//
you're reading...
Catatan & Analisis

PEMIKIRAN ASWAJA TOPENG (43) Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani Mendorong Berfatwa Tanpa Ilmu?

Gambar
Pada tuduhan miring kali ini, Idrus Ramli sebagaimana halnya Syaikh al-Fattan Abdullah Al-Harari al-Ahbasy dalam kitab al-Gharah-nya melemparkan tuduhan miring terhadap Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, bahwa beliau telah mendorong kaum muslim, terutama para aktivis Hizbut Tahrir, untuk berfatwa tanpa ilmu, hanya dengan landasan petikan potongan pernyataan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dalam kitab al-Tafkir-nya sebagai berikut:

و(إن الإنسان) متى أصبح قادراً على الاستنباط فإنه حينئذ يكون مجتهداً، ولذلك فإن الاستنباط أو الاجتهاد ممكن لجميع الناس وميسر لجميع الناس، ولا سيما بعد أن أصبح بين يدي الناس كتب في اللغة العربية والشرع الإسلامي.

“(Sesungguhnya seseorang) apabila telah mampu melakukan ber-istinbath, maka ia sudah menjadi mujtahid. Oleh karena itu sesungguhnya istinbath atau ijtihad itu mungkin dilakukan oleh semua orang dan mudah dicapai oleh siapa saja yang menginginkan lebih-lebih sesudah buku-buku bahasa Arab dan buku-buku syariat Islam telah tersedia di hadapan banyak orang dewasa ini”.

Setelah memberi kesimpulannya, Idrus Ramli berkata: “Pernyataan tersebut sangat berpotensi membuka pintu fatwa dengan tanpa ilmu dan tanpa mengetahui syarat-syarat ijtihad serta sangat berpotensi menimbulkan kekacauan dalam urusan agama dengan banyaknya orang-orang yang berfatwa tanpa didukung oleh ilmu pengetahuan agama yang memadai.”

Selanjutnya Idrus Ramli mengutarakan syarat-syarat ijtihad. Seakan-akan hanya dia sendiri yang mengetahuinya. Padahal Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir-nya juga telah mengutarakan syarat-syarat ijtihad dengan sangat lengkap dan mendetil daripada yang disampaikan oleh Idrus Ramli, seperti dijelaskan dalam kitab Syakhshiyyah Islamiyyah juz 1 dan 3, dll. Lebih ekstrem lagi Idrus Ramli berkata:

“Seorang alim bisa dikatagorikan sebagai mujtahid apabila telah diakui oleh para ulama dan telah memenuhi syarat-syarat berijtihad. Sementara tidak seorangpun dari kalangan ulama yang mengakui Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani telah memenuhi syarat-syarat ijtihad sebagai mujtahid atau bahkan hanya mendekati saja derajat seorang mujtahid tidak ada yang mengakui. Sehingga ketika keilmuan seseorang tidak diakui oleh para ulama, maka keilmuannya sama dengan tidak ada. Dan ini berarti Syaikh al-Nabhani bukanlah seorang mujtahid atau mendekatinya”. (Lihat; Hizbut Tahrir dalam Sorotan, hal. 111-116).

MEMBONGKAR PAT:
Pembongkaran ini akan terbagi menjadi dua bagian:

Pertama,Idrus Ramli seperti biasanya hanya mengutif sebagian dari pernyataan Syaikh Taqiyyuddin lalu menyimpulkan sebagian itu dengan hawa nafsunya yang dipenuhi kebencian terhadap Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir, sehingga menjadi kesimpulan yang sangat ekstrem dan berlebihan lalu kesimpulan tersebut dilemparkan kepada Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir. Padahal redaksi pernyataan Syaikh Taqiyyuddin sebelumnya dan dalam bagian lain sangat kontradiksi dengan kesimpulan tersebut. Jadi inilah gaya seorang pereka, pendusta, pemitnah dan provokator sejati yang selalu memakai topeng Aswaja untuk menutupi wajah buruknya. Karena pernyataan Syaikh Taqiyyuddin yang utuh dan lengkap dan yang mencakup pernyataan sebelum dan sesudahnya adalah sebagai berikut:

أما التفكير لاستنباط الحكم الشرعي فإنه لا يكفي فيه مجرد القراءة حتى يستنبط، وإنما يحتاج إلى معرفة بالأمور الثلاثة، وهي الألفاظ والتراكيب، والأفكار الشرعية، والواقع للفكر أي للحكم، معرفة تمكنه من الاستنباط لا مجرد معرفته. فلا بد أن يكون عالماً باللغة العربية من نحو وصرف وبلاغة الخ، وأن يكون عالماً بالتفسير والحديث وأصول الفقه، ….. ومتى أصبح قادراً على الاستنباط فإنه حينئذ يكون مجتهداً، ولذلك فإن الاستنباط أو الاجتهاد ممكن لجميع الناس وميسر لجميع الناس، ولا سيما بعد أن أصبح بين يدي الناس كتب في اللغة العربية والشرع الإسلامي، ووقائع الحياة ميسرة لجميع الناس يمكن الرجوع إليها والاستعانة بها للاستنباط. ولذلك فإن معرفة الأحكام الشرعية وإن كانت ميسورة لكل فرد، فإن استنباط الحكم الشرعي كذلك ميسور لكل فرد، وإن كان يحتاج إلى معرفة أكثر، أي إلى معلومات سابقة أكثر وأوسع…..

“Adapun berpikir untuk menggali hukum syariat maka tidak cukup dengan hanya membaca sehingga ia bisa menggali hukum, akan tetapi membutuhkan pengetahuan terhadap tiga perkara, yaitu; lafadz dan susunan lafadz, pemikiran syariat, dan fakta pemikiran atau hukum, dengan kadar pengetahuan yang memungkinkannya untuk penggalian hukum, bukan sekedar pengetahuan. Karenanya dia harus alim dengan bahasa Arab, seperti nahwu, sharaf, balaghah dll, dan dia harus alim tentang tafsir, hadits dan ushul fiqih,….. dan ketika dia telah mampu melakukan istinbath, makad ia bisa menjadi mujtahid. Oleh karena itu istinbath atau ijtihad itu dimungkinkanbagi semua orang dan dimudahkanbagi semua orang, lebih-lebih sesudah buku-buku bahasa Arab dan buku-buku syariat Islam telah tersedia di hadapan banyak orang dewasa ini, dan realita kehidupan dimudahkan bagi semua orang untuk dirujuk dan dibuat bantuan untuk istinbath. Oleh karena itu, pengetahuan tentang hukum-hukum syariat meskipun dimudahkan bagi setiap individu, maka penggalian hukum syariat juga dimudahkan bagi setiap individu, meskipun dia masih butuh kepada pengetahuan yang lebih, yakni butuh kepada informasi terdahulu yang lebih banyak dan lebih luas…..” (Al-Tafkir, hal. 130-131, Maktabah Syamilah).

Dengan membaca serta memahami pernyataan di atas, dan kitab al-Tafkir secara keseluruhan, dapat diketahui bahwa yang dilakukan oleh Syaikh Taqiyyuddin dalam kitab al-Tafkir-nya adalah melatih berpikir positif, terutama terkait penggalian hukum syariat, agar tidak terjatuh kepada prilaku berfikir negatif yang selama ini banyak diperankan oleh kaum liberal, baik kaum liberal bercelana dan berdasi maupun kaum liberal bersarung dan berjubah yang salah satunya adalah Idrus Ramli yang selalu berfikir negatif terhadap perjuangan penerapan syariat Islam secara total melalui penegakkan daulah khilafah rasyidah. Justru orang seperti Idrus Ramli seharusnya mengaji kitab al-Tafkir dan yang lainnya dengan bimbingan syabab Hizbut Tahrir agar berfikirnya menjadi positif. Dan di atas juga Syaikh Taqiyyuddin telah menyatakan bahwa untuk menjadi mujtahid itu harus alim dengan bahasa Arab, seperti nahwu, sharaf, balaghah dll, harus alim tentang tafsir, hadits dan ushul fiqih, dan harus alim dengan fakta yang menjadi manathul hukmi. Jadi melakukan penggalian hukum itu harus dengan ilmu, juga berfatwa harus dengan ilmu.

Sedang pernyataan Syaikh Taqiyyuddin “Oleh karena itu istinbath atau ijtihad itu dimungkinkan bagi semua orang dan dimudahkan bagi semua orang”, artinya bagi semua orang yang mau mempelajari syarat-syaratnya dan memiliki kesempatan, karena Syaikh Taqiyyuddin juga menjelaskan syarat-syaratnya, bukan setiap orang secara mutlak. Ini adalah pernyataan orang yang berfikir positif dan baik sangka kepada Allah dan kaum muslim. Dikatakan positif karena lawan dari kata dimungkinkan adalah dimustahilkan, dan lawan dari kata dimudahkan adalah disulitkan. Sekarang bagaimana kalau Syaikh Taqiyyuddin barkata; “Oleh karena itu istinbath atau ijtihad itu dimustahilkan bagi semua orang dan disulitkan bagi semua orang”, artinya tidak ada seorangpun yang bisa istinbath atau ijtihad, maka justru pernyataan seperti inilah yang seharusnya dipermasalahkan, karena termasuk buruk sangka kepada Allah dan kaum muslim, juga tidak rasional dan tidak pula realistis. Dikatakan buruk sangka kepada Allah, karena semua orang itu makhluk bagi Allah, otak dan hatinya juga telah diciptakan oleh Allah, bukan oleh tuhan yang lain. Kalau Allah mampu menciptakan orang seperti Imam Syafi’iy pada kurun salaf dengan otak serta hatinya yang cemerlang dan khusyuk, maka sekarang juga Allah mampu menciptakan orang seperti Imam Syafi’iy, bahkan yang lebih baik dan lebih alim dari Imam Syafi’iy, karena bagi Allah semuanya adalah mungkin dan tidak ada yang mustahil bagiNya. Apalagi agama Islam ini pada dasarnya adalah milik Allah, dan Allah telah berjanji untuk menjaganya, yaitu dengan menjaga al-Qur’an (al-Dzikr). Maka sangat rasional kalau Allah pada setiap masa menciptakan, di antara hamba-hambaNya, seseorang yang akal dan hatinya cemerlang dan khusyuk, sehingga bisa untuk istinbath dan ijtihad, karena untuk menjaga kesempurnaan agama-Nya yang sanggup menjawab semua problem dan peristiwa sepanjang zaman.

Kedua, terkait pernyataan Idrus Ramli;
“Seorang alim bisa dikatagorikan sebagai mujtahid apabila telah diakui oleh para ulama dan telah memenuhi syarat-syarat berijtihad. Sementara tidak seorangpun dari kalangan ulama yang mengakui Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani telah memenuhi syarat-syarat ijtihad sebagai mujtahid atau bahkan hanya mendekati saja derajat seorang mujtahid tidak ada yang mengakui. Sehingga ketika keilmuan seseorang tidak diakui oleh para ulama, maka keilmuannya sama dengan tidak ada. Dan ini berarti Syaikh al-Nabhani bukanlah seorang mujtahid atau mendekatinya”.

Idrus Ramli, sebagaimana Abdullah Harari dalam kitab al-Gharah-nya, dalam pernyataannya sama sekali tidak menjelaskan kriteria ulama yang pengakuan atau kesaksiannya terhadap seseorang sehingga bisa disebut sebagai mujtahid dapat diterima, juga berapa jumlah ulama tersebut. Sedang yang dapat ditangkap dari pernyataan itu hanyalah buruk sangka yang berlebihan terhadap Syaikh Taqiyyuddin. Kalau yang dimaksud oleh Idrus Ramli adalah para ulama seperti al-Hafizh al-Dzahabi serta para ulama sebelum dan sesudahnya yang telah wafat sebelum lahirnya Syaikh Taqiyyuddin, maka betapa bodohnya Idrus Ramli, karena bagaimana mungkin para ulama yang telah wafat bersaksi bahwa Syaikh Taqiyyuddin adalah Mujtahid. Kalau yang dimaksud adalah para ulama salathin seperti Abdullah al-Harari al-Ahbasy dan sesamanya atau seperti ‘ulama wahabi’, maka juga sangat keliru, karena aktivitas Syaikh Taqiyyuddin yang selalu mengkritik dan mengkoreksi pemerintahan (salathin) yang zalim itu menjadi pemicu bagi kemarahan mereka, sehingga mereka berani membayar para ulama salathin untuk menjatuhkan kewibawaan serta merusak nama baik Syaikh Taqiyyuddin, maka mengharap pengakuan dan kesaksian atas kemujtahidan Syaikh Taqiyyuddin dari mereka itu sama halnya dengan mengharap anak sapi keluar dari batu.

Kalau yang dimaksud adalah para ulama yang saleh yang semasa denganSyaikh Taqiyyuddin, maka Idrus Ramli juga sangat keliru, karena di antara mereka tidak sedikit yang belum membaca kitab-kitab Syaikh Taqiyyuddin yang sangat cemerlang dan penuh dengan solusi kebangkitan dan kejayaan Islam dan kaum muslim, dan tidak sedikit pula yang telah termakan oleh fitnah terhadap Syaikh Taqiyyuddin dari ulama salathin. Dan kalau yang dimaksud adalah para ulama saleh yang belum termakan fitnah yang semasa dengan Syaikh Taqiyyuddin dan yang setelahnya, maka Idrus Ramli juga sangat keliru, karena mayoritas aktivis Hizbut Tahrir dari berbagai belahan dunia yang jumlahnya ribuan adalah para ulama yang saleh dan mukhlish, dan mereka telah mengakui dan menyaksikan bahwa Syaikh Taqiyyuddin adalah mujtahid, bahkan tidak sedikit yang mengatakan bahwa beliau adalah mujtahid muthlaq, bahkan sebagai mujaddid (pembaharu). Di antara pengakuan dan kesaksian mereka adalah sebagai berikut:

Muhammad Muhsin Radhi dalam tesisnya menyatakan:
“Derajat keilmuan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dapat dilihat dari sejumlah karya ilmiahnya yang tidak sedikit yang mencakup semua tuntutan kehidupan (pribadi, masyarakat dan negara) yang dibutuhkan oleh umat untuk mencapai kebangkitan serta mengembalikan derajat hakikinya (sebagai sebaik-baik umat) di antara umat-umat yang lain. Sungguh pada semua karya ilmiahnya telah nampak pembaharuan (tajdid) dalam lapangan pemikiran, fiqih dan politik. Oleh karena itu, produk pemikirannya adalah usaha terdepan dari seorang pemikir muslim pada masa ini. Sehingga beliau adalah pemimpin bagi para pemimpin pemikiran dan politik pada abad 20 ini, sehingga setelah itu tidak asing lagi kami menemukan orang-orang yang menjadikan Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani berada di barisan para ulama mujtahid dan mujaddid.

Ustadz Ghanim Abduh sebagai syabab qudama terkemuka Hizbut Tahrir menuturkan, bahwa Sayyid Quthub RH dalam kesempatan ilmiahnya pernah menyanjung Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani dan membantah seseorang yang melempar tuduhan miring terhadap beliau. Dan di antara pernyataan Sayyid Quthub adalah: “Sesungguhnya Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani ini dengan karya-karya ilmiahnya telah sampai ke derajat para ulama terdahulu kami”. Dan Prof. Dok. Muhammad bin Abdullah al-Mas’ari telah menyifati Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani seraya berkata: “Beliau adalah mujaddid abad 20, panutan ulama dunia, seorang alim yang berjihad, imam rabbani (orang yang telah mencapai derajat makrifat), Abu Ibrahim Taqiyyuddin al-Nabhani (pendiri Hizbut Tahrir), yang telah meletakkan batu pondamen bagi pemikiran Islam kontemporer yang tinggi, dan bagi pergerakan yang ikhlas dan sadar, semoga Allah meninggikan derajatnya bersama anbiya’, shiddiqin, syuhada’ dan ulama shalihin”. (Muhammad Muhsin Radhi, Hizbut Tahrir Tsaqafatuhu wa Manhajuhu fi Iqamati Daulati al-Khilafati al-Islamiyyati, dgn pengawasan Prof. Dok. Walid Ghafuri al-Badri, hal. 33, Wizarah al-Ta’lim al-Ali wa al-Bahtsi al-Ilmi al-Jami’ah al-Islamiyyah / Kulliyyah Ushuluddin, Oktober 2006).

Di bawah adalah karya-karya ilmiahSyaikh Taqiyyuddin an-Nabhani yang sangat cemerlang:
1. Nizham al-Islam (sistem Islam)
2. Al-Takattul al-Hizbi (pembentukan partai politik)
3. Mafahimu Hizbal-Tahrir (konsepsi Hizbut Tahrir)
4. Al-Nizham al-Iqtishad fi al-Islam (sistem ekonomi Islam)
5. Al-Nizham al-Ijtima’iy fi al-Islam (sistem pergaulan Islam)
6. Nizham al-Hukmi fi al-Islam (sistem pemerintahan Islam)
7. Al-Dustur (undang-undang dasar)
8. Muqaddimah al-Dustur (pengantar undang-undang dasar)
9. Al-Daulah al-Islamiyyah (negara Islam)
10. Al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, tsalatsata ajza’in (kepribadian Islam, tiga juz)
11. Mafahim Siyasiyyah li Hizb al-Tahrir (konsepsi politik Hizbut Tahrir)
12. Nazharat siyasiyyah (pandangan politik)
13. Nidaun Haar (panggilan hangat)
14. Al-Khilafah (khilafah)
15. Al-Tafkir (berpikir)
16. Al-Kurrasah (buku catatan)
17. Sur’atul Badihah (secepat kilat)
18. Nuqthatul Inthilaq (titik permulaan)
19. Dukhulul Mujtama’ (memasuki masyarakat)
20. Inqazhu Falesthin (menyelamatkan Palestina)
21. Risalatu ‘Arab (risalah Arab)
22. Tasalluhu Mishra (mempersenjatai Mesir)
23. Al-Ittifaqiyat al-Tsunaiyyah al-Mishriyyah al-Suriyyah wa al-Yamaniyyah
24. Hallu Qadhiyyati Falesthina ‘ala Thariqati al-Amriqiyyah wa al-Inkiliziyyah
25. Al-Siyasah al-Iqtishadiyyah al-Mutsla (politik ekonomi ideal)
26. Naqdhul Isytirakiyyatil Markisiyyah (bantahan terhadap sosialisme marxisme)
27. Kaifa Hudhimat al-Khilafah (bagaimana khilafah dihancurkan)
28. Nizham al-‘Uqubat (sistem persanksian)
29. Ahkam al-Bayyinat (hukum pembuktian)
30. Ahkam al-Shalat (hukum-hukum shalat)
31. Naqdh al-Qanun al-Madani (bantahan terhadap undang-undang sipil)
32. Al-Fikru al-Islami (pemikiran Islam), dll.

Dan untuk mempermudah penyebarannya kitab Kaifa Hudhimat al-Khilafah, Nizham al-‘Uqubat, Ahkam al-Bayyinat, Ahkam al-Shalat, al-Fikru al-Islami Al-Siyasah al-Iqtishadiyyah al-Mutsla, Naqdhul Isytirakiyyatil Markisiyyah, dan Naqdhu al-Qanun al-Madani, ditulis atas nama syabab Hizbut Tahrir. Dan masih ada ribuan nasyrah pemikiran, politik dan ekonomi yang telah ditulis oleh Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani RH. (Ibid, hal. 28).

Kalau kita mau jujur dan obyektif, semua kitab di atas dan yang lainnya sebagai karya ilmiah Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani, sudah cukup untuk menjadi saksi dan bukti konkrit, bahwa beliau benar-benar seorang mujtahid dan mujaddid, karena semuanya langsung digali dari sumber syari’at Islam melalui dalil-dalil yang telah disepakati oleh semua ulama Ahlussunnah Waljama’ah ala Rasulullah SAW, yaitu al-Qur’an, al-Sunnah, al-Ijma’ dan al-Qiyas al-Syar’iy, dan berdasarkan pemahaman terhadap fakta dan realita yang sangat mengkristal. Dan kalau kita mau jujur, obyektif dan tidak fanatik, kalau setandar mujtahid muthlaq adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’iy dan Imam Ahmad, maka karya-karya ilmiah yang dimiliki Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani itu melebihi dari karya-karya ilmiah salah satu dari empat imam besar tersebut, karena banyak karya ilmiah Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani yang baru dan belum ada yang mendahului. Kalau ada yang berkata bahwa ushul fiqih Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani itu perkembangan dari ushul fiqih Imam Syafi’iy atau diambil dari padanya, berarti Syaikh Taqiyyuddin bukan mujtahid muthlaq, maka jawabnya bagaimana dengan Imam Ahmad sebagai murid dari Imam Syafi’iy dan ushul fiqihnya juga karya Imam Syafi’iy, kenapa Imam Ahmad dinamai mujtahid muthlaq? Dan Imam Syafi’iy juga murid dari Imam Malik dan ushul fiqihnya juga sama dengan ushul fiqihnya, hanya saja Imam Malik belum menulis ushul fiqihnya, dan Imam Syafi’iy adalah orang pertama yang menulis (dawwana) ushul fiqih para imam terdahulunya, maka kenapa juga Imam Syafi’iy dinamai mujtahid muthlaq?

Jadi daripada kita berdosa karena buruk sangka kepada Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani, lebih baik kita meraih pahala dengan baik sangka kepada beliau, karena baik sangka kepada sesama muslim adalah tradisi dan karakter Ahlussunnah Waljama’ah, sedang baik sangka kepada orang kafir adalah tradisi dan karakter kaum liberal yang munafik. Kerena kita semua akan bertanggung jawab dihadapan Allah, sebagaimana Syaikh Taqiyyuddin juga akan bertanggung jawab dihadapan-Nya. Dan kita semua berharap bisa datang kepada Allah dengan hati yang selamat (bi qalbin salim).

(Abulwafa Romli, Alumus ’94, Pon Pes Lirboyo, Kediri, JATIM).

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: