//
you're reading...
Ulama & Tokoh Islam

Imam Ahmad Bin Hambal Yang Diuji sampai Empat Penguasa

Berat! Cobaan yang harus dihadapi ulama yang satu ini, benar-benar berat. Dari empat penguasa, ia harus menerima teror, siksaan dan kurungan penjara. Terakhir diuji gemerlapnya kekuasaan dan harta benda. Hebatnya, semua ujian itu dilalui dengan baik. Dialah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad bin Idris. Akrab dipanggil Ahmad bin Hambal, satu di antara 4 (empat) imam madzab ahlussunnah waljamaah.

Lahir di Baghdad, Rabiul Awal 164 hijriyah. Dia berasal dari keluarga mapan. Ayahnya Muhammad bin Hambal adalah seorang walikota Sarkhas. Tetapi, taqdir bicara lain, Ahmad bin Hambal menjadi yatim, setelah sang ayah wafat tahun 179 Hijriyah.

Gandrungnya terhadap ilmu, membuat Imam Ahmad harus mengembara ke berbagai daerah seperti Kuffah, Makkah, Basrah, Madinah, Yaman dan Syiria. Ini dilakukan hingga hari tua. Sampai-sampai ke mana pun pergi tak lepas dengan tinta. “Ya! Saya bersama tinta sampai mati,” demikian semboyannya.

Di dadanya seakan tertulis Sabda Nabi Muhammad Rasulullah SAW tentang pentingnya jihad melawan penguasa dholim. “Jihad yang paling besar adalah menyuarakan keadilan kepada penguasa yang dholim.” (HR At-Tirmidzi dan An-Nasa’i). Selain itu, ia dikenal pemburu hadits. Ketika mendengar ada guru hadits yang belum dikenalnya, maka, Imam Ahmad terus mencarinya.

Suatu ketika, ia bertamu kepada salah seorang guru hadits. Setelah mengucap salam, ternyata guru itu menjawab dengan acuh tak acuh, tetap asyik memberi makan anjing ketimbang melayani Imam Ahmad. Ini membuat hatinya tidak enak, betapa kehadirannya jauh-jauh tidak mendapat sambutan berarti.

Sang guru pun bertanya: Maaf, mungkin engkau merasa jengkel karena aku memilih mengurus anjing? “Ya! Benar, saya sedikit jengkel,” jawab Imam Ahmad terus terang. Begini, lanjut guru hadits itu. Saya mendengar dari Abu Zannad dari ‘Araj dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Bersabda: “Barangsiapa memutus harapan orang yang sedang mengharapkan bantuan, kelak di hari kiamat Allah akan memutus harapannya dan orang itu tidak masuk surga.”

Perlu Anda tahu, tambah guru itu, di negeri kami ini tidak ada binatang anjing. Baru ada sekarang yang datang ke mari. “Karenanya saya tidak buru-buru melayani kamu, saya khawatir memutus harapan anjing,” jelasnya. Imam Ahmad pun paham. Ia berterima kasih mendapatkan sebuah hadits dan kemudian pulang.

***
Ujiannya silih berganti. Ketika kekuasaan Harun Al-Rasyid berpindah ke tangan Al-Makmun Abu Ja’far bin Harun Al-Rasyid, kaum Mu’tazilah saat itu berhasil mewarnai pikirannya, terutama tentang keyakinan bahwa Al-Quran itu adalah makhluk. Untuk itu, ketika pasukan Al-Makmun keluar dari Baghdad hendak menyerang pasukan Romawi, pada saat itu pula Al-Makmun menulis surat kepada Ishaq bin Ibrahim bin Mush’ab, perwira tingginya agar mengajak seluruh rakyat meyakini bahwa Al-Quran itu adalah makhluk.

Awalnya seluruh menolak, tetapi karena menggunakan kekerasan, maka banyak ulama yang tidak kuasa menolak. Yang berani bersuara keras menolaknya adalah Imam Ahmad. Ini membuat Al-Makmun geram dan marah. Khalifah Al-Makmun memerintahkan pasukannya untuk menjemput paksa dan membawa kepadanya.

Hukumannya sudah ditetapkan, jika Imam Ahmad tetap menolak, maka hukumannya mati. Dan benar, begitu berada di hadapan khalifah, Imam Ahmad tetap menolak meyakini Al-Quran adalah makhluk. “Jika sampai eksekusi anda tidak meyakini Al-Quran adalah makhluk, maka, berakhirlah kehidupan Anda,” begitu ancaman Al-Makmun sambil memerintahkan Imam Ahmad ke penjara.

Dalam perjalanan menuju penjara, Imam Ahmad selalu berdoa, jangan lagi dipertemukan dengan Al-Makmun yang dholim itu. Dan, benar tidak lama ia di penjara, ada kabar bahwa khalifah meninggal. Karenanya, Imam Ahmad dikembalikan ke Baghdad tetapi tetap dalam penjara.

Khalifah jatuh ke tangan Abu Ishaq Al-Mu’tashim Billah Muhammad bin Harun Al-Rasyid atau akrab dipanggil Al-Mu’tashim. Penguasa baru ini bukannya meringankan hukuman, justru menyiksanya. Iman Ahmad bin Hambal kembali didatangkan ke istana. Saat itu suasana sudah ramai manusia yang ingin menonton kekejaman Al-Mu’tashim, saking ramainya sehingga mirip hari raya.

Imam diminta bicara. “Sekarang bicaralah!” kata Al-Mu’tashim. Apa yang dikatakan Imam Ahmad? “Ya! Demi Allah, aku sekarang sudah berada di depanmu. Sungguh dalam hatiku tidak ada sedikitpun rasa takut kepadamu,” kata Imam Ahmad. Mendengar itu, sang khalifah geram dan langsung memerintah petugas untuk mencambuknya.

Karena Imam Ahmad tetap menolak bahwa Al-Quran itu makhluk, maka, Al-Mu’tashim memerintahkan kembali untuk memenjarakannya. Al-Mu’tashim juga menyiapkan ulama-ulama Mu’tazilah untuk berdebat dengannya, tetapi, nyatanya mereka tak mampu mengimbangi dalih-dalih Imam Ahmad. Akhirnya Ibnu Abi Daud dan Bisry Al-Muraisi – yang dikenal sebagai ulama istana ini — mengusulkan untuk segera membunuhnya.

Al-Mu’tashim lebih memilih menyiksanya dengan cambukan-cambukan yang keras. Kendati begitu, tetap saja tak mampu meluluhkan keyakinan Imam Ahmad. Tidak lama Bisry Al-Muraisi yang mengusulkan hukuman tersebut justru mati. Setelah itu, menyusul Al-Mu’tashim sendiri yang meninggal.

Tampuk kekuasaan pindah ke tangan Abu Ja’far Al-Watsiq Harun bin Al-Mu’tashim. Meski tidak mendapat cambukan dari pejabat Abu Ja’far Al-Watsiq, tetapi, perlakuannya terhadap Imam Ahmad tetap saja biadab. Ulama besar ini tetap dikurung dan selalu mendapat justifikasi buruk. Untungnya, tidak lama, Abu Ja’far Al-Watsiq pun meninggal.

Setelah tamat era Al-Watsiq, khalifah berpindah tangan ke Al-Mutawakkil Alallah. Beruntung, khalifah yang satu itu tidak memiliki keyakinan yang rusak. Dia justru mencela para pendahulunya, dan menyatakan keblinger yang meyakini Al-Quran itu makhluk. Sebaliknya, Al-Mutawakkil justru menghormati dan mengagungkan Imam Ahmad. Al-Mutawakkil kemudian menulis surat ditujukan kepada gubernur Baghdad, isinya agar mengajak serta Imam Ahmad bin Hambal menghadap dirinya di Surra Man Ra’a sebagai pusat pemerintahan.

Ketika rombongan yang membawa Imam Ahmad ini datang, Al-Mutawakkil menyaksikan dari balik satir. Lalu masuk rumah dan mengabarkan kepada ibunya, bahwa telah datang ulama besar. “Wahai ibunda, sekarang alangkah terangnya rumah ini dengan cahaya,” katanya. Kemudian diserahkan sebuah hadiah atau kado khusus untuk Imam Ahamad berupa baju kebesaran berikut sejumlah uang dirham.

Apa sikap Imam Ahmad? “Wahai amirul mukminin, enam puluh tahun aku berusaha selamat dari ujian. Akan tetapi, di penghujung usiaku engkau justru mengujiku dengan ini,” katanya dengan tetesan air mata sebagai tanda penolakan.

Kendati demikian, Al-Mutawakkil tetap memberikan rasa hormatnya. Ia kirimkan buah-buahan dan makanan khusus ke rumah Imam Ahmad. Tetapi, setali tiga uang, ulama ini tetap tidak mau menyentuhnya. Shaleh bin Ahmad bin Hambal (putranya) pernah berkata: “Ketika Al-Mutawakkil menyuruh agar Imam Ahmad dibelikan rumah khusus, maka Imam Ahmad berkata kepada saya, ‘Kalau kamu mengikuti apa yang telah mereka perintahkan kepadamu, maka putuslah hubungan antara kamu dengan aku’.”

Imam Syafi’i pun pernah dibuat tertegun dengan sikap tegas Imam Ahmad ini. Saat itu, Imam Syafi’i menceritakan kabar yang diperoleh dari Khalifah Harun Al-Rasyid, bahwa, pemerintahan sedang butuh seorang hakim. “Saya baru saja berunding dengan amirul mukminin soal jabatan hakim di negeri Yaman. Saya diminta mencari sosok yang tepat. Kebetulan engkau datang, nah marilah kita menghadap khalifah, supaya beliau menetapkan jabatan itu untukmu,” kata Imam Syafi’i ulama besar yang amat dihormati Imam Ahmad.

Apa jawab Imam Ahmad? “Saya datang kemari untuk belajar kepadamu, bukan membicarakan urusan jabatan hakim,” demikian jawabnya. Mendengar jawaban ini, Imam Syafi’i tertegun dan merasa bangga. Ulama memang tidak diharamkan untuk menjadi penguasa, tetapi, tidak sedikit mereka justru terjerumus dalam kehinaan lantaran kekuasaan. Sedikit sekali yang selamat dari keserakahan, kesombongan dan kedholiman. Bukankah begitu? Waallahu’alam bish-shawab.

sumber : http://www.dutaonline.com/index.php?halaman=baca&id=MjAxMjAyMDYwMDI4MjQ==&menu=MjAxMTA2MjIxMDMxMjM=

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,845 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: