//
you're reading...
Al Khilafah

JALAN MENUJU KHILAFAH ROSYIDAH

JALAN MENUJU KHILAFAH ROSYIDAH YANG KELIRU

YAITU BERPANGKAL DARI AYAT JIHAD, TIDAK DARI AYAT POLITIK

Bismillahir Rohmaanir Rohiim

Saya menganggap perlu untuk mengankat tema ini, sebagai jawaban atas tulisan Abdul Mun’im Musthafa Halimah ‘Abu Bashir’ yang bertema “al-Thariq ila Isti’naf Hayah Islamiyyah wa Qiyami Khilafah Rosyidah ‘ala Dlaui al-Kitab wa al-Sunnah”, yang diterjemahkan dan dipublikasikan oleh (Mimbar tauhid wal jihad/Millahibrahim.wordpress.com), karena disamping ada permintaan dari saudara seperjuangan, juga pada tulisan itu sangat jelas terdapat pernyataan yang ditujukan kepada para syabab HT/HTI sebagai berikut:

“DITUJUKAN: … … Kepada para pemuda Hizbut Tahrir yang disesatkan yang mencari kebenaran seraya jauh dari ta’ashshub kepada hizbnya dan kepada arbabul hizb…!!! … … Segolongan dari mereka – yang terwakili oleh Hizbut Tahrir (HT) –tidak ada pembicaraan bagi mereka kecuali tentang Khilafah dan eksistensinya,sampai tidak pernah kosong buletin dari buletin-buletin mereka kecuali didalamnya ada penyebutan Khilafah, akan tetapi mereka pada waktu yang sama telah membatasinya dengan batasan-batasan dan mensyaratkan baginya syarat-syarat yang tidak ada dalilnya, yang intinya bahwa mereka ini sebenarnya tidak menginginkan khilafah ini bisa berdiri, dan bahwa mereka dengan syarat-syarat mereka yang rusak ini adalah batu sandungan sebenarnya di hadapan setiap proyek Islamiy yang serius yang memiliki tujuan penegakkan daulah Islamiyyah atau khilafah rasyidah di atas minhaj an nubuwwah”.

Tulisan itu dipenuhi dengan dalil-dalil wajibnya menegakkan khilafah dan mengangkat khalifah, dalil-dalil wajibnya berjama’ah danber-imarah, dan alil-dalil wajibnya berjihad berikut persiapannya, dari al-Qur’an dan as-Sunnah, juga dilengkapi dengan berbagai pernyataan ulama. Dalil-dalil tersebut tidak perlu saya utarakan satu persatunya, karena tidak ada masalah dengannya, semuanya benar adanya. Sedang yang akan saya utarakan adalah ayat Alqur’an yang menjadi pijakan dan pangkal yang salah tempat dan keliru, yang dipakai oleh penulisnya menjadi dalil pangkal bagi metode menegakkan khilafah, sehingga karena pangkalnya salah tempat, maka dalil-dalil cabang yang lainnya juga ikut salah tempat. Berikut adalah rangkuman tulisan dimaksud, dansaya jadikan sebagai:

PROBLEM

 

JALAN MENUJUKHILAFAH ROSYIDAH YANG KELIRU

 

Ringkasan Kronologi:

 

Ada pertanyaan: “Apajalan syar’iy yang wajib ditempuh oleh kaum muslimin untuk memulai kehidupan Islamiyyah dan penegakkan Khilafah rasyidah?”

Jawaban Abdul Mun’im Musthafa Halimah ‘Abu Bashir’: “Jawaban teringkas pada dua kalimat yang telah ditegaskan dan diperintahkan oleh syari’at, yaitu: I’dad kemudian jihad”.

Berdasarkan firman Allah SWT:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْقُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْوَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَاتُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَاتُظْلَمُونَ (60)

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan padajalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Al Anfaal: 60).

Kemudian I’dad terbagi menjadi dua: materi dan ma’nawiy (non materi).

Di antaradalil-dalil yang menunjukkan atas kewajiban I’dad juga adalah bahwa jihad tidak mungkin berjalan tanpa didahului oleh I’dad yang lazim, sedangkan suatu yang mana kewajiban tidak bisa terlaksana kecuali dengannya maka ia adalah wajib.

Adapun I’dad kekuatan materi itu meliputi dari penggemblengan fisik seseorang sehingga ia mampu menyesuaikan dan memenuhi panggilan perang sampai kepemilikan senjata paling mutakhir dengan kepiawaian dalam menggunakannya secara baik. Dan termasuk I’dad adalah amal jama’iy, tandhim dan imarah. Rasulullah SAW bersabda: “Bila tiga orang keluar dalam safar maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang sebagai amir.” (Abu Dawud dan yang lainnya, Shahih Al Jami’ Ash Shaghir: 500).

Apabila pada musafir yang terdiri dari tiga orang saja harus ada imarah, mendengar dan taat, maka dengan amal yang memiliki tujuan melanjutkan kehidupan Islamiyyah dengan penegakkan Khilafah rasyidah, tentu lebih memerlukan jama’ah, imarah, mendengar dan taat.

Adapun I’dad Ma’nawiy (non materi): maka meliputi setiap amal yang masuk dalam pembangunan keimanan, wawasan dan akhlak, dalam rangka pembentukan dan pengadaan bibit pilihan yang mampu memikul tuntutan dan tugas agama, untuk menuju ke arah kemenangan. Dan inilah yang dilakukan Nabi SAW pada fase Mekkah sebagai fase terbaik untuk membentuk dan mencetak bibit pilihan dari para sahabatnya yang agung.

Dan termasuk I’dad ma’nawiy adalah amal yang serius yang berkesinambungan untuk merealisasikan tauhid dengan segala macam-macamnya, dan cabang-cabangnya yang sudah baku dalam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di tengah umat, terutama pada kelompok yang menerjuni tugas dakwah dan ‘amal dalam rangka nushrah dien dan meninggikan kalimatnya di muka bumi. (Disarikan dari kitab al-Thariq ila Isti’naf Hayah Islamiyyah wa Qiyami Khilafah Rosyidah ‘ala Dlaui al-Kitab wa al-Sunnah, karya Abdul Mun’im Musthafa Halimah ‘Abu Bashir’, diterjemahkan dan dipublikasikan oleh Mimbar tauhid waljihad/Millahibrahim.wordpress.com).

JAWABAN ATAS PROBLEM:

 

Terkait firman Alloh SWT:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْقُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْوَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَاتُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَاتُظْلَمُونَ (60)

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan padajalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Al Anfaal: 60).

Ayat 60 suroh Al-Anfal di atas sangat tidak tepat dijadikan pangkal (ashl/ushul) bagi  dalil-dalil cabang atas jalan syar’iy yang wajib ditempuh oleh kaum muslimin untuk memulai kehidupan Islamiyyah dan penegakkan Khilafah rasyidah, karena taupik ayat tersebut hanya berbicara terkait persiapan peralatan perang/jihad, bukan metode memulai kehidupan Islamiyyah dan penegakkan Khilafah rasyidah.

Dalam hal ini Imam Mufassir Ibnu Katsir menegaskan:

ثم أمر تعالى بإعداد آلات الحرب لمقاتلتهم حسب الطاقة والإمكان والاستطاعة، فقال:{ وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ } أي: مهما أمكنكم، { مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْرِبَاطِ الْخَيْلِ }

“Kemudian Alloh SWT memerintahkan dengan menyiapkan peralatan perang untuk memerangi mereka (kaum kuffar/musyrikin) sesuai kekuatan, kecakapan dan kemampuan. Alloh berfirman: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat”.

Dan mengenai ayat ini Imam Ahmad meriwayatkan hadits bahwa Uqbah bin Amir berkata:

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول وهو على المنبر: { وَأَعِدُّوا لَهُمْمَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ } ألا إن القوة الرمي، ألا إن القوة الرمي، ألا إنالقوة الرمي ”

“Aku pernah mendengar Rasululloh SAW bersabda di atas mimbar: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi”. Ingat, kekuatan itu adalah memanah. Ingat, kekuatan itu adalah memanah. Ingat, kekuatan itu adalah memanah”. (HR Ahmad [al-Musnad, 4/156], Muslim [Shahih Muslim, hadits No.1917], Abu Daud [Sunan Abu Daud, hadits No. 2514], Ibnu Majah [Sunan IbnuMajah, 13/28] dan Tirmidzi [Sunan Tirmidzi, No. 3083].

Imam Ahmad dan Ahlual-Sunan juga meriwayatkan hadits bahwa Uqbah bin Amir berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “ارموا واركبوا، وأن ترموا خير من أن تركبوا”

Rasululloh SAW bersabda: “Memanahlah dan berkendaraanlah! Dan memanah itu lebih baik dari berkendaraan”. HR Ahmad [al-Musnad, 4/144]. (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir, 4/80).

Jadi ayat tersebut juga adalah cabang (far’u/furu’) dari ayat-ayat perang/jihad. Maka bagaimana mungkin ayat cabang bisa dijadikan pangkal bagi dalil-dalil terkait jalan syar’iy yang wajib ditempuh untuk menegakkan Khilafah rasyidah. Padahal khilafah adalah institusi politik yang harus ditegakkan melalui jalan politik yang syar’iy yang telah dicontohkan oleh Rasululloh SAW beserta para sahabatnya. Dan tentu harus melalui pendirian partai politik syar’iy terlebih dahulu.

JALAN MENUJUKHILAFAH ROSYIDAH YANG BENAR

 

Jalan (metode) menuju penegakkan khilafah rosyidah yang benar adalah harus berangkat dari dalil-dalil pangkal yang benar yang mencakup seluruh aktivitas Rasululloh SAW dalam perjalanannya selama 13 tahun di Mekkah sehingga beliau menegakkan Daulah Islamiyah di Medinah sebagai pondasi bangunan Khilafah Rosyidah di kemudian hari. Dalil-dalil pangkal dimaksud sebagai berikut:

Pertama; dalil pangkal untuk mendirikan partai plitik yang syr’iy yang tujuannya adalah melanjutkan kehidupan Islam melalui penegakkan khilafah rosyidah, bukan dalil cabang jihad untuk mempersiapkan peralatan jihad seperti di atas. AllohSWT berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِوَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. QS Ali Imron [3]: 104.

Atas dasar ayatini, Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani berkata:

“Sesungguhnya berdirinya Hizbut Tahrir adalah untuk menjawab firman Alloh SWT: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”… Karena pada ayat ini Alloh SWT telah menyuruh kaum muslim agar di antara mereka ada jama’ah yang berdiri untuk menegakkan dua perkara: Pertama, dakwah kepada kebajikan, yakni kepada Islam, dan kedua, amar ma’ruf dan nahi munkar.

Perintah mendirikan jama’ah itu hanya murni tuntutan. Akan tetapi terdapat indikasi yang menunjukkan bahwa tuntutan itu adalah tuntutan yang tegas. Sehingga aktivitas yang telah ditentukan oleh ayat untuk dikerjakan oleh jama’ah, yakni dakwah kepada Islam dan amar ma’ruf dan nahi munkar, adalah fardlu/wajib dilaksanakan oleh kaum muslim, sebagaimana telah tetap dalam banyak ayat dan hadits yang menunjukkan hal itu, di antaranya Rasululloh SAW bersabda:

«والذينفسي بيده لتأمرن بالمعروف ولتنهون عن المنكر، أو ليوشكن الله أن يبعث عليكم عقاباًمن عنده، ثم لتدعنه فلا يستجاب لكم»

“Demi Tuhan yang diriku berada pada Yad-Nya, hendaklah kalian ber-amar ma’ruf dan nahi munkar, atau Alloh akan segera mengirimkan siksa dari sisi-Nya, kemudian hendaklah kalian memohon kepada-Nya, maka permohonan kalian tidak akan diterima”. HRAhmad [al-Musnad, 5/388] dan Tirmidzi [Sunan Tirmidzi, No. 2169].

Hadits ini adalah indikasi yang menunjukkan tuntutan yang tegas, dan perintah yang wajib.

Adapun keberadaan jama’ah itu harus berupa partai politik, maka datang dari sisi ayat itu menuntut kaum muslimin agar menegakkan jama’ah di antara mereka, dan dari sisi penentuan aktivitas jama’ah dengan dakwah kepada Islam dan amar-ma’ruf dan nahi-munkar. Sedangkan aktivitas amar-ma’ruf dan nahi-munkar itu mencakup menyuruh penguasa dengan ma’ruf dan mencegah mereka dari munkar. Bahkan tergolong amar-ma’ruf dan nahi-munkar yang paling utama adalah mengkoreksi penguasa dan memberi nasihat kepada mereka. Ini adalah aktivitas politik. Bahkan aktivitas politik yang paling utama. Dan termasuk aktivitas partai-partai politik yang paling menonjol. Dengan demikian, ayat tersebut menunjukkan atas kewajiban berdirinya partai plitik.

Hanya saja ayat tersebut telah membatasi agar partai politik yang ada harus berupa partai politik Islam, karena tugas yang telah ditentukan oleh ayat yang berupa dakwah kepada Islam dan amar-ma’ruf dan nahi-munkar, sesuai hukum-hukum Islam, itu tidak bisa dilaksanakan kecuali oleh jama’ah dan partai politik Islam.

Sedangkan partai politik Islam adalah partai politik yang berdiri di atas asas akidah Islam, dan mentabanni pemikiran, hukum dan solusi Islam, juga metode perjalanannya adalah metode perjalanan Rasululloh SAW”. (Lihat: Ta’rif Hizbut Tahrir, hal. 1-2).

kedua; dalil pangkal untuk meneladani dan mengikuti Rasululloh SAW dalam perjalanannya dari fase Mekkah sampai fase Medinah, sehingga beliau berhasil mendirikan Negara Islam di sana.

Dalil pangkal dimaksud adalah firmanAlloh SWT:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَيَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. QS Al-Ahzab [33]: 21.

Terkait ayat ini Imam Ibnu Katsir berkata:

“Ayat ini adalah pangkal besar dalam meneladani Rasululloh SAW dalam semua perkataan, perbuatan dan kondisinya. Oleh karenanya, ketika perang ahzab Alloh SWT memerintah manusia agar meneladani Nabi SAW, dalam kesabaran, ketegaran, kesungguhan dan penantiannya terhadap kelapangan dari Tuhannya SWT, perintah ini terus berlaku, sampai hari kiamat”. (Tafsir IbnuKatsir, 6/391).

Dan firman-Nya:

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa saja yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”. QS al-Hasyr [59]: 7.

Terkait ayat ini Imam Ibnu Katsir berkata:

“Firman Alloh; “Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa saja yang dilarangnya bagimu,maka tinggalkanlah”, yakni apa saja yang diperintahkan Rasul kepada kalian,maka kerjakanlah, dan apa saja yang Rasul melarang kalian darinya, maka tinggalkanlah, karena Rasul hanya menyuruh dengan kebajikan, dan hanya melarang dari keburukan”. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/67).

SyaikhTaqiyyuddin an-Nabhani berkata:

“Metode Hizbut Tahrir: Metode perjalanan dakwah Hizbut Tahrir adalah hukum-hukum syara’ yang diambil dari metode perjalanan Rasululloh SAW dalam mengemban dakwah, karena beliau wajib diikuti, karena firman  Alloh SWT: “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab [33]: 21), dan firman-Nya: “Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Ali Imron [3]: 31), dan firman-Nya: “Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa saja yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”. (QS al-Hasyr [59]: 7), dan banyak ayat-ayat yang lainnya yang menunjukkan atas kewajiban mengikuti, meneladani dan mengambil dari Rasululloh SAW. Lebih-lebih kaum muslimin saat ini hidup di negara kufur (dar al-kufr), karena mereka berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Alloh SWT, sehingga status negara mereka menyerupai Mekkah ketika diutusnya Rasululloh SAW. Oleh karena itu, pase Mekkah wajib diteladani dalam mengemban dakwah”. (Ta’rif HizbutTahrir, hal. 13).

Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani berkata:

“Dan dari mencermati sejarah/ perjalanan Rasululloh SAW di Mekkah sehingga beliau menegakkan Daulah di Medinah, maka menjadi terang bahwa beliau telah menempuh fase-fase dakwah yang menonjol, dimana pada fase-fase itu beliau melakukan aktivitas-aktivitas tertentu yang menonjol. Karena itu, Hizbut Tahrir mengambilnya untuk menjadi metode perjalanan dakwahnya, dan menjadi fase-fase dakwahnya. Sedang aktivitas yang wajib dikerjakan oleh Hizbu Tahrir pada fase-fase itu adalah meneladani aktivitas yang dikerjakan oleh Rasululloh SAW pada fase-fase perjalanannya.

Dan atas dasar itu semua, Hizbut Tahrir menentukan metode parjalanan dakwahnya dengan tiga fase:

Pertama; fase pengkaderan, untuk mewujudkan kelompok individu yang mengimani fikroh dan metode Hizb, untuk membentuk kelompok partai.

Kedua; fase berinteraksi dengan umat, agar umat mau mengemban Islam dan menjadikan Islam sebagai masalah utamanya, agar beraktivitas mewujudkan Islam dalam realita kehidupan (bermasyarakat dan bernegara).

Ketiga; fase menerima kekuasaan, menerapkan Islam secara umun dan menyeluruh, dan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia. (Ta’rif Hizbut Tahrir, hal. 14).

Dan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani berkata:

“Meskipun perjalanan dakwah Hizbut Tahrir harusjelas, terang dan menantang, tetapi Hizbut Tahrir membatasi hanya pada aktivitas politik semata, tidak memakai aktivitas fisik (kekerasan) dalam menghadapi penguasa atau menghadapi orang-orang yang menjadi penghalang dakwahnya, karena mengikuti Rasululloh SAW yang membatasi aktivitas dakwahnya di Mekkah, dimana beliau tidak melakukan aktivitas fisik (kekerasan) sama sekali sampai hijrah ke Medinah. Dan ketika ahlu bai’at aqobah kedua meminta agar beliau memberi izin kepada mereka untuk memerangi penduduk Mina dengan pedang, maka beliau menjawab mereka: “Kami belum diperintahkan untuk itu”. Alloh SWT menuntut agar beliau bersabar terhadap siksaan, sebagaimana para rasul sebelumnya juga bersabar. Alloh berfirman kepadanya: ”Dan Sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka”. (QS al-An’am [6]: 34). (Ta’rif Hizbut Tahrir,hal. 18).

Dan termasuk ke dalam fase dakwah kedua (fase berinteraksi dengan umat) adalah aktivitas meminta pertolongan (tholabun-nushroh) dari orang-orang yang memiliki kemampuan memberi pertolongan, dengan dua tujuan:

Pertama, untuk meminta perlindungan, sehingga Hizbut Tahrir mampu berjalan mengemban dakwah dalam keadaan aman.

Kedua, untuk sampai kepada kekuasaan, untuk menegakkan khilafah dan mengembalikan hukum sesuai yang diturunkan Alloh, dalam kehidupan, masyarakat dan negara. (Manhaj Hizbut Tahrirfit Taghyir, hal. 31).

Dan terkait aktivitas meminta pertolongan, Jubir HTI H. Ismail Yusanto menjelaskan:

“Kemenangan perjuangan Rasulullah itu tidak bisa dilepaskan dari usaha untuk meminta pertolongan (thalabun-nushrah) yang beliau lakukan pada tahun ke-8 kenabian, khususnya setelah wafatnya paman Nabi saw., Abu Thalib, dan istri tercintanya, Khadijah ra., serta semakin meningkatnya gangguan dari kaum Quraisy. Itu terjadi dipenghujung fase kedua dalam thariqah (metode) dakwah Rasulullah saw., yaitu fase interaksi dengan masyarakat (at-tafa’ul ma’a al-ummah). Thalabun-nushrah ditempuh guna mendapatkan perlindungan bagi dakwah dan jalan meraih kekuasaan (istilam al-hukmi) bagi penerapan syariah. Dalam usahanya itu, Ibnu Saad dalam kitabnya At-Thabaqat, sebagaimana ditulis Ahmad al-Mahmud dalam kitab Ad-Da’wah ila al-Islam, menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah mendatangi tak kurang dari15 kabilah; di antaranya Kabilah Kindah, Hanifah, Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah, Kalb, Bakar bin Wail, Hamdan, dan lain-lain. Kepada setiap kabilah, Rasulullah SAW mengajak masuk Islam sebelum meminta nushrah dari mereka.

Meski berulang ditolak, Rasulullah SAW tetap saja terus meminta. Rasulullah SAW tidak berusaha mengganti dengan metode lain. Fakta ini merupakan qarinah (indikasi) yang jazim (tegas) bahwa thalabun-nushrah merupakan perintah Allah SWT, bukan inisiatif Rasulullah SAW sendiri atau sekadar tuntutan keadaan. Setelah sekian lama berusaha, pada tahun ke-12 kenabian, akhirnya Rasulullah berhasil mendapatkan nushrah dari kaum Anshar. Kaum yang telah dibina sebelumnya itu menyerahkan kekuasaan mereka di Madinah kepada Rasulullah SAW. Jadi, thalabun-nushrah adalah metode yang paling sahih dalam usaha meraih kekuasaan, karena hal ini ditunjukkan secara nyata oleh Baginda Rasulullah SAW dalam perjuangannya.

Harus diingat, thalabun-nushrah adalah aktivitas politik, bukan aktivitas militer, juga bukanlah kudeta militer. Aktivitas militer hanyalah salah satu cara (uslub)—bukan satu-satunya cara—yang bisa dilakukan oleh ahlun-nushrah. Adapun teknis peralihan kekuasaan bergantung sepenuhnya kepada ahlun-nushrah. Bisa melalui jalan damai,sebagaimana dilakukan oleh kaum Anshar saat menyerahkan kekuasaannya di Madinah kepada Rasulullah SAW, tetapi bisa juga melalui aktivitas militer. Semua bergantung kepada ahlun-nushrah.

Itu pula yang saat ini terjadi di Syria. Proses-proses thalabun-nusrah diyakini tengah berlangsung di sana. Detilnya seperti apa, tentu kita tidak tahu, karena aktivitas mencari pertolongan dilakukan secara tertutup. Namun, sejauh yang diekspos media, komitmen para pimpinan mujahidin yang potensial menjadiahlul-quwwah untuk perjuangan Islam sangatlah kuat. Hal itu terlihat darisyiar-syiar yang didengungkan, ikrar, dan bahkan sumpah yang mereka lakukan untuk tetap teguh berjuang bagi tegaknya syariah dan Khilafah di Syria, sertapenolakan mereka terhadap intervensi Barat dan ide negara demokrasi”. (IsmailYusanto, Jalan Menuju Khilafah).

BAGAIMANADENGAN JIHAD?

Terkait jihad, Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani berkata: “Ketika Hizbut Tahrir tidak memakai kekuatan fisik untuk membela dirinya atau dalam menghadapi penguasa, maka tidak ada kaitannya dengan taupik jihad, karena Jihad tetap berjalan sampai hari kiamat. Ketika musuh-musuh kafir menyerang negeri Islam, maka kaum muslimin yang menjadi penduduk negeri itu wajib menolak (melawan) mereka, dan syabab HizbutTahrir di negeri itu adalah bagian dari kaum muslimin, dimana wajib atas mereka sesuatu yang wajib atas kaum muslimin, yaitu memerangi dan menolak musuh, dengan kapasitas mereka sebagai kaum muslimin. Dan ketika ada pemimpin muslim yang berjihad untuk meninggikan kalimat (agama ) Alloh dan ia memanggil orang-orang untuk berangkat jihad, maka syabab Hizbut Tahrir sebagai kaum muslmin di negeri itu menyambut panggilan jihad itu”. (Ta’rif Hizbut Tahrir, hal. 19).

Jadi jihad adalah kewajiban syara’, sebagaimana kewajiban shalat lima waktu. Maka seorang muslim yang sudah berkewajiban shalat harus pandai dalam mengerjakan shalat. Ia tidak boleh terlalu bersemangat (ifroth) sehingga ia shalat sebelum waktunya, dan tidak boleh terlalu meremehkan (tafrith) sehingga iashalat di luar waktunya. Ia juga harus mengerti mana waktu yang utama (afdlal) dan yang sunnah untuk mengerjakan shalat, dan mana waktu yang tidak utama dan makruh, bahkan haram untuk mengerjakan shalat. Jadi shalat tepat waktu adalah wajib. Demikian juga dengan jihad, harus tepat waktu dan tepat sasaran.

BERSINERGINYA SYABAB HIZBUT TAHRIR DENGAN PARA MUJAHID ADALAH KUNCI BAGI TEGAKNYA KHILAFAH ROSYIDAH

 

Dari pemaparan di atas, kita dapat memahami dan meyakini bahwa bersinerginya para pengemban dakwah yang diwakili oleh syabab Hizbut Tahrir, yang tidak menyimpang dari metode dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam melalui penegakkan khilafah rosyidah, yang telah digariskan oleh pendirinya Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, dengan ahlul-quwwah (ahlun-nushroh) yang diwakili oleh para mujahid yang mukhlish yang berjihad hanya karena meninggikan kalimat (agama) Alloh, adalah kunci bagi keberhasilan cita-cita kedua kelompok tersebut, yaitu berdirinya khilafah rosyidah. Oleh karenanya, hendaknya kedua kelompok tidak merendahkan, menyalahkan dan menyesatkan satu sama lainnya, dan hendaknya kedua kelompok saling memahami tugasnya masing-masing, tidak menyimpang dari garis dakwah dan jihad, dan saling bersinergi, sehingga tidak mudah diadu-domba dan dipecah-belah oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan jahat, yang diperankan oleh kedua kelompok pula, yaitu kelompok liberal (termasuk nasionalis) dan kelompok Salafi/Wahabi pro sistem kerajaan Arab Saudi, yang terdiri dari ulama salathin yang diperbudak oleh hawa nafsu dan syayathin. Wallohu a’lam…

By. Ustadz Abulwafa Romli=> Tokoh NU & Syabab Hizbut Tahrir Indonesia

Tulisan ini di buat untuk bantahan atas artikel : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=478049292263566&set=a.469356219799540.1073741828.469042276497601&type=1&relevant_count=1

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: