//
you're reading...
Al Khilafah

Pemerintahan Islam Adalah Warisan Rasulullah saw, Bukan Inovasi Sahabat

Landasan pemikiran yang melatarbelakangi dilontarkannya syubhat bahwa khilafah bukan syariah, melainkan hanya gagasan inovatif yang diajukan oleh para shahabat, adalah fakta sejarah yang terjadi di bawah atap balai pertemuan Bani Sa’idah tepat pada hari wafatnya Rasulullah saw.

Singkat cerita, begitu Rasulullah saw wafat, para shahabat Anshar memiliki inisiatif untuk mengadakan pertemuan internal di antara mereka guna membicarakan masalah kepemimpinan umat pasca wafatnya Rasulullah saw. Mereka berkumpul di Saqifah (balai pertemuan) milik Bani Saidah. Opini mereka digiring untuk mengangkat pemimpin dari kalangan mereka sendiri. Maka perhatian mereka pun diarahkan kepada seorang tokoh yang cukup menonjol di antara shahabat Anshar, namanya Sa’ad bin ‘Ubadah ra., yang juga merupakan inisiator dari forum tersebut.

Namun, sebelum sempat mengambil keputusan, forum ini terlebih dahulu diinterupsi oleh kedatangan Abu Bakr, Umar dan Abu ‘Ubaidah ra. Para tokoh dari muhajirin ini datang untuk menasehati kaum Anshar agar persoalan ini dibicarakan dengan cara yang melibatkan tokoh-tokoh sahabat yang lain, tidak dengan cara yang ekslusif seperti itu. Tak ayal, bergulirlah pembicaraan yang agak panas di antara kaum Anshar dengan tokoh-tokoh dari Makkah itu. Situasi itu berlanjut beberapa saat lamanya, sampai pada satu titik dimana pembicaraan mereka mengerucut pada masalah: “siapa yang layak memimpin umat pasca wafatnya Rasulullah saw?” Forum itu berakhir dengan cukup manis, mereka menyepakati Abu Bakar ra sebagai pemimpin. Setelah itu, mereka yang hadir saling berdesakan untuk menyalami tangan Abu Bakar, dan terjadilah pengangkatan Abu Bakar sebagai imam, kemudian beliau disebut  sebagai pengganti Rasulullah saw., alias Khalifatu Rasulillah.

Orang yang pertama kali membaca sekelumit kisah tentang “Saqifah” ini mungkin akan berkesimpulan bahwa masalah kepemimpinan pasca wafatnya Rasulullah saw. ternyata lahir lewat sebuah peristiwa yang sifatnya insidental alias kebetulan, bukan suatu hal yang terprogram dan terencana. Jika masalah kepemimpinan itu memang perkara yang urgen dalam Islam, niscaya hal tersebut akan dipikirkan secara serius oleh Rasulullah saw dan para shahabat tatkala beliau sakit menjelang wafat. Bahkan, Rasulullah saw pun juga tidak meninggalkan wasiat apa pun terkait isu yang katanya sangat penting itu. Maka wajar jika kemudian muncul anggapan bahwa masalah kepemimpinan pengganti Rasulullah saw (khilafah) ini hanyalah gagasan insidental yang mengemuka akibat berbagai kondisi yang muncul pasca wafatnya Rasulullah saw., bukan merupakan Syariah yang ditetapkan sejak awal oleh Islam.

Sebenarnya masalah di atas telah terjawab begitu kita memahami bersama tentang konsep ijma’ shahabat yang telah kita ulas sebelumnya, sebagai kekompakan atas dasar pemahaman yang sama tentang wahyu. Namun, sebagai tambahan, saya merasa perlu untuk mengupas lapisan lain yang belum sempat saya buka. Dalam bagian ini, saya ingin menunjukkan bahwa kewajiban khilafah pasca Nabi saw bukan hanya perwujudan dari ijma’ shahabat saja, namun eksistensi khilafah juga merupakan pengejawantahan dari sunnah fi’liyyah[1] yang dipraktekkan oleh Rasulullah saw. selama periode kehidupan beliau di Madinah.

Intensitas interaksi para shahabat dengan Rasulullah saw., dan “keintiman” mereka dengan risalah, membuat mereka sangat memahami berbagai peran yang dilakonkan oleh Muhammad saw. berikut kaitannya dengan risalah yang beliau bawa. Ya, Muhammad bin Abdullah saw. di dunia ini memang bertindak sebagai utusan Allah, penerima dan penyampai wahyu dari langit. Tapi, peran yang beliau mainkan tidak hanya itu. Beliau juga bertindak sebagai manusia biasa, melakoni kiprah sebagai muballigh sekaligus pejuang penegak Islam, berdiri sebagai suami, berlaku sebagai ayah, berperan sebagai tetangga, dan -yang tak kalah pentingnya- juga berperan sebagai pemimpin.

Dalam kaca-mata seorang muslim, peran beliau sebagai penerima wahyu cukup untuk diimani. Namun, sebagai konsekuensi dari keimanan itu, kaum muslimin harus melihat beliau sebagai “wahyu yang hidup” atau “manusia wahyu”, tatkala beliau sedang menjalankan peran-peran beliau yang lain. Artinya, beliau tidak hanya menerima wahyu, tapi juga memperagakannya dalam berbagai lakon yang beliau jalani. Hasilnya, segala sisi kehidupan beliau harus dipandang sebagai pengamalan sekaligus demonstrasi dari wahyu yang beliau terima, seolah beliau sedang memperagakan kepada kita seluruh petunjuk yang datang dari Allah. Inilah pengertian sebenarnya dari sunnah fi’liyyah, wahyu yang termanifestasi dalam perbuatan. Dengan demikian, beliau bukan sekedar sosok par exellence yang hanya bisa kita kagumi, tapi beliau lebih berfungsi sebagai exemplar alias prototipe muslim ideal yang harus kita imitasi (tiru).

Secara khusus, peran beliau sebagai nabi dan rasul memang tidak tergantikan, begitu juga dengan peran beliau sebagai suami dari ummahatul Mu’minin. Ini karena beliau adalah nabi dan rasul  yang terakhir, maka tak seorang pun setelah beliau yang dapat menempati peran tersebut. Sedangkan bagi ummahatul mu’minin, tidak seorang pun dihalalkan untuk menikahi mereka pasca wafatnya Rasulullah saw.

Lain halnya dengan peran beliau sebagai imam bagi kaum muslimin. Dalam konteks ini, beliau melaksanakan tugas untuk mengelola urusan kaum muslimin; menghakimi persengketaan di antara mereka; menjalankan hukum syara’ yang menjadi tanggungan kaum muslimin secara kolektif, seperti menegakkan hudud, jinayat dan ta’zir bagi para pelaku kejahatan dan tindak kriminal; menarik dan mendistribusikan harta, seperti: zakat, fai’, ghanimah, jizyah, dll.; mengerahkan pasukkan dan menyelenggarakan peperangan di jalan dakwah Islam; pengadakan perjanjian damai dan gencatan senjata dengan musuh; memelihara kebutuhan pokok bagi mereka yang terlantar; dll.

Sepeninggal beliau, apa yang beliau lakukan dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin itu harus diambil alih dan dilestarikan oleh kaum muslimin. Alasannya ada dua: Pertama, berbagai urusan yang telah beliau dikerjakan dalam kapasitas sebagai pemimpin itu jika tidak diambil alih maka akan menyebabkan terbengkalainya kehidupan kaum muslimin dan tercabutnya hukum Islam dalam kehidupan masyarakat. Alasan kedua, bahwa –secara umum- berbagai tindakkan yang beliau tampilkan tatkala berperan sebagai pemimpin itu merupakan bagian dari peragaan wahyu yang harus diteladani. Dengan ini, maka umat Islam sepeninggal Rasulullah saw. harus mengatur urusan mereka berdasarkan contoh yang telah beliau peragakan.

Karena itulah para shahabat sangat memahami bahwa kaum muslimin harus menunjuk salah seorang di antara mereka untuk mengambil alih dan menjalankan fungsi kepemimpinan yang telah dicontohkan dan diwariskan oleh Rasulullah saw. agar urusan mereka bisa diatur dan dikelola berdasarkan petunjuk yang telah dibawa dan diperagakan oleh beliau. Orang yang mengambil alih kepemimpinan Rasulullah saw. atas kaum muslimin inilah yang disebut sebagai pengganti Rasulullah saw (khalifah rasulillah). Rasulullah saw. sendiri yang menyatakan hal ini. Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah saw bersabda:

“Dahulu Bani Israil diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat akan digantikan oleh nabi berikutnya. Tetapi tidak ada lagi nabi setelahku. Akan ada para Khalifah dan jumlahnya banyak. Para Sahabat bertanya,’Apa yang engkau perintahkan kepada kami? Nabi menjawab,’Penuhilah bai’at yang pertama dan yang pertama itu saja. Penuhilah hak-hak mereka. Allah akan meminta pertanggungjawaban terhadap apa yang menjadi kewajiban mereka.”

Hadits ini bicara dalam konteks “pengurusan” umat, bukan soal nubuwah. Yang mengurusi kehidupan Bani Israil kebetulan adalah para nabi. Sedangkan yang mengurusi kepentingan umat Islam setelah wafatnya Muhammad saw. adalah para khalifah, pengganti Rasulullah saw. Atas dasar  itu, masalah khilafah ini sama sekali bukan inovasi shahabat. Khilafah hanya diselenggarakan untuk meneruskan kepemimpinan umat yang telah dijalankan, dicontohkan dan diwariskan oleh Rasulullah saw.

By : Ust Titok Priastomo

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: