. {الاقتصاد في الاعتقاد، 1 / 70}.

“Tetapi yang penting adalah seorang manusia menyingkirkan keraguan dari dirinya tentang Zat Allah sesuai kadar yang telah ditetapkan pada poros pertama, tentang sifat-sifat-Nya serta hukum-hukumnya sebagaimana telah ditetapkan pada poros kedua, tentang af’al(perbuatan)-Nya, dengan meyakininya sebagai kewenangan, bukan kewajiban (atas Allah) sebagaimana telah ditetapkan pada poros ketiga, dan tentang Rasulullah SAW, dengan mengetahui kebenarannya serta membenarkannya pada semua perkara yang telah dibawanya, sebagaimana telah kami tuturkan pada poros keempat, dan selain itu adalah tidak penting”. (Al-Iqtishad fil I’tiqad, juz I, hal. 70, al-Maktabah al-Syamilah).

Dengan demikian, kita dapat mengetahui perkara yang dianggap penting oleh Imam Ghazali dalam kitab terkaitnya, yaitu perkara yang berhubungan dengan keyakinan terhadap Zat, Sifat dan Af’al Allah, juga dengan mengetahui kebenaran utusan-Nya serta membenarkan semua perkara yang dibawa oleh utusan-Nya. Ini berarti ‘Tahlilan’ (berdzikir la ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah) setiap saat. Berarti kajian tentang shalat, puasa, zakat, dll. juga tidak penting, sama tidak pentingnya dengan kajian tentang imamah. Apalagi kajian-kajian oleh LBM NU Jember di mana Idrus Ramli sebagai salah satu aktivisnya, kalau pernyataan Imam Ghazali itu dimakan mentah-mentah, maka sangat tidak penting.

Imam Ghazali dalam pernyataannya memakai kata ¬al-Nazhru yang kalau diartikan dengan merenungi dan memikirkan, yang bisa dilakukan setiap saat, dan aktifitas ini hanya baik dilakukan dan dianggap penting ketika terkait dengan empat perkara di atas, yaitu terkait ketuhanan dan kerasulan. Artinya sudahkah kita mengimani Allah dan Rasul-Nya dengan keimanan yang benar? Sudahkah kita mengimani dan mengamalkan semua yang telah dibawa dan disampaikan oleh Rasulullah dari Allah? Ini yang penting direnungi dan dipikirkan setiap saat. Dan kita telah mengerti bahwa shalat, puasa, sampai menegakkan khilafah untuk menerapkan hukum-hukum Allah yang telah dibawa dan disampaikan oleh Rasulullah adalah kewajiban besar yang harus kita kerjakan, karena semuanya termasuk perkara yang telah dibawa dan disampaikan oleh Rasulullah dari Allah. Maka yang penting terkait shalat, puasa sampai menegakkan khilafah adalah melaksanakannya dengan baik dan ikhlas, tidak perlu direnungi dan dipikirkan setiap saat. Justru yang lebih sangat tidak penting adalah penggembosan terhadap Hizbut Tahrir yang sedang berdakwah untuk menegakkan khilafah untuk menerapkan syariat secara sempurna, tetapi kenapa Idrus Ramli dkk terus menerus melakukannya. Apakah sudah lupa dengan pernyataan Imam Ghazali di atas?

Atau makna al-Nazhru adalah benar seperti disampaikan oleh Idrus Ramli, yaitu ‘kajian/mengkaji’, akan tetapi yang dimaksud bukan kajian terhadap kewajiban menegakkan khilafah dan mengangkat khalifahnya, tetapi kajian terhadap siapa khalifahnya, layak apa tidak, adil apa zhalim, sah apa tidak. Jadi kajian menyangkut pribadi khalifahnya. Jadi ini yang dapat menimbulkan sikap fanatik terhadap seseorang yang menjabat sebagai khalifah dan dianggap berbahaya. Apalagi kalau dilakukan oleh orang-orang Syiah yang sangat fanatik kepada keturunan Sayyidina Ali RA, sehingga menganggap yang lain tidak sah. Sebagaimana kajian terhadap siapa presidennya, layak apa tidak, sah apa tidak dan adil apa zhalim, dilakukan pada masa orde baru yang diktator, ini sangat berbahaya dan berisiko, karena dapat mengusik ketenangan dan kewibawaan presiden, dan membuat marah orang-orang yang selama ini fanatik kepada presiden.

Apalagi kalau kita menelaah pernyataan Imam Ghazali setelahnya;
النظر فيه يدور على ثلاثة أطراف: الطرف الأول: في بيان وجوب نصب الإمام.
ولا ينبغي أن تظن أن وجوب ذلك مأخوذ من العقل، فإنا بينا أن الوجوب يؤخذ من الشرع….. ، ولكنا نقيم البرهان القطعي الشرعي على وجوبه ولسنا نكتفي بما فيه من إجماع الأمة، بل ننبه على مستند الإجماع ونقول: نظام أمر الدين مقصود لصاحب الشرع عليه السلام قطعاً، وهذه مقدمة قطعية لا يتصور النزاع فيها، ونضيف إليها مقدمة أخرى وهو أنه لا يحصل نظام الدين إلا بإمام مطاع فيحصل من المقدمتين صحة الدعوى وهو وجوب نصب الإمام.{الاقتصاد في الاعتقاد:75}.

“Kajian tentang imamah itu berkisar menjadi tiga kelompok: Kelompok pertama dalam menjelaskan kewajiban mengangkat imam (khalifah).
Tadak layak anda berasumsi bahwa kewajiban itu diambil dari akal. Sesungguhnya kami telah menjelaskan bahwa kewajiban itu diambil dari syara’ (agama/Islam)…, akan tetapi kami akan menegakkan bukti syara’ yang pasti atas kewajiban itu, dan kami tidak mencukupkan diri dengan kewajibannya dari ijmak umat Islam, tetapi kami akan memperingatkan terhadap sandaran ijmak itu. Kami berkata: “Pengaturan perkara agama itu dikehendaki oleh pemilik syara’ SAW secara pasti, ini adalah premis yang pasti yang tidak terbayangkan ada perselisihan padanya. Dan kami menambahkan kepadanya premis yang lain, yaitu; Sesungguhnya pengaturan agama tidak akan berhasil kecuali dengan seorang imam yang ditaati. Lalu dari dua premis itu terjadilah kebenaran dakwa berupa kewajiban mengangkat imam”. (Ibid, juz I, hal. 75).

Dari pernyataan ini, saya dapat menyimpulkan bahwa dalam pandangan Imam Ghazali mengangkat khalifah adalah kewajiban agama yang dalilnya pasti (qath’iy), bahkan termasuk dalilnya adalah Ijmak. Oleh karena itu, tidak sedikit dari Ulama Ahlussunnah Waljama’ah yang memasukkan pembahasan imamah ke dalam kitab-kitab aqidah, yang diantaranya adalah kitab al-Hushun al-Hamidiyyah yang banyak dikaji di pondok-pondok pesantren, karena dalil wajibnya menegakkan khalifah adalah dalil yang qath’iy seperti dalil akidah yang harus qath’iy.

Dan kita telaah pula pernyataan Imam Ghazali setelahnya:
ولهذا قيل: الدين والسلطان توأمان، ولهذا قيل: الدين أس والسلطان حارس وما لا أس له فمهدوم وما لا حارس له فضائع…..، فبان أن السلطان ضروري في نظام الدنيا، ونظام الدنيا ضروري في نظام الدين، ونظام الدين ضروري في الفوز بسعادة الآخرة وهو مقصود الأنبياء قطعاً، فكان وجوب نصب الإمام من ضروريات الشرع الذي لا سبيل إلى تركه فاعلم ذلك. {الاقتصاد في الاعتقاد،1 / 76}.

“Oleh karena itu, dikatakan: “Agama dan kekuasaan adalah saudara kembar”, dan karena itu, dikatakan: “Agama adalah pondamen dan kekuasaan adalah penjaga. Apa saja yang tidak memiliki pondamen akan roboh, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang….. Maka telah nyata bahwa kekuasaan itu dibutuhkan dalam pengaturan dunia, pengaturan dunia dibutuhkan dalam pengaturan agama, dan pengaturan agama dibutuhkan dalam meraih kebahagiaan akhirat sebagai tujuan para nabi secara pasti. Jadi kewajiban mengangkat imam (khalifah) adalah termasuk kebutuhan syara’ di mana tidak ada jalan untuk meninggalkannya. Maka ketahuilah hal itu!” (Ibid, juz I, hal. 76).

Dengan demikian telah nyata bahwa pencomotan pernyataan Imam Ghazali oleh Idrus Ramli di atas, untuk menghantam Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir-nya adalah salah sasaran, dan merupakan sikap ekstrem dan berlebih-lebihan yang keterlaluan. Justru pernyataan al-Ghazali secara lengkap telah menghantam orang-orang yang selama ini elergi terhadap perjuangan menegakkan khilafah seperti halnya Idrus Ramli sendiri.

Kelima, terkait kemampuan umat Islam dalam menegakkan khilafah.
Di atas Idrus Ramli telah buruk sangka terhadap tiga pihak; kepada Allah, kepada Hizbut Tahrir dan kepada kaum muslim. Buruk sangka kepada Allah, karena Idrus Ramli telah berasumsi bahwa khilafah itu tidak mungkin dapat ditegakkan, artinya hukum-hukum Allah tidak dapat diterapkan, karena kaum muslim tidak mampu menegakkannya. Asumsi ini keliru, karena Allah tidak akan membebani kaum muslim dengan sesuatu yang diluar kemampuannya. Artinya kalau Allah menyuruh kaum muslim untuk menerapkan hukum-hukum-Nya melalui penegakkan khilafah, berarti Allah telah mengerti bahwa kaum muslim mampu malaksanakannya. Maka persoalannya kaum muslim mau apa tidak untuk melaksanakannya, bukan mampu atau tidaknya. Buruk sangka kepada Hizbut Tahrir, karena sama halnya dengan menuduh bahwa Hizbut Tahrir telah mengajak kaum muslim untuk melaksanakan sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Dan buruk sangka kepada kaum muslim yang di dalamnya ada Hizbut Tahrir, karena menuduh bahwa kaum muslim tidak mampu untuk menerapkan syariat Islam secara total melalui penegakkan khilafah.

Sesungguhnya penegakkan kembali daulah khilafah adalah perkara yang mudah bagi kaum muslim. Sedang yang sulit adalah mengajak kaum muslim agar mau menegakkan khilafah. Seandainya mereka semua atau setengahnya saja mau bergerak bersama-sama untuk menegakkan khilafah, maka tidak perlu memakan waktu bertahun-tahun, tetapi dalam hitungan bulan, bahkan dalam hitungan minggu saja khilafah akan segera berdiri. Bahkan saya berasumsi bahwa ketika Hizbut Tahrir telah memiliki anggota sebesar warga Muhammadiyyah atau NU, insya Allah khilafah bisa tegak di Nusantara ini. Jadi masalah kenapa khilafah sampai saat ini belum bisa berdiri adalah karena kaum muslim belum mau diajak mendirikannya, bukan karena mereka tidak mampu mendirikannya. Sedangkan kenapa kaum muslim belum mau diajak mendirikan khilafah, maka karena beberapa paktor yang di antaranya adalah karena orang-orang seperti Idrus Ramli masih terus bergerilya untuk melakukan penggembosan terhadap para pejuang khilafah. Juga sebagai bukti bahwa kaum muslim masih belum mau diajak mendirikan khilafah adalah fakta dakwah Hizbut Tahrir yang kesulitan mengajak mereka berbaris dan bergerak bersama-sama untuk mendirikan khilafah, bahkan mayoritas mereka menolak dan melakukan penggembosan dengan berbagai cara yang tidak dibenarkan oleh agama terhadap dakwah itu.

Maka dengan realita kaum muslim yang seperti itu, tidaklah ekstrem dan berlebihan kalau Syaikh Taqiyyuddin menyatakan:

والقعود عن إقامة خليفة للمسلمين معصية من أكبر المعاصي، لأنها قعود عن القيام بفرض من أهم فروض الإسلام، ويتوقف عليه إقامة أحكام الدين، بل يتوقف عليه وجود الإسلام في معترك الحياة. {الشخصية الإسلامية، 2/12}.
“Berpangku tangan dari usaha mendirikan seorang khalifah bagi kaum muslimin adalah termasuk maksiat diantara maksiat-maksiat yang paling besar, karena hal tersebut berarti berpangku tangan dari melaksanakan kewajiban di antara kewajiban-kewajiban Islam yang paling penting dan tergantung padanya penegakkan hukum-hukum agama, bahkan wujudnya Islam dalam kancah kehidupan tergantung pada kewajiban itu”.Dan dalam bagian lain beliau menyatakan:

وإقامة خليفة فرضٌ على كافة المسلمين في جميع أقطار العالم. والقيام به -كالقيام بأي فرض من الفروض التي فرضها الله على المسلمين- هو أمر محتّم لا تخيير فيه ولا هوادة في شأنه، والتقصير في القيام به معصية من أكبر المعاصي يعذِّب الله عليها أشد العذاب. {الشخصية الإسلامية، 1 / 6}.
“Menegakkan khalifah adalah fardhu atas semua kaum muslim di semua penjuru dunia. Melaksanakan fardhu itu –seperti halnya melaksanakan fardhu yang lain di antara fardhu-fardhu yang telah difardhukan oleh Allah- adalah perkara yang telah dipastikan yang tidak ada pilihan padanya, dan pula tidak ada belas kasih pada urusannya. Sedangkan kelalaian dalam melaksanakannya adalah maksiat diantatara maksiat-maksiat yang paling besar di mana Allah akan menyiksa terhadapnya dengan siksaan yang amat berat”.

Karena pernyataan itu sesuai bobot dan karakter fardhu kifayahnya. Dan pernyataan itu juga pernyataan yang bersifat umum (ta’mim) yang dibolehkan, tidak bersifat khusus (takhshish) yang dilarang dengan menunjuk langsung batang hidung seseorang. Dan terkait ta’mim dan takhshish, saya telah menjelaskannya dalam buku “Ketika Virus Liberal Menggerogoti Pondok Pesantren”, yaitu pada bantahan terkait takfir (pengkafiran), maka di sini tidak perlu mengulanginya.

(Abulwafa Romli).

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,845 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: