//
you're reading...
Kajian Fiqih Islam & Siyasiyah

Benarkah Harus Ta’at Kepada Pemimpin Meskipun ia Dzalim ?

Gambar

Oleh Al-Faqir Asad al-Masyriqiy
 
Al-Imam Abu Ja’far al-Thahawi berkata dalam al-’Aqidah al-Thahawiyyah, “bahwa Ahlussunnah Wal-Jama’ah tidak memiliki konsep menggulingkan pemerintahan yang sah, meskipun mereka telah berbuat kezaliman.”
 
Dan hadits yang biasa digunakan untuk mengharamkan menggulingkan kepemimpinan yang sah adalah demikian :
 
و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلِ بْنِ عَسْكَرٍ التَّمِيمِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ ح و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا يَحْيَى وَهُوَ ابْنُ حَسَّانَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ يَعْنِي ابْنَ سَلَّامٍ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ سَلَّامٍ عَنْ أَبِي سَلَّامٍ قَالَ قَالَ حُذَيْفَةُ بْنُ الْيَمَانِ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا بِشَرٍّ فَجَاءَ اللَّهُ بِخَيْرٍ فَنَحْنُ فِيهِ فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ هَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الشَّرِّ خَيْرٌ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ فَهَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ كَيْفَ قَالَ يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
 
 

Telah menceritakan kepadaku Muhammad Ibnu Sahl bin ‘Askar At Tamimi telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hasan. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi telah mengabarkan kepada kami Yahya -yaitu Ibnu Hassan- telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah -yaitu Ibnu Salam- telah menceritakan kepada kami Zaid bin Sallam dari Abu Sallam dia berkata; Hudzaifah bin Yaman berkata, “Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, dahulu saya berada dalam kejahatan, kemudian Allah menurunkan kebaikan (agama Islam) kepada kami, apakah setelah kebaikan ini timbul lagi kejatahan?” beliau menjawab: “Ya.” Saya bertanya lagi, “Apakah setelah kejahatan tersebut akan timbul lagi kebaikan?” beliau menjawab: “Ya.” Saya bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan ini timbul lagi kejahatan?” beliau menjawab: “Ya.” Aku bertanya, “Bagaimana hal itu?” beliau menjawab: “Setelahku nanti akan ada pemimpin yang memimpin tidak dengan petunjukku dan mengambil sunah bukan dari sunahku, lalu akan datang beberapa laki-laki yang hati mereka sebagaimana hatinya setan dalam rupa manusia.” Hudzaifah berkata; saya betanya, “Wahai Rasulullah, jika hal itu menimpaku apa yang anda perintahkan kepadaku?” beliau menjawab: “Dengar dan patuhilah kepada pemimpinmu, walaupun ia memukulmu dan merampas harta bendamu, dengar dan patuhilah dia.” [1]
 
Jawaban :
 
Takhrij hadits diatas adalah sebagai berikut :
 
Diriwayatkan dari : Hudzaifah bin Al Yaman
Kalangan : Shahabat
Kuniyah : Abu ‘Abdullah
Negeri semasa hidup : Kufah
Wafat : 36 H
 
Kemudian dari Hudzaifah terdapat keterputusan rawi
 
Kemudian dari : Mamthur
Kalangan : Tabi’in kalangan biasa
Kuniyah : Abu Sallam
Negeri semasa hidup : Syam
Pendapat Al ‘Ajli terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Ibnu Hibban terhadapnya : disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
Pendapat Ibnu Hajar al ‘Asqalani terhadapnya : Tsiqah
 
Kemudian dari : Zaid bin Sallam bin Abi Salam Mamthur
Kalangan : Tabi’in (tidak berjumpa dengan shahabat)
Negeri semasa hidup : Syam
Pendapat Ya’kub Ibnu Syaibah terhadapnya : Tsiqah
Pendapat An Nasa’i terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Ad Daruquthni terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Adz Dzahabi terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Ibnu Hajar al ‘Asqalani terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Ibnu Hibban terhadapnya : disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
 
Kemudian dari : Mu’awiyah bin Salam bin Abi Salam Mamthur
Kalangan : Tabi’ut Tabi’in kalangan tua
Kuniyah : Abu Salam
Negeri semasa hidup : Syam
Pendapat Yahya bin Ma’in terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Ya’kub bin Syaibah terhadapnya : tsiqah shaduuq
Pendapat Ibnu Hajar al ‘Asqalani terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Adz Dzahabi terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Abu Hatim terhadapnya : la ba`sa bih
Pendapat An Nasa’i terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Ibnu Hibban terhadapnya : disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
 
Kemudian dari : Yahya bin Hassan bin Hayyan
Kalangan : Tabi’ut Tabi’in kalangan biasa
Kuniyah : Abu Zakariya
Negeri semasa hidup : Maru
Wafat : 208 H
Pendapat Ahmad bin Hambal terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Al ‘Ajli terhadapnya : tsiqah ma`mun
Pendapat Abu Hatim terhadapnya : shalihul hadits
Pendapat An Nasa’i terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Ibnu Hibban terhadapnya : disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
Pendapat Ibnu Yunus terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Al Bazzar terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Mathin terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Ibnu Hajar al ‘Asqalani terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Adz Dzahabi terhadapnya : tsiqah imam
 
Kemudian dari : Muhammad bin Sahal bin ‘Askar
Kalangan : Tabi’in kalangan tua
Kuniyah : Abu Bakar
Negeri semasa hidup : Baghdad
Wafat : 251 H
Pendapat An Nasa’i terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Abu Ahmad bin Adi terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Ibnu Hajar al ‘Asqalani terhadapnya : Tsiqah
 
Sebagaimana dalam takhrij diatas bahwa dalam hadits tersebut terdapat keterputusan rawi antara Abu Sallaam dan Hudzaifah bin Yaman, sebagaimana dikatakan oleh Ad-Daaruquthniy. [2]
 
Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah sendiri menyepakati pendha’ifan Ad-Daaruquthniy dengan ta’liq :
 
قوله وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فهذه الزيادة ضعيفة لأنها من هذه الطريق المنقطعة
 
“Perkataan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘meskipun ia memukul punggungmu dan merampas hartamu’ adalah tambahan (ziyaadah) yang lemah, karena ia dari jalan ini munqathi’ah (terputus).” [3]
 
Akan tetapi hadits tersebut sering disandarkan dengan hadits sebelumnya agar menjadi penguat bagi hadits di awal yang mana hadits sebelumnya adalah demikian :
 
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ حَدَّثَنِي بُسْرُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ الْحَضْرَمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُا كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
 
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Maslim telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Yazid bin Jabir telah menceritakan kepadaku Busr bin ‘Ubaidullah Al Hadlrami bahwa dia mendengar Abu Idris Al Haulani berkata; saya mendengar Hudzaifah bin Yaman berkata, “Biasanya orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebajikan. Namun justru saya bertanya kepada beliau tentang kejahatan, karena saya khawatir akan menimpaku. Lalu saya bertanya, “Wahai Rasulullah! Kami dahulu berada dalam kejahilan dan kejahatan, karena itu Allah Ta’ala menurunkan kebaikan (agama) ini kepada kami. Mungkinkah sesudah ini timbul lagi kejahatan?” beliau menjawab: “Ya.” Saya bertanya lagi, “Apakah setelah itu ada lagi kebaikan?” beliau menjawab: “Ya, akan tetapi ada cacatnya! saya bertanya, “Apa cacatnya?” Beliau bersabda: “Kaum yang mengamal sunnah selain dari sunnahku, dan memimpin tanpa hidayahku, kamu tahu mereka tapi kamu ingkari.” Saya bertanya, “Apakah setelah itu akan ada kejahatan lagi?” Jawab beliau: “Ya. Yaitu orang-orang yang menyeru menuju neraka Jahannam, barangsiapa memenuhi seruannya maka ia akan dilemparkan ke dalam neraka itu.” Maka saya bertanya lagi, “Wahai Rasulullah! Tunjukanlah kepada kami ciri-ciri mereka.” Beliau menjawab: “Baik. Kulit mereka seperti kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana petunjuk anda seandainya saya menemui hal yang demikian?” Jawab beliau: “Tetaplah kamu bersama jama’ah kaum muslimin dan imam (pemimpin) mereka.” Saya bertanya lagi, “Jika tidak ada jama’ah dan imam?” beliau menjawab: “Tinggalkan semua kelompok meskipun kamu menggigit akar kayu sampai ajal menjemput, dan kamu masih tetap pada pendirianmu.“ [4]
 
Hadits diatas jelas tidak dapat dijadikan sebagai penguat dari hadits setelahnya yang sanadnya terputus. Karena dalam hadits ini tidak terdapat perintah dari Rasul untuk mendengar dan mematuhi pemimpin yang dzalim, yakni yang memukul dan merampas harta benda seperti pada hadits setelahnya (yang sanadnya terputus).
 
Adapun dalam hadits tersebut Rasulullah SAW justru menjawab pertanyaan Hudzaifah bin Yaman (Wahai Rasulullah, bagaimana petunjuk anda seandainya saya menemui hal yang demikian ?) dengan sabdanya yakni, “Tetaplah kamu bersama jama’ah kaum muslimin dan imam (pemimpin) mereka.”
 
Rasulullah SAW justru memerintahkan untuk bersama jama’ah kaum muslimin dan pemimpin mereka, yakni tentunya jama’ah yang berhukum hanya kepada hukum Allah, hanya menggunakan Al-Qur’an dan Sunnah, dan tentunya juga melakukan amar ma’ruf nahi mungkar sesuai firman Allah :
 
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
 
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung. [Qs. Ali-Imran (3) : 104]
 
Maka sesungguhnya yang haram digulingkan adalah Pemerintahan Islam. Menurut Imam Ibnu Katsir bahwa jika pemerintah Islam mengganti atau mencampur syari’at Islam dengan syari’at lain, maka wajib untuk dilengserkan. [5]
 
            Justru dalam riwayat yang lebih mutawatir terdapat hadits-hadits shahih dari berbagai jalur periwayatan yang berbeda yang memerintahkan untuk tidak menta’ati pemimpin-pemimpin yang dzalim. Seperti halnya hadits yang juga diriwayatkan dari Hudzaifah bin Yaman berikut :
 
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنْ يُونُسَ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ هِلَالٍ أَوْ عَنْ غَيْرِهِ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ عَنْ حُذَيْفَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهَا سَتَكُونُ أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنَّا وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَسَيَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ
 
Telah menceritakan kepada kami Isma’il dari Yunus dari Humaid bin Hilal atau dari yang lainnya, dari Rib’i bin Hirasy dari Hudzaifah (bin Al Yaman) dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: ” Akan muncul pemimpin-pemimpin berdusta dan berbuat zhalim, barangsiapa yang membenarkan kedustaan mereka dan membantu mereka berbuat zhalim maka tidak termasuk golongan kami dan aku tidak termasuk golongan mereka serta tidak akan mendatangi telagaku, dan barangsiapa yang tidak membenarkan kedustaan mereka dan tidak menolong mereka berbuat kezhaliman maka ia termasuk golonganku dan aku termasuk golongannya serta akan mendatangi telagaku.” [6]
 
Takhrij Hadits :
 
Diriwayatkan dari : Hudzaifah bin Al Yaman
Kalangan : Shahabat
Kuniyah : Abu ‘Abdullah
Negeri semasa hidup : Kufah
Wafat : 36 H
 
Kemudian dari : Rib’iy bin Hirasy bin Jahsy
Kalangan : Tabi’in kalangan tua
Kuniyah : Abu Maryam
Negeri semasa hidup : Kufah
Wafat : 104 H
Pendapat Ibnu Hibban terhadapnya : disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
Pendapat Ibnu Hajar al ‘Asqalani terhadapnya : Tsiqah abid
Pendapat Adz Dzahabi terhadapnya : Hujjah, Taat kepada ALLAH, dan Tidak pernah berbohong.
 
Kemudian dari : Humaid bin Hilal bin Hubairah
Kalangan : Tabi’in kalangan pertengahan
Kuniyah : Abu Nashr
Negeri semasa hidup : Bashrah
Pendapat An Nasa’i terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Yahya bin Ma’in terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Ibnu Sa’d terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Ibnu Hibban terhadapnya : disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
 
Kemudian dari : Yunus bin Muhammad bin Muslim
Kalangan : Tabi’ut Tabi’in kalangan biasa
Kuniyah : Abu Muhammad
Negeri semasa hidup : Baghdad
Wafat : 207 H
Pendapat Yahya bin Ma’in terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Ya’kub bin Syaibah terhadapnya : tsiqah tsiqah
Pendapat Abu Hatim terhadapnya : Shaduuq
Pendapat Ibnu Hibban terhadapnya : disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
Pendapat Ibnu Hajar al ‘Asqalani terhadapnya : tsiqah tsabat
Pendapat Adz Dzahabi terhadapnya : Hafizh
 
Kemudian dari : Isma’il bin Ibrahim bin Muqsim
Kalangan : Tabi’ut Tabi’in kalangan pertengahan
Kuniyah : Abu Bisyir
Negeri semasa hidup : Bashrah
Wafat : 193 H
Pendapat Syu’bah terhadapnya : Sayyidul Muhadditsin
Pendapat Yahya bin Ma’in terhadapnya : tsiqah ma`mun
Pendapat Muhammad bin Sa’d terhadapnya : Tsiqah tsabat hujjah
Pendapat Abdurrahman bin Mahdi terhadapnya : dia lebih kuat dari Husyaim
Pendapat Abu Daud terhadapnya : “tidak ada seorang muhaddits kecuali melakukan kesalahan, kecuali Ibnu ‘Ulaiyah dan Bisyr bin al Mufadldlal”
Pendapat Yahya bin Said terhadapnya : Lebih kuat daripada Wuhaib
Pendapat As Saji terhadapnya : Perlu dikoreksi ulang
Pendapat An Nasa’i terhadapnya : Tsiqah tsabat
Pendapat Ibnu Hajar al ‘Asqalani terhadapnya : dlaif
Pendapat Adz Dzahabi terhadapnya : dlaif
 
Memang Isma’il bin Ibrahim bin Muqsim dikomentari oleh As Saji bahwa perlu dikoreksi ulang, dan Ibnu Hajar al ‘Asqalani serta Adz Dzahabi mendhaifkannya, akan tetapi terdapat riwayat lain yang menguatkan hadits diatas, yakni :
 
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنِي أَبُو حَصِينٍ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَاصِمٍ الْعَدَوِىِّ عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ
خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ دَخَلَ وَنَحْنُ تِسْعَةٌ وَبَيْنَنَا وِسَادَةٌ مِنْ أَدَمٍ فَقَالَ إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَيُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ
 
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Sufyan telah menceritakan kepadaku Abu Hashin dari Asy Sya’bi dari Ashim Al Adawi dari Ka’ab bin Ujrah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar atau masuk menemui kami, saat itu kami berjumlah sembilan orang. Dan di antara kami ada bantal yang terbuat dari kulit. Beliau lalu bersabda: “Sesungguhnya akan ada setelahku para pemimpin yang berbuat kedustaan dan kezhaliman. Barangsiapa mendatangi mereka kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezhalimannya, maka ia bukan golonganku dan aku bukan golongannya. Serta ia tidak akan minum dari telagaku. Dan barangsiapa tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka dalam berbuat shalim, maka ia adalah golonganku dan aku adalah golongannya. Dan kelak ia akan minum dari telagaku.” [7]
 
Takhrij Hadits :
 
Diriwayatkan dari : Ka’ab bin ‘Ujrah
Kalangan : Shahabat
Kuniyah : Abu Muhammad
Negeri semasa hidup : Madinah
Wafat : 51 H
 
Kemudian dari : Ashim
Kalangan : Tabi’in kalangan pertengahan
Negeri semasa hidup : Kufah
Pendapat An Nasa’i terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Ibnu Hibban terhadapnya : disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
Pendapat Adz Dzahabi terhadapnya : Tsiqah
 
Kemudian dari : Amir bin Syarahil
Kalangan : Tabi’in kalangan pertengahan
Kuniyah : Abu ‘Amru
Negeri semasa hidup : Kufah
Wafat : 104 H
Pendapat Yahya bin Ma’in terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Abu Zur’ah terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Ibnu Hajar al ‘Asqalani terhadapnya : tsiqah masyhur
Pendapat Adz Dzahabi terhadapnya : seorang tokoh
 
Kemudian dari : Utsman bin ‘Ashim bin Hushain
Kalangan : Tabi’in kalangan biasa
Kuniyah : Abu Al Hashin
Negeri semasa hidup : Kufah
Wafat : 128 H
Pendapat Adz Dzahabi terhadapnya : tsiqah tsabat
Pendapat Yahya bin Ma’in terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Abu Hatim terhadapnya : Tsiqah
Pendapat An Nasa’i terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Ibnu Hibban terhadapnya : disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
Pendapat Ibnu Hajar terhadapnya : tsiqah tsabat
 
Kemudian dari : Sufyan bin Sa’id bin Masruq
Kalangan : Tabi’ut Tabi’in kalangan tua
Kuniyah : Abu ‘Abdullah
Negeri semasa hidup : Kufah
Wafat : 161 H
Pendapat Malik bin anas terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Yahya bin Ma’in terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Ibnu Hibban terhadapnya : Termasuk dari para huffad mutqin
Pendapat Ibnu Hajar al ‘Asqalani terhadapnya : Tsiqah Hafidz Faqih, Abid, Imam, Hujjah
Pendapat Adz Dzahabi terhadapnya : Imam
 
Kemudian dari : Yahya bin Sa’id bin Farrukh
Kalangan : Tabi’ut Tabi’in kalangan biasa
Kuniyah : Abu Sa’id
Negeri semasa hidup : Bashrah
Wafat : 198 H
Pendapat An Nasa’i terhadapnya : tsiqah tsabat
Pendapat Abu Zur’ah terhadapnya : tsiqoh hafidz
Pendapat Abu Hatim terhadapnya : tsiqoh hafidz
Pendapat Al ‘Ajli terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Ibnu Sa’d terhadapnya : tsiqah ma`mun
Pendapat Ibnu Hajar al ‘Asqalani terhadapnya : tsiqah mutqin
Pendapat Adz Dzahabi terhadapnya : hafidz kabir
 
dan dalam riwayat dari jalur yang lain terdapat hadits demikian :
 
حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ يَعْنِي ابْنَ عَيَّاشٍ عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ قُعَيْسٍ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يَأْمُرُونَكُمْ بِمَا لَا يَفْعَلُونَ فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَنْ يَرِدَ عَلَيَّ الْحَوْضَ
 
Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah menceritakan kepada kami Abu Bakr yakni Ibnu Ayyas dari Alaa bin Al-Musayyab dari Ibrahim bin Quwais dari Nafi’ dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Akan ada para pemimpin yang berkuasa atas kalian, mereka menyuruh kalian apa yang tidak mereka lakukan. Barangsiapa membenarkan kedustaan mereka, dan mendukung kedzaliman mereka berarti dia bukan golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan ia tidak bakalan memasuki telaga.” [8]
 
Takhrij Hadits :
 
Diriwayatkan dari : Abdullah bin ‘Umar bin Al Khaththab bin Nufail
Kalangan : Shahabat
Kuniyah : Abu ‘Abdur Rahman
Negeri semasa hidup : Madinah
Wafat : 73 H
 
Kemudian dari : “Nafi’, maula Ibnu ‘Umar “
Kalangan : Tabi’in kalangan biasa
Kuniyah : Abu ‘Abdullah
Negeri semasa hidup : Madinah
Wafat : 117 H
Pendapat Yahya bin Ma’in terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Al ‘Ajli terhadapnya : Tsiqah
Pendapat An Nasa’i terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Ibnu Kharasy terhadapnya : Tsiqah
 
Kemudian dari : Ibrahim bin Quways
Kalangan : Tabi’in kalangan biasa
Kuniyah : Abu Isma’il
Pendapat Ibnu Hibban terhadapnya : disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
 
Kemudian dari : Alaa’ bin Al Musayyab bin Rafi’
Kalangan : Tabi’in (tdk jumpa Shahabat)
Negeri semasa hidup : Kufah
Pendapat Yahya bin Ma’in terhadapnya : tsiqah ma`mun
Pendapat Ibnu Hibban terhadapnya : disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
 
Kemudian dari : Abu Bakar bin ‘Ayyasy bin Salim
Kalangan : Tabi’ut Tabi’in kalangan tua
Kuniyah : Abu Bakar
Negeri semasa hidup : Kufah
Wafat : 193 H
Pendapat Ibnu Hajar al ‘Asqalani terhadapnya : maqbuul Faadil
 
Kemudian dari : Al Aswad bin ‘Amir
Kalangan : Tabi’ut Tabi’in kalangan biasa
Kuniyah : Abu ‘Abdur Rahman
Negeri semasa hidup : Baghdad
Wafat : 208 H
Pendapat Ibnul Madini terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Abu Hatim terhadapnya : Tsiqah
Pendapat Yahya bin Ma’in terhadapnya : la ba`sa bih
Pendapat Ibnu Sa’d terhadapnya : shalihul hadits
Pendapat Ibnu Hibban terhadapnya : disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
Pendapat Ibnu Hajar Al Asqalani terhadapnya : Tsiqah
 
Dan masih banyak lagi hadits yang melarang kepada membenarkan kedustaan pemimpin dan mendukung kedzalimannya, yakni :
 
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ عَنِ الْعَوَّامِ قَالَ حَدَّثَنِي رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ مِنْ آلِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ
خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِي الْمَسْجِدِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ رَفَعَ بَصَرَهُ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ خَفَضَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ فِي السَّمَاءِ شَيْءٌ فَقَالَ أَلَا إِنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَمَالَأَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَا أَنَا مِنْهُ وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُمَالِئْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ أَلَا وَإِنَّ دَمَ الْمُسْلِمِ كَفَّارَتُهُ أَلَا وَإِنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هُنَّ الْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ
 
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yazid dari Al Awwam ia berkata, telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki Anshar dari keluarga An Nu’man bin Basyir, dari An Nu’man bin Basyir ia berkata, “Setelah shalat isya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar menemui kami yang saat itu berada di dalam masjid. Beliau kemudian mengarahkan pandangannya ke atas langit lalu menunduk. Maka kami pun mengira bahwa telah terjadi sesuatu di atas langit. Kemudian beliau bersabda: “Akan muncul sepeninggalku para pemimpin yang berbuat dusta dan kezhaliman. Maka barangsiapa membenarkan kedustaan mereka dan membantu kezhaliman mereka, ia tidak termasuk golonganku dan aku bukan golongannya. Dan siapa yang tidak membenarkan kedustaan mereka atau membantu kezhaliman mereka, maka ia termasuk dari golonganku dan aku dari golongannya. Ketahuilah, sesungguhnya darah seorang Muslim ada kafarah yang harus ditunaikan. (menyebabkan kekafiran). Dan ketahuilah, bahwa ucapan ‘SUBHAANALLAHI WAL HAMDULILLAH WA LAA ILAAHA ILLALLAH WALLAHU AKBAR (Maha Suci Allah, Segala puji hanya bagi Allah, dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Allah Maha Besar) merupakan Al Baqiyaat Ash Shalihat.” [9]
 
serta riwayat berikut :
 
حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَكُونُ أُمَرَاءُ تَغْشَاهُمْ غَوَاشٍ أَوْ حَوَاشٍ مِنْ النَّاسِ يَظْلِمُونَ وَيَكْذِبُونَ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيْهِمْ وَيُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَيُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ
 
Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah berkata; telah menceritakan kepada kami Qotadah dari Sulaiman bin Abu Sulaiman dari Abu Sa’id Al Khudri dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Akan ada para pemimpin yang dikelilingi oleh para pendamping dari manusia, maka barangsiapa masuk kepada mereka, membenarkan kedustaan dan menolong kezhaliman mereka, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Dan barangsiapa tidak masuk kepada mereka untuk membenarkan kedustaan dan menolong kezhaliman mereka, maka ia dari golonganku dan aku dari golongannya.” [10]
 
 
Maka hujjah yang menyatakan bahwa kaum muslim harus tunduk kepada pemimpin-pemimpin yang dzalim adalah hujjah yang lemah, dibandingkan dengan hujjah yang memerintahkan untuk tidak menta’atinya. Padahal Rasulullah SAW melarang untuk membenarkan kedusta’an pemimpin-pemimpin dan melarang dari menolong berbuat dzalim.
 
Maha benar Allah dalam firman-Nya, yakni :
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا
 
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [Qs. An-Nisaa’ (4) : 59]
 
Maksud dari “Ulil Amri minkum” (ulil amri di antara kamu) diatas adalah Ulil Amri dari orang-orang yang diseru, yakni Ulil Amri dari orang-orang yang beriman, maka diperintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya dan Ulil Amri yang beriman (yang ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya).
 
Apakah pemimpin-pemimpin (negeri-negeri) kita saat ini adalah orang-orang yang beriman ? Jika iya, lalu mengapa mereka tidak menerapkan Syari’ah secara kaafah, yakni menegakkan Khilafah. Inilah bukti bahwa pemimpin-pemimpin (negeri-negeri) kita adalah orang-orang dzalim yang termasuk dalam kategori Sabda Rasulullah SAW diatas yakni “barangsiapa masuk kepada mereka, membenarkan kedustaan dan menolong kezhaliman mereka, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Dan barangsiapa tidak masuk kepada mereka untuk membenarkan kedustaan dan menolong kezhaliman mereka, maka ia dari golonganku dan aku dari golongannya.” Wallahua’lam bish Shawwab
 
————————————————————————————————————————
 
[1] Shahih Muslim ; Kitab : Kepemimpinan ; Bab : Wajibnya melazimi jamaah kaum muslimin saat munculnya fitnah ; No. Hadist : 3435 – Lidwa Pustaka.
 
[2] Al-Ilzaamaat wat-Tatabbu’ ; Hal.181-182 ; No.53 ; Tahqiq : Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy ; Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah ; Cet.2/1405 H.
 
[3] Al-Ilzaamaat wat-Tatabbu’ ; hal. 182.
 
[4] Shahih Muslim ; Kitab : Kepemimpinan ; Bab : Wajibnya melazimi jamaah kaum muslimin saat munculnya fitnah ; No. Hadist : 3434 – Lidwa Pustaka.
 
[5] Lihat Tafsiyr Al-Qur’aan Al-’Azhiym (tafsir Ibn Katsir) juz 3 hlm 131.
 
[6] Imam Ahmad dalam Al-Musnad; Kitab “Sisa musnad sahabat Anshar”; Bab “Hadits Hudzaifah bin Yaman dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam”; No. 22174 – Lidwa Pustaka.
 
[7] Imam Ahmad dalam Al-Musnad; Kitab “Musnad penduduk Kufah”; Bab “Hadits Ka’b bin ‘Ujrah Radliyallahu ta’ala ‘anhu”; No. 17424 – Lidwa Pustaka.
 
[8] Imam Ahmad dalam Al-Musnad; Kitab “Musnad sahabat yang banyak meriwayatkan hadits”; Bab “Musnad Abdullah bin Umar bin Al Khatthab Radliyallahu ta’ala ‘anhuma”; No. 5444 – Lidwa Pustaka.
 
[9] Imam Ahmad dalam Al-Musnad; Kitab “Musnad penduduk Kufah”; Bab “Hadits An Nu’man bin Basyir dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam”; No. 17630 – Lidwa Pustaka.
 
[10] Imam Ahmad dalam Al-Musnad; Kitab “Sisa Musnad sahabat yang banyak meriwayatkan hadits”; Bab “Musnad Abu Sa’id Al Khudri Radliyallahu ta’ala ‘anhu”; No. 10763 – Lidwa Pustaka.
 
————————————————————————————————————————
Mohon ditela’ah keseluruhan isi artikel, mari hindari kebiasaan melihat judul kemudian langsung melihat kesimpulan yang kemudian memberi like sebelum membaca keseluruhan atau langsung memberi komentar. Kritik dan saran yang membangun sangat ditunggu-tunggu penulis.

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: