//
you're reading...
Artikel & Opiniku, Uncategorized

MEWASPADAI VIRUS LIBERAL

MENGENALVIRUS LIBERAL

 

Yang saya kehendaki dengan Virus Liberal adalah berbagai ide, pemikiran, pemahaman dan sistem yang memancar dari ide liberalisme (paham serba bebas). Liberalisme sendiri tidak berdiri sendiri, tetapi telah lahir dari rahim akidah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan kemudian dari negara), yaitu akidah produk kompromi di antara umat kristiani, yaitu di antara para pemikir (yang terdiri dari para pemeluk agama Kristen) di satu sisi dan para agamawan (yang terdiri dari para pemuka agama Kristen) di sisi yang lain, pada abad pertenghan, dan tersebut terjadi di tengah-tengah masyarakat Kristen di Eropa. Liberalisme juga tidak berdiri sendirian, tetapi selalu berdiri, melangkah dan berjalan bersama dengan sejumlah ide, pemikiran, pemahaman dan sistem yang semuanya telah lahirdari rahim akidah sekularisme, seperti:

 

 Demokrasi dengan kedaulatan rakyatnya yang membuang, atau menjadikan hukum Allah SWT sebatas opsi (pilihan) lalu menggantikannya dengan hukum buatan manusia, atau dengan memilih hukum buatan manusia dan mengalahkan hukum Allah SWT. Padahal dalam banyak ayat Allah SWT berfirman;

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍفَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulilamri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” QS an-Nisa [4]: 59. Dan firman-Nya;

 

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَاشَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (65)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan,dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” QS an-Nisa [4]: 65. Danfirman-Nya;

 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا(58)

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” QS an-Nisa [4]: 58. Padahal tidak ada keadilan kecuali keadilan Islam. Dan firman-Nya;

 

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusan hukumnya (terserah) kepada Allah. (yang mempunyai sifat-sifat demikian) Itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.” QS asy-Syuro [42]: 10. Danfirman-Nya;

 

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا (36)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan adabagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” QS al-Ahzab [33]: 36. Dan sejumlah ayat yang lain.

 

HAM dengan empat kebebasannya, yaitu; kebebasan berakidah, kebebasan berpendapat,kebebasan bertingkah-laku dan kebebasan kepemilikan. Padahal empat kebebasan tersebut tidak berasal dari Islam dan sangat kontradiksi dengan Islam.

 

Kebebasan berakidah kontradiksi dengan hadis berikut;

مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ. رواه الإمام أحمد والبخاري والأربعة عن ابن عباس رضي الله عنهما

“Barang siapa telah mengganti agamanya [murtad], maka bunuhlah”. Dan hadis-hadis yang lain.

 

 Kebebasan berpendapat kontradiksi dengan hadis berikut;

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرٌا أَوْ لِيَسْكُتْ. رواه الإمام أحمد والبخاري ومسلم والنسائ وابن ماجه عن أبي شريح و أبي هريرة رضي الله عنهما.

“Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakanlah kebaikan atau diamlah”. Dan hadis-hadis yang lain.

 

Kebebasan bertingkah-laku kontradiksi dengan al-Qur’an dan hadis berikut;

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Dan apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa saja yang dilarangnya bagimu,maka tinggalkanlah.” QS al-Hasyer [59]: 7.

 

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ وَمَا آمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَاسْتَطَعْتُمْ.متفق عليه عن أبي هريرة

“Apa saja yang telah aku larang kamu darinya, maka jauhilah ia, dan apa saja yang telah aku perintahkan kamu dengannya, maka kerjakanlah ia, selagi kamu sanggup”. Dan ayat dan hadis yang lain.

 

Dan kebebasan kepemilikan kontradiksi dengan hadis berikut;

اَلْمُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءُ فِى ثَلَاثٍ: اَلْمَاءِ وَالْكَلَاءِ وَالنَّارِ. رواه الإمام أحمد وأبوداود وابن ماجه.

“Kaum muslim itu berserikat dalam tiga perkara; air, rumput dan api”. HR Imam Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah. Danhadis yang lain.

 

 Jadi empat kebebasan tersebut hanya dibenarkan bagi orang kafir, tidak bagi orang Islam. Oleh karena itu, HAM adalah ide kufur dan hanya untuk orang kafir.

 

Pluralisme dan Sinkretisme, yang menganggap semua agama itu benar dan pemeluk-pemeluknya akan masuk surga asalkan beriman dan beramal shaleh sesuai agamanya, dan yang berikutnya mencampur-adukkan semua agama laksana nasi dan lauk-pauknya atau laksana es campur dalam mangkok, sebagai konsekuensi dari pluralisme. Padahal Rasulullah SAW benar-benar telah bersabda;

 

« وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ».  رواه مسلم عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ

“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, tidaklah mendengar denganku seorangpun dari umat ini, baik orang Yahudi atau orang Nasrani, kemudian dia mati sebelum beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka”. HR Muslim.

 

Dialogantar agama dan doa bersama lintas agama sebagai bukti penghayatan dan pengamalan dari ide pluralisme dan sinkretisme. Padahal Allah SWT benar-benar berfirman;

 

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًابَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآَيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ(19)

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Dan tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Dan barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” QS Ali Imron [3]: 19. Dan firman-Nya;

 

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (85)

“Dan barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya,dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” QS Ali Imron [3]: 85.Dan firman-Nya;

 

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَاتَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌمَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)

“Katakanlah: “Hai orang-orangkafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembahTuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamusembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” QS al-Kafirun ayat 1-6.

 

Sampai menjadi Pancasila Pinal dan NKRI Pinal. (Majalah NU AULA, hal 23,April 2011, Menghidupkan Ruh dan Pemikiran KH Achmad Siddiq, terutama hal 126, PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2007).  Kedua ide ini saya masukan ke dalam jajaran Virus Liberal karena melihat fakta para pengusungnya yang selama ini berafiliasi dan berkolaborasi dengan arang-orang liberal, bahkan mereka adalah orang-orang liberal sejati, di mana mereka adalah para propagandis peradaban barat. Mereka sangat anti dan menentang bahkan melakukan penggembosan terhadap dakwah menuju kebangkitan Islam yang hakiki melalui penegakan Daulah Khilafah Rasyidah sebagai institusi politik Aswaja (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) yang selama ini sangat getol dilakukan oleh Hizbuit Tahrir. Jadi fakta sebenarnya mereka adalah kepanjangan dari tangan-tangan Barat dalam mempropagandakan ideologi kapitalisme dengan seperangkat ide dan sistemnya. Sedangkan term Pancasila Pinal dan NKRI Pinal hanya dibuat tameng untuk menangkis serangan dari kaum muslim yang anti peradaban barat, karena kalau sudah menyangkut Pancasila Pinal dan NKRI Pinal sipenyerang akan berpikir seribu kali atau akan maju mundur sebelum menyerangnya, karena kedua term itu sangat sacral.

 

Lalu menjadi Menjaga NU, menjaga NKRI, dan Memperkuat NU, Memperkuat NKRI.(KH A Hasyim Muzadi, majalah NU AULA, hal 34, April 2011). Kedua term ini saya masukan kedalam barisan virus liberal juga berdasarkan fakta para pengusungnya yang berafiliasi dan berkolaborasi dengan orang-orang liberal. Mereka menjadikan NU dan NKRI sebagai wasilah untuk menolak pendirian Daulah Khilafah Rasyidah. Padahal tidak ada pertentangan di antara Madzahibul Arba’ah yang diklaim sebagai madzhab NU dan Daulah Khilafah, karena semua madzhab tersebut telah sepakat atas wajibnya khilafah dan pengangkatan seorang khalifah. Juga dengan NKRI, maka harus dipandang sebagai usaha maksimal dari para pendahulu kita dalam mendirikan sebuah Negara, dan bukan batas maksimal. Karena seandainya mereka mampu, pasti Malaysia dan sekitarnya menjadi bagian dari NKRI. Sedang yang tidak boleh dilakukan dan yang bertentangan dengan semangat NKRI adalah memisahkan diri dari NKRI atau memecah NKRI menjadi dua Negara atau lebih. Padahal Daulah Khilafah yang sedang diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir justru akan mengokohkan wilayah NKRI, akan mengembalikan Timor Timur kepangkuan wilayah NKRI, bahkan akan memperluas wilayah NKRI, karena khilafah adalah sistem yang universal, bahkan akan menggabungkan Negara-negara Barat dan Timur ke pangkuan NKRI (yang menjadi negara khilafah rosyidah islamiyah). Maka ketika itu nama NKRI akan berubah menjadi Daulah Khilafah. Ini juga tidak bertentangan dengan NU, karena para tokoh NU juga telah berpandangan akan Apa Arti Sebuah Nama, Nama Itu Tidak Perlu Yang Penting Substansinya, Ismun ItuTidak Perlu Yang Penting Musammanya, seperti pandangan KH Ahmad Shidiq dll. Jadi nama itu tidak dipersoalkan, boleh NKRI dan boleh Khilafah, yang penting substansinya, yaitu kedaulatan, keamanan, keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Jadi yang tepat adalah term Menjaga NU, Menjaga Khilafah, dan Memperkuat NU, Memperkuat Khilafah.

 

Kemudian menjadi Tidak Apa-apa Negaranya Kafir, Yang Penting Nilai-nilainya Islam. (KH A Hasyim Muzadi, majalah NU AULA, hal 36, April 2011, juga dalam ceramahnya di berbagai tempat). Saya memasukan pandangan ini ke dalam barisan virus liberal juga karena penggagasnya sangat anti dan menolak bahkan melakukan penggembosan terhadap dakwah pendirian Negara Islam, Daulah Khilafah Rasyidah,dan terhadap formalisasi syariat Islam dalam bermasyarakat dan bernegara. Apalagi gagasan itu termasuk gagasan utopis yang tidak ada faktanya sama sekali dan tidak akan dapat difaktakan sama sekali, karena mustahil ada nilai Islam diselain penerapan syariat Islam. Jadi nilai-nilai Islam itu ada ketika syariat Islam diterapkan. Contohnya dalam keadilan, nilai keadilan Islam apa ketika ada orang mencuri barang yang telah mencapai nishab sariqah dan sanksi hukumannya hanya dipenjara beberapa minggu. Maka sama sekali tidak ada nilai Islam, sedang yang ada hanyalah nilai hukum jahiliyah. Tetapi ketika sanksi Islam diterapkan, yaitu potong tangan, maka terdapat nilai Islam, yaitu tujuan dari sanksi itu, yaitu menjadi jawabir (tebusan) dosa bagi pencuri yang telah dijatuhkan sanksi potong tangan kepadanya di akhirat kelak, dan jawazir (pencegah) bagi orang lain dari melakukan tindakan serupa. Juga dengan kasus-kasus kriminal yang lain, baik yang terkait dengan hak-hak Allah maupun dengan hak-hak adami (sesama manusia). Oleh karena itu dalam khazanah fikih Islam para ulama tidak hanya membahas bab shalat dan puasa, tetapi sampai pada pembahasan jinayat, hudud, jihad dlsb. Jadi ketika syariat Islam diformalkan dan diterapkan, maka nilai-nilai Islam dapat dirasakan dan dibuktikan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

 

Bahkan pengusung pandangan tersebut sering sekali di berbagai ceramah dan diskusinya menyentil potongan ayat waman lam yahkum bimaa anzalallohu faulaaika humul kaafiruun (dan barang siapa yang tidak memutuskan hukum sesuai yang telah diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir). Dia mengatakan bahwa man adalah orang, bukan negara. Jadi tidak apa-apa negaranya kafir asalkan orangnya Islam…….”. Memang benar man itu artinya orang, tetapi harus diketahuai bahwa negara itu ditinggali dan diatur oleh orang, dan Allah telah menyuruh agar orang yang mengatur negara harus mengaturnya dengan hukum (syariat)-Nya, karena yang diatur juga orang. Dan orang yang tidak mengatur negara dengan hukum-Nya adalah orang kafir. Jadi ayat tersebut menunjukkan atas wajibnya memformalkan dan menerapkan hukum Allah dalam kehidupan bernegara.

 

Sampai propaganda yang terus menerus disuarakan oleh tokoh-tokoh liberal termasuk oleh tokoh-tokoh jam’iyyah yang mengklaim paling Aswaja bahwa ; “Rasulullah SAW Tidak Pernah Mendirikan Negara Islam Di Madinah“. Propaganda ini sangat keliru dan menyesatkan. Karena kalau kita menelaah hadis berikut ;

 

Dari Nu’man Ibn Basyir barkata; Rasulullah SAW bersabda ;

« تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَاشَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاً عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاًجَبْرِيَّةً فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَاشَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ نُبُوَّةٍ ».ثُمَّ سَكَتَ . رواه أحمد عن حُذَيْفَةُ

“Di tengah kalian sedang ada kenabian, yang dengan izin Allah ia akan tetap ada, kemudian Allah mangangkatnya, ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti tuntunan kenabian, yang dengan izin Allah ia akan tetap ada, kemudian Allah mangangkatnya, ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada pemerintahan zalim, yang dengan izin Allah ia akan tetap ada, kemudian Allah mangangkatnya, ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada pemerintahan diktator, yang dengan izin Allah ia akan tetap ada, kemudian Allah mangangkatnya, ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti tuntunan kenabian”. Kemudian belaiu diam”. HR Ahmad dari Hudzaifah RA.

 

Ketika kita menelaah hadis tersebut, maka secara tektual benar bahwa pada masa Nabi SAW hanya ada nubuwah (kenabian), tidak ada negara khilafah di tengah-tengah kaum muslim, juga tidak ada pemerintahan zalim dan dictator, bahkan tidak ada negara demokrasi dan Pancasila. Kalau kita menolak negara khilafah, karena Nabi SAW tidak pernah mendirikannya, maka kita harus lebih menolak Negara Demokrasi dan Pancasila, karena tidak ada pada masa Nabi SAW, sahabat, tabi’in dan tabi’it-tabi’in, bahkan sampai tahun 1924 M., dan baru ada setelah Indonesia merdeka.

 

Akan tetapi ketika kita menelaah fakta yang ada pada masa Nabi SAW, dengan menelaah sunnah serta siroh Nabi SAW secara menyeluruh, maka kita menemukan fakta berdirinya Negara Islamdi Madinah. Di sana Nabi SAW telah mengangkat para wali (jabatan setingkat gubernur), para amil (jabatan setingkat bupati), para katib (skretaris), para panglima dan komandan prajurit, para qadhi (hakim), bahkan mengangkat dua mentri, yaitu Abu Bakar dan ‘Umar. Jadi dengan sejumlah fakta itu, kalau bukan Negara, namanya apa? 

 

Demikian juga pada hadis diatas, Nabi SAW telah menyebut khilafah ala minhajin nubuwah, tidak daulah khilafah. Sedangkan fakta khilafah adalah Daulah Islamiyyah (Negara Islam). Ini adalah indikasi bahwa Nabi SAW telah mendirikan sebuah daulah, yang kemudian menjadi khilafah. Kalau tidak demikian, apa makna sabda Nabi SAW berupa khilafah ala minhajin nubuwah? Padahal kalau khilafah yang mengikuti metode kenabian adalah sebuah Negara, maka yang diikutinya juga harus sebuah Negara, karena pengikut (tabi’) itu harus mengikuti yang diikuti (matbu’). Kalau tidak demikian, maka harus ada pihak yang telah berdusta, yaitu Nabi SAW atau para sahabat yang telah ber-Ijmak atas berdirinya Daulah Khilafah. Lalu ketika kita memustahilkan terjadinya kedustaan di antara dua pihak, maka kita memastikan bahwa Nabi SAW benar-benar telah mendirikan Daulah Islamiyyah di Madinah.

 

Juga pada hadis tersebut Nabi SAW memakai kata Nubuwwah tidak memakai kata Risalah, padahal yang dominan saat itu adalah Muhammad sebagai Rasulullah yang lebih umum daripada Muhammad sebagai Nabiyyullah yang bersifat pribadi, lalu kata Nubuwwah diteruskan dengan kata khilafah, mulkan ‘adhan, mulkan jabariyyah dan khilafah lagi. Ini adalah indikasi yang sangat kuat yang menunjukkan bahwa nubuwwah pada hadis itu adalah bentuk Negara Islam, karena oleh Nabi SAW telah disejajarkan dengan bentuk Negara Islam yang lain. Jadi di samping Muhammad SAW sebagai Rasulullah yang membawa risalah Islam secara umum, juga sebagai Nabiyullah yang membawa nubuwah Islam secara khusus, yaitu dalam bentuk Negara. Hal ini dikokohkan oleh hadis berikut;

 

« كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ كُلَّمَاهَلَكَ نَبِىٌّ خَلَفَهُ نَبِىٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ فَتَكْثُرُ ». قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ « فُوا بِبَيْعَةِالأَوَّلِ فَالأَوَّلِ وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ ».  متفق عليه عن أبي هريرة

“Dulu Bani Israil urusan politiknya dipimpin oleh paranabi, setiap satu nabi wafat digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi lagi setelahku, dan akan ada para khalifah lalu mereka menjadi banyak”. Sahabat berkata; “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?”, beliau bersabda; “Penuhilah baiat khalifah yang pertama lalu khalifah yang pertama”. HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA.

 

Hadis ini berbicara masalah politik para nabi Bani Israil yang silih berganti, lalu Nabi SAW berkata;“Sesungguhnya tidak ada nabi lagi setelahku“, tidak berkata;”Sesungguhnya tidak ada Rasul lagi setelahku”. Lalu beliau SAW berkata; “Dan akan ada para khalifah “. Ini adalah indikasi bahwa beliau Nabi SAW adalah sosok kepala daulah nubuwwah, yakni sosok nabi yang memegang jabatan politik, karena kalimat yang jatuh sebelum dan setelah kalimat “Sesungguhnya tidak ada nabi lagi setelahku” adalah kalimat yang membicarakan urusan politik. Jadi hadis ini berhubungan dengan hadis sebelumnya di mana keduanya sama-sama membicarakan urusan politik  nubuwah. Dan dari keduanya dapat ditarik kesimpulan bahwa Nabi SAW telah menegakkan Negara Islam di Madinah dan Negara itu disebut dengan daulah nubuwwah yang di kemudian hari berganti dengan nama daulah khilafah ala minhajin nubuwah (Negara Khilafah yang mengikuti metode Negara Nubuwah). Kalau daulah khilafah dipimpin oleh khalifah, maka daulah nubuwah dipimpin oleh nabi.

 

Pandangan ini juga dikokohkan oleh Ijmak sahabat sebagai dalil syar’iy yang paling kuat, karena ijmak sahabat itu menyingkap dalil. Artinya, para sahabat tidak akan berani ber-Ijmak untukmendirikan Negara Khilafah dan mengangkat seorang khalifah yang menggantikan kedudukan Nabi SAW dalam menjalankan roda pemerintahan Islam, kalau mereka tidak mengerti dan melihat secara langsung bentuk Negara Islam yang telah dibangun dan dipraktekkan oleh Nabi SAW di Madinah, karena mereka sangat kuat keterikatannya dengan agama Islam yang telah dibawa, disampaikan dan dipraktekkan oleh Rasulullah SAW.

 

Dengan demikian kita memastikan bahwa propaganda “Rasulullah SAW Tidak Pernah Mendirikan Negara Islam Di Madinah“, adalah virus liberal berkedok Aswaja.   

 

Juga yang saya kehendaki dengan virus liberal adalah individu yang telah terkontaminasi oleh virus liberal dan dia dengan sembunyi-sembunyi atau secara rasahasia berupaya menularkan virus liberalnya kepada setiap orang atau komunitas yang dia jumpai atau dia berada di dalamnya. Biasanya individu yang telah menjadi virus liberal itu terdiri dari sosok ustadz atau gus (putra kyai), terutama yang masuk ke dalam struktur NU atau yang menjadi NU structural. Dan dalam menyebarkan virusnya tidak secara langsung menyebarkan ide-ide dan pemikiran-pemikiran liberal sebagaimana dilakukan oleh gerombolan liberal tulen seperti JIL (Jaringan Islam Liberal), tetapi dengan memakai kedok seperti kedok Aswaja (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) untuk menyembunyikan ide dan pemikiranli beralnya. Sedangkan ide dan pemikiran Aswaja yang orisinil dan asli dimanipulasi dan direkayasa agar terlihat sebagai ide dan pemikiran yang kontradiksi dengan ide dan pemikiran Aswaja kedok..

 

Setidaknya ada tiga indikasi yang dapat dipakai untuk mendeteksi seseorang yang telah terkontaminasi oleh virus liberal atau seseorang yang telah menjadi virus liberal, yaitu :

 

Pertama; suka merekayasa, berdusta, memitnah dan memprovokasi, baik melalui tulisan maupun lisan, terhadap perjuangan penerapan Islam kaffah.

 

Kedua; suka memuja dan menyanjung plus husnuz zhan (baik sangka) kepada segala ide, pemikiran dan sistem yang lahir dari rahim akidah sekularisme, dan kepada orang-orang yang mendakwahkannya, baik melalui tulisan maupun lisan. Dan

 

Ketiga; suka mencaci, mencela dan su-uz-zhan (buruk sangka) terhadap ide, pemikiran dan sistem yang lahir dari akidah Islam seperti sistem pemerintahan Islam, sistem ekonomi Islam, sistem pergaulan Islam, sistem pendidikan Islam dan sistem yang mengatur sanksi hukuman Islam, dan terhadap orang-orang yang mendakwahkannya, baik melalui tulisan maupun lisan.

 

INTI DARI LIBERALISME ADALAH MENOLAK HUKUM ALLOH SWT UNTUK MENGATUR KEHIDUPAN, BERMASYARAKAT DAN BERNEGARA, MELALUI PENEGAKKAN KHILAFAH ROSYIDAH

 

ASWAJA YANG HAKIKI TIDAK AKAN BERANI MENOLAK PENERAPAN SYARIAH ISLAM SECARA TOTAL MELALUI PENEGAKKAN DAULAH KHILAFAH ISLAMIYAH, KECUALI ASWAJA TOPENG

oleh Abulwafa Romli

About hamdanifirdaus

Lahir Paninjauan 10 September 1987 Anak dari pasangan Dalimi St. Budiman Dan Resnawati

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Seruan Al-syam

  • 27,880 hits

MENGENAL HIZBUT TAHRIR

Film Ilamata 2013 Menuju Muktamar Khilafah 2013

HIZBUT TAHRIR PUSAT

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MEDIA OFFICE HIZBUT TAHRIR

RSS Detik Islam

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: